December 15, 2014

#StadionLebakBulus

Begitu banyak tempat di Kota Jakarta bagi mereka yang ingin mencari kesenangan setelah cukup penat dikejar waktu oleh semerawutnya segala aktivitas mereka di kota ini. Gedung-gedung tinggi pusat perbelanjaan yang berdiri dengan angkuh hampir disetiap sudut kota ini, mungkin secara tegas menggambarkan betapa hedonnya kehidupan masyarakat di Jakarta. Mungkin, memang tidak semua orang mencari kesenangan dengan menghabiskan waktu dan uang mereka dengan cara tersebut. Masih ada beberapa dari masyarakat Jakarta yang mencari kesenangannya di tempat lain. Secara sederhana, namun penuh makna. Secara sederhana, namun sanggup menggoreskan berbagai macam cerita dan juga rasa. Disebuah bangunan yang tidak terlalu besar, namun mampu membuat kami terikat hubungan emosional dengannya. Disetiap sudut bangku tribun yang sangat sederhana, namun mampu menghasilkan cerita yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan. Disepetak lapangan hijau yang tetap tumbuh diantara kebisingan kota, namun mampu menjadi alasan kami tersenyum karna kemenangan, atau tertunduk lesu karna kekalahan. Faktanya, sebagian besar masyarakat ini lebih senang melihat mall-mall berdiri dibanding satu stadion sepakbola. Faktanya, sebagian besar dari masyarakat ini lebih senang mencari kebahagiaan dengan berfoya-foya dibanding berdiri bersama untuk menonton pertandingan sepakbola. Hmm, mobil-mobil besar itu mungkin bisa dengan mudahnya menghancurkan tempat ini menjadi rata dengan tanah. Tapi tidak dengan kenangannya. Tapi tidak dengan ceritanya. Tapi tidak dengan sejarahnya ! Stadion lebak bulus mungkin akan hancur, tapi cerita tentangnya akan tetap berdiri dengan kokoh sampai kapan pun ! Dan saya berjanji, kelak, akan mewariskan suka duka dari tempat ini kepada anak cucu, walau hanya sebatas cerita saja.

November 28, 2014

Cinta yang Tak Lekang oleh Waktu, Selamanya, #GuePersija

Waktu tidak pernah berhenti walau hanya sesaat. Waktu terus berjalan ke depan tanpa henti, dan meninggalkan jauh mereka yang enggan melakukan apa pun pada setiap detik kehidupannya. Waktu memang tidak pernah menunggu, tidak pernah berkompromi, tidak pernah bisa didebat. Waktu bak penguasa di dunia ini, yang mampu menorehkan kisah-kisah baru, atau bahkan mengorek cerita lama yang seharusnya sudah ditinggalkan jauh di belakang.

Ini tentang waktu. Waktu yang menyeret sesuatu yang aku cintai, perlahan menuju pada usia barunya. Usia yang tidak lagi muda, bahkan dapat dikatakan renta. Usia yang tidak lagi produktif, bahkan dapat dikatakan menuju mati. Tapi, dia tidak tampak renta atau bahkan menuju mati. Tidak. Mungkin saja dia hanya sedang sedikit bingung, bagaimana caranya untuk tetap terlihat gagah pada usianya sekarang. Bagaimana caranya untuk tetap menjadi yang terbaik di antara yang paling baik.

Waktu memang bisa mengubah segala hal tanpa mampu diduga sebelumnya. Waktu bisa menenggelamkan manusia dalam kesedihan, atau membuainya dalam bahagia. Tapi, ada satu hal yang tidak akan pernah mampu ditaklukan oleh waktu. Ada satu hal yang tidak akan pernah bisa diubah bahkan meskipun waktu melaju lebih cepat dari biasanya. Ya, cinta terhadapnya yang begitu besar tidak akan pernah habis termakan waktu, hingga jiwa ini dipisahkan dari raganya.

Selamat ulang tahun, kesayangan. Semoga aku masih diberikan banyak waktu untuk terus menemani kamu setiap kali berlari menuju kemenangan. Semoga aku masih diberikan banyak waktu untuk terus menjadi saksi setiap perjuanganmu di lapangan hijau. Semoga aku masih diberikan banyak waktu untuk menjadi salah satu di antara sekian banyak orang yang mencintaimu, untuk melihat kamu berdiri di podium tertinggi dengan gelar juara. Tak ada “semoga” yang aku tujukan padamu kali ini. Bukannya aku tidak memiliki doa, atau bahkan harapan untukmu, kesayangan. Hanya saja, aku percaya sudah terlalu banyak doa-doa baik untukmu dari mereka yang mencintaimu di luar sana, dan ku rasa itu sudah lebih dari cukup.

86 tahun... Sudah tidak elok rasanya jika aku masih menuntutmu untuk kembali menjadi yang terbaik. 86 tahun... Sudah tidak pantas rasanya jika aku masih memaksamu untuk kembali menjadi yang nomor satu di negri ini. 86 tahun... Sudah semestinya kamu tau diri, bagaimana caranya membalas cinta dari mereka yang tanpa henti selalu memberikan dukungan terbaiknya untukmu. Bangkitlah, dan rebut kembali kejayaan yang memang sudah sepantasnya kamu dapatkan !

Waktu boleh membuatmu menua. Tapi waktu tidak akan pernah bisa membuat renta tubuh ini untuk terus mencintai kamu, Persija :)

Satu untuk Jakarta. Satu untuk semua. PERSIJA untuk semua !

November 19, 2014

Karena Persija Itu Jakarta, Bukan Kota Lain!


Sepak bola... adalah nafas bagi para pemujanya. Adalah kehidupan bagi para penikmatnya. Dan adalah rumah bagi segala anak manusia yang mencintainya. Tunggu ? Rumah ? Bahkan, sepak bola di ibu kota negara ini saja pun tidak memiliki rumah, di kota kelahirannya sendiri dia bagai musafir. Lalu, bagaimana kami bisa dengan tega menyebut mereka sebagai rumah kami ? Sementara mereka masih hidup di antara debu-debu jalanan. Di antara kerasnya ibu kota yang sebagian besar kaum urbannya bahkan untuk menoleh pun enggan.

Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta. Tak cukup banyak sejarah yang saya ketahui tentang tim ibu kota ini. Hanya sekedar tahu, setidaknya, saya tidak terlihat dungu apabila secara tiba-tiba ada pihak yang melontarkan pernyataan pada saya “Mencintai itu dimulai dari mengenal, memahami sejarahnya, lalu kemudian bisa dibilang benar-benar cinta.” Tapi tetap saja pada kenyataannya saya tidak mengetahui banyak tentang tim sepak bola ini. Ya, tidak banyak. Kecuali, nasibnya yang menjadi “gelandangan” di tanah kelahirannya sendiri.

Saat berbagai tim sepak bola di kota-kota lain sudah memiliki rumahnya sendiri, Persija Jakarta justru berulang kali dipaksa untuk menjadi tuna wisma di kotanya. Dulu mereka punya rumah, namun saat ini, sesuatu yang dahulu disebut rumah, sekarang hanyalah berbentuk sebuah kenangan. Menurut apa yang saya ketahui, sepak bola Jakarta sudah mulai lahir sejak para kompeni Belanda mendiami tanah ibu kota. Kala itu, mungkin salah satu perkumpulan sepak bola yang tersohor adalah VIOS (Voetbalbond Indische Omstreken Sport). Dan pada masa itu VIOS sudah memiliki lapangan untuk mereka melakukan latihan bernama Viosveld yang terletak di sekitaran jalan HOS Cokroaminoto 87. Namun sejak tahun 1921, Viosveld mulai dikenal oleh kebanyakan orang sebagai Stadion Menteng.

Lalu Persija Jakarta sendiri yang pada awalnya bernama Voetbalbond Indonesisch Jacatra atau VIJ juga mulai berlatih di Stadion Menteng pada tahun 1928, setelah sebelumnya tim sepak bola ini terlebih dahulu berlatih di VIJ Petojo. Dan Stadion Menteng pada akhirnya dikenal sebagai Stadion Menteng Persija tahun 1960. Pada tahun 1975, gubernur Jakarta yang menjabat saat itu bahkan mengeluarkan surat keputusan yang pada intinya menjabarkan bahwa Stadion Menteng merupakan salah satu kawasan yang harus dilindungi karena kawasan tersebut merupakan salah satu cagar budaya yang dimiliki oleh Jakarta.

Bencana” mulai muncul saat tahun 2004 Gubernur Sutiyoso merencanakan untuk melakukan perubahan Stadion Menteng menjadi sebuah taman. Bahkan pemerintah provinsi telah mengaktakan tanah Stadion Menteng ke Badan Pertahanan Nasional tanpa sepengetahuan pihak Persija. Persija tidak tinggal diam, mereka bergerak, mereka menggugat, namun sia-sia. Tepatnya pada tanggal 26 Juni 2006, saya bahkan lupa apa yang sedang saya lakukan saat itu, mungkin, sedang sibuk menjadi siswi baru dari seragam putih abu-abu, Stadion Menteng dipaksa untuk rata dengan tanah. Seperti yang sudah saya utarakan sejak awal, bahwa tidak banyak hal yang saya ketahui tentang Persija Jakarta. Akan tetapi, setelah membaca dan mendengar informasi dari berbagai sumber yang ada, apakah saya salah jika menarik kesimpulan dari peristiwa penggusuran Stadion Menteng, adalah peristiwa hina karna telah secara sengaja menghilangkan simbol sejarah yang seharusnya tetap ada dan tak akan rapuh dimakan usia.

Lalu kemudian, Stadion Lebak Bulus. Stadion yang juga “pernah” menjadi rumah bagi Persija Jakarta. Kenapa saya menuliskan kata “pernah” ? Karna nasibnya pun akan berakhir sama dengan stadion yang terdahulu. Rata dengan tanah. Stadion Lebak Bulus sendiri pun memiliki sejarah tersendiri bagi Persija Jakarta, sebagaimana seperti yang dimiliki oleh Stadion Menteng. Stadion Lebak Bulus terkenal “angker” bagi para siapa pun tim lawan yang dijamu oleh Persija Jakarta di stadion yang terletak di kawasan Jakarta Selatan ini. Bahkan tidak sedikit tim yang dipaksa walk out saat Persija Jakarta melaksanakan laga kandangnya di Stadion Lebak Bulus. Contohnya, Persib Bandung. Saya sendiri beruntung karna pernah beberapa kali mendukung Persija Jakarta dari bangku tribun Stadion Lebak Bulus. Sebelum akhirnya, stadion ini sudah jarang digunakan dengan alasan minimnya kapasitas stadion untuk menampung banyaknya The Jakmania yang hadir setiap kali Persija Jakarta bertanding. Sampai detik ini, kawasan Stadion Lebak Bulus hanya digunakan sebagai tempat dari sekretariat Jakmania. Sebelum pada akhirnya, lagi-lagi “rumah”, “peninggalan sejarah”, dan “saksi bisu” dari banyak kemenangan Persija Jakarta, akan kembali dihilangkan. Rumah dan sejarah yang harus rata dengan tanah, demi kehidupan sebuah kota yang harus mengikuti arus perubahan zaman.

Satu lagi stadion yang sudah terlanjur dikenal sebagai rumah bagi Persija Jakarta. Stadion Utama Gelora Bung Karno. Stadion yang selama ini menjadi “rumah singgah” saat Persija Jakarta melakoni laga kandang. Tunggu dulu, laga kandang ? Bagaimana bisa disebut laga kandang saat untuk bermain di stadion tersebut saja harus mengeluarkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit ? Bagaimana bisa disebut tempat tinggal bahkan untuk menjalani kehidupan di sana masih sering menunggak uang sewa ? Dan saya pun sadar, Stadion Utama Gelora Bung Karno, tidak pernah benar-benar menjadi rumah bagi Persija Jakarta, hanya sebagai tempat singgah sementara.

Entah sudah beberapa kali Jakarta berganti pemimpin, sudah berapa kali Persija kenyang memakan janji-janji kampanye untuk memberikan sebuah rumah bagi mereka, bagi Persija Jakarta. Nyatanya, sampai detik ini Persija Jakarta masih menjadi musafir di tanah kelahirannya sendiri. Bukan perkara mudah memang menjadi sebuah tim sepak bola pada sebuah kota besar. Jangankan stadion, bahkan seringkali izin pertandingan saja harus mati-matian diperjuangkan. Saya pikir, ini adalah pekerjaan rumah besar bagi seluruh masyarakat Jakarta. Mulai dari pemimpin sampai ke kelompok-kelompok yang terdapat dalam masyarakat Jakarta. Bagaimana kita menjaga salah satu cagar budaya Jakarta agar tetap menjadi tuan di rumahnya sendiri, bagaimana kita menjaga salah satu kebanggaan Jakarta agar tidak menjadi gembel di rumahnya sendiri. 

PERSIJA BUKAN HANYA MILIK SEKELOMPOK ORANG YANG MENYEBUT DIRI MEREKA SEBAGAI THE JAKMANIA. PERSIJA ITU JAKARTA. JAKARTA ITU HETEROGEN. PERSIJA ADALAH MILIK MEREKA SEMUA YANG TINGGAL DI JAKARTA TANPA TERKECUALI. PRIBUMI ATAU KAUM URBAN ? MEREKA SEMUA WAJIB MENJAGA APA YANG SEHARUSNYA SELALU MENJADI KEBANGGAAN KOTA JAKARTA. JAKARTA HARUS PEDULI PERSIJA !

October 30, 2014

PERSIJA lagi PERSIJA terus PERSIJA selamanya


Saat yang lain sibuk memikirkan dimana laga semi final akan berlangsung nanti, gue pribadi masih belum sepenuhnya move on kalau Persija ga lolos delapan besar. Saat yang lain sibuk mengurusi rivalitas dengan supporter dari tim kota sebelah, gue pribadi masih menghayal jika Persija bisa secepatnya kembali menjadi juara. Mau di Palembang atau di Jakarta, tetap ga ada nama Persija disana. Mau di Jakabaring atau di Gelora Bung Karno, tetap bukan Persija yang akan bertanding.

Sebosan-bosannya gue sama rivalitas yang ga ada ujungnya, gue lebih bosan menunggu Persija memberikan gelar juara (lagi) untuk para supporternya. Itu kenapa gue pribadi lebih fokus mendukung Persija, dibanding fokus dengan rivalitas yang sudah sejak lama dibiarkan hidup. Gue lebih senang membuang waktu gue untuk mendukung Persija dimanapun dan kapanpun. Dari pada membuang waktu percuma dengan terus mempedulikan rivalitas yang ga penting ini. Ga penting ? Emang kalian pikir meladeni orang-orang caper itu penting ? Emang kalian pikir meladeni orang-orang sirik itu penting ?

Terserah deh semi final ISL musim ini akan berlangsung dimana, gue ga peduli. Terserah deh juara ISL musim ini siapa, gue ga mikirin. Gue berharap musim ini segera berakhir, dan musim depan lekas datang. Dan semoga Persija ga akan lagi membuang waktu serta kesempatan yang ada untuk melakukan yang terbaik nantinya. Yang terpenting, semoga mafia-mafia sepakbola negri ini segera dibumihanguskan tanpa sisa. Agar gue dan mereka yang menyebut dirinya “supporter sepakbola”, bisa menikmati permainan ini dengan jauh lebih baik.

.

...

.....

Halo Persija, lo ga iri sama mereka yang lolos semi final lalu pada akhirnya akan menjadi juara musim ini ?

:)

September 8, 2014

There's Only You, PERSIJA JAKARTA!


Jumat, 5 September 2014

Hari ini, saya kembali mendatangi Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk menyaksikan pertandingan yang menentukan lolos tidaknya klub kebanggaan saya ke fase delapan besar. Ramai. Ya, suasana stadion bisa dikatakan cukup ramai. Teriakan semangat dari para rekan-rekan supporter yang menggema, dan kemenangan karna tiga gol yang dicetak oleh Persija atas Barito mampu membuat saya tersenyum. Tersenyum dengan penuh kegetiran. Bahkan hampir hambar. Karna sebelum pertandingan dimulai pun, kita semua sudah tau bagaimana akhir dari semua ini.

Tidak ada selebrasi untuk tiga gol Persija. Tidak ada kebahagiaan untuk kemenangan Persija. Pada saat mereka semua seharusnya berjuang leibih keras, namun kemenangan itu justru membuat mereka harus berhenti dengan sangat memilukan. Saya sempat berpikir, apakah Persija yang begitu kami ( the jakmania ) banggakan bersungguh-sungguh dalam setiap pertandingannya demi merebut sebuah gelar juara ? Apakah Persija yang begitu kami banggakan mampu melihat besarnya pengorbanan yang kami berikan pada setiap kali datang ke stadion untuk bersama mereka melalui semangat serta doa ?

Emosi akibat kekecewaan yang begitu mendalam bisa terlihat dengan jelas dari tiap-tiap bangku tribun. Kekecewaan yang bahkan saya sendiri bingung untuk mengutarakannya lewat kata demi kata... 

Malam itu, untuk pertama kalinya saya merasakan tribun bukanlah lagi sebagai rumah yang memberikan kenyamanan untuk saya. Sesak. Teramat sesak. Entah apa yang membuat saya sulit bernafas dan meneteskan air mata. Apakah tembakan gas air mata yang membabi buta ? Ataukah karna menyadari jika akan butuh waktu yang cukup lama untuk kembali ke tempat ini ? Saya tidak pernah takut untuk berada dalam situasi kacau saat mendukungmu. Saya tidak pernah meminta ganti rugi untuk lembar demi lembar rupiah yang keluar untuk membili tiket. Tapi untuk kali ini, boleh kah saya menjadi pemujamu yang egois ? Saat bahkan nyawa yang harus dikorbankan untukmu, masih enggankah kamu membalas segala hal yang telah diberikan dengan sebuah gelar juara ? Bukan malah memberikan kemenangan terlambat, yang justru menyakitkan. Sangat teramat sakit.

Tapi jangan pernah khawatir, karna cinta ini tidak akan pernah mati, selama saya masih diberikan nikmat hidup oleh Tuhan.

CINTA



Saat sedang jatuh cinta seperti ini, memang hanya tentang cintalah yang akan diceritakan. Membagi kebahagiaan yang dirasakan dengan orang-orang sekitar, membagi cinta dengan mereka yang masih berteman sepi serta benci. Hei, bagaimana definisi cinta menurut kalian ?

Bagiku, cinta itu adalah...
Tidak mengekang, namun memberikan kebebasan bertanggung jawab.
Tidak selalu curiga, namun memberikan percaya sepenuh hati.
Tidak egois, namun saling bertukar cerita tentang apa-apa saja yang dirasakan.
Tidak jenuh, namun saling menguatkan satu sama lain.

Jika cinta, tidak perlu mengekang pun dia akan tetap mengingatmu di sepanjang harinya.
Jika cinta, tidak perlu curiga karna sudah pasti dia hanya menjadikanmu satu-satunya di dalam hatinya.
Jika cinta, tidak akan ada egois karna dia pasti akan memahami setiap keinginanmu.
Jika cinta, tidak akan pernah ada jenuh karna kalian tau bahwa yang kalian jalani adalah sebuah perjuangan.

Cemburu ? Lelah ? Apa itu manusiawi ?

Karna akan beda rasanya, jika memang hanya cinta yang menjadi dasar saat kalian menjalin sebuah hubungan. Bukan mengejar impian untuk saling memiliki semata, tapi bagaimana caranya untuk tetap bersama dan tetap tinggal dalam cinta itu sendiri. Rasa takut kehilangan sudah sewajarnya ada. Namun cinta bukanlah bagaimana caranya menjaga raga seseorang yang dikasihinya agar tidak pernah pergi dari kita. Melainkan, menjaga perasaan yang ada pada diri masin-masing agar tidak ada pihak atau apapun juga yang merusak cinta yang sudah tumbuh dan menetap. 

Bukan raganya yang harus kau kekang, melainkan perasaanmu sendiri... 

Tidak perlu saling mengucap janji untuk selamanya bersama, karna tidak akan ada manusia yang bisa hidup selamanya. Berjanjilah pada dirimu sendiri, untuk membahagiakannya setiap hari saat dia masih menjadi milikmu. Cukup. 

Jangan pernah kau ragukan tentang perasaanku. Entah cinta, sayang dan bahkan rindu. Karna jika aku tidak memiliki semua itu terhadapmu, tidak akan pernah ada kita saat ini. Bagiku, cinta adalah pondasi awal dan utama untuk memulai. Sebab itulah, kita ada sampai detik ini.