December 9, 2013

Karena Dia Tidak Benar-Benar Pergi


Sejak siang, rintik hujan sudah setia menemani segala aktivitas yang dilakukan oleh anak manusia di perbatasan ibu kota ini. Intensitas air yang turun cukup deras, disertai dengan kilatan cahaya dan kemudian berakhir dengan gemuruh yang cukup memekikan telinga siapa pun yang mendengarnya. Saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah novel baru, novel yang rangkaian kalimatnya cukup membuat saya berpikir dengan cukup keras. Saya tinggalkan novel itu, dan mulai memandangi rintik hujan yang tertinggal di kaca-kaca jendela. Awannya sedang menangis, deras sekali. Kenapa dia menangis ? Kenapa dia sangat murung siang ini ? Ada apa ?

Bosan. Setelah jenuh bermain-main dengan tetesan air dan membuat beberapa tulisan di sana, saya meraih telepon genggam yang baterainya sudah mulai melemah. Malas untuk memberikannya energi baru, saya justru membuka akun burung pribadi saya. Ingin mengintip sejenak, apa saja peristiwa hari ini yang bisa membuat pembacanya menahan nafas sejenak. Dan, ternyata cukup banyak peristiwa yang membuat saya tertahan sejenak saat berjalan-jalan menelusuri lini waktu sore ini. Yang pertama, mungkin peristiwa KRL yang menabrak truk tangki BBM di sekitaran Bintaro. Cukup membuat saya terhenyak sebagai pengguna KRL, dan pastinya doa tulus untuk mereka yang menjadi korban. Amin.

Lalu apa peristiwa kedua yang berhasil membuat nafas saya tertahan beberapa detik ? Tidak lain tidak bukan adalah, resminya kepindahan seorang Bambang Pamungkas ke tim Pelita Bandung Raya. Bandung ? Ya, di Kota Kembang lah seorang Bepe akan merumput musim depan. Tidak lagi berjersey oranye, melainkan biru. Tidak lagi di Persija, melainkan di PBR. Bukan lagi menjadi 11 punggawa Macan Kemayoran, melainkan menjadi... Entah apa sebutan untuk PBR saya juga tidak paham, dan sepertinya tidak ingin tau. Dan kabar ini cukup meramaikan lini waktu di akun burung saya. Ramai tentang kesedihan, tentang kekecewaan, namun ada juga yang berisikan harapan bahwa dia akan pulang.

Saya tidak pernah sedih saat seorang pemain Persija harus menanggalkan jersey oranye yang biasa dia kenakan lalu kemudian memakai jersey dengan klub lain saat dia bermain di lapangan hijau. Iya, saya tidak pernah sedih. Hanya saja, saya kecewa dengan pihak manajemen. Yang dengan mudahnya memaksa mereka pergi dari rumahnya sendiri. Yang dengan seenak jidatnya memaksa mereka jauh dari apa yang mereka cintai. Yang dengan kejamnya memaksa mereka meninggalkan apa yang sudah menjadi bagian hidup mereka selama ini. Persija Jakarta ! Sudah berapa pemain yang terpaksa pindah ke tempat lain ? Sudah berapa pemain yang terpaksa menduakan cintanya bagi Persija ? Sudah berapa banyak hati reka-rekan Jakmania yang dibuat sakit karna ulah manajemen yang demikian ? Lebih banyak dari rintik hujan yang bahkan belum reda hingga detik ini, mungkin saja.

Saya malas mengomentari hal ini. Bukan saya tidak peduli, hanya saja saya lelah mengutarakan rasa kecewa saya kepada mereka yang hatinya sudah mati, itu saja. Dan... Kita boleh kecewa, tapi jangan kecewa selamanya. Kita boleh menangis, tapi jangan sampai lupa caranya untuk tersenyum. Kita boleh bersedih, tapi jangan pernah lupa bagaimana rasanya bahagia. Mereka yang pergi, anggap saja sedang berkelana di negeri orang, mencari pengalaman baru dengan suasana yang berbeda. Dan yang harus selalu diingat adalah, mereka yang pergi tidak akan pernah lupa jalan untuk pulang. Mereka yang pergi tidak akan pernah benar-benar meninggalkan rumahnya. Mereka hanya singgah dan tidak selamanya menetap. Mereka mungkin akan merasa nyaman tapi tidak benar-benar cinta.

Seorang Bambang Pamungkas boleh saja mengenakan jersey yang berbeda dari biasanya. Tapi, di hatinya, nama Persija tidak akan pernah bisa tergantikan. Saya percaya itu ! Selamat berjuang dengan tim barumu, Capt ! Nikmatilah suasana baru di musim depan. Kami tunggu aksimu merumput di ibu kota walau harus menjadi lawan. Tapi kami percaya, bahwa kita tidak pernah benar-benar menjadi lawan. Bahwa kita tidak pernah benar-benar terpisah. Selalu ada satu hal yang akan menjadikan kita satu sampai kapan pun. Selalu ada satu alasan yang akan menjadikan kita bersama selamanya. Ya... Rasa cinta terhadap Persija Jakarta yang begitu besar !

Bukan cinta yang membuatnya pergi...
Tapi tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus menafkahi anak istrinya...
Suatu saat ia pasti kembali...
Karna tidak ada satu pun dari kita, yang bisa benar-benar jauh dari apa yang biasa kita sebut dengan, kehidupan, kebanggaan dan juga cinta...
Rumahmu, rumah mereka, rumah saya...
Dan itu, Persija Jakarta !

Kembali ke paragraf awal, di mana saya menuliskan bahwa saya baru saja selesai membaca novel. Tau apa judul novel yang saya baca ? “PINDAH”... Ya, sekali lagi, semesta selalu keren menuliskan skenario dalam hidup saya.