February 17, 2014

Kehilangan (lagi)


Tuhan pernah mengenalkan aku pada sosok pria yang begitu baik. Bahkan menurutku, dia lebih dari pada sekedar baik. Aku tau, banyak perempuan yang tertarik padanya. Entah karna parasnya yang memang manis, atau bahkan karna sifatnya yang begitu menyenangkan. Begitu pula denganku. Iya, aku sempat memendam perasaan terhadapnya semasa sekolah dulu. Aku lebih memilih memendam dalam-dalam perasaanku terhadapnya, karna tidak ingin merusak persahabatan yang sudah aku jalin dengannya selama ini. Sudah banyak hal yang kami lakukan bersama semasa sekolah dulu. Dia yang selalu menunggu kedatanganku di depan pintu ruangan untuk memberikan jawaban saat ujian sekolah. Dia yang selalu meminta bantuanku untuk mengerjakan tugas sekolah yang dirasa sulit. Dia yang selalu membuat seisi kelas tertawa karna celotehnya, termasuk aku.

2006 hingga sekarang 2014. Sudah delapan tahun lamanya kami saling mengenal. Aku tidak pernah melupakan sosoknya bahkan sejak lulus dari sekolah sekali pun. Kami sempat beberapa kali bertemu dalam acara temu kangen kecil-kecilan. Dan sosoknya tidak pernah berubah, dia tetaplah pria yang sangat menyenangkan. Terkadang, saat bertemu lagi dengannya, tanpa sadar aku selalu tersenyum setiap kali mengingat betapa tergila-gilanya dulu diriku dengan dirinya. Aku sama sekali tidak pernah mengatakan perasaan yang sempat aku pendam selama tiga tahun lamanya untuknya. Biarlah itu menjadi kenanganku sendiri, kenangan yang sangat indah dan akan memiliki tempat tersendiri di dalam hati, di dalam pikiran, yang selalu ku sebut sebagai cinta pertama.

16 Desember 2008, Indonesia vs Thailand, SUGBK, Jakarta...
Wah calon rusuh nih yang di atas mulai pada nimpukin ! Aduh, kepala gue kena timpuk kaleng soda ini, lumayan. Yaudah keluar aja yuk. Lo nunduk aja ya, pegang pinggang gue jangan dilepasin. Tetep di belakang gue sampe kita keluar stadion ! 

23 Februari 2013, TPU Pondok Ranggon, Makam Alm. Adit...
Jek, lo aja yang pimpin doa ya buat tiga tahunannya Adit. Ah doa masing-masing aja lah. Haha yaudah lah. Mas Adit lagi ngapain ya di bawah sana ? Lagi marah dia, kita ziarah bukannya berdoa malah pada bercanda haha. Eh Shin ngapain lo ngasih bunga ke makamnya Adit ? Lah namanya juga ziarah, emang kenapa ? Ih, liat dah tuh banyak kambing. Nanti kita tinggalin juga itu kambing langsung ke sini makananin bunganya hahaha. 

28 Agustus 2013, Persija vs Persib, Stadion Maguwoharjo, Sleman...
Jek, ah ketemu juga kita di sini ! Tour sama siapa ? Hati-hati ya. Eh Shin, gue sama Jakantor, iya lo juga, udah megang tiket ? Udah kok, ini udah gue pake ditangan tiketnya. Gue belum megang nih, mau cari tiket dulu ya. Iya jek, gue duluan ya masuk ke stadion.

17 Desember 2013, Ruangan 703, RSCM, Jakarta...
Jek, kenapa lo ? Cepet sembuh kali, sebentar lagi trofeo, emang lo ga kangen tribun, ga kangen Persija ? Kangen lah Shin, doain ya biar gue cepet sembuh. Amin. Gue udah beli jersey Persija yang autenthic dong, lo belum beli kan haha, sembuh buruan ! Ah sialan lo ! Iya, nanti gue beli. Eh ngapain lo duduk situ ? Ngintipin yang ada di sarung gue ya ? Hahaha ! Idih sialan, ga doyan gue punya lo.

14 Februari 2014, TPU Pondok Ranggon...
Harusnya, tanggal 23 Februari nanti, kita ke sini lagi Jek, empat tahunannya Adit. Tapi lo udah ke sini duluan hehe. Biasanya gue ke sini beli satu mawar putih, tapi mulai sekarang harus beli dua, satu buat Adit, satu buat lo. Emang enak, sekarang bunga kuburan lo yang bakal dimakanin sama kambing haha. Jek, gue mimpi kan ? 

Siang itu, saat pemakamannya berlangsung, aku memilih menjauh. Sudah cukup rasanya aku menangis saat melihat sosok Adit dimakamkan empat tahun lalu. Luka itu belum sembuh, namun Tuhan berkehendak untuk menambah satu luka lagi dalam hidupku karna kehilangan. Ya, aku hanya melihatnya dari jauh. Dari samping makam Adit. Kebetulan makam Alm. Fikri bersebrangan dengan makam Adit. Dengan terus memeluk nisan Adit, aku membiarkan air mataku terus mengalir. Mas Adit, liat di seberang sana mas ! Itu Fikri mas, itu Fikri yang lagi dimakamin ! Kenapa kalian pergi ?! Kenapa hal ini harus terjadi lagi ? Kenapa, Tuhan ?!

February 6, 2014

AKU


Aku...
Perempuan yang dianggap lemah karna terlalu sering diam saat ditindas. Perempuan yang dianggap lemah karna terlalu sering mengalah saat dijatuhkan. Perempuan yang dianggap lemah karna terlalu sering memaafkan saat berulang kali dipecundangi. Lemah ? Bukan. Hanya saja aku sedang mengajari banyak orang bagaimana bersikap sebagai seorang pemenang sesungguhnya.

Aku...
Perempuan yang dianggap bodoh karna mencintai cinta yang tidak pernah mencintai. Perempuan yang dianggap bodoh karna merindukan rindu yang selalu mengabaikan. Perempuan yang dianggap bodoh karna mempercayai percaya yang selalu berkhianat. Bodoh ? Bukan. Menurut kalian, mana yang lebih bodoh, mencintai dengan tulus, atau menyia-nyiakan seseorang yang mencintai kalian dengan menganggap orang itu bodoh dan mudah dibohongi ?

Aku...
Aku bukan lemah. Aku tidak bodoh. Hanya saja, aku sedang membiarkan musuhku merasa menang sementara. Sampai tiba waktunya aku berkata, bahwa Tuhan selalu bersama dalam doa seseorang yang cintanya kau sia-siakan. Dan itu, aku.

February 5, 2014

Lupakan Dia dan Ingat Aku!


Masa lalu memang tidak perlu dibenci atau bahkan dipaksa dilupakan. Tapi, seharusnya, masa lalu tidak perlu dibawa-bawa saat kamu sedang berada bersama seseorang pada masa sekarang. Seseorang yang sedang memperjuangkan kebahagiaanmu, begitu pula sebaliknya. Ada seseorang yang harus kamu jaga perasaannya, saat seringkali tanpa tersadar kamu dengan seksama menjabarkan bagaimana masa lalumu. Bagaimana matamu menerawang jauh saat bibirmu tanpa henti menceritakan apa yang terjadi dahulu. Kamu mungkin tidak sadar, tapi seseorang pada masa sekarang yang sedang mendengarkan ceritamu, dia bisa melihat matamu, matamu yang seolah berbicara “aku dulu pernah sangat berbahagia dengan dirinya” dan itu sangat memuakkan !

Cemburu ? Jelas ! Oh hei, tidak cukupkah saat ini hanya ada kita ? Bisakah dia tidak lagi mengambil peran dalam ceritamu yang baru bersamaku saat ini ? Belum cukupkah waktu kalian bersama pada masa lampau ? Jika belum, lanjutkan atau selesaikanlah tanpa aku. Karna aku tidak cukup baik untuk dapat menerima masa lalumu. Karna aku tidak cukup kuat untuk mendengarkan kamu kembali terhanyut larut dengan seseorang yang lebih dahulu hadir dalam kehidupanmu dibandingkan dengan aku. Aku pencemburu. Tapi aku bukan sosok yang pintar untuk menunjukkan bahwa aku sedang cemburu, kecuali dengan diam, diam, dan memang hanya diam.

Keberatankah jika aku memintamu untuk menyembunyikan masa lalumu dari aku, dari kita ? Seandainya pun kamu belum benar-benar melupakan masa lalumu, setidaknya pandai-pandailah berakting di depanku seolah-olah kamu sudah tidak lagi memikirkan masa lalumu, dengan siapa pun dia. Beraktinglah terus sampai pada akhirnya kamu benar-benar lupa, sampai pada akhirnya benar-benar hanya ada aku yang menjadi alasanmu untuk mengingat sesuatu yang menyenangkan. Bisakah ? Karna aku terlalu takut dikalahkan saat ingatanmu tentang masa lalu sedang menari-nari dalam otakmu. Aku takut, sungguh. Cukup sudah aku merasakan sakit karna kehilangan, jangan lagi kamu. Aku sayang kamu. Bisakah hanya ada aku sekarang, sayang ? 

Tulisan ini bukan tentang saya, namun bercerita tentang perasaan seorang teman. Ah tentu saja bukan tentang saya, karna bagaimana mungkin saya cemburu jika saat ini hati saya pun masih berada dalam ruang hampanya sendirian ?