Begitu banyak tempat di Kota Jakarta bagi mereka yang ingin mencari kesenangan setelah cukup penat dikejar waktu oleh semerawutnya segala aktivitas mereka di kota ini. Gedung-gedung tinggi pusat perbelanjaan yang berdiri dengan angkuh hampir disetiap sudut kota ini, mungkin secara tegas menggambarkan betapa hedonnya kehidupan masyarakat di Jakarta. Mungkin, memang tidak semua orang mencari kesenangan dengan menghabiskan waktu dan uang mereka dengan cara tersebut. Masih ada beberapa dari masyarakat Jakarta yang mencari kesenangannya di tempat lain. Secara sederhana, namun penuh makna. Secara sederhana, namun sanggup menggoreskan berbagai macam cerita dan juga rasa. Disebuah bangunan yang tidak terlalu besar, namun mampu membuat kami terikat hubungan emosional dengannya. Disetiap sudut bangku tribun yang sangat sederhana, namun mampu menghasilkan cerita yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan. Disepetak lapangan hijau yang tetap tumbuh diantara kebisingan kota, namun mampu menjadi alasan kami tersenyum karna kemenangan, atau tertunduk lesu karna kekalahan. Faktanya, sebagian besar masyarakat ini lebih senang melihat mall-mall berdiri dibanding satu stadion sepakbola. Faktanya, sebagian besar dari masyarakat ini lebih senang mencari kebahagiaan dengan berfoya-foya dibanding berdiri bersama untuk menonton pertandingan sepakbola. Hmm, mobil-mobil besar itu mungkin bisa dengan mudahnya menghancurkan tempat ini menjadi rata dengan tanah. Tapi tidak dengan kenangannya. Tapi tidak dengan ceritanya. Tapi tidak dengan sejarahnya ! Stadion lebak bulus mungkin akan hancur, tapi cerita tentangnya akan tetap berdiri dengan kokoh sampai kapan pun ! Dan saya berjanji, kelak, akan mewariskan suka duka dari tempat ini kepada anak cucu, walau hanya sebatas cerita saja.
December 15, 2014
November 28, 2014
Cinta yang Tak Lekang oleh Waktu, Selamanya, #GuePersija
Waktu
tidak pernah berhenti walau hanya sesaat. Waktu terus berjalan ke depan tanpa
henti, dan meninggalkan jauh mereka yang enggan melakukan apa pun pada setiap
detik kehidupannya. Waktu memang tidak pernah menunggu, tidak pernah
berkompromi, tidak pernah bisa didebat. Waktu bak penguasa di dunia ini, yang
mampu menorehkan kisah-kisah baru, atau bahkan mengorek cerita lama yang
seharusnya sudah ditinggalkan jauh di belakang.
Ini
tentang waktu. Waktu yang menyeret sesuatu yang aku cintai, perlahan menuju
pada usia barunya. Usia yang tidak lagi muda, bahkan dapat dikatakan renta. Usia
yang tidak lagi produktif, bahkan dapat dikatakan menuju mati. Tapi, dia tidak
tampak renta atau bahkan menuju mati. Tidak. Mungkin saja dia hanya sedang sedikit
bingung, bagaimana caranya untuk tetap terlihat gagah pada usianya sekarang. Bagaimana
caranya untuk tetap menjadi yang terbaik di antara yang paling baik.
Waktu
memang bisa mengubah segala hal tanpa mampu diduga sebelumnya. Waktu bisa
menenggelamkan manusia dalam kesedihan, atau membuainya dalam bahagia. Tapi, ada
satu hal yang tidak akan pernah mampu ditaklukan oleh waktu. Ada satu hal yang
tidak akan pernah bisa diubah bahkan meskipun waktu melaju lebih cepat dari
biasanya. Ya, cinta terhadapnya yang begitu besar tidak akan pernah habis
termakan waktu, hingga jiwa ini dipisahkan dari raganya.
Selamat
ulang tahun, kesayangan. Semoga aku masih diberikan banyak waktu untuk terus
menemani kamu setiap kali berlari menuju kemenangan. Semoga aku masih diberikan
banyak waktu untuk terus menjadi saksi setiap perjuanganmu di lapangan hijau. Semoga
aku masih diberikan banyak waktu untuk menjadi salah satu di antara sekian
banyak orang yang mencintaimu, untuk melihat kamu berdiri di podium tertinggi
dengan gelar juara. Tak ada “semoga”
yang aku tujukan padamu kali ini. Bukannya aku tidak memiliki doa, atau bahkan
harapan untukmu, kesayangan. Hanya saja, aku percaya sudah terlalu banyak
doa-doa baik untukmu dari mereka yang mencintaimu di luar sana, dan ku rasa itu sudah lebih dari cukup.
86
tahun... Sudah tidak elok rasanya jika aku masih menuntutmu untuk
kembali menjadi
yang terbaik. 86
tahun... Sudah tidak pantas rasanya jika aku masih memaksamu untuk
kembali
menjadi yang nomor satu di negri ini. 86
tahun... Sudah semestinya kamu tau diri, bagaimana caranya membalas
cinta dari
mereka yang tanpa henti selalu memberikan dukungan terbaiknya untukmu.
Bangkitlah, dan rebut kembali kejayaan yang memang sudah sepantasnya
kamu dapatkan !
Waktu boleh membuatmu menua. Tapi waktu tidak akan pernah bisa membuat renta tubuh ini untuk terus mencintai kamu, Persija :)
November 19, 2014
Karena Persija Itu Jakarta, Bukan Kota Lain!
Sepak
bola... adalah nafas bagi para pemujanya. Adalah kehidupan bagi para
penikmatnya. Dan adalah rumah bagi segala anak manusia yang mencintainya.
Tunggu ? Rumah ? Bahkan, sepak bola di ibu kota negara ini saja pun tidak
memiliki rumah, di kota kelahirannya sendiri dia bagai musafir. Lalu, bagaimana
kami bisa dengan tega menyebut mereka sebagai rumah kami ? Sementara mereka
masih hidup di antara debu-debu jalanan. Di antara kerasnya ibu kota yang
sebagian besar kaum urbannya bahkan untuk menoleh pun enggan.
Persatuan
Sepak Bola Indonesia Jakarta. Tak cukup banyak sejarah yang saya ketahui
tentang tim ibu kota ini. Hanya sekedar tahu, setidaknya, saya tidak terlihat
dungu apabila secara tiba-tiba ada pihak yang melontarkan pernyataan pada saya
“Mencintai itu dimulai dari mengenal,
memahami sejarahnya, lalu kemudian bisa dibilang benar-benar cinta.” Tapi
tetap saja pada kenyataannya saya tidak mengetahui banyak tentang tim sepak
bola ini. Ya, tidak banyak. Kecuali, nasibnya yang menjadi “gelandangan” di tanah kelahirannya
sendiri.
Saat
berbagai tim sepak bola di kota-kota lain sudah memiliki rumahnya sendiri,
Persija Jakarta justru berulang kali dipaksa untuk menjadi tuna wisma di
kotanya. Dulu mereka punya rumah, namun saat ini, sesuatu yang dahulu disebut
rumah, sekarang hanyalah berbentuk sebuah kenangan. Menurut apa yang saya
ketahui, sepak bola Jakarta sudah mulai lahir sejak para kompeni Belanda
mendiami tanah ibu kota. Kala itu, mungkin salah satu perkumpulan sepak bola
yang tersohor adalah VIOS (Voetbalbond Indische Omstreken Sport). Dan pada masa
itu VIOS sudah memiliki lapangan untuk mereka melakukan latihan bernama
Viosveld yang terletak di sekitaran jalan HOS Cokroaminoto 87. Namun sejak
tahun 1921, Viosveld mulai dikenal oleh kebanyakan orang sebagai Stadion
Menteng.
Lalu
Persija Jakarta sendiri yang pada awalnya bernama Voetbalbond Indonesisch
Jacatra atau VIJ juga mulai berlatih di Stadion Menteng pada tahun 1928,
setelah sebelumnya tim sepak bola ini terlebih dahulu berlatih di VIJ Petojo.
Dan Stadion Menteng pada akhirnya dikenal sebagai Stadion Menteng Persija tahun
1960. Pada tahun 1975, gubernur Jakarta yang menjabat saat itu bahkan
mengeluarkan surat keputusan yang pada intinya menjabarkan bahwa Stadion
Menteng merupakan salah satu kawasan yang harus dilindungi karena kawasan
tersebut merupakan salah satu cagar budaya yang dimiliki oleh Jakarta.
“Bencana” mulai muncul saat tahun 2004
Gubernur Sutiyoso merencanakan untuk melakukan perubahan Stadion Menteng
menjadi sebuah taman. Bahkan pemerintah provinsi telah mengaktakan tanah
Stadion Menteng ke Badan Pertahanan Nasional tanpa sepengetahuan pihak Persija.
Persija tidak tinggal diam, mereka bergerak, mereka menggugat, namun sia-sia. Tepatnya
pada tanggal 26 Juni 2006, saya bahkan lupa apa yang sedang saya lakukan saat
itu, mungkin, sedang sibuk menjadi siswi baru dari seragam putih abu-abu, Stadion
Menteng dipaksa untuk rata dengan tanah. Seperti yang sudah saya utarakan sejak
awal, bahwa tidak banyak hal yang saya ketahui tentang Persija Jakarta. Akan
tetapi, setelah membaca dan mendengar informasi dari berbagai sumber yang ada,
apakah saya salah jika menarik kesimpulan dari peristiwa penggusuran Stadion
Menteng, adalah peristiwa hina karna telah secara sengaja menghilangkan simbol
sejarah yang seharusnya tetap ada dan tak akan rapuh dimakan usia.
Lalu
kemudian, Stadion Lebak Bulus. Stadion yang juga “pernah” menjadi rumah bagi Persija Jakarta. Kenapa saya menuliskan
kata “pernah” ? Karna nasibnya pun
akan berakhir sama dengan stadion yang terdahulu. Rata dengan tanah. Stadion
Lebak Bulus sendiri pun memiliki sejarah tersendiri bagi Persija Jakarta,
sebagaimana seperti yang dimiliki oleh Stadion Menteng. Stadion Lebak Bulus
terkenal “angker” bagi para siapa pun
tim lawan yang dijamu oleh Persija Jakarta di stadion yang terletak di kawasan
Jakarta Selatan ini. Bahkan tidak sedikit tim yang dipaksa walk out saat Persija Jakarta melaksanakan laga kandangnya di
Stadion Lebak Bulus. Contohnya, Persib Bandung. Saya sendiri beruntung karna
pernah beberapa kali mendukung Persija Jakarta dari bangku tribun Stadion Lebak
Bulus. Sebelum akhirnya, stadion ini sudah jarang digunakan dengan alasan
minimnya kapasitas stadion untuk menampung banyaknya The Jakmania yang hadir
setiap kali Persija Jakarta bertanding. Sampai detik ini, kawasan Stadion Lebak
Bulus hanya digunakan sebagai tempat dari sekretariat Jakmania. Sebelum pada
akhirnya, lagi-lagi “rumah”, “peninggalan sejarah”, dan “saksi bisu” dari banyak kemenangan
Persija Jakarta, akan kembali dihilangkan. Rumah dan sejarah yang harus rata
dengan tanah, demi kehidupan sebuah kota yang harus mengikuti arus perubahan
zaman.
Satu
lagi stadion yang sudah terlanjur dikenal sebagai rumah bagi Persija Jakarta. Stadion
Utama Gelora Bung Karno. Stadion yang selama ini menjadi “rumah singgah” saat Persija Jakarta melakoni laga kandang. Tunggu
dulu, laga kandang ? Bagaimana bisa disebut laga kandang saat untuk bermain di
stadion tersebut saja harus mengeluarkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit
? Bagaimana bisa disebut tempat tinggal bahkan untuk menjalani kehidupan di
sana masih sering menunggak uang sewa ? Dan saya pun sadar, Stadion Utama
Gelora Bung Karno, tidak pernah benar-benar menjadi rumah bagi Persija Jakarta,
hanya sebagai tempat singgah sementara.
Entah
sudah beberapa kali Jakarta berganti pemimpin, sudah berapa kali Persija
kenyang memakan janji-janji kampanye untuk memberikan sebuah rumah bagi mereka,
bagi Persija Jakarta. Nyatanya, sampai detik ini Persija Jakarta masih menjadi
musafir di tanah kelahirannya sendiri. Bukan perkara mudah memang menjadi
sebuah tim sepak bola pada sebuah kota besar. Jangankan stadion, bahkan seringkali
izin pertandingan saja harus mati-matian diperjuangkan. Saya pikir, ini adalah
pekerjaan rumah besar bagi seluruh masyarakat Jakarta. Mulai dari pemimpin
sampai ke kelompok-kelompok yang terdapat dalam masyarakat Jakarta. Bagaimana
kita menjaga salah satu cagar budaya Jakarta
agar tetap menjadi tuan di rumahnya sendiri, bagaimana kita menjaga salah satu
kebanggaan Jakarta agar tidak menjadi gembel di rumahnya sendiri.
PERSIJA
BUKAN HANYA MILIK SEKELOMPOK ORANG YANG MENYEBUT DIRI MEREKA SEBAGAI THE
JAKMANIA. PERSIJA ITU JAKARTA. JAKARTA ITU HETEROGEN. PERSIJA ADALAH MILIK
MEREKA SEMUA YANG TINGGAL DI JAKARTA TANPA TERKECUALI. PRIBUMI ATAU KAUM URBAN
? MEREKA SEMUA WAJIB MENJAGA APA YANG SEHARUSNYA SELALU MENJADI KEBANGGAAN KOTA
JAKARTA. JAKARTA HARUS PEDULI PERSIJA !
October 30, 2014
PERSIJA lagi PERSIJA terus PERSIJA selamanya
Saat
yang lain sibuk memikirkan dimana laga semi final akan berlangsung nanti, gue
pribadi masih belum sepenuhnya move on
kalau Persija ga lolos delapan besar. Saat yang lain sibuk mengurusi rivalitas dengan
supporter dari tim kota sebelah, gue pribadi masih menghayal jika Persija bisa
secepatnya kembali menjadi juara. Mau di Palembang atau di Jakarta, tetap ga
ada nama Persija disana. Mau di Jakabaring atau di Gelora Bung Karno, tetap
bukan Persija yang akan bertanding.
Sebosan-bosannya
gue sama rivalitas yang ga ada ujungnya, gue lebih bosan menunggu Persija
memberikan gelar juara (lagi) untuk para supporternya. Itu kenapa gue pribadi
lebih fokus mendukung Persija, dibanding fokus dengan rivalitas yang sudah
sejak lama dibiarkan hidup. Gue lebih senang membuang waktu gue untuk mendukung
Persija dimanapun dan kapanpun. Dari pada membuang waktu percuma dengan terus
mempedulikan rivalitas yang ga penting ini. Ga penting ? Emang kalian pikir
meladeni orang-orang caper itu penting ? Emang kalian pikir meladeni
orang-orang sirik itu penting ?
Terserah
deh semi final ISL musim ini akan berlangsung dimana, gue ga peduli. Terserah deh
juara ISL musim ini siapa, gue ga mikirin. Gue berharap musim ini segera
berakhir, dan musim depan lekas datang. Dan semoga Persija ga akan lagi
membuang waktu serta kesempatan yang ada untuk melakukan yang terbaik nantinya.
Yang terpenting, semoga mafia-mafia sepakbola negri ini segera dibumihanguskan
tanpa sisa. Agar gue dan mereka yang menyebut dirinya “supporter sepakbola”,
bisa menikmati permainan ini dengan jauh lebih baik.
.
...
.....
Halo
Persija, lo ga iri sama mereka yang lolos semi final lalu pada akhirnya akan
menjadi juara musim ini ?
:)
September 8, 2014
There's Only You, PERSIJA JAKARTA!
Jumat,
5 September 2014
Hari
ini, saya kembali mendatangi Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk menyaksikan
pertandingan yang menentukan lolos tidaknya klub kebanggaan saya ke fase
delapan besar. Ramai. Ya, suasana stadion bisa dikatakan cukup ramai. Teriakan semangat
dari para rekan-rekan supporter yang menggema, dan kemenangan karna tiga gol
yang dicetak oleh Persija atas Barito mampu membuat saya tersenyum. Tersenyum dengan
penuh kegetiran. Bahkan hampir hambar. Karna sebelum pertandingan dimulai pun,
kita semua sudah tau bagaimana akhir dari semua ini.
Tidak
ada selebrasi untuk tiga gol Persija. Tidak ada kebahagiaan untuk kemenangan
Persija. Pada saat mereka semua seharusnya berjuang leibih keras, namun
kemenangan itu justru membuat mereka harus berhenti dengan sangat memilukan. Saya
sempat berpikir, apakah Persija yang begitu kami ( the jakmania ) banggakan
bersungguh-sungguh dalam setiap pertandingannya demi merebut sebuah gelar juara
? Apakah Persija yang begitu kami banggakan mampu melihat besarnya pengorbanan
yang kami berikan pada setiap kali datang ke stadion untuk bersama mereka
melalui semangat serta doa ?
Emosi
akibat kekecewaan yang begitu mendalam bisa terlihat dengan jelas dari tiap-tiap
bangku tribun. Kekecewaan yang bahkan saya sendiri bingung untuk
mengutarakannya lewat kata demi kata...
Malam itu, untuk pertama kalinya
saya merasakan tribun bukanlah lagi sebagai rumah yang memberikan kenyamanan
untuk saya. Sesak. Teramat sesak. Entah apa yang membuat saya sulit bernafas
dan meneteskan air mata. Apakah tembakan gas air mata yang membabi buta ?
Ataukah karna menyadari jika akan butuh waktu yang cukup lama untuk kembali ke
tempat ini ? Saya tidak pernah takut untuk berada dalam situasi kacau saat
mendukungmu. Saya tidak pernah meminta ganti rugi untuk lembar demi lembar
rupiah yang keluar untuk membili tiket. Tapi untuk kali ini, boleh kah saya menjadi
pemujamu yang egois ? Saat bahkan nyawa yang harus dikorbankan untukmu, masih
enggankah kamu membalas segala hal yang telah diberikan dengan sebuah gelar
juara ? Bukan malah memberikan kemenangan terlambat, yang justru menyakitkan. Sangat
teramat sakit.
Tapi jangan pernah khawatir, karna cinta
ini tidak akan pernah mati, selama saya masih diberikan nikmat hidup oleh Tuhan.
CINTA
Saat sedang jatuh cinta seperti
ini, memang hanya tentang cintalah yang akan diceritakan. Membagi kebahagiaan
yang dirasakan dengan orang-orang sekitar, membagi cinta dengan mereka yang
masih berteman sepi serta benci. Hei, bagaimana definisi cinta menurut kalian ?
Bagiku, cinta itu adalah...
Tidak mengekang, namun
memberikan kebebasan bertanggung jawab.
Tidak selalu curiga, namun
memberikan percaya sepenuh hati.
Tidak egois, namun saling
bertukar cerita tentang apa-apa saja yang dirasakan.
Tidak jenuh, namun saling
menguatkan satu sama lain.
Jika cinta, tidak perlu
mengekang pun dia akan tetap mengingatmu di sepanjang harinya.
Jika cinta,
tidak perlu curiga karna sudah pasti dia hanya menjadikanmu satu-satunya di
dalam hatinya.
Jika cinta, tidak akan ada egois karna dia pasti akan memahami
setiap keinginanmu.
Jika cinta, tidak akan pernah ada jenuh karna kalian tau
bahwa yang kalian jalani adalah sebuah perjuangan.
Cemburu ? Lelah ? Apa itu
manusiawi ?
Karna akan beda rasanya, jika
memang hanya cinta yang menjadi dasar saat kalian menjalin sebuah hubungan.
Bukan mengejar impian untuk saling memiliki semata, tapi bagaimana caranya
untuk tetap bersama dan tetap tinggal dalam cinta itu sendiri. Rasa takut
kehilangan sudah sewajarnya ada. Namun cinta bukanlah bagaimana caranya menjaga
raga seseorang yang dikasihinya agar tidak pernah pergi dari kita. Melainkan,
menjaga perasaan yang ada pada diri masin-masing agar tidak ada pihak atau
apapun juga yang merusak cinta yang sudah tumbuh dan menetap.
Bukan raganya yang harus
kau kekang, melainkan perasaanmu sendiri...
Tidak perlu saling mengucap
janji untuk selamanya bersama, karna tidak akan ada manusia yang bisa hidup
selamanya. Berjanjilah pada dirimu sendiri, untuk membahagiakannya setiap hari
saat dia masih menjadi milikmu. Cukup.
Jangan pernah kau ragukan
tentang perasaanku. Entah cinta, sayang dan bahkan rindu. Karna jika aku tidak
memiliki semua itu terhadapmu, tidak akan pernah ada kita saat ini. Bagiku,
cinta adalah pondasi awal dan utama untuk memulai. Sebab itulah, kita ada
sampai detik ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
