March 29, 2017

My First Silent Day in Bali

Sejak dulu, gue selalu berharap bisa merayakan Hari Raya Nyepi di Bali. Dan setelah bertahun-tahun hanya bisa berharap dan membiarkan diri larut dalam angan, akhirnya tahun ini Tuhan mengabulkan harapan tersebut. Ini adalah Nyepi pertama gue di Bali, sekaligus Nyepi pertama gue jauh dari kedua orang tua serta kedua adik laki-laki gue. You know what? Gue ga tau harus bahagia atau justru sedih. Gue bener-bener ga tau.

27 Maret 2017, sehari sebelum Nyepi ada satu kegiatan yang disebut Tawur Agung. Atau masyarakat pada umumnya mengenal dengan pawai ogoh-ogoh. Tahun ini gue hanya menjadi penikmat dari pawai tersebut. Karena biasanya di Jakarta, gue dan warga dari banjar pura menjadi peserta lomba ogoh-ogoh yang biasanya dilaksanakan di Monas. Ogoh-ogoh di Bali ga ada yang bisa ngalahin. Mulai dari kreatifitas dan tingkat keseraman ogoh-ogoh tersebut. Sedikit disayangkan, karena beberapa banjar di Bali yang mengikuti pawai ogoh-ogoh masih menggunakan sound dan bukan menabuh gamelan.

Di tengah keramaian warga Denpasar yang menyaksikan pawai ogoh-ogoh, gue berinisiatif melakukan video call dengan keluarga di Depok. Setidaknya, bapak, ibu, dan kedua adik gue bisa melihat pawai ogoh-ogoh meski dari layar ponsel. Karena sejak dua tahun terakhir, pemerintah DKI tidak mengizinkan lagi adanya pawai ogoh-ogoh di sekitaran Monas. Padahal, itu salah satu cara untuk membuktikan pada warga sekitar Jakarta bahwa kami, kaum minoritas Hindu masih ada di sekitar mereka.

28 Maret 2017. Pukul 5 pagi hari, gue terbangun sendirian untuk menyiapkan santap sahur. Karena keluarga tante tempat gue menumpang hidup saat ini tidak biasa melakukan puasa saat Nyepi, jadi tahun ini gue melewati santap sahur. Saat sahur, gue sempat saling bertukar gambar digital santap sahur gue dan bapak melalui aplikasi whatsapp. Saat itu rasanya gue ingin sekali menangis. Tapi untungnya gue bisa menahan air mata agar tidak jatuh dari asalnya.

Kalian tau apa yang paling gue mau lihat saat Nyepi di Bali? Ya, bintangnya. Karena ga ada sedikitpun cahaya yang menyala saat malam hari, bintang di langit Bali menjadi bener-bener indah. Ga ada kata-kata yang bisa mewakili keindahannya. Selain terus bersyukur dan bersyukur, gue bener-bener menikmati pemandangan langit Bali saat malam Nyepi.

Entah akan berada dimana gue pada Nyepi berikutnya. Kembali ke Depok bersama keluarga, tetap di Bali, mungkin juga sudah memiliki pasangan hidup, atau justru sudah mati. Gue ga akan pernah tau. Tapi dimana pun nanti gue menjalani Nyepi selanjutnya, gue akan selalu berterima kasih kepada Tuhan karena segala hal yang sudah dia berikan dalam hidup gue sampai detik ini.

Om Swastiastu. Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939. Jangan pernah malu jadi kaum minorotas. Om Santi Santi Santi Om.