January 12, 2015

Cinta, Pertikaian, dan Sepak Bola

Saya menulis ini sebagai warga sipil biasa. Bukan sebagai supporter sepak bola atau bahkan bagian dari anggota organisasi the jakmania. Saya menulis ini sebagai seorang manusia yang memiliki satu pertanyaan namun tidak pernah ada jawabannya bahkan hingga detik ini. "Pantaskah nyawa menjadi harga mati demi sebuah kebanggaan di antara sebuah rivalitas tolol ?"

Mungkin mereka LEBIH BANGGA saat berhasil membunuh sesamanya, dibandingkan dengan menghasilkan banyak kreatifitas untuk TIM (yang katanya) KEBANGGAAN. Mungkin mereka LEBIH BANGGA saat berhasil menjatukan sesamanya dibandingkan dengan memberikan dukungan terbaik untuk TIM (yang katanya) KEBANGGAAN. Mungkin mereka LEBIH BANGGA melihat darah yang mengucur deras dari sesamanya dibandingkan dengan melihat setiap keringat dan jerih payah yang dilakukan oleh TIM (yang katanya) KEBANGGAAN.

Menjaga rivalitas ini tetap abadi ga membuat KITA terlihat jagoan. Menjaga permusuhan ini tetap ada ga membuat KITA terlihat keren. Justru tetap membiarkan diri berpegang teguh pada prinsip ini lah, yang membuat KITA tidak layak disebut sebagai sekelompok SUPPORTER apalagi MANUSIA.

KITA mencintai SEPAK BOLA, tapi KITA juga yang membuat SEPAK BOLA itu terluka. KITA yang selalu yakin bahwa BOLA itu bundar, tapi KITA juga yang membuat sekat-sekat pemisah yang menjadikannya seolah tak lagi bundar, tak lagi bersatu seperti seharusnya.
Sampai kapan ini semua harus terjadi ? Atau harus menunggu sampai populasi dari masing-masing KITA semua mati sia-sia ? Ingatlah kodrat kita sebagai MANUSIA BIASA. MANUSIA BERTUHAN. MANUSIA BERADAB.

Jangan lagi ada di antara KITA yang harus membayar cinta yang terlalu besar ini dengan nyawa yang hanya diberikan satu oleh sang pemilik kehidupan. Tidakkah cukup bertikai selama 2 X 45 menit di lapangan hijau ?

Wariskanlah cinta yang begitu besar kepada anak cucu kita nantinya, bukan justru meninggalkan permusuhan yang sama sekali tidak berguna. #KitaIndonesia !