July 29, 2013

I'M CHELSEA FANS!

25 Juli 2013… Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya membirukan Gelora Bung Karno dari yang biasanya mengenakan warna merah atau oranye saat menginjak stadion tersebut. BNI All Stars vs Chelsea FC ! Sudah hampir tiga bulan lamanya saya menunggu hari ini datang, mengingat saya sangat menyukai tim asal London tersebut. Maka saat ada kesempatan untuk menyaksikan mereka secara langsung, saya tidak ingin melewatkan kesempatan itu begitu saja. Saya mendapatkan teman baru untuk menyaksikan laga tersebut, mendapatkan tiket yang murah pula pada H-1 pertandingan. Seperti saya pernah katakan sebelumnya, selalu ada jalan untuk mendukung tim kesayangan, dan itu memang selalu terbukti. 

Dan tibalah saya di sektor satu SUGBK kira-kira sekitar satu setengah jam sebelum pertandingan dimulai. Saat mulai pemanasan, pemain yang pertama kali keluar dari locker room adalah pemain Chelsea, dan PETR CECH orangnya ! Pemain yang paling saya sukai di klub Chelsea FC. Walau pun dia tidak dimainkan pada saat pertandingan karena cidera, saya tetap puas menatapnya tanpa berkedip (ini bohong) saat pemanasan hehehe. Setelah Petr Cech pemain Chelesa mulai keluar menuju lapangan, dan kemudian disusul oleh para pemain yang tergabung dalam skuad BNI All Star.

Malam itu, pertandingan memang dimenangkan Chelsea FC atas BNI All Stars. 8-1, telak ! Apa saya bangga karena gawang “Indonesia” dijebol oleh klub luar favorit saya sebanyak delapan kali ? Tentu tidak. Satu-satunya hal yang membuat saya bangga adalah, karna satu stadion yang berpakaian “biru” justru tanpa lelah meneriakan chants untuk INDONESIA ! Saya sendiri terkejut sekaligus bangga. Bagaimana teman-teman dari CISC menunjukkan bahwa fans tim luar tidak akan pernah melupakan tanah air tempat mereka berpijak. Peduli apa tentang mereka yang membicarakan tentang nasionalisme dan fanatisme ? Tuhan yang lebih hebat pun tidak pernah sibuk berkomentar seperti manusia kebanyakan hehehe. 

Well, ini sedikit cerita dari saya sebagai fans klub luar yang tidak pernah sedikit pun meninggalkan sepak bola lokal. Jika ingin bicara nasionalisme, coba ingat lagi sesering apa kalian bolos dalam upacara bendera di sekolah ? Dan jika bicara fanatisme, sejauh apa loyalitas yang sudah diberikan terhadap klub lokal yang ada di Indonesia. Karna bagi saya setiap orang bebas berekspresi dalam mencintai sepak bola. Football For Unity.



July 15, 2013

Karena Cinta Itu Adalah Sepak Bola, dan Sepak Bola Itu Adalah Cinta


Entah kapan pastinya saya lupa, seingat saya waktu itu diakun twitter pribadi saya, saya pernah memposting kalimat seperti ini : “Cuek aja dibilang fans layar kaca klub luar negri, kalo selalu hadir di stadion untuk mendukung klub lokal baik kandang atau pun tandang.” Dan hasil retweet-an dari para followers saya pun lumayan. Setiap ada klub luar negri yang berkunjung ke Indonesia, pasti dan memang selalu ada komentar dari following saya di twitter tentang “fans layar kaca”. Dan kebanyakan memang komentar yang kurang mengenakan. Saya pribadi pun memiliki klub luar yang saya dukung walau memang hanya dalam layar kaca. Apa itu salah ? Bukankah masing-masing memiliki kebebasan untuk menunjukkan rasa cintanya terhadap sepak bola, baik luar atau pun dalam negri ?

Nasionalisme dan Fanatisme. Naif rasanya jika selalu memperdebatkan kedua rasa tersebut yang dimiliki oleh orang lain. Pertandingan sepakbola seharusnya menjadi salah satu alat “pemersatu” walaupun memiliki “perbedaan”. Suporter dan fans, tentu memiliki arti yang berbeda. Tapi kedua hal tersebut memiliki tujuan yang sama, “mendukung dan menikmati sepakbola” dengan caranya sendiri. Saya suporter Persija dan juga fans dari Chelsea FC yang kebetulan akan berkunjung dan melawan BNI Indonesia All Stars pada 25 Juli mendatang. Jika ada yang bertanya, jersey apa yang akan saya kenakan apa bila hadir pada pertandingan tanggal 25 nanti ? Atau, tim mana yang akan saya dukung, Chelsea FC atau Indonesia ? Mungkin saya hanya bisa menjawab “Nanti saya akan memakai jersey Chelsea FC yang dipadukan dengan jaket yang memiliki lambang garuda di dada sebelah kiri. Soal tim mana yang saya dukung ? Intinya, saya akan tetap mengumandangkan lagu Indonesia Raya sebelum kick off, setelah itu biarkan saya menikmati jalannya pertandingan selama dua kali empat puluh lima menit.

Gue ga ngurusin tim luar, gue sih dukung tim lokal aja. Dasar suporter layar kaca ga nasionalis. #SupportYourLocalFootballTeam” Terkadang saya ingin tertawa sekencang-kencangnya. Jika saya yang menulis status demikian disosial media, mungkin hastag yang akan saya gunakan adalah #DukungTimSepakbolaLokal, jika kalian mengerti maksud saya sih hehe. Sekali lagi, ini masalah prinsip. Selama kalian tidak mengeluarkan biaya untuk mereka yang melakukan nonton bareng di kafe, kenapa harus sibuk berkomentar ? Tapi ya itu tadi, seperti yang saya tuliskan di awal, secinta apapun kita terhadap tim luar, tetap harus mengingat dimana tempat kita berpijak, Indonesia. Tidak ada salahnya kita memiliki rasa fanatik terhadap klub yang berasal dari luar, asal tidak melupakan keberadaan garuda yang kita miliki.

Well, football for unity right ? Jangan jadikan perbedaan prinsip yang ada justru merusak nilai dari menonton dan menikmati sepak bola itu sendiri. Jatuh cinta itu indah, jatuh cinta terhadap sepak bola itu menyenangkan. Biarkan mereka menunjukkan cintanya dengan caranya sendiri. Biarkan mereka mendukung timnya sesuka hati asal tidak mengganggu kita yang berbeda tim. Bukankah menyedihkan jika sepak bola justru dijadikan ajang untuk saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya ? Mungkin saja kita berbeda prinsip, mungkin saja kita berbeda tim, dan mungkin saja kita berbeda tribun. Namun, bukankah kita semua mencintai hal yang sama ? Sepak bola ?

July 13, 2013

Kota Malang yang Malang

Tulisan yang mungkin sangat terlambat untuk dibuat, atau diceritakan kembali. Tapi tidak ada salahnya kan, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali ? Hehe. 

Pagi itu, saya terbangun lebih awal, padahal malam sebelumnya saya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Yap… Mengingat pada saat itu saya akan melakukan tour tandang untuk mendukung Persija di Malang. Saya ingat betul kondisi saya saat itu. Merasakan sakit di sekujur tubuh, mulai dari sakit kepala, flu, bahkan sampai batuk yang mengeluarkan cairan merah berbau amis. Tapi bukan saya namanya jika tidak “nekad”, dengan uang yang tidak terlalu banyak dan mempersiapkan apa saja yang seharusnya saya bawa, saya pun siap untuk pergi ke kota orang.

Jumat, 28 Juni 2013. Pukul 10 malam, bahkan hampir mendekati setengah sebelas malam, lima bis rombongan dari sekretariat jakmania di Lebak Bulus baru meninggalkan tempat dan melakukan perjalanan tour tandang. Kantuk pun menyerang, padahal saya sama sekali belum meminum obat sebelum berangkat. Mungkin karna faktor kelelahan dan kurang enaknya kondisi badan pada saat itu, membuat rasa kantuk lebih cepat menyerang dari biasanya. 

Bukan tour tandang namanya, jika selama perjalanan tidak mengalami masalah demi masalah. Mulai dari mengalami pecah ban, jalanan macet, bahkan sampai salah jalan. Perjalanan dari Jakarta menuju Kota Malang tidak pernah selama ini yang menghabiskan waktu hingga dua malam. Semakin lelah saja rasanya, jika harus tidur dalam posisi duduk dalam kurun waktu selama itu.

Malam kedua dibis, rombongan kami baru saja sampai di Semarang. Jenuh, lelah, semua perasaan menjadi satu tak karuan. Termasuk rasa kangen akan sosoknya. Malam itu, saat semua penghuni bis terlelap, saya pun memutuskan untuk menghubungi orang itu melalui telpon. Dan yap… Seperti biasa pembicaraan kami berdua melalui telepon tidak pernah menyenangkan. Selalu saja dia berhasil membuat emosi saya meluap. Bukannya menghibur justru semakin membuat saya merasa sangat lelah. Tapi setidaknya, mendengar suaranya bisa sedikit menghilangkan rasa kantuk malam itu. Menyebalkan tapi selalu membuat kangen, itu kamu ! “Hati-hati di perjalanan. Ga duduk sama cowok kan ? Semoga semua selamat, semoga Persija menang.” 

Hari ketiga, tepat dimana malam harinya Persija akan bertanding melawan Arema, rombongan kami baru tiba di Stadion Kanjuruhan. Saya sempatkan diri untuk mandi, berganti pakaian, mengisi perut dan beristirahat sejenak untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaga yang ada. Cuaca saat itu cukup terik, namun sempat turun gerimis yang menimbulkan bau tanah yang basah, khas saat hujan.

Sekitar pukul empat sore, saya sudah masuk ke dalam Stadion Kanjuruhan, padahal waktu kick off masih sekitar tiga jam lagi. Tapi, keadaan di dalam stadion sudah cukup ramai, baik oleh Aremania atau pun dari teman-teman Jakmania yang sudah tidak sabar untuk pertandingan hari itu. Saat itu saya hanya berdua dengan teman saya, dan saya ingat sore itu dia berkata “Sepi ya kali ini tour cuma berdua, yang lain ga ikut.” Dan saya hanya tersenyum mendengarnya. “Tuhan, sertakanlah restuMu pada kaki-kaki macan yang akan bertanding nanti malam.” Doa saya dalam hati, pada saat itu. 

Pertandingan pun dimulai. Dan untuk pertama kalinya saya bermain senar di stadion haha, mungkin saya hanya tidak ingin menghilangkan sosoknya dalam stadion saat bermain bass drum. Jadi maaf, posisi kamu sempat saya gantikan malam itu, walau permainan kamu jelas lebih bagus dari saya hehe. “Cara gue mendukung Persija ? Ya dengan terus semangat mukul bass drum, berharap semangat gue nyampe ke semua pemain Persija.” Malam itu saya akhirnya mengerti maksud omongan kamu dimana pertama kali kita mengobrol. Saya juga merasakan sakitnya tangan yang terluka pada saat salah memukul, bukannya senar justru besi penyangga yang terpukul oleh jari. Hasilnya memar dan memang sakit. Sticknya pun sempat saya patahkan hehe.

Dan Persija sudah kebobolan diawal pertandingan. Dua gol dari Arema, sedikit membungkam teman-teman Jakmania yang hadir di Kanjuruhan. Tapi itu tidak bertahan lama, kami tetap berteriak, memberikan semangat dan dukungan terbaik bagi macan kemayoran. Berharap mereka akan tetap bermain dengan semangat, pantang menyerah hingga pluit panjang dibunyikan. “Bangkit Persija. Something wrong with you, ini bukan permainan  Persija yang saya kenal. 

Babak kedua posisi Persija masih tertinggal, bahkan Arema berhasil menambah gol dan mempersulit Persija untuk merubah keadaan. Sampai pada akhirnya, ada whatsapp yang masuk ke handphone saya dari salah satu teman. “Kak, kata akun itu skor akhir pertandingan hari ini 3-1 untuk Arema !” Damn it !!! Saat sedang berusaha tetap menyemangati Persija dari pinggir lapangan, saya harus kembali menerima kenyataan adanya “mafia” pada pertandingan malam itu. Tapi kenapa ? Dan harus sampai kapan seperti ini ? Kami datang jauh-jauh, bahkan harus mempertaruhkan nyawa, tapi hanya untuk menonton suatu pertandingan yang sudah diatur ? Tidakah mereka tau arti kemenangan tim bagi kami ? Oh Indonesia !

Dan benar saja, pertandingan malam itu berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan tuan rumah, Arema. Seketika saya ingat pada pertandingan Persija melawan Arema diputaran pertama. Pertandingan yang sukses meledakkan emosi saya, menumpahkan air mata kekecewaan. Kalah, kerusuhan, dan pada akhirnya menyebabkan Persija kembali terusir. Malam itu di Kanjuruhan, sebenarnya saya ingin sekali kembali menangis. Kecewa. Tapi bisa apa saya, selain pasrah dan mengusap dada menghadapi kenyataan yang ada. 

Malam harinya sekitar jam sebelas, rombongan kami bersiap meninggalkan Kota Malang dan bersiap kembali menuju Ibu Kota, Jakarta. Selamat tinggal “malang”, semoga jika saya kembali lagi Persija berhasil mengalahkan Arema di rumahnya, tunggu saja. Dan kami pun pergi dari kota apel itu. Ternyata nasib ”malang” belum juga pergi dari saya, dan teman-teman saya. Keesokan paginya, bahkan belum tepat pukul 6 pagi, di Kota Ponorogo, bis A yang saya tumpangi tergelincir dan hampir masuk jurang. Mata saya yang tadinya sangat sulit untuk terbuka, mendadak segar saat melihat dan menyadari posisi saya yang berhadapan langsung dengan jurang. Ya Tuhan ! Tapi syukurlah, penumpang dan bis dapat dieavakuasi dan kami semua kembali ke rumah dengan selamat. Terima kasih Tuhan.

Hmm… Tour tandang memang tidak pernah menjadi biasa saja. Ada saja peristiwa-peristiwa yang melibatkan seluruh jenis emosi yang ada. Demi Persija, itu bukanlah suatu hal yang berlebihan. Walau pun pulang dari Malang dengan tangan hampa, dan justru membuat kondisi badan semakin menurun, terbayar sudah dengan mendapatkan teman-teman baru selama tour. Sampai ketemu di tour selanjutnya Persija. I Love You.

( Sampai juga di Kanjuruhan setelah 36 jam perjalanan )


( Bareng Orin dan Kak Erna, 3 jam sebelum kick off )


( Ketemu temen SD di Kanjuruhan, yang juga ngenalin gue sama Persija )


( Tiket pertandingan Persija melawan Arema, 30 Juni 2013)


 ( Bis yang malang huft ! )