September 9, 2015

Ironi dari Tanah Bali, Macanku, Tak Lagi Mengerikan

"Kalau ga bisa mendukung tim saat terpuruk, jangan pernah senang saat tim merayakan kemenangan."

Hmm, kalau memang saya seperti itu, mungkin sejak berakhirnya pertandingan pertama yang sangat buruk melawan tuan rumah Bali United, saya tidak akan pernah kembali menginjakan kaki ke Stadion Dipta untuk mendukung Persija sekalipun saya masih berada di Pulau Dewata. Nyatanya saya tetap kembali, dan terus kembali untuk memberikan dukungan terbaik bagi Persija. Lalu, apa mereka juga memberikan yang terbaik bagi saya? Bagi kami para pecintanya yang telah mengorbankan hampir seluruh hidupnya hanya untuk berdiri di tribun demi mendampingi Persija bertanding? Hanya mereka yang hadir secara nyata di Stadion Dipta, yang tau bagaimana menyakitkannya melihat Persija bermain dengan sangat teramat mengecewakan!

Apa saya serta para pecinta Persija lainnya tidak berhak kecewa atau bahkan marah? Apa kami harus selalu sabar dan memaklumi tiap-tiap hasil buruk yang selalu membuat kami merasa jatuh? Karna cinta tidak melulu soal memanjakan, terkadang, kritik justru menjadi bukti bahwa rasa cinta kita terhadap seseorang atau sesuatu sungguhlah nyata dan juga tulus.

Ini bukan perkara menuntut, ini masih tentang kecintaan serta kebanggaan. Jangan pernah tanyakan atau bahkan ragukan lagi seberapa besar rasa fanatik, loyalitas atau bahkan cinta kami terhadapmu Persija! Saat waktu kami begitu banyak kami sisihkan demi mendampingi klub kebanggaan kami bertanding, saat materi kami begitu banyak terkuras hanya demi pertandingan selama 2 kali 45 menit, atau bahkan saat nyawa kami menjadi satu-satunya hal terakhir yang harus kami pertaruhkan hanya demi sebuah pertandingan sepakbola.

Lalu, siapa atau apa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Tentu saja semua hal yang terdapat dalam tubuh Persija itu sendiri! Baik manajemen, staf pelatih, sampai ke para pemain yang sudah mengabdikan dirinya pada sebuah lambang monas yang tersemat pada seragam kebanggaan Persija. Kewajiban kami sebagai supporter selalu berusaha kami lakukan sebaik mungkin, mendukung Persija tak peduli harus menyebrangi lautan atau bahkan udara, tak peduli terik matahari atau derasnya badai, kami tak akan pernah mundur apalagi berhenti. Lalu, salahkah kami menuntut hak kami saat kewajiban tak pernah kami lalaikan sedikitpun? Salahkah kami kecewa saat bahkan kami terlanjur mencintai terlalu dalam?

Percayalah Persija, sebesar apapun rasa kecewa atas burukmu, masih jauh lebih besar rasa cinta ini terhadapmu. Lekas bangun, Macan!