April 24, 2013

#CERPEN2



Cinta itu tidak harus memiliki? Munafik! Aku mencintaimu dan aku ingin memilikimu! Tapi saat aku menyadari bahwa bukan akulah sebab dari bahagiamu, aku memilih pergi. Bukan karna aku munafik. Aku hanya tak ingin memperjuangkan senyumku, namun ternyata  menyebabkan air mata bagimu. Hanya itu.

Aku…
Jakarta, 2011
Kita pernah saling merindukan, sebelum akhirnya saling melupakan. Kita pernah saling mencintai, namun kemudian berusaha saling membenci. Tunggu dulu, bahkan aku tidak benar-benar tahu apakah selama ini kamu juga merindukanku? Mencintaiku? Aku tidak benar-benar tahu bagaimana isi hatimu terhadapku. Tidak benar-benar tahu. Entah terlalu bodoh, atau justru terlalu arogan untuk memaksamu memiliki perasaan yang sama denganku.

Kita…
Aku dan kamu selalu meluangkan waktu bersama untuk melakukan segala hal yang kita anggap menyenangkan. Sudah banyak hal, sejak kita masih berusia kanak-kanak hingga menikmati fase remaja dan dewasa sekarang ini. Aku yang selalu berkelahi dengan anak-anak yang membuat kamu menangis. Dan kamu yang selalu bersembunyi di balik punggungku jika ibumu menasehatimu yang terlalu banyak menghabiskan es krim vanila. Aku yang selalu meledekmu dengan kata gendut padahal tubuhmu sangat mungil, dan kamu yang selalu melipat bibirmu saat itu. Aku yang selalu setia menunggumu di depan gerbang untuk menjemputmu dari sekolah. Dan kamu yang selalu bersabar menjadi guru privatku untuk membantu aku menghadapi ujian. Aku dengan gelar sarjana kedokteranku. Dan kamu dengan gelar sarjana ilmu komunikasimu. Aku yang menyukai kopi hitam pekat. Dan kamu yang menyukai aroma dari manisnya kopi vanilla favoritmu. Kita yang terlalu banyak memiliki perbedaan. Bahkan sangat banyak. Namun kita saling melengkapi. Seperti warna yang ada pada pelangi. Berbeda, namun menjadi kesatuan yang sangat indah.

Aku…
Jakarta, 2011
Entah sejak kapan perasaanku terhadapmu mulai ada dan tumbuh subur. Entah sejak kapan aku mulai mengartikan perasaan ini sebagai rasa cinta. Entahlah. Mungkin benar kata orang banyak, cinta tumbuh karna biasa. Seumur hidupku, hanya dua wanita yang selalu menjadi semangatku dalam menjalani pagi hingga malamku, Hanya dua wanita yang selalu menjadi obat dari sakitku. Hanya dua wanita yang selalu memiliki banyak cara untuk membuatku tersenyum. Ibuku dan kamu. Rasa nyaman saat bersama kamu, mungkin salah satu sebab perasaan ini ada. Aku selalu ingin menjadi orang pertama yang mengetahui kabarmu di setiap harinya. Ingin selalu menjadi yang pertama memberi bantuan saat kamu mengalami kesulitan. Dan sedikit berharap, kamu merasakan apa yang memang sudah ku berikan untukmu. Sedikit berharap, tidak salah bukan?

Kita…
Heidelberg, 2008
Di kota yang katanya merupakan tempat paling romantis di negara Jerman ini lah, kita berdua merayakan kelulusan dari bangku perkuliahan dan meraih gelar yang memang sejak saat lama sudah kita impikan. Di depan Istana Heidelberg ini pun kita mulai saling memimpikan dan menata kehidupan setelahnya. “Kamu masih ingat, apa saja yang pernah kita ucapkan saat kelulusan SMA dulu Natalie?”, tanyaku. “Tentu saja aku ingat. Bahkan semuanya aku masih ingat. Saat itu kita pernah berjanji untuk menaklukan kerasnya dunia bersama. Membayangkan wajah masing-masing saat tua nanti. Dan tidak akan pernah menyerah sesulit apa pun nantinya hal yang berusaha mematikan langkah kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tapi yang paling aku ingat, kamu akan mentraktir aku kopi vanilla sepuasnya jika nanti aku berhasil menyelesaikan bangku pendidikanku dengan baik. Dan terima kasih telah menepati janjimu itu, Adam.” ujar Natalie sambil tersenyum. “Ternyata ingatanmu masih cukup bagus ya, lalu bagaimana kamu akan melanjutkan kehidupanmu selanjutnya Natalie? Apa kamu masih akan tetap menjadikan aku sahabat terbaikmu? Satu-satunya sahabat terbaikmu?” tanyaku kemudian. “Kamu tahu, aku sangat bersyukur memiliki seorang Adam dalam hidupku. Adam yang selalu melindungi aku dari orang-orang yang berniat jahat. Kamu seperti malaikat penjagaku yang memang sengaja Tuhan kirimkan untukku Dam. Jadi, mana mungkin aku melupakan kamu setelah segala hal yang telah kamu berikan untukku? Adam, aku sungguh berterima kasih untuk segalanya.” jawabmu panjang. “Sekarang kita berdua sudah memiliki pekerjaan masing-masing. Aku telah berhasil menjadi reporter, dan kamu Dam, kamu berhasil menjadi dokter yang sangat hebat. Kamu tahu tidak, aku takut jatuh cinta saat kamu sedang memakai baju dokter yang serba putih itu. Kamu terlihat sedikit lebih tampan, sedikit saja loh ya hehe.” katamu lagi sambil tertawa kecil. “Nat, aku juga selalu takut jatuh cinta jika kamu selalu tertawa seperti itu.” Hening.

“Dam, pendamping seperti apa yang kamu inginkan untuk menemani hari-harimu nanti? Apakah kamu akan menikahi seorang perawat yang cantik dan berpakaian ketat?” ledeknya. “Tentu saja tidak Nat, aku takut kehilangan konsentrasiku saat bekerja jika aku menikahi wanita seperti itu. Aku takut dia disuntik laki-laki lain haha. Aku ingin wanita yang sederhana. Sederhana dalam segala hal. Sederhana dari dalam atau pun dari luar. Karna menurutku, kesederhanaan justru membuat kita tampak wah di mata orang lain Nat. Kamu bagaimana?” “Aku? Aku tidak terlalu meminta banyak pada Tuhan untuk jodohku nanti. Aku selalu yakin, apa yang Tuhan berikan dalam hidupku adalah yang terbaik, ya kamulah contohnya Dam. Aku hanya membayangkan akan menikah dengan sakral di gereja, di kota ini. Kota yang kecil namun memiliki banyak tempat yang sangat indah untuk di datangi. Aku sering membayangkan bagaimana aku saat berada di pelataran altar nanti Dam. Menjadi putri di dunianya sendiri, dan pada akhirnya menemukan seseorang yang bersedia melengkapi hari-hariku. Dam, jika kita sudah menikah dengan pasangan kita masing-masing, tetap menjadi seorang Adam untukku ya? Kamu mau kan?” “Nat, tanpa kamu pinta pun aku akan selalu ada buat kamu. Kapan pun Nat, kapan pun kamu membutuhkan aku, aku pasti akan membantu semampuku. Kau tahu itu kan Nat, sejak dulu aku selalu berusaha menjadi sahabat terbaik untukmu. Selamanya Nat, kamu tenang saja.” ucapku, sedikit perih. “Terima kasih Dam. Aku pun berjanji akan membantu saat kamu akan mengadakan pesta pernikahanmu kelak. Dan aku pasti lebih cemas dibanding mempelai wanitanya saat kamu mengucapkan ijab kabul nanti haha. Beruntung sekali Dam, wanita yang berhasil memenangkan hatimu. Kamu benar-benar baik.” “Begitu pula dengan pendampingmu nanti Nat, pasti aku merasa cemburu karna ada laki-laki lain dalam hidup seorang Natalie.”

Aku...
Jakarta, 2011
Tiga tahun, sejak kita membicarakan masa depan di Heidelberg, akhirnya kamu menemukan pendampingmu, dan itu bukan aku. Sebulan yang lalu, bahkan kamu datang langsung ke apartemenku untuk mengantarkan undangan pernikahanmu dengan laki-laki pilihanmu. Dan kamu memintaku menjadi pendampingmu menuju altar nanti. Untuk seorang Natalie, orang yang paling aku perjuangkan kebahagiannya, mana mungkin aku menolak permohonan itu. Permohonan untuk menjadi pendampingmu saat menuju altar, dan bukan menjadi pendamping pengantin wanita. Dan apakah aku harus tetap memendam perasaan ini tanpa harus memberi tahu padamu Natalie? Apakah selamanya kamu akan menganggap seorang Adam hanyalah sebagai sahabat baikmu dan tidak memiliki perasaan lebih? Kamu akan menikah Nat, menikah. Melanjutkan fase hidupmu yang sebenarnya dengan seseorang yang telah kau pilih. Kenapa bukan aku Nat? Bukankah kamu bilang, jika aku adalah orang baik? Kenapa?

Kita?
Heidelberg, 2011 malam sebelum pernikahan Natalie
“Dam, tiga tahun sejak saat itu. Di sini di tempat yang sama, aku pernah bermimpi akan menjadi seorang putri. Dan akhirnya besok, semua khayalku akan menjadi kenyataan Dam. Setelah Tuhan memberikan seorang Adam dalam hidupku, Tuhan mempertemukanku dengannya, dengan seorang Andrew yang sama baiknya denganmu. Tuhan sangat baik padaku Dam, terlalu baik.” ujar Natalie. “Karna kamu pun orang yang sangat baik Nat, sudah sepantasnya kamu mendapatkan ini semua. Dan sekarang aku harus rela berbagi Natalie dengan Andrew hehe. Terima kasih karna malam ini kamu masih mau bercerita denganku. Terima kasih untuk melibatkan aku dalam pernikahanmu besok Nat.” “Dam, kapan kamu menikah? Belum adakah wanita yang berhasil merebut hatimu?” tanya Natalie. “Sudah Nat, hanya saja aku belum berani untuk memperkenalkannya padamu. Dia seperti kriteriaku tentunya, seorang wanita yang sederhana, namun berhasil membuat aku jatuh cinta, bahkan cinta yang sangat dalam.” “Aku iri dengan wanita itu Dam. Dia beruntung sekali berhasil memenangkan hatimu. Aku doakan semoga kamu bisa hidup bahagia bersamanya Dam, jangan lupa perkenalkan aku dengannya. “Tentu saja Nat. Kamu adalah orang pertama yang aku kenalkan dengannya. Sekarang istirahatlah, kamu tentu tidak mau kan memiliki kantong mata yang tebal di hari pernikahanmu esok?” ucapku menutup percakapan malam itu.

Aku…
Natalie sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Senyumnya sangat lepas, seperti menggambarkan apa yang sedang dirasakan oleh hatinya. Dan aku, berusaha memakai topeng terbaik yang aku miliki. Topeng terbaik untuk menyerahkan Natalie pada orang lain di altar nanti. Topeng terbaik untuk menunjukkan pada Natalie bahwa aku benar-benar bahagia atas pernikahannya dengan orang lain. Dan akhirnya, Natalie kecilku yang sangat menyukai aroma vanilla itu telah menjadi milik orang lain. Seorang Adam bukanlah lagi malaikat penjaganya. Seorang Adam tidak boleh lagi berada di antara Natalie dan Andrew dengan terus menerus memiliki perasaan cinta pada Natalie. Tidak boleh.

Natalie...
Sejak Adam menjadi pendampingku di Altar, aku tidak pernah lagi melihatnya. Adam menghilang tanpa jejak. Hanya sepucuk surat yang menjadi salam perpisahannya. Adam pergi dalam kehidupanku. Benar-benar pergi. Tapi, bukankah Adam sudah berjanji untuk selalu bersamaku? Kenapa Adam berbohong? Bahkan dia membohongi perasaannya sendiri? Ternyata Adam bodoh, benar-benar bodoh.

Natalie Angelica Clara… Kamu cantik sekali dengan gaun pengantinmu tadi. Kamu berhasil menjadi seorang putri Nat. Putri tercantik dari semua putri yang pernah aku lihat sebelumnya. Beruntungnya dia yang telah menjadi pengantin laki-laki untukmu Nat. Sedangkan aku, hanya mendampingimu dari pintu gereja sampai altar hehe. Segala impianmu telah terwujud Nat. Kamu pun telah menikah di kota yang memang telah lama kamu impikan. Dan setelah aku mengantarkanmu pada dia yang sudah menunggumu di altar, sejak saat itulah tugasku selesai. Tugas untuk menjaga Natalie. Tugas untuk menemani Natalie menghabiskan kopi vanillanya. Tugas untuk melindungi Natalie dari orang-orang jahat. Tugas untuk menemani Natalie menghayalkan seperti apa masa  depannya. Karna sekarang, seorang Natalie telah berada di masa depannya yang dia rangkai sendiri. Nat, tidak akan pernah ada lagi seorang Adam dalam hidupmu. Dia pasti akan menjagamu lebih baik dari aku. Bahkan sangat baik. Terima kasih Nat, untuk segala hal yang pernah kamu berikan dalam hidupku. Terima kasih telah mengizinkan aku menjagamu, dan membiarkan aku menikmati indahnya mencintaimu walau diam-diam. Berbahagialah dengannya, dan menciptakan natalie-natalie kecil yang sama seperti kamu. Jika dia tidak bisa membuatmu bahagia, aku akan dengan senang hati merebutmu kembali hehe. Di kota tempatku tinggal nanti. Aku akan berusaha menemukan Natalie yang lainnya. Aku tidak akan pernah melupakan atau bahkan berhenti mencintaimu. Mungkin karna aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti mencintai kamu. Selamat menempuh hidup baru Natalie. Bersama malaikat penjagamu yang baru. Bersama orang yang kamu cintai dan mencintaimu. Kamu tahu Nat, aku selalu berhasil mengobati sakit yang diderita oleh pasien-pasienku. Tapi aku tidak pernah bisa mengobati luka hatiku sendiri. Ternyata aku memang benar-benar payah. Jika nanti kita bertemu di kehidupan yang lain, aku berjanji tidak akan menjadi seorang pengecut lagi Nat. Aku berjanji akan menjaga kamu, dan tidak akan pernah membiarkanmu jatuh cinta pada orang lain, pada siapa pun. Aku mencintaimu Nat. Terlalu sakit jika aku tetap tinggal. Jangan pernah melupakan aku, si dokter tampan ini Natalie hehe. Aku akan merindukan aroma kopi vanillamu, dan semua tentang kamu Nat. Dan satu hal lagi kalau aku boleh jujur, kamu sedikit gendut dengan gaun pengantinmu itu. Peluk cium dari dokter tampan, Adam…

April 22, 2013

#CERPEN1



Februari 2013…
Sore ini, hujan kembali membasahi bumi dengan cukup deras. Membuat perasaan yang sulit dijelaskan ini semakin menggebu-gebu. Perasaan yang terkadang kosong. Dingin. Rindu. Sepi. Pilu. Sendirian. Hujan selalu berhasil membawa aku seperti berada dalam mesin waktu. Memaksaku kembali mengingat dan memutar semua cerita tentang kita. Iya, kita. Ada aku dan kamu di sana . Namun itu sudah menjadi masa lalu. Kita hanya ada di masa lalu. Yang tersisa di masa sekarang hanyalah kenangan. Hanya kenangan. Di sini, di tempat yang sama, dulu kita pernah menghabiskan waktu berdua. Maksudku berempat dengan hujan dan juga senja. Berbagi peluk, berbagi canda dan tawa. Berbagi kebahagiaan. Senyummu pada saat itu menjadi sumber kehangatan tersendiri buatku. Senyum yang berhasil mengalahkan dinginnya hujan di luar sana. Oh Tuhan, apa yang lebih bahagia dari ini? Berdua bersama dia yang ku cintai, di antara hujan yang romantis dan langit senja yang berwarna pekat namun menenangkan?

Hujan turun semakin deras. Dan air yang berasal dari sudut mataku pun perlahan ikut terjatuh. Seharusnya hari ini kamu masih bersamaku. Dan masih melanjutkan cerita tentang kita. Masih berbagi kebahagiaan dan berjanji tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Ah, tapi kamu berbohong. Kamu lantas pergi, meninggalkan segala harapan yang pernah kamu janjikan padaku. Meninggalkan duka dan perih yang bahkan sampai sepuluh tahun belum berhasil aku taklukan. Kenapa? Kenapa kamu selalu bercerita bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama jika pada akhirnya kamu tidak bersamaku saat ini? Kenapa kamu selalu meyakinkan aku tentang kekuatan cinta sedangkan kamu membiarkan aku mengubur semua perasaan cinta ini sendirian? Dan kenapa kamu membiarkan aku terus bertanya tanpa meninggalkan jawaban yang bisa aku pahami? Kenapa?

Sepuluh tahun yang lalu, kamu pernah berjanji akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak. Kamu pernah berjanji akan berbagi sandaran saat aku merasa lelah. Kamu pernah berjanji akan menjadi orang pertama dan terakhir yang aku lihat di setiap harinya. Janji yang ternyata tidak pernah kamu tepati. Janji yang hanya membuat sesak. Janji yang berakhir tanpa ada penjelasan apa pun. Janji yang ditinggal tuannya. Setega itukah kamu membuat harapanku yang begitu besar terhadapmu menguap begitu saja? Setega itukah kamu membuat hati orang yang kamu cintai rusak dan hampir mati? Setega itukah kamu membuat orang yang kamu sayangi terus menangis? Setega itukah? Dan kembali, aku hanya bisa terus bertanya tanpa pernah mendapatkan jawabannya.

Februari 2003…
Malam ini, mungkin adalah malam yang paling penting dalam perjalanan hidupku. Setelah melewati hari-hari bersama kamu selama lima tahun lamanya, malam ini kamu memintaku untuk menjadi satu-satunya perempuan yang akan menemani suka duka dalam hidupmu. Taburan bintang di langit dan desir ombak, menjadi saksi bisu dari hari bahagiaku bersamamu. Liontin yang sederhana namun terlihat elegan, menjadi simbol bahwa dalam waktu dekat kita akan segera menjadi teman berbagi cerita hidup di bawah restu Tuhan.

Kamu bukan Hawa dan aku bukan Adam. Kamu bukanlah tulang rusukku untuk melengkapi adanya aku di sini. Kamu bukan Juliet dan aku bukan Romeo. Kita tidak perlu mati konyol hanya untuk membuktikan besarnya cinta yang dirasakan. Kamu bukan putri dan aku bukan pangeran dari segala cerita dongeng yang pernah ada. Kamu adalah aku dan aku adalah kamu. Dan kita akan menuliskan sejarah cinta kita sendiri, membuat cerita hidup kita sendiri, melebihi semua kisah yang pernah ada di dunia ini sayang. Aku ingin kamu menjadi bidadariku. Bidadari di dunia ini dan di surga kelak. Aku bukan seseorang yang pandai merangkai kata demi kata hanya untuk merebut hatimu, dan kamu tahu itu. Jadi, sayang, bersediakah kamu untuk menuliskan namaku dalam cerita hidupmu. Hanya namaku, namamu dan peri-peri kecil kita kelak. Bolehkah sayang?

Tuhan, aku tidak pernah membayangkan bahwa dalam hidupku kelak akan mendengar kalimat yang sedemikian indahnya. Dari pria sederhana yang mencintaiku dengan luar biasa. Dari sosok yang berhasil menjadi pasangan, ayah, kakak, dan sahabat untukku selama ini. Aku tidak menjawab pertanyaanmu dengan kalimat. Lewat mataku yang berkaca-kaca, senyuman tipis dan sedikit anggukan, aku tahu jika kamu pasti sudah paham apa maksudku. Liontin yang memiliki bandul berbentuk bintang itu pun kau pasangkan di leherku. Kemudian kita saling berpelukan, saling mengecup satu sama lain. Meluapkan segala kebahagiaan yang dirasakan. Oh Tuhan, terima kasih untuk malam ini.

Dan tibalah hari yang sudah kita nantikan. Hari dimana kita berdua saling mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan bahwa kita bersedia menjalani kehidupan dalam keadaan apa pun. Bersedia berbagi cerita saat suka dan duka. Bersedia saling menguatkan saat salah satu di antara kita merasa lemah. Hidup mengatas namakan cinta, yang tulus dan suci tentunya. Aku melihat pantulan bayanganku di cermin. Inilah aku yang sudah kubayangkan sejak lama jika suatu saat nanti datang hari bahagiaku bersama orang yang aku sayangi. Gaun putih yang simple dengan riasan wajah yang sederhana namun tetap anggun. Aku pun tersenyum, “Ya Tuhan, terima kasih untuk cinta yang Kau berikan dalam hidupku ini.” Aku berusaha mengatur detak jantungku agar normal seperti biasa. Namun, rasa bahagia ini mampu membuatnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan sangat cepat. Dan aku sedikit gemetar menanti kehadiranmu beserta keluarga besarmu ke kediamanku.

Cemas mulai menghampiri saat setelah lewat dua jam dari jadwal acara nan sakral ini, kamu belum juga datang. “Kamu dimana?” tanyaku khawatir. Aku terus menunggu. Menunggu kamu yang akan datang dengan membawa sejuta mimpi yang akan kita ubah menjadi sebuah kenyataan. Namun kamu tidak pernah datang. Tidak untuk hari itu, keesokan harinya, lusa, bulan depan, tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya. Malam itu, menjadi malam terakhir aku melihatmu. Iya. Yang terakhir.

Februari 2013…
Tangisku semakin pecah. Namun tetap hening, tanpa suara, hanya terisak namun menyakitkan. Aku selalu tak kuasa menolak jika semuanya kembali tersirat dalam benakku. Seakan semuanya kembali nyata, persis seperti apa yang terjadi sepuluh tahun silam. Merasakan cinta yang sangat hebat namun harus kehilangan begitu saja dengan cara yang masih belum dapat aku terima. Meninggalkan sejuta tanya tanpa pernah menemukan jawabannya. Lalu, kenapa saat itu Tuhan membiarkan aku terlalu menikmati indahnya cinta bersama kamu? Kalau memang sejak awal Tuhan tidak pernah menuliskan nama kita berdua dalam buku takdirnya, kenapa aku harus kehilangan kamu dan cintamu dengan cara yang sangat menyedihkan ? Kenapa pada akhirnya aku menuliskan cerita hidupku sendirian? Kenapa tidak pernah ada yang menjawab semua pertanyaanku tentang ini semua? Kenap?

Dan hingga saat ini, dengan susah payah aku melangkah berusaha menjauh dari bayangan masa lalu yang entah kenapa selalu mengikuti kemana pun aku pergi. Bayang senyummu yang justru kini terasa menyakitkan. Kamu tidak pernah mengajarkan aku sebelumnya, bagaimana melanjutkan hidup tanpa adanya kamu. Kamu tidak pernah mengajarkan aku sebelumnya,  bagaimana caranya berjalan menemukan titik terang saat aku berada dalam gelap. Kamu tidak pernah mengajarkan aku sebelumnya, bagaimana melawan kerasnya kehidupan yang selalu berusaha memaksa aku untuk benar-benar menyerah. Lalu, pada siapa saat ini aku bercerita? Tuhan diam. Kamu diam. Dan aku tetap menangis.

 “Untuk kamu, yang selalu bersedia memberikan sela-sela jarimu untuk ku genggam. Yang selalu bersedia memasang daun telingamu untuk mendengar segala keluh kesahku. Yang selalu berhasil merubah tangisku menjadi sebuah senyuman. Yang telah memberi tahu aku tentang arti cinta yang sesungguhnya. Saat kamu membaca ini, mungkin aku sudah lebih dahulu pergi untuk membangun cerita kita di dunia yang sesungguhnya, dunia yang abadi. Maaf jika aku pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu. Aku benci perpisahan, aku benci melihat bulir air matamu yang terjatuh karna aku. Sejak pertama bertemu kamu, aku seperti memiliki nyawa kehidupan yang lainnya. Dan dengan mencintai kamu, itulah caraku mensyukuri karunia Tuhan yang sangat luar biasa bagiku. Kamu pasti mengerti, bahwa tidak semuanya dapat kita ceritakan pada orang lain. Tentu saja kamu bukan orang lain. Hanya saja, aku tidak ingin menghilangkan raut wajahmu yang selalu ceria saat aku menceritakan apa yang seharusnya tidak perlu kamu dengar. Kelak, saat kita bertemu kembali, aku berjanji akan menebus akan satu kebohongan yang sudah ku lakukan terhadapmu sayang. Berjanjilah untuk tetap menuliskan cerita hidupmu dengan kisah yang bahagia. Berjanjilah untuk tetap melukis bintangmu sendiri bila langit malam terlihat lebih gelap dari biasanya. Berjanjilah untuk tidak menangis karna aku. Acungkan kelingkingmu, dan katakanlah jika kau akan berjanji sayang, ku mohon. Aku beruntung selama hidupku hanya mencintai satu perempuan dan itu kamu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan aku akan menunggu kamu kembali hadir di sampingku. Di rumah Tuhan, rumah kita. Dari sini aku selalu memperhatikanmu, menjaga kamu, selalu, selamanya. Teruntuk kamu, bidadari surgaku, terima kasih telah menunjukkan padaku bahwa cinta yang abadi itu memang benar adanya. Terima kasih.

Dan sejak hari itu, hari dimana ragamu kembali menyatu dengan lapisan bumi. Aku sudah lupa bagaimana caranya bahagia, aku lupa rasanya mencintai atau dicintai. Aku lupa bagaimana caranya untuk tersenyum, dan untuk apa aku tetap berada di sini. Kamu yang mengajarkan aku untuk tetap berjuang hidup, justru mati. Kamu yang mengajarkan aku untuk bertahan, justru pergi. Kamu justru yang menyerah dan tertunduk kalah pada takdir. Jika aku obat dari sakitmu, kenapa itu tetap saja membunuhmu? Dan sekali lagi, hanya menghasilkan pertanyaan tanpa pernah ada jawabannya. Kamu memintaku untuk berjanji, tapi kamu melanggar janjimu sendiri. Dan biarkanlah aku untuk tetap menangis saat hujan, tetap sendu saat senja datang. Biarkanlah semua tentang kita tetap menyayat hati, sampai aku benar-benar kembali bertemu denganmu. Entah sampai kapan. Mungkin sampai hujan benar-benar tidak kembali dari langit, dan senja benar-benar tak lagi jingga. Selama itu pula, aku akan tetap berdiri dengan segala pertanyaan dan luka yang teramat perih. Terlalu perih untuk aku simpan sendiri. Sendirian.