February 29, 2016

Thankyou, Feb!

Dear, Februari.

Aku butuh waktu sangat lama sepertinya, hingga pada akhirnya memutuskan untuk berdamai denganmu. Sudah bertahun-tahun aku membencimu dengan sangat, walaupun aku tahu jika kau tak pernah benar-benar salah selama ini. Tapi aku bisa apa? Selain marah besar setelah orang-orang yang aku sayangi, kau bawa pergi begitu saja tanpa permisi.

Awal kebencianku padamu adalah pada 2010 lalu, saat kau membawanya pergi untuk selamanya saat bahkan ia telah berjanji akan kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik. Dan 2014, saat bahkan lukaku belum sembuh, kau kembali membawa pergi jauh salah satu sahabat terbaikku tanpa merasa bersalah sekalipun. Jadi, kau sudah tahu kan mengapa dulu aku sangat membencimu dan berharap kau cepat berlalu?

Karna setiap kali aku bertemu denganmu, aku selalu dipaksa mengingat hal-hal yang menyakitkan, aku selalu dipaksa mengenang orang-orang yang sudah mati dan tak akan lagi bisa hidup, aku selalu dipaksa mengulang kembali tangisan-tangisanku yang menyesakkan dada. Dan itu menyedihkan. Kehilangan berkali-kali sungguh membuat aku merasa jatuh.

Sekarang, pada Februari tahun keenam aku hidup tanpa Adit, dan pada Februari tahun kedua aku bernafas tanpa Fikri, aku tak lagi menangis meskipun aku tahu  bahwa aku masih sangat merasa kehilangan. Tapi sepertinya aku sudah mampu untuk benar-benar merelakan kepergian mereka, dan sudah benar-benar bisa untuk berdamai denganmu, Februari.

Dear, Februari. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih karna selama beberapa tahun ini kau menyadarkan aku bahwa aku tak pernah benar-benar mati rasa, sebab kau selalu membuat aku menangis setiap tahunnya. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih, karna selama beberapa tahun ini kau menyadarkan aku bahwa aku masih memiliki cinta yang begitu besar meski raga dengan mereka yang ku kasihi tak lagi bisa saling memeluk. Dan yang paling penting, aku ingin mengucapkan banyak sekali terima kasih, karnamu aku menyadari, bahwa hati yang aku miliki masih peka akan rasa. Terima kasih banyak, Feb!

With Love,
Shintia.

February 24, 2016

Rindu Dua Kali Empat Puluh Lima Menit

Setiap kali membuka lemari pakaian yang berada di sudut kamar, aku selalu memperhatikan beberapa jersey tim sepak bola lokal kesayanganku yang menggantung dengan rapi. Lama sekali rasanya, sejak sepak bola dipaksa tidur panjang hampir setahun belakangan. Tak ada pertandingan resmi, kecuali liga-liga antar kampung yang namanya disamarkan menjadi turnamen hanya agar terlihat lebih komersial menurutku.

Sepak bola tak hanya sekedar sebuah olah raga permainan yang dimiliki oleh sebelas orang pemainnya saja. Tapi juga milik hampir seluruh masyarakat luas terutama yang sangat menyukai, menikmati atau bahkan mencintai sepak bola. Aku selalu mengatakan, bahwa sepak bola menjadi nafas serta nyawa bagi beberapa orang, dan aku pun termasuk di dalamnya. Saat tak ada kompetisi sepak bola bergulir di negri ini, bisa dibayangkan bagaimana hidup para pecinta sepak bola Indonesia pada khususnya. Rasanya, hampir mati.

Aku ingat saat bagaimana awal-awal sepak bola dipaksa tidur berkepanjangan, saat bapak negara ini berujar yang kurang lebih seperti ini, "Untuk apa ada kompetisi tapi tidak pernah memiliki prestasi." Bagiku prestasi hanyalah sebuah bonus pada akhir perjalanan. Karna sepak bola bukan hanya sekedar bagaimana caranya memiliki sebuah prestasi membanggakan, melainkan juga soal kepuasan hati setiap kali melihat sebuah pertandingan sepak bola yang sedang berlangsung dari pinggir lapangan.

Ah, aku lebih suka jersey-jersey ini bau keringat saat aku memakainya di stadion dari pada hanya tercium bau lemari yang menempel disana. Aku rindu masa-masa dua kali empat puluh lima menit yang dulu biasa aku lewati dengan berbagai jenis luapan emosi. Dengan rasa cemas, dengan kesenangan, dengan air mata, dengan kekecewaan, dan apapun yang terjadi itu alasannya hanya karna satu hal, yakni, cinta. Semoga sepak bola negri ini benar-benar lekas kembali ke tempat yang seharusnya. Dan semoga mereka yang dahulu membuatnya tertidur pulas bisa benar-benar jatuh cinta dengan sepak bola dengan hati, dan bukan karna uang.

Jatuh cintalah dengan sepak bola, maka, kau pun akan memahami arti dari pengorbanan cinta yang sesungguhnya.

February 22, 2016

Surat Berima pada Malam Purnama

Kepada kau, tuan yang ku kagumi sejak lama.
Malam ini aku akan duduk bersimpuh di bawah sinar purnama.
Berharap semesta mau menghilangkan segala cemas.
Berharap waktu mempertemukan kita dengan lekas.

Kepada kau, tuan yang ku cintai sejak lama.
Malam ini aku akan duduk bersimpuh di bawah sinar purnama.
Memohon pada pemilik segalanya agar menjagamu setiap waktu.
Memohon pada pemilik alam agar menghangatkan hatimu yang masih membatu.

Kepada kau, tuan yang ku sayangi sejak lama.
Malam ini aku akan duduk bersimpuh di bawah sinar purnama.
Berbicara pada Tuhan tentang rahasia yang selama ini ku pendam sendirian.
Berbicara pada Tuhan tentang rasa yang selama ini ku simpan dalam angan.

Bulan purnama yang cantik, bulan purnama yang membulat sempurna.
Jangan jauhkan kami walau hanya sedetik, jangan pisahkan kami lalu membuat segalanya sirna.

Kepadamu bulan purnama, tolong berikan selalu sinarmu untuknya, selamanya. Jangan biarkan ia redup, karna jika hal itu terjadi aku tak akan lagi hidup.

Kepadamu bulan purnama, aku bisikan pada semesta, jika aku, sangatlah mencintainya.

Ini untukmu, tuan yang ku perjuangkan bahagianya sejak lama.

February 21, 2016

Surat Cinta untuk Pemilik Semesta

Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya mendapatkan cacian dan makian dari orang-orang di sekelilingku, tidak hanya sekali dua kali, aku bahkan tak sanggup menghitungnya dengan jari-jariku ini. Saat itu aku merasakan sakit hati yang luar biasa, ingin rasanya aku berlari, berlari tanpa harus mencari ujung untuk berhenti. Kadang aku merasa lelah, bahkan muak hidup dalam dunia yang bagiku penuh akan kemunafikan. Namun aku tak ingin kalah dan mati begitu saja dengan gelar pecundang. Aku ingin membuktikan kepada siapa saja, kepada dunia yang seakan menganggap aku sampah, membuktikan jika aku bisa bahkan lebih dari apa yang mereka bayangkan.

Terkadang kita harus jatuh terlebih dahulu jika ingin lancar mengayuh sepeda. Sama halnya dengan hidup, terkadang tuhan ingin kita menangis sebelum kita merasakan nikmatnya tersenyum. Cacian dan makian itu sebaiknya kita jadikan motivasi untuk melakukan yang terbaik, bukannya kita jadikan sebagai batu sandungan dan selanjutnya membuat kita benar-benar terlihat payah di mata mereka. Aku dan kalian terlahir untuk menjadi seorang pemenang bukan?

Setiap orang pasti pernah merasakan jenuh menjalani peran demi peran yang harus dilakoninya dalam panggung hidupnya, sama halnya denganku. Keinginan untuk menyerah pun tak jarang datang menghampiri. Ingin rasanya berhenti dan membiarkan dunia mentertawakan aku sepuasnya. Namun aku sadar, menyerah dengan keadaan bukanlah pilihan yang baik. Menurutku hidup adalah tentang mereka yang berjuang untuk meraih cita dan cintanya, tentang mereka yang tak mengenal lelah untuk menggapai impian dan harapan yang telah mereka gantung tinggi. Pertentangan, penolakan, hinaan, itu semua hanyalah segelintir proses untuk mendewasakan diri, seberapa siapkah kita mampu melalui skenario demi skenario yang sudah tersusun dan akhirnya akan kita jalani, detik demi detik.

Tuhan menciptakan badai tanpa lupa menghadirkan pelangi setelahnya. Tuhan menciptakan tangis dan kemudian menghadirkan senyum yang membahagiakan.

Tuhan menciptakan otak dan hati, agar kita mampu menyeimbangkan antara perasaan dan logika.

Tuhan memberikan kita tantangan, bukan cobaan, karna Tuhan tak ingin kita menjalani hidup tanpa akhir yang sia-sia, tanpa arti sedikit pun.

Tuhan tak pernah mengeluh saat kita bercerita banyak hal denganNya. Tuhan selalu tersenyum bahkan saat kita sering melupakan keberadaanNya.

Entahlah... Aku tak mampu menyebutkan satu demi satu kebaikan yang Tuhan miliki. Setiap hela nafas yang aku hembuskan ini, adalah bukti nyata jika Tuhan mencintai aku.

Tuhan sangat baik, terlalu baik untuk kita lupakan. Aku yakin, sebesar apapun masalah yang datang menghampiri, Tuhan tak pernah sedikitpun menjauh. Sudah berapa banyak kita meminta terhadapNya? Apakah sebanyak kita memuja dan menyembahNya? Suatu saat jika aku bertemu Tuhan, aku akan mengucapkan banyak terima kasih atas cintaNya yang begitu besar terhadapku dan hidupku.

Tuhan... Engkau baik, bahkan sangat baik. Terima kasih.

February 19, 2016

Letter, Lesson, and Love

Hidup itu bagaikan sebuah film yang disutradarai oleh Tuhan. Yakini saja bahwa memang skenario-skenario yang ditulis olehNya adalah yang terbaik. Hari ini mungkin saja tentang episode patah hati, tapi Tuhan pun pasti akan memberikan episode-episode yang membahagiakan pada hari berikutnya. Bagaimanapun akhir ceritanya nanti, menyenangkan atau justru membuat sesak, manusia sebagai wayangnya hanya bisa berusaha dan bersyukur atas apa-apa saja peran yang harus mereka mainkan dalam hidup.

Ini surat untuk perempuan-perempuan yang sedang jatuh cinta di luaran sana. Surat yang semoga saja kelak akan menjadikan mereka pribadi yang jauh lebih bersabar dan juga ikhlas dalam menjalani hidup atau bahkan kisah percintaannya. Tentang bagaimana sebaik-baiknya jatuh cinta, dan juga tentang bagaimana sebaik-baiknya mengharap.

Aku tahu, seberapa besarnya rasa sayang kalian pada pria yang sedang menguasai hati dan pikiran. Seberapa beratnya menahan rindu jika pria yang kalian sayangi sedang berada jauh dari pelukan. Seberapa hebatnya rasa cemburu yang membuat sesak saat mungkin kisah masa lalu mulai mengusik perlahan. Itu semua terjadi hanya karena satu alasan, yakni, cinta. Tapi bukan cinta namanya jika semua yang kalian rasakan itu berlebihan. Melainkan ambisi untuk memiliki seorang diri, atau bahkan kekhawatiran berlebihan akan rasa takut kehilangan.

Hey, bukankah cinta itu membebaskan? Bukannya mengekang diri sendiri dengan sesuatu yang berlebihan lalu pada akhirnya justru membebani.

Pesanku untuk mereka adalah, sayangilah dirimu sendiri sebaik mungkin karena tak akan ada yang mampu melakukannya sebaik diri kita sendiri. Janganlah memberikan hati serta perasaanmu utuh-utuh, karena terluka saat mencintai dan dicintai itu adalah pasti. Dan, cintailah pasanganmu sewajarnya karena hanya pada Tuhanlah sebaik-baiknya kita menjatuhkan hati.

Surat ini untuk kalian yang sedang memperjuangkan akhir yang membahagiakan, dari aku, seseorang yang sedang berusaha berdamai dengan hati.

February 16, 2016

Tentang Aku yang (masih) Menunggu

Teruntuk kamu, yang masih enggan beranjak dari ingatan.

Jika sekali lagi kita bertemu, mungkin tak akan ku sia-siakan kesempatan terakhir itu untuk memeluknya lebih erat dari sebelumnya. Jika sekali lagi kita bertemu, mungkin tak akan ku sia-siakan kesempatan terakhir itu untuk mengucapkan kata sayang lebih banyak dari sebelumnya. Jika sekali lagi kita bertemu, mungkin tak akan ku sia-siakan kesempatan terakhir itu untuk memperjuangkannya lebih keras dari sebelumnya.

Jika sekali lagi kita bertemu. Seandainya saja, sekali lagi yang aku pinta. Tidak banyak. Sialnya, aku harus menyadari jika semua yang aku inginkan memang hanya akan menjadi sebuah “jika”. Berandai-andai dalam semua seandainya yang aku impikan, dan mengimpikan semuanya yang tidak akan berubah menjadi sebuah kenyataan.

Lalu, aku harus bagaimana? Tetap berjalan sambil terus berusaha melupakan? Tetap tinggal sambil menahan tangis melihatnya menjauh? Tetap bertahan sambil terus berharap bahwa dia akan kembali berlari ke arahku?

Pilihan pertama terlalu sulit, karna aku pun masih sangat mencintainya. Pilihan ke dua tidak kalah sulitnya, karna aku pun masih selalu merindunya. Pilihan ke tiga? Aku bodoh apabila memilih pilihan yang terakhir, karna bahkan dia sudah enggan untuk menoleh lagi ke arahku, lalu untuk apa aku mengharapkan dia yang enggan kembali?

Sialnya, aku suka menjadi manusia yang bodoh. Jadi, aku akan tetap berdiri di tempat yang sama untuk menunggunya kembali. Walaupun aku tahu, jika dia tidak akan pernah kembali. Tidak akan.

Dari aku, yang masih menunggu entah sampai kapan.

February 15, 2016

14 Februari

Teruntuk, teman yang baik. Ini adalah tahun ke dua aku menuliskan dan mengirimkan surat untukmu. Aku meminta maaf sebelumnya, karna tahun ini surat yang aku kirimkan terlambat satu hari. Seharusnya kemarin, pada tanggal 14 Februari. Tapi kemarin adalah surat cinta bertema, jadi terpaksa surat yang aku kirimkan untukmu terlambat satu hari. Kau tidak marah kan?

Kau tahu tidak, kemarin di luaran sana banyak sekali orang-orang yang berbagi kebahagiaan pada hari kasih sayang. Ya seperti biasanya memang. Mereka saling berbagi coklat, boneka-boneka menggemaskan, atau bahkan karangan bunga yang sangat cantik. Menyenangkan sekali rasanya ya bisa selalu merayakan valentine bersama orang-orang kesayangan bagi mereka yang memang mau merayakan valentine.

Keadaan itu sangat jauh berbeda denganku selama dua tahun terakhir ini, teman. Saat mereka mengirimkan coklat,  boneka, atau bunga untuk orang yang mereka sayangi lalu melihat wajah orang tersebut tersenyum bahagia, aku hanya bisa mengirimkan doa dan karangan bunga sambil melihat nisanmu yang dingin dan membeku. Ya karna sejak 14 Februari 2014 lalu, kau tiba-tiba saja pergi tanpa permisi terlebih dahulu.

Kali ini aku tidak lagi menangis saat menulis surat untukmu, teman. Aku tak ingin menangisimu yang sudah berbahagia bersama Tuhan. Hanya saja, aku tak bisa memungkiri jika ada rasa getir yang bergejolak dalam hatiku setiap bertemu 14 Februari. Saat orang-orang saling berbagi kebahagiaan, aku justru harus mengingat dan mengenang kepergianmu pada hari kasih sayang.

Dan itu, menyakitkan.

February 14, 2016

Bangga Menjadi Indonesia

"Di sana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata."

Saat semua orang bangga karna pernah menginjakan kakinya di dunia nun jauh sana, aku masih di sini. Saat semua orang menceritakan pengalamannya berkeliling dunia, aku tetap di sini. Dan saat semua orang memuja dunia yang asing bagiku, aku pun masih belum beranjak dan tetap di sini. Ini rumahku. Tempat aku lahir, menjalani kehidupan dan kemudian mati.

Indonesia... Aku bodoh jika tidak mensyukuri karna telah berada di sini. Tuhan begitu baik tampaknya, sehingga aku diizinkan untuk menghirup udara di negri ini.

Indonesia... Aku dilahirkan di tempat yang luar biasa. Menurutku, di sinilah surga dunia yang sesungguhnya. Banyak orang dibuat kagum oleh pemandangan dari Sabang hingga ke Merauke. Banyak orang dipaksa menahan nafas hanya untuk sejenak menikmati indahnya negri ini. Apa yang hendak di cari? Lautan luas? Daratan? Pegunungan yang menjulang menembus awan? Hutan lebat? Semua ada di rumahku, di Indonesia. Agama, budaya, ras, suku bangsa, sumber daya alam.

Ah, betapa kayanya negri ini Tuhan! Betapa sempurnanya semesta yang telah Engkau lukis dengan tanganMu Tuhan! Namun apa yang terjadi? Tuan rumah enggan menjaga miliknya sendiri. Bahkan menjadi babu di rumahnya sendiri. Ibu pertiwi menangis. Ia disia-siakan. Ibu pertiwi menjerit. Ia disakiti. Ibu pertiwi bersedih. Ia dicampakan.

Indonesia... Mungkin aku belum bisa membalas apa yang telah kamu berikan padaku. Aku berhutang banyak padamu. Aku hidup dengan udaramu. Bahkan aku mati di tanahmu. Tapi aku berjanji, tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan tetap di sini bersamamu. Sejak aku lahir, belajar bicara, merangkak, berjalan, berlari, terjatuh sampai nanti aku hanya bisa duduk di kursi goyangku, aku akan tetap berada di sini. Darah ini merah. Tulang ini putih. Dan hati ini Indonesia. Seumur hidup, tak akan pernah berubah. Indonesia, aku mencintaimu. Sungguh.

Seburuk-buruknya negaraku.
Serunyam-runyamnya bangsaku.
Seangkuh-angkuhnya pemimpinku.

Di sinilah aku tinggal.
Indonesia.

"Tanah airku Indonesia, negeri elok amat ku cinta. Tanah tumpah darahku yang mulia, kan ku puja sepanjang masa."

February 5, 2016

Bagaimana Menurutmu?

Ini cerita tentang yang mencintai dan yang dicintai. Mana menurutmu yang lebih membahagiakan diri sendiri? Menurutku mencintai. Karena saat mencintai seseorang dan selalu berhasil membuatnya tersenyum, adalah salah satu cara sederhana untuk membahagiakan batin, membahagiakan hati nurani.

Ini cerita tentang yang menunggu dan yang ditunggu. Mana menurutmu yang lebih menyiksa diri sendiri? Menurutku ditunggu. Karena aku sadar, begitu banyak kekurangan yang aku miliki. Dan jika ada seseorang nun jauh di sana yang menunggu akan kehadiranku, betapa bodohnya aku jika sampai mengabaikan penantiannya, penantian seseorang yang rela membuang waktunya hanya untuk menunggu manusia sepertiku.

Ini cerita tentang yang melupakan dan yang dilupakan. Mana menurutmu yang lebih menyedihkan? Menurutku melupakan. Karena sekeras apa pun kita berusaha menghapus kenangan yang ada di masa lalu, hal itu akan menjadi sia-sia belaka. Karena kita tidak akan pernah bisa benar-benar melupakan, karena pasti akan selalu ada hal yang memaksa kita untuk kembali mengingat semuanya.

Ini cerita tentang yang merindukan dan yang dirindukan. Mana menurutmu yang lebih menyenangkan? Menurutku merindukan. Karena itu tandanya kita benar-benar membutuhkannya, karena itu tandanya kita benar-benar menyayanginya, karena itu tandanya dia benar-benar satu-satunya orang yang tersimpan erat di dalam hati.

Ini cerita tentang yang memperjuangkan dan yang diperjuangkan. Mana menurutmu yang lebih mengharukan? Menurutku memperjuangkan. Karena itu tandanya kita bersungguh-sungguh, karena itu tandanya kita benar-benar berusaha menjaga apa yang sudah atau bahkan belum dimiliki. Walau seringkali memperjuangkan kebahagiaan seseorang, yang justru bahagianya bukan karena kita dan kita hanya menjadi penikmat dari bahagianya. Tapi tidak pernah sekali pun berhenti berharap, jika suatu saat dia tau bagaimana cara kita memperjuangkannya.

Dan, bagaimana menurutmu?

February 3, 2016

Caraku Mencintai

Apa aku harus jadi "sama" dulu agar ada "kita" seperti yang selama ini aku minta sama semesta?

Ah, tidak. Aku tidak lagi berkeinginan untuk memiliki dirimu, biarlah hanya Tuhan yang menjadi satu-satunya pemilik kuasa atas dirimu. Aku tidak ingin memiliki, karna tak ingin pula aku merasa kehilangan. Biarlah aku menikmati indahmu dari kejauhan. Biarlah aku mengagumimu dalam senyap. Biarlah aku mencintaimu lewat doa tengah malam.

Apa lagi yang bisa aku harapkan dalam mencintaimu? Memiliki hati serta raga kasarmu? Aku takut tak bisa menjaganya sebaik Tuhan melakukan itu padamu. Cinta dan kepemilikan? Itu hanya ego ku rasa. Tak akan tenang hidupku jika bersikeras menginginkan kamu seutuhnya. Mencintaimu bukan berarti aku harus membui perasaanku sendiri pada harap yang terlalu tidak tau diri. Tidak demikian.

Klise atau bahkan aku munafik? Tapi memang beginilah adanya diriku. Mengharapmu jadi milikku itu bukan cinta. Melainkan ambisi besar untuk membahagiakan diriku sendiri, dan itu menjijikkan. Ini cintaku untukmu. Ini diriku untukmu. Bibirmu akan menjadi yang terakhir ku kecup. Walau bibirmu pasti akan berulang kali mengecup bibir perempuan yang mungkin tak akan bisa benar-benar kau lupakan. Tak apa, tak apa jika aku hanya bersifat sementara dalam hidupmu. Karna memang tak ada yang bersifat selamanya di dunia ini, benar kan?

Berbahagialah. Karna disini ada aku, ada aku yang menikmati bahagiamu walau tak terlibat di dalamnya. Berbahagialah, maka hidupku sudah sangat berkecukupan. Dan ingatlah, kapanpun kau membutuhkan tempat untuk melepas segala tangismu karna muak akan kerasnya dunia, pelukku akan tetap hangat untuk menjadi tempatmu melepas penat walau hanya sementara.

Aku mencintaimu. Tanpa harap.

Selalu.

February 1, 2016

Tentang Sunrise dan Sunset

Kamu suka sunrise atau sunset?

Dua-duanya sama aja.

Aku mau kamu memilih, sunrise atau sunset, dan alasannya kenapa?

Sunrise, karna sepertinya sinarnya lebih hangat dari sunset. Kamu sendiri lebih suka yang mana?

Dan tidak ada jawaban.


-------------------------

Sunrise dengan sunset? Apa bedanya? Keduanya sama-sama panorama alam yang dihasilkan dari sinar matahari. Ah, ya tentu saja waktu kemunculan keduanya yang berbeda. Tunggu dulu, sunset tidak benar-benar muncul. Namun ia, menghilang. Tenggelam perlahan, membawa pergi keindahan yang orang-orang puji, membawa pergi terang yang ia punya dan kemudian menjadikan sekitarnya berubah gelap. Hitam pekat.

Sunrise dengan sunset? Lebih indah mana? Jingga merona, keduanya sama saja. Namun, tidak banyak orang yang bisa benar-benar menikmati sunrise setiap hari. Tidak seperti sunset, kau bisa menantinya setiap senja. Duduk di pinggir pantai setelah lelah berkejaran dengan ombak. Atau bahkan mengintipnya dari kaca mobil saat terjebak pada hiruk pikuk kemacetan kota lewat cakrawala yang memerah. Sunrise? Kau harus rela terjaga dari tidurmu semalam lebih awal jika ingin bertemu dengannya. Entah bergegas menuju pantai terdekat, atau sedikit berkeringat dengan mendaki bukit dan pegunungan. Untuk sunrise, kau harus sedikit lebih berjuang.

Sunrise atau sunset? Mana yang lebih kau suka? Mana yang lebih menarik perhatianku? Apakah aku memiliki pilihan yang sama denganmu? Atau, pilihanku justru berbeda? Haruskah aku mengikuti apa yang kau suka agar kelak kau mau benar-benar pulang kepadaku? Hei, bahkan kau tau aku selalu terlihat berbeda dari kebanyakan orang bukan? Sunrise atau sunset? Kau tidak akan pernah tau jawabannya, selain senyuman yang ku tujukan terhadapmu pagi itu. Tidak akan pernah.

-------------------------

"Aku suka sunrise. Karna ia tak pernah ingkar untuk mencerahkan segala awal pada setiap hariku. Aku suka sunrise. Karna ia tak pernah ingkar untuk menjadikan pagiku lebih semangat menjalani hariku untuk, ya, kembali merindukanmu. Aku suka sunrise. Seperti kamu menyukainya, dan seperti aku menyukaimu. Sama-sama hangat, saat aku sedang berdekatan dan menatap pesona indahnya, indahmu, dengan kedua bola mataku."