November 6, 2015

Jatuh Cinta

Sebaik-baiknya jatuh adalah jatuh cinta. Tapi akan jauh lebih baik jika tidak sampai terjatuh, apalagi jatuh pada cinta. Lalu, bagaimana seharusnya?
.
...
.....
Mecintalah tanpa harus terjatuh. Caranya? Mencintalah dengan tulus, tanpa harap, tanpa tapi, dan tanpa karena.

October 13, 2015

#TolakPersibMainDiJakarta

#TolakPersibMainDiJakarta? Apakah merupakan ungkapan perasaan takut dari para pecinta sepak bola Jakarta? Iya, memang benar demikian faktanya! Takut jika akan terjadi kekacauan di Kota Jakarta yang begitu kami cintai. Takut jika akan ada lagi nyawa-nyawa yang hilang sia-sia. Atau bahkan takut jika nantinya akan ada lagi dan lagi berita-berita yang kurang menyenangkan untuk nama baik para pecinta sepak bola Jakarta.

#TolakPersibMainDiJakarta? Kita semua paham jika Stadion Utama Gelora Bung Karno memang merupakan stadion yang dimiliki oleh negara. Dan siapapun BERHAK menggunakan stadion tersebut untuk melaksanakan berbagai acara, baik yang masih berbau olahraga, konser musik sampai politik tanpa terkecuali. Termasuk untuk melaksanakan final ajang Piala Presiden 2015 pada tanggal 18 Oktober nanti, antara Sriwijaya FC melawan Persib Bandung. Persib Bandung? Jakarta? Tidak perlu lagi rasanya untuk dijelaskan sebenarnya ada apa dan kenapa dengan kedua hal tersebut.

#TolakPersibMainDiJakarta? Mungkin pihak-pihak yang menginginkan pertandingan tersebut tetap dilaksanakan di Jakarta, belum begitu paham atau justru acuh terhadap gesekan yang sudah lama terjadi antara para pecinta sepak bola Jakarta dengan para pecinta sepak bola asal Bandung. Atau memang yang mereka inginkan hanyalah sebatas merih keuntungan materi tanpa memikirkan hal-hal kurang menyenangkan yang nantinya akan dan pasti terjadi jika memaksakan partai final Piala Presiden di Kota Jakarta.

#TolakPersibMainDiJakarta? Ini bukan perkara menjadi jagoan atau seseorang yang rela mati demi sebuah harga diri. Ini tentang keadilan. Keadilan yang hampir tidak pernah kami terima sebagai pecinta dari tim sepak bola ibu kota negara ini. Islah perdamaian sialan. Tour Sleman yang katanya tanpa kehadiran pihak supporter lawan tapi nyatanya mereka bisa hadir. Tragedi Cikampek. Dan jangan lupakan juga hal yang dilakukan oleh oknum pecinta sepak bola dari tanah Palembang kepada kami yakni dengan menyiramkan air keras pada saat bertandang kesana. Saat perdamaian begitu kami junjung dengan sangat tinggi, kenapa justru perbuatan tidak menyenangkan yang selalu datang sebagai balasannya?

#TolakPersibMainDiJakarta? Ini bukan kekhawatiran jika kelak mereka nanti berhasil membirukan Jakarta, tapi ini tentang kekhawatiran akan memerahnya Jakarta oleh darah-darah yang seharusnya bisa dihindari sebelumnya. Ini bukan kekhawatiran jika kelak mereka menjadi juara dan merayakan kemenangannya di Jakarta lalu sesumbar di dunia maya karna telah berhasil menginjak harga diri sepak bola Jakarta. Tapi ini tentang bagaimana menjaga dan mencegah hal buruk, bahkan terlalu banyak hal buruk jika laga final tetap dilangsungkan di Kota Jakarta.

Jakarta tidak pernah takut. Justru kalian yang harus waspada.

Jakarta tegas menolak. Karena kalian yang sebenarnya sedang kami lindungi.

Saat bahkan kalian ingin mengabadikan permusuhan ini, maka kami akan membantu dengan sepenuh hati untuk mewujudkan apa yang memang kalian inginkan.

Jakarta itu Persija itu The Jakmania.

Dan kalian bukan rival yang pantas untuk kami. Tidak akan pernah pantas!

#TolakPersibMainDiJakarta

Viking tetap Anjing!

September 9, 2015

Ironi dari Tanah Bali, Macanku, Tak Lagi Mengerikan

"Kalau ga bisa mendukung tim saat terpuruk, jangan pernah senang saat tim merayakan kemenangan."

Hmm, kalau memang saya seperti itu, mungkin sejak berakhirnya pertandingan pertama yang sangat buruk melawan tuan rumah Bali United, saya tidak akan pernah kembali menginjakan kaki ke Stadion Dipta untuk mendukung Persija sekalipun saya masih berada di Pulau Dewata. Nyatanya saya tetap kembali, dan terus kembali untuk memberikan dukungan terbaik bagi Persija. Lalu, apa mereka juga memberikan yang terbaik bagi saya? Bagi kami para pecintanya yang telah mengorbankan hampir seluruh hidupnya hanya untuk berdiri di tribun demi mendampingi Persija bertanding? Hanya mereka yang hadir secara nyata di Stadion Dipta, yang tau bagaimana menyakitkannya melihat Persija bermain dengan sangat teramat mengecewakan!

Apa saya serta para pecinta Persija lainnya tidak berhak kecewa atau bahkan marah? Apa kami harus selalu sabar dan memaklumi tiap-tiap hasil buruk yang selalu membuat kami merasa jatuh? Karna cinta tidak melulu soal memanjakan, terkadang, kritik justru menjadi bukti bahwa rasa cinta kita terhadap seseorang atau sesuatu sungguhlah nyata dan juga tulus.

Ini bukan perkara menuntut, ini masih tentang kecintaan serta kebanggaan. Jangan pernah tanyakan atau bahkan ragukan lagi seberapa besar rasa fanatik, loyalitas atau bahkan cinta kami terhadapmu Persija! Saat waktu kami begitu banyak kami sisihkan demi mendampingi klub kebanggaan kami bertanding, saat materi kami begitu banyak terkuras hanya demi pertandingan selama 2 kali 45 menit, atau bahkan saat nyawa kami menjadi satu-satunya hal terakhir yang harus kami pertaruhkan hanya demi sebuah pertandingan sepakbola.

Lalu, siapa atau apa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Tentu saja semua hal yang terdapat dalam tubuh Persija itu sendiri! Baik manajemen, staf pelatih, sampai ke para pemain yang sudah mengabdikan dirinya pada sebuah lambang monas yang tersemat pada seragam kebanggaan Persija. Kewajiban kami sebagai supporter selalu berusaha kami lakukan sebaik mungkin, mendukung Persija tak peduli harus menyebrangi lautan atau bahkan udara, tak peduli terik matahari atau derasnya badai, kami tak akan pernah mundur apalagi berhenti. Lalu, salahkah kami menuntut hak kami saat kewajiban tak pernah kami lalaikan sedikitpun? Salahkah kami kecewa saat bahkan kami terlanjur mencintai terlalu dalam?

Percayalah Persija, sebesar apapun rasa kecewa atas burukmu, masih jauh lebih besar rasa cinta ini terhadapmu. Lekas bangun, Macan!


July 14, 2015

Tanpa Judul

Aku hampir melupa, bagaimana rasanya menghitung waktu untuk segera kembali kesana dan mendapatkan hal yang paling menyenangkan selama hidupku.

Aku hampir melupa, bagaimana rasanya berada diantara kerumunan manusia untuk berebut dan bergegas masuk ke tempat yang sudah kami anggap sebagai rumah kedua.

Aku hampir melupa, bagaimana rasanya menghapus peluh yang membasahi tubuh akibat terlalu bersemangat dan bergejolaknya jiwa raga ini dalam memberikan support untuk kaki-kaki yang sedang berjuang keras demi sebuah hasil yang membahagiakan.

Aku hampir melupa. Hampir saja. Seandainya cinta yang ku miliki bersifat sementara, aku mungkin sudah benar-benar melupa saat ini. Seandainya cinta yang ku miliki itu hanya sebuah kepalsuan, aku mungkin sudah benar-benar menghapus segala hal yang berhubungan dengannya dalam memoriku.

Mungkin aku tidak melupa. Aku hanya dungu dan bahkan seperti orang yang hanya memiliki separuh nyawa saja untuk melanjutkan hidupnya. Mendekati mati.

Aku ingin hidup lagi.

Aku ingin dia kembali lagi.

Sepakbola, serta segala hal yang berkaitan dengannya. Separuh nyawaku, ada disana.

May 31, 2015

Menunggu Sebuah Reinkarnasi

Karena sepak bola bukan hanya sekedar olah raga permainan, melainkan juga sebagai kehidupan bagi beberapa manusia...

Sakit berkepanjangan. Dibekukan. Kritis. Lalu dia benar-benar mati. Alangkah menyedihkannya nasib sepak bola negri ini, Tuhan. Hmm, saya mengerti jika maksud dari "mereka" baik, yakni ingin menyelamatkan atau bahkan membuat sepak bola negri ini jauh lebih baik. Tapi sayangnya, "mereka" hanya melihat dari satu sisi saja tanpa mau menoleh ke sisi lainnya. "Untuk apa berkompetisi tanpa prestasi baik, untuk apa berkompetisi jika induk olah raganya belum benar" ya, hanya itulah yang menjadi fokus "mereka".

Bicara masalah prestasi, saya akui, saya pun menginginkan sepak bola negri ini menjadi yang terbaik di antara yang paling baik. Menoreh prestasi tertinggi dan ditakuti oleh setiap lawan. Tapi apakah dengan cara "mematikan kompetisi" bisa membuat sepak bola negri ini berprestasi? Atau sederhananya, apakah kita bisa menjadi seorang juara tanpa adanya perlombaan? Apakah kita bisa mencapai garis finish, jika berhenti di tengah jalan? Saya rasa, kalian bisa menyimpulkan sendiri jawabannya.

Lalu soal induk sepak bola negri ini yang belum benar, saya rasa itu adalah masalah klasik. Seharusnya, jika belum benar, perbaiki yang cacat saja, bukan justru merusak keseluruhan bagiannya. Mungkin "mereka" lupa akan hukum sebab-akibat yang ada dalam kehidupan. Hey, apa "mereka" lihat kaki-kaki yang kini bermain di tanah gersang perkampungan? Apa "mereka" lihat wajah-wajah yang kini kebingungan bagaimana caranya untuk menyambung hidup saat bahkan "kehidupan" itu telah dirampas dan dimatikan oleh "mereka"? Tak ada solusi, "mereka" egois sekali rupanya, berambisi meraih prestasi namun justru perlahan membunuh prestasi itu sendiri.

Kami TIDAK kehilangan sebuah HIBURAN, tapi kami bahkan kehilangan sumber KEHIDUPAN!

Sepak bola sebagai hiburan bagi para pecintanya itu adalah nomor kesekian dari begitu banyaknya alasan kenapa kami mencintai sepak bola negri ini. Yang pertama dan yang paling utama adalah tetap, karena sepak bola merupakan kehidupan bagi para pecintanya. Sepak bola adalah nafasnya, sepak bola adalah jiwanya, sepak bola adalah cintanya, sepak bola adalah sedihnya, sepak bola adalah teman terbaiknya, atau bahkan sepak bola adalah luapan amarah terbesarnya.

Hiburan? Itu hanyalah sebuah bonus. Terlalu naif rasanya jika sepak bola hanya membahas satu hal yakni prestasi. Bagaimana bisa "mereka" menginginkan prestasi saat bahkan menginjak stadion saja mungkin jarang, atau bahkan tidak pernah. Tunggu sebentar, saya punya satu pertanyaan; "Saat sepak bola negri ini sempat dibekukan dan kemudian akhirnya benar-benar mati, lalu kelak jika sepak bola negri ini bereinkarnasi, siapa yang bisa menjamin bahwa prestasi sepak bola negri ini akan jauh lebih baik dari sebelumnya?"

April 25, 2015

Kembalikan Dia Secepatnya, Aku Mohon!

Selamat malam, sepak bola Indonesia. Apa kabarmu saat ini? Aku selalu berharap kamu dalam keadaan baik. Ya, baik-baik saja, itu sudah cukup membuatku merasa tenang. Aku? Siapa aku? Baiklah, aku minta maaf karena aku lupa memperkenalkan diriku sebelum aku menyapamu tadi. Aku adalah bagian dari negara ini, dari bangsa yang menurutku sangat luar biasa dan hebat! Aku adalah salah satu dari sekian banyak rakyat di negara ini yang menjadi penggemarmu. Namun bukan sekedar penggemar belaka, aku, dan mungkin juga mereka di luaran sana, merupakan penggemar yang memiliki begitu banyak asa dan juga mimpi untuk melihatmu menjadi yang terbaik. Juara? Tentu saja. Namun harapan yang paling sederhana ialah, melihatmu jauh dari hal-hal memuakkan yang bisa membuatmu mati kapan saja.

Aku mungkin belum banyak mendedikasikan hidupku untukmu. Ya, belum begitu banyak. Sebagai seorang penggemar biasa, aku tak bisa memberikan banyak hal padamu. Selain dukungan serta doa yang tanpa henti aku tujukan terhadapmu. Ingin sekali rasanya aku berbuat banyak hal, bahkan sangat teramat banyak hal untuk membuatmu selalu dalam keadaan baik. Tidak, aku tidak jenuh atas keadaanmu yang semakin kesini justru semakin mengenaskan. Meninggalkanmu? Mana mungkin aku bisa melakukannya, saat bahkan hampir separuh dari kehidupanku berasal darimu. Tenang saja, aku akan selalu bersamamu sampai keadaanmu kelak akan membaik.

Hmm, aku takut jika saja benar-benar harus kehilanganmu. Harus jauh sementara waktu seperti ini pun rasanya aku sudah hampir mati lemas. Tak tau sampai kapan aku dipaksa jauh darimu seperti ini, tak tau sampai kapan aku dipaksa menahan rindu yang setiap detiknya semakin menggebu dan bergejolak dalam dada. Aku sungguh tak tau. Jujur, aku sangat tersiksa dengan keadaan ini, terlalu rumit dan seolah mampu membuat kepala pecah walau hanya untuk berpikir "ada apa sebenarnya?". Semakin aku memikirkan dan berusaha memahami apa yang sedang terjadi, justru semakin membuat nafasku terasa sesak. Menuju mati.

Apalah diriku ini, hanya manusia berotak udang yang tak mengerti banyak hal tentang masalah yang menerpamu. Ingin sekali rasanya sejenak aku menjadi pintar, lalu membantumu menyelesaikan segala perkara yang benar-benar brengsek. Tapi, aku tetaplah seorang manusia berotak dangkal. Yang aku bisa hanya menjadi penggemar setiamu. Yang aku bisa hanya memberikan dukungan sebaik mungkin. Yang aku bisa hanya memanjatkan doa untukmu pada setiap aku berbicara empat mata saja dengan Tuhan. Hanya itu.

Teruntuk sekelompok manusia yang sudah pasti lebih cerdas dariku, aku mohon untuk sesegera mungkin mengembalikan sepak bolaku ke tempat yang seharusnya. Teruntuk sekelompok manusia yang sudah pasti lebih terhormat dariku, aku mohon untuk sesegera mungkin menghidupkan sepak bolaku yang sudah hampir benar-benar mati. Teruntuk sekelompok manusia yang sudah pasti lebih mencintai sepak bola negri ini dibandingkan dengan aku, tolong, kembalikan salah satu sumber kebahagiaanku secepatnya. Bisakah kalian mengabulkannya? Aku mohon, sangat memohon.

April 21, 2015

Terima Kasih Kartini

Tak banyak yang saya ketahui tentang bagaimana perjuangan seorang Kartini semasa hidupnya, bahkan cenderung sedikit dan bisa dibilang ilmu saya soal beliau sangat cetek. Yang saya tau adalah, jika beliau merupakan seorang perempuan yang berjuang keras untuk memerdekakan kaum perempuan pada masanya dahulu. Dan hasil perjuangan seorang Kartini, dirasakan oleh seluruh perempuan Indonesia hingga sekarang. Emansipasi perempuan, katanya.

Entah apa yang Tuhan rasakan saat menciptakan makhluk anggun nan tangguh seperti perempuan? Siapa di dunia ini yang meragukan kemampuan seorang perempuan? Awal kehidupan terjadi dari rahim seorang perempuan. Surga pun terletak di telapak kaki seorang perempuan. Dan perjuangan seorang Raden Ajeng Kartini pun semakin membuat posisi seorang perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata!

Dahulu, perempuan dianggap remeh. Tidak boleh atau bahkan dianggap tidak bisa melakukan tugas yang (katanya) hanya bisa ditaklukan oleh kaum pria. Namun, lihatlah para perempuan hebat masa kini. Tak ada lagi anggapan jika perempuan itu sosok lemah yang tidak bisa melakukan banyak hal seperti apa yang selalu dilakukan kaum laki-laki. Indonesia bahkan pernah memiliki kepala negara seorang perempuan, dan pada dewasa ini pun menteri-menteri perempuan patut diapresiasi kerja kerasnya demi Indonesia yang jauh lebih merdeka dari sebelumnya. Kata siapa perempuan itu lemah dan tidak bisa melakukan sesuatu yang hebat? Saat bahkan negara ini pun pernah berada di bawah kekuasaannya. Paras yang cantik, hati yang kuat, tekad yang selalu membara menjadi gambaran kartini di masa kini.

Ibu kita Kartini, pendekar bangsa.
Pendekar kaumnya, untuk merdeka.

Mungkin, jika tak ada seorang Kartini, kaum hawa pun tak akan pernah bisa terlibat dalam sesuatu hal yang mayoritas digemari oleh para laki-laki. Ya, sepak bola. Tapi, berkat emansipasi yang telah dilakukannya, dewasa ini perempuan dan sepak bola merupakan suatu hal yang tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas.

Kartini dari tribun, adalah mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk sepak bola Indonesia. Mereka yang meluangkan waktunya untuk memberikan dukungan terbaik bagi sepak bola Indonesia. Mereka yang tetap terlihat tangguh di antara supporter pria lainnya.

Kartini dari tribun, sosok perempuan yang kuat namun tetap elegan. Sosok wanita yang semangat namun tetap santun. Sosoknya menjadi sorotan tersendiri bagi semua yang berada di bangku tribun.

Selamat hari kartini bagi para pejuang wanita tribun. Tetaplah berdiri kokoh dan penuh semangat demi kemajuan sepak bola negri ini. Karna semua yang berada di dunia ini adalah berasal dari seorang wanita, termasuk sepak bola. Teruslah berjuang dan menjadi salah satu faktor keberhasilan sepak bola negri ini.

Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia.
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia.

Semoga kami bisa terus melanjutkan perjuanganmu untuk memerdekakan kaum perempuan. Tak peduli sesulit apapun rintangan yang berusaha menjatuhkan. Karna kami yakin, pada setiap gelap yang datang dalam hidup, akan ada pula terang benderang yang kelak akan menjadi sebuah pelita kehidupan dan pada akhirnya menggantikan sebuah gelap.

Terima kasih, Kartini.



April 16, 2015

Sepak Bola yang Tidak Lagi Sederhana

Aku teringat bagaimana indahnya masa kecilku beberapa tahun silam. Saat setiap kali menanti senja datang, aku selalu ikut bermain sepak bola dengan mereka yang usianya beberapa tahun di atasku. Sudah jelas aku menjadi perempuan satu-satunya kala itu, dan aku selalu diposisikan menjadi seorang penjaga gawang. Katanya, agar mengurangi resiko cidera terhadapku. Padahal faktanya hidungku pernah hampir patah saat salah satu dari pihak lawan menendang bola dengan penuh nafsu untuk meraih kemenangan. Diposisi manapun, seorang pemain sepak bola tak akan bisa jauh dari resiko cidera ku rasa. Ah, saat-saat yang menyenangkan. Saat aku mengenal sepak bola sebagai hal yang membuat soreku selalu penuh arti. Saat sepak bola saat itu mengajarkan aku tentang kebersamaan, tentang kebahagiaan yang bahkan tak bisa dinilai dengan deretan angka. Bahkan saat kini aku beranjak menua, sepak bola masih menjadi guru terbaikku.

Faktanya tidak semua pihak bisa menjabarkan sepak bola dengan sederhana tapi memiliki makna yang istimewa. Ya, tidak semua. Saat aku kecil, mungkin aku bisa dengan lugunya menikmati permainan sepak bola yang aku mainkan bersama teman-teman satu kampung dengan penuh keriangan tanpa ada beban sama sekali. Tapi dewasa ini, aku seolah kehilangan makna sederhana dari sepak bola itu sendiri. Kebersamaan, kesenangan, persaudaraan dan bahkan cinta. Saat ini aku hanya melihat sepak bola yang penuh dengan ambisi, yang arogan, yang penuh dengan hawa nafsu untuk saling menjatuhkan dan berebut agar menjadi yang paling hebat. Ah, bukan sepak bolanya yang arogan. Tapi mereka. Ya mereka, yang menjadikan sepak bola menjadi sesuatu yang tidak lagi indah.

Kenapa sepak bola bisa menjadi sedemikian rumit di negri ini, Tuhan? Aku lelah bermimpi, sangat lelah. Ingin rasanya aku terbangun lalu melihat sepak bola di negri ini baik-baik saja. Baik-baik saja, cukup. Jika menjadi yang terbaik di dunia adalah perkara sulit, setidaknya sepak bola negri ini baik-baik saja, tanpa cacat yang tidak perlu dari pihak-pihak yang seharusnya bersama-sama bertanggung jawab untuk memajukan sepak bola negri ini.

Ah, aku rindu saat hanya menikmati sepak bola di tanah becek lalu ibuku mengomel karna anak perempuannya pulang dengan pakaian penuh lumpur. Aku rindu saat hanya menikmati sepak bola pada layar kaca lalu ayahku bergumam jika otak anak perempuannya sudah tertukar dengan otak anak laki-lakinya yang justru tidak menyukai sepak bola. Bukan seperti sekarang ini, saat aku bahkan sudah tak mampu lagi mengerti sebenarnya mau dibawa kemana sepak bola negri ini kelak. Atau, bagaimana nanti aku bercerita pada anak cucuku tentang gambaran sepak bola negri ini pada zamanku, aku bahkan bingung membayangkan jika saat itu datang. Rumit, atau justru aku yang membuatnya rumit?

Tidak. Bukan rumit. Mungkin, aku hanya rindu akan kehadiran sepak bola negri ini. Ya, aku terlalu rindu. Semoga sepak bola negri ini lekas sembuh dari sakit yang sangat kompleks. Semoga sepak bola negri ini lekas terbangun dari mati surinya yang mengerikan. Dan semoga sepak bola negri ini kelak akan selalu dalam keadaan baik.

Baik-baik saja.
Cukup.

April 1, 2015

Menunggu

Perkara menunggu bukan lah sesuatu yang mudah. Perkara menunggu adalah tentang siapa yang siap meluangkan banyak waktunya untuk dihabiskan dalam harapan, adalah tentang apa yang diyakininya tidak akan menjadi angan tanpa hasil nyata. Perkara menunggu adalah tentang siapa yang memiliki hati yang kuat serta tangguh untuk tidak bergeser sedikit pun dari penantiannya, adalah tentang apa yang diperjuangkannya walau dunia sekitar menganggapnya mustahil. Meskipun yang ditunggu terus berlalu tanpa menoleh, meskipun yang ditunggu tersenyum riang bersama orang lain. Perkara menunggu adalah soal keyakinan, tentang mereka yang selalu percaya bahwa harapan itu ada walau hanya sepersekian persen.

Perkara menunggu bukanlah tentang sebuah kebodohan. Tidak, aku tidak bodoh. Aku hanya percaya pada harapanku sendiri. Bagaimana nanti pada akhir penantianku? Bersama atau tidak? Aku tidak peduli. Setidaknya, telah aku buktikan pada diriku sendiri bahwa memang benar adanya cinta ini untuknya disana. Tak perlu menoleh ke arahku, karna ada dia yang harus kau bahagiakan. Jangan memandang iba ke arahku, inilah caraku mencintaimu, tidak mengharap, tidak mengemis, melainkan menikmatimu dari kejauhan.

February 27, 2015

Sepak Bola Itu Mahal

Namanya juga hidup, tidak akan seru tanpa adanya pro kontra terhadap satu hal yang menarik perhatian banyak orang. Saling beradu argumen dan merasa bahwa pendapatnya adalah yang paling benar dan pastinya yang terbaik. Dua pemikiran yang berbeda, antara yang pro dan yang kontra, antara yang menerima dan menolak. Ah, bukankah masalah perbedaan di negara ini memang selalu runyam ?

Berbeda pendapat bukanlah sebuah kesalahan atau bahkan kejahatan. Yang salah adalah apabila terlalu memaksakan kehendak tanpa mau menerima alasan pemikiran dari pihak yang berbeda lalu akhirnya melibatkan emosi di dalamnya. Hmm, sangat disayangkan jika hal ini justru menjadi faktor pemecah belah sebuah keluarga besar yang sejatinya berada dalam naungan yang sama, dalam tujuan yang sama, dan tentu saja dalam cinta yang sama, Persija Jakarta.

Apa sih faktor utama sebenarnya dari perdebatan yang sedang ramai sejak kemarin sore ? Harga tiket yang melambung tinggi padahal cuma laga ujicoba ? Atau rasa rindu terhadap suasana stadion yang diakibatkan mundurnya jadwal kompetisi namun terhalang masalah dana ? Ada yang berteriak lantang harga tiket terlalu menyusahkan kaum supporter yang masih duduk dibangku sekolah. Disisi lainnya ada yang berteriak "katanya demi persija apapun ku lakukan". Lalu, bagaimana seharusnya, agar pro kontra masalah tiket yang sebenarnya bukan sekali dua kali terjadi ini tidak terus berulang ?

Hidup itu seperti mata uang logam. Terlihat satu, namun sesungguhnya memiliki dua sisi. Maka saat ada masalah dalam kehidupan, janganlah hanya memnadang dari satu sisi saja, namun juga dari sisi yang lainnya atau sisi yang berlawanan. Gue berusaha menjabarkan pemikiran dari mereka yang pro dan dari mereka yang kontra soal masalah ini satu demi satu. Ilmu sok tau aja sih, namanya juga negara demokrasi, bebas berpendapat, iya kan ?

Pertama dari mereka yang kontra. Tiket seharga empat puluh lima ribu rupiah untuk laga ujicoba terbilang mahal ? Bagaimana dengan para outsider ? Bagaimana dengan para kaum pelajar atau bahkan golongan yang belum bekerja ? Mereka juga para pecinta sepak bola, mereka juga rindu tribun, mereka juga ingin mendukung tim kesayangannya secara langsung di stadion. Namun dengan nominal yang demikian, tentu sangat memberatkan. Untuk laga ujicoba saja mahal, bagaimana nanti saat kompetisi mulai ? Bukan tidak mungkin jika harga tiket nantinya akan lebih mahal dari harga untuk ujicoba tersebut. Bagimana satu stadion bisa terisi penuh jika harga tiket melambung tinggi ? Bagiamana jumlah rojali tidak semakin berjibun sementara harga tiket selalu membuat leher tercekik ? Mungkin disini sepertinya manajemen tidak pernah berpikir ke arah "tiket murah stadion ramai". Supporter bukan kostumer dalam hal ini memang benar. Karena sejatinya, pemilik tim yang sesungguhnya adalah para supporternya, adalah para pecintanya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang pro ? Tiket empat pulih lima ribu rupiah bagi kelompok ini terbilang wajar. Mengingat biaya sewa stadion yang tidak murah, dan laga ini pun tidak disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi nasional atau swasta. Jadi, masalah finansial hanya tertutup dari tiket yang nantinya terjual. Bagi pihak yang pro, saat mendukung sepak bola sudah seharusnya kita mempersiapkan segala hal kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Karena itulah gunanya supporter, mendampingi timnya saat suka atau bahkan duka tak peduli banyak hal yang harus dikorbankan. Tapi sebaiknya, selain pro, kita juga harus selalu kritis terhadap setiap keputusan manajemen. Jika terlihat ada kejanggalan, harus siap bertindak untuk melawan hal yang kelak akan merugikan tim atau bahkan supporter. Dari supporter, oleh supporter, untuk supporter demi kejayaan tim kebanggaan pastinya.

Pro kontra wajar tapi jangan sampai memicu keretakkan dalam tubuh supporter itu sendiri. Dewasa, cerdas, dan kritis. Tetap saling merangkul dan mengawasi kinerja manjemen demi Persija yang jauh lebih baik meskipun dalam pola pikir yang berbeda-beda. Jangan lupakan bhinneka tunggal ika, kawan. Lalu, sebenarnya gue berada dalam pihak yang mana ? Pro atau kontra ?

Bagi gue, berapapun harga tiketnya akan selalu terasa mahal. Mahal ? Ya, sepak bola itu mahal. Karna segala bahagia yang didapat dari sepak bola itu tak terhingga harganya. Karna setiap persahabatan yang terjalin akibat sepak bola itu tak bisa dinilai dengan nominal-nominal rupiah. Dan bahkan, cinta yang terwujud karna sepak bola pun tidak akan pernah bisa dibayar dengan apapun.

Gue PERSIJA. Lo PERSIJA. Kita JAKMANIA.



February 23, 2015

5 Years Ago With(out) You

Waktu mungkin sudah berjalan begitu jauh meninggalkan segala hal yang terjadi antara aku dan kamu pada masa lampau. Tapi otakku masih mampu mengingat segala hal tentang kita dengan cukup baik. Aku sudah bosan sebenarnya, selama lima tahun terakhir, pada hari ini dan juga bulan ini, selalu menuliskan hal yang sama. Menuliskan hal yang tidak akan pernah aku lupa hingga aku menua nanti. Sudah lima tahun kita tidak berjumpa secara jasmani, tapi aku tidak pernah sekali pun melupakanmu baik dalam pikiran maupun perasaan.

Kamu pasti tau kan betapa aku tidak menyukai bulan Februari sejak lima tahun terakhir ? Ah, iya, aku tau benar jika Februari tidak pernah salah atau bahkan terlibat dalam segala hal yang terjadi antara kita berdua. Tapi setiap kali aku bertemu Februari, Februari selalu dan selalu memaksaku untuk kembali mengingat peristiwa yang benar-benar menguras air mataku pada saat itu.

Tentang dirimu yang terbaring koma dengan banyak sekali alat medis yang menempel di sekujur tubuhmu. Tentang diriku yang hanya bisa menangis melihatmu yang tidak berdaya. Tentang dirimu yang mengerang kesakitan dan tampak tidak memiliki harapan untuk hidup sekali lagi. Tentang diriku yang hanya bisa mengecup lembut keningmu seolah ingin menguatkan. Tentang dirimu yang terbujur kaku saat orang-orang datang ke rumahmu untuk mengirim doa. Tentang diriku yang setia duduk di sampingmu yang sedang tertidur dan tidak akan pernah terbangun. Tentang dirimu yang perlahan hilang ditelan tanah merah. Tentang diriku yang menangis sejadi-jadinya sambil memeluk papan kayu yang bertuliskan namamu disana. Tentang kehilangan. Tentang sesuatu yang tak akan pernah kembali.

Hey, saat menuliskan ini aku sedang berteduh di pinggir jalan karena hujan turun dengan derasnya. Beberapa saat yang lalu, aku baru saja berkunjung ke rumahmu. Tak lupa setangkai mawar putih yang selalu aku bawa untuk menghias rumahmu yang hijau itu. Lima tahun ? Tadi aku bahkan masih menangis sejadi-jadinya di makammu, seperti baru kemarin saja rasanya kamu pergi. Aku tidak cengeng, kamu tidak akan pernah tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang bahkan keinginan terakhirnya tak mampu aku penuhi. Tapi percayalah, aku menyayangimu dengan sungguh, Mas.

February 20, 2015

Indonesia Super LOL!


Mungkin keputusan gue untuk bertandang ke Semarang nonton pertandingan ujicoba Persija vs PSIS beberapa waktu lalu bisa dikatakan tepat. Kenapa tepat ? Karena sepertinya gue bakalan dipaksa lebih lama lagi untuk nahan kangen sama atmosfir di stadion, di tribun. Seharusnya gue udah terbiasa dengan kondisi sepak bola Indonesia yang kebanyakan drama. Seharusnya gue udah terbiasa dengan kondisi sepak bola Indonesia yang semerawut. Tapi gue ga bisa dipaksa terbiasa terus menerus dalam keadaan yang begini, lama-lama muak juga.

Jadwal ISL diundur lagi tanpa pikir panjang sih gue rasa. Cuma karena masalah beberapa tim yang belum lengkap masalah tetek bengek yang gue juga ga mau tau itu apaan, penundaan kick off ISL alhasil merembet kebanyak hal. Persiapan masing-masing tim, persiapan supporter, bahkan pasti merembet kepersiapan timnas U23 nanti diajang sea games. Tapi yang paling ngerasain sakit pasti dari pihak supporter macem gue ini men. Susah banget buat menikmati sepak bola di negara tercinta ini. Yang bahkan gue sendiri ga tau apa negara ini sebenarnya cinta sama sepak bolanya ?

Orang-orang yang berdasi itu, dari era si A sampai sekarang era si B, ga pernah bisa sepertinya ngebawa sepak bola keperubahan yang jauh lebih  baik lagi. Kenapa ? Ya karena mereka belum jatuh cinta sama dunia sepak bola. Sepak bola mungkin butuh kemampuan. Sepak bola mungkin butuh teknis. Sepak bola mungkin butuh uang. Sepak bola mungkin butuh badan oraganisasi yang baik. Tapi sepak bola jauh lebih butuh hati, yang cuma bisa diperoleh dari pendukungnya. Gue yakin, jika orang-orang yang katanya “pintar” itu mau mengurusi dan membenahi sepak bola Indonesia dengan hati, ga akan lagi nih ada kesemerawutan seperti ini. Impossible is nothing, right ?

Apapun yang terjadi kami tetap janji mendukung bola negeri ini. 

Jatuh cintalah pada sepak bola, maka kau pun akan memahami arti pengorbanan yang sesungguhnya. - @shintiaaadewi

February 13, 2015

Sebuah Pengakuan

Aku pernah mengagumimu dengan sangat. Segala baik dan burukmu. Segala diam dan tingkahmu. Segala peduli dan candamu. Aku pernah menyayangimu tanpa harap. Pada setiap kali kita berbicara banyak hal. Pada setiap kali kita tertawa dengan lepas. Pada setiap kali aku melihatmu di deretan bangku sebelah. Aku pernah merindukanmu dalam doa. Ketika matahari menyapa di ufuk timur. Ketika terik siang begitu menguras tenaga. Ketika senja yang seringkali ikhlas tertutup mendung.

Aku pernah memenjarakan diriku sendiri dalam cinta diam-diam ini selama bertahun-tahun. Menikmati segala hal yang terjadi karna mencintaimu seorang diri. Terkadang cemas jika saja kelak kamu mengetahui rahasia terbesar ini. Tak sanggup membayangkan akan adanya jarak yang membentang saat semuanya terbongkar. Namun kali ini, aku patut memuji diriku sendiri karna telah mampu menyimpan rahasia ini tanpa cacat.

Kamu adalah cinta pertama sepanjang masa. Yang terindah dan tak terungkap. Kamu pernah menjadi yang pertama walau bahkan saat itu sudah ada perempuan utama yang kamu cinta. Tidak mengapa, karna bahkan bahagiamu pun merupakan sejuk dalam terikku. Mungkin aku memang tidak benar-benar memilikimu seutuhnya. Tapi aku bahagia dan bersyukur karna tidak pernah kehilangan senyum yang selalu melekat diwajah manismu itu.

Sembilan tahun sudah berlalu, kamu tetaplah cinta pertamaku yang menyenangkan. Walau hanya berakhir sebagai teman pada masa putih abu-abu, atau bahkan sebagai teman saat menonton pertandingan sepakbola di tempat yang kita selalu sebut rumah. Sembilan tahun aku rahasiakan semuanya, padamu, bahkan pada semesta di sekitarku. Bolehkah jika sekarang rahasia itu aku bebaskan dari persembunyiannya ? Aku ingin kamu tau, bahwa aku adalah perempuan yang selama masa sekolah rela keluar lebih cepat dari ruang ujian hanya untuk memberikanmu beberapa contekan. Aku ingin kamu tau, bahwa aku adalah perempuan yang mencuri selembar fotomu di ruang guru untuk menjadikannya obat rindu setiap malam. Dan bahkan aku ingin kamu tau, bahwa aku adalah perempuan pertama yang datang ke kediamanmu saat bahkan jenazahmu masih berada dalam perjalanan.

Mungkin sudah sangat terlambat, bahkan cenderung percuma. Namun aku ingin kamu tau rahasia ini, hari ini, tepat setahun setelah kepergianmu. 14 Februari ? Saat mungkin mereka di luaran sana merayakan hari kasih sayang bersama pasangan. Aku justru dipaksa mengingat, saat aku bahkan tak menangisi kepergianmu di makammu yang masih berupa tanah basah. Hei, bagimana kabarmu disana ? Semoga Tuhan selalu memberikan tempat terbaiknya untukmu, sahabat kesayangan.

Aku. Rindu.

February 7, 2015

Selamat Ulang Tahun, Bu!

Ibu... Selama sembilan bulan dia rela membagi ruang di rahimnya untukku, dia rela membiarkan perutnya membesar demi aku. Ibu... Selama dua tahun dia ikhlas memberikan air susu dan darahnya untukku, dia ikhlas terbangun dari tidur malamnya untuk membersihkan popokku dari kotoran.

Ibu... Selalu bersemangat mengajari aku membaca dan menulis, selalu bersemangat membuatkan segelas susu hangat untukku, selalu bersemangat mengawasi aku dari jendela kelas dimana aku baru menjadi seorang murid yang lugu. Ibu... Selalu mengingatkan aku untuk belajar, selalu mengingatkan aku untuk tidak pulang larut malam, selalu mengingatkan aku untuk selalu menjaga diri.

Ibu... Dia khawatir melihatku beranjak dewasa, dia cemas menyadari jika aku sudah mengenal cinta, dia takut aku salah mengambil keputusan dalam masalah hati. Ibu... Diam-diam mendoakanku dalam hatinya, diam-diam menyebut namaku dalam bait doanya, diam-diam memohon pada Tuhan untuk terus menjagaku.

Ibu... Tak ada yang mampu membalas semua yang telah kau lakukan untuk anakmu. Seumur hidupmu kau pertaruhkan untuk anakmu. Darah dan nyawamu adalah sebab mengapa anakmu terlahir ke dunia dan akhirnya menjadi dewasa.

Ibu... Apa itu keriput di wajahmu ? Mengapa tongkat itu selalu kau bawa saat berjalan ? Apa kau sudah lelah ? Mengapa kau menghabiskan waktu seharian di kursi goyang ? Apa yang kau ucapkan bu, aku tidak dengar ? Ibu aku lapar, masih mampukah kau membuatkan ayam goreng untukku ? Ibu mengapa kau diam ? Ibu aku masih dan akan selalu membutuhkanmu.

Ibu... Maaf untuk segala ucapanku yang pernah membuat hatimu terluka. Maaf untuk segala perbuatanku yang sering membuatmu kecewa. Terima kasih telah menjadikanku dewasa, menjadikanku kuat dengan darah dan keringatmu.

Semoga Tuhan selalu menjagamu.
Semoga Tuhan selalu menaikkan derajatmu.
Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik saat kau pulang bu.

Aku mungkin lupa kapan terakhir ibu memelukku. Kapan terakhir ibu bangga dengan nilai raporku. Kapan terakhir ibu memberiku nasehat. Dari kecil ibu mendidikku dengan keras, dengan hukuman fisik jika aku nakal, dengan ucapan kasar jika aku membangkang. Aku masih ingat dengan jelas semuanya bu. Mungkin karna itu kini aku menjadi anak yang keras. Bukan bu, bukan salahmu sehingga aku menjadi pribadi yang keras kepala. Mungkin aku yang memang tidak mengerti caramu mendidikku.

Ibu... Terima kasih untuk semuanya. Maaf sudah membuatmu kesal dan kecewa karna perbuatanku. Ibu... Aku mencintaimu, walau aku tak pernah mengucapkan dan menunjukkannya, namun di doaku ada namamu di dalamnya.

Selamat memasuki usia 46 tahun, untuk wanita hebat yang diciptakan untukku.

February 1, 2015

Mencoba Berdamai dengan Februari

Halo, selamat pagi, Februari. Tunggu dulu, pagi? Bahkan jarum jam sudah melewati angka 12, itu berarti pagi pun telah berlalu. Hari pertama bulan Februari, aku rasa matahari sepakat denganku, sama-sama enggan memperlihatkan dirinya di hadapan Februari. Hari pertama bulan Februari, aku rasa awan sependapat denganku, sama-sama mendung dan ingin menangis tanpa jeda.

Februari? Awalnya aku tidak memiliki masalah apapun dengan Februari. Sampai pada akhirnya peristiwa lima tahun yang lampau, dan satu lagi peristiwa setahun yang lalu terjadi, aku tidak lagi merasa baik-baik saja dengan Februari. Kata kebanyakan orang, Februari adalah bulan yang penuh dengan cinta dibanding deretan bulan-bulan lainnya pada kalender. Buatku? Februari hanyalah bulan yang penuh dengan kesedihan, kehilangan, dan bahkan kematian.

Aku selalu berharap Februari lekas berlalu. Paginya, siangnya, senjanya, dan malamnya, sama sekali tak aku nikmati beberapa tahun terakhir ini. Februari memaksa aku kembali merasakan kesedihan yang seharusnya sudah lama berlalu. Februari memaksa aku kembali mengingat bagaimana sakitnya kehilangan yang seharusnya sudah menjadi cerita basi. Dan Februari pun memaksa aku seolah kembali tak berdaya karena otakku dengan leluasa kembali memainkan film dimana aku sedang menangisi mereka yang pergi karena kematian.

Mungkin, bukan salah Februari, tapi salahku yang belum sepenuhnya ikhlas merelakan orang-orang yang aku sayangi pergi tepat pada bulan Februari. Hmm, mungkin orang-orang di luar sana memang benar, bahwa Februari adalah bulan yang penuh dengan cinta. Buktinya, setiap Februari datang aku selalu mengunjungi mereka berdua di rumahnya. Sahabat-sahabat terbaikku semasa putih abu-abu dahulu. Dengan beberapa tangkai mawar putih yang tak pernah lupa aku bawa, kami melepaskan rindu sambil menanti senja. Aku selalu bercerita dengan sumringah, dengan bersemangat kembali melagukan apa-apa saja yang dulu pernah kami lalui semasa sekolah. Selalu begitu, sampai aku tersadar, hanya ada aku yang larut hanyut dalam kenangan, dan tidak lagi bersama mereka. Ya, hanya ada aku sendirian. Sementara dua batu nisan bertuliskan nama mereka berdua, seolah menatapku nanar dan tetap bisu.

January 12, 2015

Cinta, Pertikaian, dan Sepak Bola

Saya menulis ini sebagai warga sipil biasa. Bukan sebagai supporter sepak bola atau bahkan bagian dari anggota organisasi the jakmania. Saya menulis ini sebagai seorang manusia yang memiliki satu pertanyaan namun tidak pernah ada jawabannya bahkan hingga detik ini. "Pantaskah nyawa menjadi harga mati demi sebuah kebanggaan di antara sebuah rivalitas tolol ?"

Mungkin mereka LEBIH BANGGA saat berhasil membunuh sesamanya, dibandingkan dengan menghasilkan banyak kreatifitas untuk TIM (yang katanya) KEBANGGAAN. Mungkin mereka LEBIH BANGGA saat berhasil menjatukan sesamanya dibandingkan dengan memberikan dukungan terbaik untuk TIM (yang katanya) KEBANGGAAN. Mungkin mereka LEBIH BANGGA melihat darah yang mengucur deras dari sesamanya dibandingkan dengan melihat setiap keringat dan jerih payah yang dilakukan oleh TIM (yang katanya) KEBANGGAAN.

Menjaga rivalitas ini tetap abadi ga membuat KITA terlihat jagoan. Menjaga permusuhan ini tetap ada ga membuat KITA terlihat keren. Justru tetap membiarkan diri berpegang teguh pada prinsip ini lah, yang membuat KITA tidak layak disebut sebagai sekelompok SUPPORTER apalagi MANUSIA.

KITA mencintai SEPAK BOLA, tapi KITA juga yang membuat SEPAK BOLA itu terluka. KITA yang selalu yakin bahwa BOLA itu bundar, tapi KITA juga yang membuat sekat-sekat pemisah yang menjadikannya seolah tak lagi bundar, tak lagi bersatu seperti seharusnya.
Sampai kapan ini semua harus terjadi ? Atau harus menunggu sampai populasi dari masing-masing KITA semua mati sia-sia ? Ingatlah kodrat kita sebagai MANUSIA BIASA. MANUSIA BERTUHAN. MANUSIA BERADAB.

Jangan lagi ada di antara KITA yang harus membayar cinta yang terlalu besar ini dengan nyawa yang hanya diberikan satu oleh sang pemilik kehidupan. Tidakkah cukup bertikai selama 2 X 45 menit di lapangan hijau ?

Wariskanlah cinta yang begitu besar kepada anak cucu kita nantinya, bukan justru meninggalkan permusuhan yang sama sekali tidak berguna. #KitaIndonesia !