October 11, 2011

Loyalitas dan Nasionalisme


Hari ini, 11 Oktober 2011, Timnas Indonesia kembali menjalani pertandingan kualifikasi pra piala dunia zona Asia melawan Qatar. Kali ini timnas merah putih berkesempatan menjadi tuan rumah. Ingin sekali rasanya kembali ke SUGBK untuk terus memberikan semangat bagi para garuda-garuda terbaik yang dimiliki oleh bangsa ini. Namun sangat disayangkan, gue sudah memiliki janji terlebih dahulu dengan Tuhan. Andai saja Tuhan bersedia membatalkan janji yang telah kami sepakati, mungkin saat ini gue sudah berada di area SUGBK demi INDONESIA bukannya duduk di depan laptop sambil menulis blog.

Gue sedih, menurut berita yang gue dengar peminat pertandingan malam ini tidak seperti kemarin, atau bisa dikatakan sepi penonton. Kemana para "penonton setia" timnas ? Kemana antusias mereka seperti saat timnas menang ? Tuhan... Adakah yang bisa saya lakukan untuk menghapus budaya seperti itu di negeri ini ? Gue ngerti apa sih tentang sepakbola Indonesia ? Siapa sih yang kenal sama gue ? Gue ini siapa sih ? Toh gue cuma rakyat kecil, bisa dibilang sampah. Tapi gue sangat mencintai sepakbola Indonesia, bagaimanapun keadaanya. Gue bukan siapa-siapa di negeri ini, cuma supporter biasa, cuma segelintir dari 200 juta lebih masyarakat Indonesia yang punya mimpi untuk kejayaan Timnas Indonesia, ga lebih. Gue ga mau nyari eksistensi disini, yang mau gue cari disini adalah persatuan dari kita semua yang mengklaim diri kita sebagai supporter Indonesia untuk terus mendukung Timnas Indonesia, apapun yang terjadi.

" TINGGALKAN RAS TINGGALKAN SUKU"
Apa makna dari kalimat itu ? Ada ga yang bisa ngejelasin sama gue ? Tolong gampar gue dengan penjelasan hebat dari kalian yang memang memahami arti dari kalimat itu sebenarnya. Aaaaaakkk !!!!! Kenapa masih saja menggabungkan antara masalah internal klub dengan Timnas Indonesia ? Kenapa kenapa kenapa ? Yaa Tuhan... Bukannya gue sok jadi orang, tapi seperti yang udah gue tulis di atas, gue sangat sangat sangat mencintai sepakbola Indonesia, tanpa terkecuali mencintai PERSIJA. Jujur aja yaa, gue itu sedih banget waktu tau temen-temen Jakmania memboikot pertandingan nanti malam dengan tidak ikut serta hadir di SUGBK, Timnas Indonesia butuh kita kawan, sangat butuh. Yang kita benci itu PSSI bukan TIMNAS. Musuh kita itu PSSI bukan TIMNAS, tolong, jangan korbankan timnas. Bukannya SOK NASIONALISME, SUMPAH BUKAN GITU MAKSUD GUE. PSSI yang BANGS*T kenapa harus timnas kita yang kena sasarannya ? PSSI yang BEDEBAH kenapa timnas kita juga kena dampratnya ? Bisa ga sih kalian bayangin, nanti malam saat mereka bertanding membawa nama Indonesia, disaat mereka berjuang demi kita semua, kita malah malas untuk memberikan dukungan buat mereka. KITA MOTIVASI TIMNAS UNTUK TERUS MELAKUKAN YANG TERBAIK, KITA KAWAN, SUPPORTER INDONESIA ! Bukan iming-iming hadiah Rp. 40 juta dari PSSI, BUKAN ! PSSI mungkin bisa membeli "kemenangan" dengan uang, akan tetapi PSSI tidak bisa membeli kecintaan kita terhadap Timnas Indonesia.

Kalau di antara kalian ada yang ga menyukai pendapat gue, silahkan remove atau bahkan blok gue dari akun jejaring sosial milik kalian, kalian berhak untuk itu. Tapi gue juga berhak untuk mengeluarkan pendapat gue di negara yang katanya udah demokrasi ini. Tuhan... Biarkan hambamu yang idiot ini untuk hidup lebih lama, untuk terus memberikan dukungan bagi sepakbola Indonesia, untuk terus mengumandangkan lagu Indonesia Raya, demi Indonesia, demi sepakbola negeri ini. Indonesia... Kamu tak pernah sendiri, masih ada kami pemain kedua belas yang ikut berjuang dari pinggir lapangan.

#SavePersija #SaveIndonesianFootball