Sejak
siang, rintik hujan sudah setia menemani segala aktivitas yang dilakukan oleh
anak manusia di perbatasan ibu kota ini. Intensitas air yang turun cukup deras,
disertai dengan kilatan cahaya dan kemudian berakhir dengan gemuruh yang cukup
memekikan telinga siapa pun yang mendengarnya. Saya baru saja menyelesaikan membaca
sebuah novel baru, novel yang rangkaian kalimatnya cukup membuat saya berpikir
dengan cukup keras. Saya tinggalkan novel itu, dan mulai memandangi rintik
hujan yang tertinggal di kaca-kaca jendela. Awannya sedang menangis, deras
sekali. Kenapa dia menangis ? Kenapa dia sangat murung siang ini ? Ada apa ?
Bosan.
Setelah jenuh bermain-main dengan tetesan air dan membuat beberapa tulisan di
sana, saya meraih telepon genggam yang baterainya sudah mulai melemah. Malas untuk
memberikannya energi baru, saya justru membuka akun burung pribadi saya. Ingin mengintip
sejenak, apa saja peristiwa hari ini yang bisa membuat pembacanya menahan nafas
sejenak. Dan, ternyata cukup banyak peristiwa yang membuat saya tertahan
sejenak saat berjalan-jalan menelusuri lini waktu sore ini. Yang pertama,
mungkin peristiwa KRL yang menabrak truk tangki BBM di sekitaran Bintaro. Cukup
membuat saya terhenyak sebagai pengguna KRL, dan pastinya doa tulus untuk
mereka yang menjadi korban. Amin.
Lalu
apa peristiwa kedua yang berhasil membuat nafas saya tertahan beberapa detik ?
Tidak lain tidak bukan adalah, resminya kepindahan seorang Bambang Pamungkas ke
tim Pelita Bandung Raya. Bandung ? Ya, di Kota Kembang lah seorang Bepe akan
merumput musim depan. Tidak lagi berjersey oranye, melainkan biru. Tidak lagi
di Persija, melainkan di PBR. Bukan lagi menjadi 11 punggawa Macan Kemayoran,
melainkan menjadi... Entah apa sebutan untuk PBR saya juga tidak paham, dan
sepertinya tidak ingin tau. Dan kabar ini cukup meramaikan lini waktu di akun
burung saya. Ramai tentang kesedihan, tentang kekecewaan, namun ada juga yang
berisikan harapan bahwa dia akan pulang.
Saya
tidak pernah sedih saat seorang pemain Persija harus menanggalkan jersey oranye
yang biasa dia kenakan lalu kemudian memakai jersey dengan klub lain saat dia
bermain di lapangan hijau. Iya, saya tidak pernah sedih. Hanya saja, saya
kecewa dengan pihak manajemen. Yang dengan mudahnya memaksa mereka pergi dari
rumahnya sendiri. Yang dengan seenak jidatnya memaksa mereka jauh dari apa yang
mereka cintai. Yang dengan kejamnya memaksa mereka meninggalkan apa yang sudah
menjadi bagian hidup mereka selama ini. Persija Jakarta ! Sudah berapa pemain
yang terpaksa pindah ke tempat lain ? Sudah berapa pemain yang terpaksa
menduakan cintanya bagi Persija ? Sudah berapa banyak hati reka-rekan Jakmania
yang dibuat sakit karna ulah manajemen yang demikian ? Lebih banyak dari rintik
hujan yang bahkan belum reda hingga detik ini, mungkin saja.
Saya
malas mengomentari hal ini. Bukan saya tidak peduli, hanya saja saya lelah
mengutarakan rasa kecewa saya kepada mereka yang hatinya sudah mati, itu saja. Dan...
Kita boleh kecewa, tapi jangan kecewa selamanya. Kita boleh menangis, tapi
jangan sampai lupa caranya untuk tersenyum. Kita boleh bersedih, tapi jangan
pernah lupa bagaimana rasanya bahagia. Mereka yang pergi, anggap saja sedang
berkelana di negeri orang, mencari pengalaman baru dengan suasana yang berbeda.
Dan yang harus selalu diingat adalah, mereka yang pergi tidak akan pernah lupa
jalan untuk pulang. Mereka yang pergi tidak akan pernah benar-benar
meninggalkan rumahnya. Mereka hanya singgah dan tidak selamanya menetap. Mereka
mungkin akan merasa nyaman tapi tidak benar-benar cinta.
Seorang
Bambang Pamungkas boleh saja mengenakan jersey yang berbeda dari biasanya. Tapi,
di hatinya, nama Persija tidak akan pernah bisa tergantikan. Saya percaya itu !
Selamat berjuang dengan tim barumu, Capt ! Nikmatilah suasana baru di musim
depan. Kami tunggu aksimu merumput di ibu kota walau harus menjadi lawan. Tapi kami
percaya, bahwa kita tidak pernah benar-benar menjadi lawan. Bahwa kita tidak
pernah benar-benar terpisah. Selalu ada satu hal yang akan menjadikan kita satu
sampai kapan pun. Selalu ada satu alasan yang akan menjadikan kita bersama
selamanya. Ya... Rasa cinta terhadap Persija Jakarta yang begitu besar !
Bukan
cinta yang membuatnya pergi...
Tapi
tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus menafkahi anak istrinya...
Suatu
saat ia pasti kembali...
Karna
tidak ada satu pun dari kita, yang bisa benar-benar jauh dari apa yang biasa
kita sebut dengan, kehidupan, kebanggaan dan juga cinta...
Rumahmu,
rumah mereka, rumah saya...
Dan
itu, Persija Jakarta !
Kembali ke paragraf awal, di mana
saya menuliskan bahwa saya baru saja selesai membaca novel. Tau apa judul novel
yang saya baca ? “PINDAH”... Ya, sekali lagi, semesta selalu keren menuliskan
skenario dalam hidup saya.