December 4, 2016

#AksiBelaTimnas312

Setelah 2 tahun terakhir tidak pernah berada di bangku tribun untuk mendukung Timnas Indonesia secara langsung, akhirnya kemarin gue menjadi salah satu dari 27.000 orang yang beruntung untuk menyaksikan laga semi final aff suzuki cup 2016 putaran pertama antara Indonesia melawan Vietnam di Stadion Pakansari Cibinong. Ga gampang untuk bisa hadir langsung, mengingat selama beberapa hari sebelum pertandingan, gue kesulitan mendapatkan tiket yang dijual dengan sistem online. Tapi H-1, saat gue udah putus asa dan bersiap mendukung Timnas Indonesia lewat layar kaca, ada seorang kawan lama yang menawarkan tiket pertandingan sama gue. Tanpa pikir panjang gue pun mengiyakan tawarannya. Ah ya, selalu ada jalan jika kita memang benar-benar berniat dengan tulus untuk mendukung Timnas Indonesia.

3 Desember 2016, sekitar jam 10 pagi gue masih dilanda masalah. Sakit tifus yang memang sejak kecil gue punya tiba-tiba kambuh gitu aja tanpa gejala sebelumnya. Hampir frustasi karena gue ngerasa ga akan sanggup untuk berangkat ke stadion. Tapi dengan modal nekat walaupun ngerasain linu di seluruh tubuh, gue tetap berangkat ke Pakansari dengan mengendarai sepeda motor. "Nanti kalo udah di tribun juga mendingan.", harapan gue saat itu dalam hati. Dan akhirnya, gue sama Okta, temen biasa nonton bola bareng, sampai juga di lokasi. Walau harus memarkir motor di luar wilayah stadion dan harus berjalan kaki setelahnya, kita berdua tetap antusias tanpa mengeluh sedikit pun.

Dan akhirnya, bulu kuduk gue kembali berdiri saat lagu kebangsaan Indonesia Raya bergemuruh di Stadion Pakansari. Bangga, haru, mengingat sudah cukup lama gue ga menyanyikan lagu Indonesia Raya dari bangku tribun. Tapi gue agak kesal sama mereka yang masih menggunakan terompet saat berada di stadion. Seharusnya teriakan dukungan kita lebih lantang daripada suara terompet, karena para pemain tidak membutuhkan bunyi bising yang berasal dari suara terompet. Semoga ke depannya, akan ada aturan tegas untuk melarang penggunaan terompet di dalam stadion. Ya, semoga saja.

Pertandingan selama 2 X 45 menit pun berakhir dengan kemenangan Timnas Indonesia 2-1 atas Vietnam. Semoga saat putaran ke dua Hari Rabu nanti di Vietnam, Timnas Indonesia bisa bermain dengan jauh lebih baik lagi dan meraih hasil maksimal yakni merebut satu tiket ke final. Di balik federasi yang amburadul, di balik anggapan miring soal prestasi sepak bola Indonesia, percayalah, kami akan selalu dan tetap berada disini untuk mendukung sepak bola dalam negri. Karena bahkan kami masih percaya, jika "football for unity" itu memang benar adanya.
Selesai.



November 13, 2016

Selamatkan Supporter Sepak Bola Indonesia

Sudah seminggu sejak pertandingan yang selalu dikatakan banyak orang sebagai "big match" di Indonesia berlalu dengan begitu banyak menyisakan pertanyaan dalam benak saya sebagai salah satu penikmat sepak bola negri ini. Kekerasan seolah tak lagi bisa dipisahkan dari dunia supporter sepak bola Indonesia, entah sejak kapan saling melakukan tindak kekerasan dibenarkan atas nama cinta terhadap sebuah klub sepak bola. Saya tidak tau, apa disini hanya saya yang merasakan jika sebenarnya supporter sepak bola Indonesia sudah kehilangan jati dirinya, identitas aslinya, dan bahkan kemana mereka seharusnya berpedoman.

Perlahan namun pasti, ciri khas ke-Indonesia-annya seolah dihilangkan dan cenderung meniru kebiasaan kelompok supporter sepak bola yang berasal dari negara-negara Eropa seperti Inggris dan Italia. Dulu, beberapa kali secara sepintas saya sering membaca komentar yang kira-kira seperti ini bunyinya "Di Inggris, keributan antara supporter itu sudah wajar. Jadi jangan heran atau aneh jika itu terjadi di Indonesia." Apa jika kita menyerap suatu budaya, maka hal-hal negatif yang terdapat dalam budaya tersebut juga harus kita tiru? Saya rasa tidak. Ada hal-hal baik yang dapat kita ikuti, tetapi harus tetap memilih bagian-bagian mana saja yang diabaikan.

Tanpa mengikuti kiblat supporter dari tanah Eropa, saya sangat yakin jika sebenarnya supporter sepak bola Indonesia sudah sangat bisa dikatakan sebagai salah satu supporter yang fanatik di dunia. Kita punya ciri dan cara tersendiri untuk mendukung klub sepak bola kebanggaan yang kita dukung dengan penuh rasa bangga dan juga cinta yang teramat besar. Dari Sabang sampai Merauke, banyak kreatifitas yang dilakukan masing-masing kelompok supporter ketika mereka berada di atas tribun mendukung sebuah klub sepak bola.

Tugas sebagai supporter sepak bola yang baik hanyalah mendukung klub kebanggaan dengan sepenuh hati. Dengan meneriakan chants penyemangat, serta dukungan doa agar klub yang dibelanya bermain dengan baik dan meraih kemenangan. Membela nama baik klub dengan tindakan anarkis yang mengatasnamakan rivalitas ta* seharusnya tidak lagi ada di dunia sepak bola Indonesia. Sepak bola memang terasa hambar jika tidak ada persaingan yang sangat kuat di dalamnya. Tapi bukan berarti segala tindakan kekerasan itu dapat dibenarkan, apa lagi sampai menghilangkan nyawa dengan mudahnya. Jangan lupakan kodrat kita sebagai manusia biasa yang berTuhan, karena jika kita mengaku memiliki Tuhan, maka kita tidak akan pernah bertindak beringas seperti sekolompok binatang buas yang bersiap menerkam mangsanya yang tidak berdaya.

Kita semua hanyalah segelintir manusia yang mencintai sepak bola, bukan sekelompok jagoan yang seolah tak punya rasa takut akan apapun. Kita semua hanyalah segelintir manusia yang rela membela klub sepak bola kebanggaan dengan cara yang rasional dan bukan sekelompok manusia yang berpikir sempit lalu mudah terpancing emosi dan provokasi. Lagu kebangsaan kita masih sama, lambang negara kita masih sama, warna bendera kita pun masih sama, pantaskah sepak bola negri ini terus menerus dinodai oleh sikap saling balas dendam yang tak akan pernah mengenal rasa puas? Cukuplah para petinggi federasi yang tidak memiliki akal sehat dan juga hati nurani. Tapi kita, yang sesungguhnya paling berhak untuk memiliki sepak bola negri ini seutuhnya, sudah sepatutnya memberikan dampak positif bagi sepak bola negri ini.

Jangan lagi nodai sepak bola negri ini dengan darah, apa lagi nyawa. Jika memang benar kita mencintainya, maka jangan lagi sakiti ia dengan kekerasan yang mengatas namakan apapun.

Selesai.

November 8, 2016

CUKUP!

Hari ini sudah genap dua hari sejak kejadian berdarah di Tol Palimanan 6 November lalu. Gue ga pernah tau, kapan permusuhan dan saling menyimpan rasa dendam satu sama lain ini akan benar-benar berakhir. Atau memang benar jika ini semua ga akan pernah mengenal kata selesai? Sampai populasi di antara masing-masing kelompok hanya tersisa satu orang saja? Sepak bola selalu dipercaya menjadi alat pemersatu bangsa, tapi itu tidak lagi berlaku di negri ini sekalipun lagu kami masih sama yakni Indonesia Raya.

Selama dua hari terakhir ini, setiap kali gue membuka media sosial instagram, gue selalu dipaksa menahan sakit setiap kali melihat postingan dari pihak-pihak yang memposting foto korban tanpa sensor sama sekali. Gue ga bisa menahan diri gue sendiri untuk ga membayangkan segala hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi sama gue atau bahkan orang-orang di sekitar yang gue sayang. Gue bukan takut untuk mendukung Persija nantinya, bukan itu. Gue cuma takut untuk kembali merasa kehilangan, gue ga mau hati gue terluka lagi karena alasan kematian.

Sepak bola ga pernah meminta nyawa seseorang untuk menjadi "tumbal". Sepak bola ga pernah meminta banyak darah untuk menjadi "taruhan". Sepak bola ga pernah meminta kematian untuk menjadi bayarannya ketika seseorang ingin menikmati suatu pertandingan sepak bola. Sepak bola seharusnya menjadi alasan kita untuk saling merangkul dan berbagi kebahagiaan, dan bukan saling tertunduk menangis karena merasa kehilangan. Jika memang rivalitas antara tiap-tiap pihak tidak akan pernah berakhir, setidaknya jangan ada lagi keluarga yang menangis karena harus kehilangan orang yang mereka cintai dan sayangi untuk selamanya.

Football for unity, semoga itu masih tetap berlaku di negri ini. Amin.

November 7, 2016

PERSIJA vs persib 05112016

Persija vs persib, salah satu pertandingan yang dapat dikatakan paling ditunggu-tunggu oleh banyak pihak, bahkan masyarakat awam sekalipun. Setelah bertemu dan berbagi poin di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada putaran pertama Torabika Soccer Championship 2016, Persija bergantian menjamu persib di Stadion Gelora Manahan Solo 5 November 2016 lalu dan kembali harus puas dengan hasil akhir pertandingan yang sama-sama tidak mampu meraih poin sempurna.

Gue menuju Solo bersama dengan rombongan dari Korwil Jatinegara Kaum. Walaupun gue bukan anggota dari sana, tapi gue bersyukur karena cukup banyak orang yang gue kenal. Ya mau berasal dari korwil atau komunitas apapun, selama masih sama-sama Persija yang menjadi tim kebanggaan, mereka semua adalah kerabat bagi gue. Sekitar pukul 21:00 WIB rombongan kami berangkat menuju titik kumpul bertemu dengan rombongan lain di rest area tol KM 57. Dan kurang lebih sekitar pukul 00:30, iring-iringan bis yang membawa rombongan The Jakmania bersama-sama menuju Solo malam itu.

Belum lama meninggalkan rest area, gangguan yang memang sudah gue duga akhirnya datang juga. "Mereka" menyambut kedatangan kami dengan nyala kembang api dan juga lemparan batu. Bis rombongan Jatinegara Kaum pun ga luput dari sambutan "kasih sayang" "mereka" saat itu. Tapi beruntung, bebatuan yang mereka lemparkan dari atas jembatan penyebrangan atau jalan layang di atas tol tidak mengenai kaca bis dan hanya berjatuhan di atap bis dengan bunyi yang cukup keras.

Karena disambut dengan sedemikian rupa, kami sebagai tamu yang baik pun turun dari bis dengan niatan mengucapkan "terima kasih" kepada "mereka" yang sudah berbaik hati membeli kembang api dan mengumpulkan bebatuan hanya untuk memberikan ucapan selamat datang bagi kami. Kembang api dibalas dengan kembang api, tapi niat kami tidak diterima dengan baik. "Mereka" justru bersembunyi di balik kegelapan malam, semak belukar, rawa-rawa, dan persawahan. Seperti anak kecil yang berusaha mencuri mangga dari pohon tetangga, melemparinya dengan batu namun saat ketauan mereka berlari terbirit-birit dan mencari tempat persembunyian yang aman.

Setelah beberapa kali mendapat sambutan dari beberapa titik, siang harinya kami semua sampai juga di Kota Solo dengan selamat. Dan kick off pertandingan antara Persija melawan persib akhirnya ditiup oleh wasit. Selama pertandingan, jujur gue ga bisa fokus sama jalannya pertandingan. Mata gue justru ga bisa lepas dari tribun utara dan selatan Manahan Solo, ketika rekan-rekan Jakmania lainnya bertemu dengan "mereka" yang sudah tidak diperbolehkan datang namun tetap nekat datang untuk mengorbankan mukanya sedikit lebih berwarna-warni karena bogem mentah yang "mereka" terima.

Selesai pertandingan, kami langsung diarahkan untuk segera meninggalkan stadion dan kembali ke Jakarta malam itu juga. Bis yang membawa rombongan gue bahkan berjalan tepat di belakang mobil patroli yang bertugas membuka jalan. Bukan kawalan, karena bahkan kami tidak meminta. Mungkin hal itu dilakukan agar tidak terjadi kemacetan yang ditimbulkan oleh rombongan bis yang memang cukup banyak saat itu. Rombongan Jatinegara Kaum meninggalkan jauh bis yang lainnya di belakang, karena kami harus cepat menemukan rest area terdekat untuk mengganti ban yang bermasalah.

Sekitar pukul 05:00 pagi dan selesai mengganti ban yang cukup lama memakan waktu, akhirnya rombongan kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Saat sudah memasuki kawasan Tol Cipali, rombongan kami bertemu dengan beberapa rombongan lainnya, seperti Curva Sud Persija, dan juga rombongan Jakmania Depok. Bersyukur kami tidak mengalami gangguan apapun selama perjalanan pulang menuju ibu kota. Walau pun gue sendiri yang duduk di bangku paling depan sudah siap untuk hal terburuk sekalipun.

Tapi sialnya, itu ga berlaku untuk beberapa rombongan bis yang berjalan jauh di belakang kami. Karena rekan-rekan gue harus "berperang" melawan "mereka" yang dibantu oleh "warga" dan bahkan "aparat" sekitar. Kembali satu nyawa harus menjadi tumbal karena peristiwa di Palimanan sore itu, hati gue pun lagi-lagi harus merasakan sakit yang begitu luar biasa hebatnya. Mungkin ini ga akan pernah selesai, bahkan sekalipun ketika gue harus bereinkarnasi, permusuhan ini akan tetap abadi dan mengakar kuat selamanya.

Gue bukan orang yang membenarkan adanya kekerasan dalam sepak bola, gue juga manusia biasa yang memiliki hati nurani dan masih berfungsi dengan baik untuk merasakan kepedihan dan kehilangan. Jika hanya karena cinta yang begitu besar terhadap sepak bola harus menjadikan nyawa kami sebagai taruhannya, semoga Tuhan memberikan kami semua keikhlasan yang selapang-lapangnya.

#JakmaniaBerduka
#06112016
PERSIJA SELAMANYA!






October 31, 2016

DEJAVU!

Setelah meraih kemenangan saat melawan PS TNI di Stadion Pakansari, Persija kembali sulit meraih poin demi poinnya secara tiga kali berturut-turut saat melawan Arema Cronus, Sriwijaya FC, dan juga Pusamania Borneo FC. Hal ini seperti mengingatkan kembali atas apa yang terjadi pada putaran pertama Torabika Soccer Championship dimana setelah menang atas PS TNI di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Persija sulit meraih poin sempurna pada laga-laga berikutnya.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan performa Persija jauh dari kata stabil bahkan baik. Yang paling terasa mungkin setelah Persija kehilangan beberapa pemain pilarnya untuk mengikuti TC Timnas baru-baru ini. Persija tampak goyah dan tidak seimbang. Permainannya di lapangan terlihat seolah-olah tanpa strategi apalagi teknik yang baik. Bahkan dukungan para pecintanya yang selalu ada dimanapun mereka bertanding, tidak bisa memotivasi Persija untuk bermain dengan cukup baik.

Setelah kalah 0-2 dari tim tamu Pusamania Borneo FC semalam di Stadion Gelora Manahan Solo, masalah baru datang menghampiri Persija. Hampir semua pemain belakang Persija terkena akumulasi kartu dan ini tentu menjadi masalah yang tidak bisa dianggap remeh untuk nantinya menghadapi pertandingan selanjutnya melawan Persib Bandung. Semoga saja dalam waktu yang tidak sampai seminggu ini, Persija mampu menangani masalah ini dan secepatnya memperbaiki performanya di lapangan.

Kemenangan dalam sepak bola hanyalah bonus. Bagaimana ia menyuguhkan permainan terbaiknya selama pertandingan, itulah yang paling penting. Dear Persija, berjuanglah pada setiap pertadingan, karena lambang monas yang berdiri tegak dan tersemat pada dada kalian, sudah seharusnya menjadi sebuah kebanggaan bagi siapapun yang mengenakannya.

Persija Selamanya!

October 30, 2016

Jika Bukan Kamu, Mungkin Semua Akan Berbeda

Jika bukan karena Persija, mungkin gue ga akan pernah tau gimana rasanya menyebrangi Selat Sunda. Jika bukan karena Persija, mungkin gue ga akan pernah tau gimana rasanya menginjak tanah Sumatera. Jika bukan karena Persija, mungkin gue belum bisa ketemu sama salah satu sahabat terbaik gue yang udah bertahun-tahun terpisah jarak. Dan jika bukan karena Persija, mungkin gue juga ga akan lagi bisa ngerasain yang namanya "uring-uringan" karena kangen sama seseorang. Terima kasih, Persija. Jangan keseringan ngalahan ya, kamu nyebelin kalau lagi begitu, tapi aku tetap cinta, selamanya!




September 19, 2016

Untuk Kalian yang Berbahagia

Pernikahan bukan hanya perkara kesiapan mental atau kecukupan materi belaka. Bukan pula soal bagaimana menyatukan kedua keluarga dari latar belakang yang berbeda. Pernikahan tidak juga melulu soal perjalanan akhir dari sepasang kekasih yang saling menjalin cinta. Lalu, hakikat pernikahan itu sesungguhnya seperti apa?

Pernikahan adalah tentang bagaimana pada akhirnya kita telah menemukan dan berhenti mencari. Pernikahan adalah tentang bagaimana pada akhirnya kita saling percaya dan melengkapi. Dan mungkin yang paling penting, pernikahan adalah bagaimana hatimu mampu mempertahankan dengan baik apa yang kamu yakini sejak awal.

Dear Galuh Ajeng Larasati, mungkin di antara kita, kamu yang lebih dahulu dipertemukan dengan tulang rusukmu, dengan tangis dan tawamu, dengan seseorang yang mereka sebut dengan jodoh. Ini bukan perkara siapa yang lebih cepat atau yang lebih lambat menuju gerbang pernikahan. Karena mungkin saja, di antara kita pula, hanya kamu yang hatinya jauh lebih lapang untuk jatuh cinta sejatuh jatuhnya jatuh terhadap pasanganmu. Sementara kami yang tersisa, masih saja khawatir akan rasa kecewa dari masa lampau yang belum benar-benar pudar.

Selamat menempuh hidup baru. Semoga Tuhan dan semesta, selalu melimpahkan cinta 
dan bahagianya untuk kalian. Amin.


August 8, 2016

Mari Piknik Jangan Panik

Kemarin, Minggu 7 Agustus 2016 akhirnya rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari terlaksana juga. Piknik ke Kebun Raya Bogor, yeay! Sempat kecewa juga sih sama Sekar karena dia ga bisa ikut piknik, padahal dia sendiri yang nentuin jadwalnya, tapi justru dia yang ngabarin ga bisa ikut menjelang hari H. Walau pun kurang satu orang gilanya, kita tetap berangkat untuk piknik, sebelum salah satu dari kita yaitu Ajeng, dipingit menjelang hari pernikahannya nanti hehe (uang pelangkah mana nih?)

Gue, Okta, Miftha, dan Ajeng berencana bertemu di Stasiun Bogor jam 13:00 WIB. Gue, Okta, sama Miftha kebetulan berada di rangkaian KRL yang sama, dan kita pun menunggu kehadiran Ajeng. Cukup lama kita menunggu Ajeng, pikiran mulai ga karuan. Khawatir jika Ajeng mungkin saja salah naik KRL, bukannya ke Bogor tapi justru ke Nambo huh! Tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi, "Sabar ya, ada tragedi sop bocor." Begitulah kira-kira pesan dari Ajeng yang masuk ke grup whatsapp Bidadari Jamban. Tapu justru hal ini membuat kita bertiga tertawa meledek. Ga ada yang lebih bahayakah tragedinya, dari sekedar bocornya plastik sayur sop? Hehe.

Here we go! Setelah keluar dari stasiun kita berempat pun langsung naik angkutan umum yang semuanya berwarna hijau. Dengan modal doa dan permen sebungkus, berharap bisa menembus padatnya jalanan Kota Bogor siang hari itu tanpa harus merasakan ga enaknya mabuk darat, mabuk cinta, mabuk rindu, dan mabuk-mabukan lainnya. Bersyukur kita tidak perlu lama-lama berada dalam angkutan umum yang penuh sesak itu, setelah sekitar 15 menit menempuh perjalanan dan membayar ongkos Rp 3.500,00 per manusia, kita pun tiba di depan pintu masuk Kebun Raya Bogor.

Harga tiket masuk Kebun Raya Bogor Rp 15.000,00 per kepala. Setelah membeli 4 lembar tiket dan juga membeli sebuah tikar seharga Rp 10.000,00 kita berempat pun langsung bergegas untuk masuk ke dalam kawasan Kebun Raya Bogor mengingat hari sudah menjelang sore. Dan setelah berkeliling sebentar, kita langsung mencari tempat untuk menggelar tikar agar bisa membuka perbekalan dan istirahat makan siang yang kesorean. Kita pun menemukan tempat yang dirasa enak untuk melepas penat dan bersenda gurau disana. Hanya ada sepasang kekasih yang juga menggelar tikar disana. Mungkin mereka berdua bergumam saat melihat kedatangan kita yang tanpa mengucap salam dengan kata-kata seperti ini, "Cabe-cabean darimana sih ini gangguin aja." Tapi namanya tempat umum dan sama-sama mengeluarkan uang untuk membayar tiket, jadi kita ga ngerasa ngeganggu tuh hehe.

Sesaat setelah menggelar tikar, kita pun membuka perbekalan yang dimasak sama Ajeng. Memang perempuan ini sudah siap menjadi istri yang baik, masakannya cukup enak, atau memang kita yang rakus? Ga tau juga sih ya, tapi bisa berbagi makanan di alam bebas dengan teman-teman yang ga ada otaknya itu sangat menyenangkan. Setelah cukup kenyang (Okta aja sih kayaknya yang kenyang, dia ngambil jatah sopnya Ajeng men hmm) kita pun langsung mengabadikan tiap-tiap momen dalam rekam gambar atau video. Ya wajarlah yaa namanya juga perempuan, ga bisa liat kamera gadget nganggur dikit. Tapi sebelum itu, ada ibadah wajib yang kita lakuin sebelum foto-foto atau merekam video. Ya betul! Pake gincu!

Setelah kurang lebih 2 jam berada disana dan bersenda gurau bersama (Alhamdulillah ga ngegibahin orang, ga tau lupa apa gimana) kita pun bergegas untuk pulang. Ke Jakarta aku kan kembaliii ii ii. Ga deh, gue ke Depok dan Miftha ke Bojong Gede. Yang ke Jakarta mah Ajeng sama Okta doang, itu juga Jakarta pinggiran. Saat itu Bogor sudah diguyur hujan yang cukup deras, ya namanya juga Kota Hujan, kalau kita ngeliat patung Suro sama Boyo, ya berarti lagi ada di Kota Pahlawan, Surabaya. Beruntung saat hujan deras, kita berempat sudah berada di rangkaian KRL dan duduk manis di tempat masing-masing (Ga deh, Miftha duduknya ngangkang).

Ah, terima kasih gaes untuk piknik singkatnya. Menghabiskan waktu bersama teman-teman yang aneh ga harus selalu masuk mall dan menghabiskan uang banyak. Karena masih banyak hal-hal sederhana yang bisa menghadirkan kebahagiaan-kebahagiaan dalam kehidupan kita semua. Sampai bertemu di hari bahagianya Ajeng. Eh, bukannya kita mau nonton Mas Dutanya acuuu juga ya di Rolling Stone Cafe? Jadiin ya hehe. Sekali lagi, terima kasih untuk kebahagiaan yang rela kalian beri dalam hidup gue di hari kemarin. Semoga masih banyak waktu untuk kita bisa saling berbagi suka serta duka. See you, and don't miss me too much karena merindukan itu engga enak haha. Bye!





















July 26, 2016

Per Si Ja Se La Ma Nya

Namanya Persija, memiliki julukan Macan Kemayoran. Dia berwarna merah membara, dan seharusnya mampu membuat ciut nyali semua yang melihatnya. Namun itu tidak pernah terjadi, setidaknya untuk beberapa musim terakhir ini. Persija merupakan tim besar. Besar nama, supporternya, apalagi sejarahnya. Tapi tidak untuk prestasinya saat ini. Persija seolah tak lagi bangga berjuang dengan lambang monas yang berdiri kokoh di sudut kanan seragamnya, di dekat jantungnya. Entah apa yang membuatnya begitu terpuruk, tapi Macan Kemayoran sepertinya sedang lelah untuk mengaum dengan keras.

Sejak pertandingan melawan PS TNI di SUGBK, saya hampir lupa kapan Persija meraih kemenangannya musim ini, bahkan saya pun hampir lupa bagaimana rasanya meluapkan emosi kegembiraan saat satu demi satu goal kemenangan dilesatkan ke gawang lawan. Saya lebih sering tertunduk lemas dan malas melihat hasil seri serta kekalahan yang belum juga bosan Persija raih. Ya, saya malas sekali melihat Persija bertanding akhir-akhir ini. Seperti tidak memiliki semangat setidaknya untuk menghibur dengan permainan yang bagus dan menarik. Terakhir, saya melihat mereka berjuang mati-matian saat melawan Persib Bandung, yang kata kebanyakan orang menjadi rival bagi Persija. Setelah pertandingan itu, Persija disambut dengan sangat luar biasa saat kembali pulang ke ibu kota. Ini baru hasil imbang melawan rival, bagaimana jika Persija benar-benar menjadi juara? Saya sempat merinding saat membayangkan hal itu.

Dan hal itu membuat saya berpikir, apa kecintaan para supporter yang begitu luar biasa untuk Persija lantas membuatnya terbuai dan seolah bersikap manja? Lalu seakan tak terima jika kritikan demi kritikan dilontarkan padanya saat kami merasa kecewa dengan hasil yang diraihnya. Katanya, jangan bersorak jika Persija menang saat tidak bisa menerima bila Persija kalah. Tidak bisa menerima? Mungkin sudah sejak lama saya berhenti dan meninggalkan Persija jika saya tidak benar-benar BISA MENERIMA KETERPURUKAN PERSIJA. Tapi saya tidak pernah beranjak pergi, bahkan berniat pun tidak. Hanya saja, apa sebuah kesalahan jika kami menuntut Persija untuk setidaknya bermain dengan bagus terlebih dahulu, lalu meraih kemenangan sebagai bonusnya? Beratkah? Untuk mengabulkan keinginan sederhana kami melihat Persija berjuang dengan baik dan memang layak mendapatkan julukan macan kemayoran?

Darah, keringat, waktu, jarak, uang, bahkan tak jarang nyawa menjadi hal yang harus kami bayarkan demi mendukung Persija bertanding. Loyalitas seperti apalagi yang Persija inginkan, hey?! Berbenahlah. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Tidak pernah ada kata berakhir untuk berjuang lebih keras lagi. Seperti halnya, tidak ada kata selamat tinggal untuk tetap berdiri disini memberikan dukungan terbaik untuk kamu, Persija.

Kritikan itu tanda bahwa kami benar-benar cinta, karna cinta tak melulu perkara sanjungan yang justru bisa menjatuhkan.

PERSIJA SELAMANYA!
MANAJEMEN BOBROK!

May 20, 2016

Bersyukurlah Bagi Kalian yang Beruntung

Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung? Kenapa? Karena kami disini tidak seberuntung kalian. Kami dan kalian, sama-sama sekelompok suporter yang mencintai klub sepak bola masing-masing di daerahnya. Entah mencintai karena bersifat kedaerahan, atau apapun itu alasannya. Sepak bola bagi kita adalah salah satu sumber kesenangan dalam hidup. Bahkan tanpa sepak bola, sepertinya kita tidak lagi merasakan apa itu hidup yang sesungguhnya.

Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung? Apa sebenarnya yang saya maksud dengan "beruntung" pada judul artikel saya kali ini? Saya akan menuliskannya satu demi satu, bagiamana kalian merasakan keberuntungan itu, dan tidak dengan kami disini.

Sepak bola bukan hanya suatu olah raga permainan yang membutuhkan skill dan taktik. Ada banyak faktor yang mendukung kesuksesan sebuah tim sepak bola. Baik itu dari pemain, pelatih, manajemen, suporter, stadion, dan berbagai institusi pemerintahan dari daerahnya.

Saya tidak akan berbicara banyak tentang pemain, pelatih, manajemen atau bahkan dari pihak suporter. Kali ini saya coba menjabarkan bagaimana pentingnya dukungan dari beberapa institusi pemerintah daerah bagi kemajuan sebuah klub sepak bola.

Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung, bagi kalian yang memiliki pemerintah daerah yang sangat peduli terhadap klub sepak bola disana, bagi kalian yang tidak tinggal di kota heterogen seperti Jakarta. Beruntung? Kenapa demikian?

Persija dan Jakarta, keduanya sama-sama memiliki nama besar. Persija yang merupakan salah satu klub sepak bola dengan jumlah suporter terbesar, dan Jakarta yang merupakan ibu kota dari negara Indonesia. Namun miris, karena saya merasa bahwa Persija tidaklah benar-benar Jakarta.

Saya sangat iri dengan klub-klub sepak bola di luar Jakarta, bagaimana sifat kedaerahan disana yang cukup besar dan menganggap bahwa menjadi pendukung klub sepak bola di daerah mereka adalah sebuah pengabdian terhadap tanah kelahiran. Dan bagi saya pemerintah daerahnya sangatlah peduli terhadap kemajuan klub sepak bola. Tak hanya itu, bahkan pihak keamanannya, dalam hal ini pihak tni polri, selalu bekerja secara profesional. Pengalaman ini saya rasakan beberapa kali saat mendukung Persija dalam laga kandangnya di luar kota.

Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung. Bagi yang sudah memiliki stadion untuk bertanding tanpa harus takut suatu saat akan digunakan untuk acara musik atau politik. Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung. Bagi yang sudah memiliki tempat untuk latihan tanpa harus berpindah-pindah tempat dengan membayar beberapa lembar uang sewa. Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung. Bagi kalian yang tak pernah memakan janji-janji calon pemimpin daerah dengan mengatas namakan sepak bola.

Persija dan kami tidak seberuntung kalian. Persija berdiri di sebuah kota heterogen, tak semuanya mencintai Persija dengan sungguh bahkan pemerintah daerahnya sendiri. Persija yang seperti "kaum migran" di rumahnya sendiri. Bahkan Persija tak memiliki rumah di atas tanahnya sendiri. Kalian pasti tak pernah merasakan bagaimana menjadi musafir seperti kami yang sering terusir sana-sini. Persija memang tim besar, namun nasibnya seperti anak tiri.

Memang kami selalu ada bersama Persija di pinggir lapangan, tak peduli harus mengudara atau menyebrangi lautan, dukungan untuk Persija tak akan pernah putus. Tapi kami selalu berharap, jika Jakarta itu sendiri lebih bisa untuk memperhatikan kesejahteraan Persija saat ini dan untuk ke depannya kelak. Persija itu lahir untuk melawan para penindas di masa lampau. Lalu pantaskah, jika saat ini dia ditindas dan diabaikan di kota tempat dia tinggal?

Persija Selamanya!

May 9, 2016

Karena Supporter Sepak Bola, Juga Manusia

The Jaaaaakkk Maniaaaaa!
Tulisan ini saya tulis saat menjelang sore, jadi saya ucapkan selamat sore untuk kalian semua yang sudah bersedia membuang waktunya untuk membaca sebuah artikel yang mungkin bisa dikatakan tidak terlalu penting. Tapi sebagai warga negara yang memiliki hak untuk menyampaikan "uneg-uneg", maka saya rasa saya berhak untuk menuliskan apa-apa saja yang ingin saya sampaikan khususnya kepada pihak-pihak yang nantinya akan saya sebutkan dalam tulisan ini.

Setelah sekian lama merindukan untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola, khususnya Persija di rumahnya sendiri, akhirnya pada 9 April 2016 lalu saya dan rekan-rekan Jakmania lainnya dapat kembali ke Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk mendukung Persija dalam Trofeo Persija yang sebenarnya sudah diundur cukup lama. Antusias dari kami cukup besar. Bahkan sangat besar! Mengingat sudah cukup lama kami tidak merasakan euforia di SUGBK saat pertandingan Persija berlangsung. Dan benar saja, hari itu sekitaran SUGBK sudah seperti lautan manusia. Warna oranye tumpah ruah disana. Tak hanya dari Jakarta saja, para pecinta Persija yang berasal dari luar Jakarta pun ikut serta berbondong-bondong untuk meramaikan Trofeo Persija hari itu.

Jauh-jauh hari sebelum berlangsungnya pertandingan, seperti biasa ada info-info penting yang disampaikan dari pihak panpel melalui sosial media yang ditujukan kepada kami sebagai pihak supporter. Ada beberapa peraturan yang harus kami patuhi agar pertandingan bisa berjalan dengan baik. Membeli tiket, tidak menyalakan benda-benda yang bisa menyebabkan kebakaran, dan masih banyak peraturan-peraturan lainnya yang harus kami ikuti aturan mainnya. Sebagai salah seorang pecinta Persija yang (berusaha untuk) baik, saya selalu mengikuti setiap aturan yang berlaku. Mulai dari membeli tiket di loket resmi atau melalui korwil, sampai bersikap tertib dari awal hingga akhir pertandingan. Karena saya pribadi yakin, jika tidak mungkin ada pihak dari supporter sengaja melakukan hal-hal yang kelak akan merugikan tim kebanggaannya. Jika memang masih ada beberapa yang melanggar peraturan tersebut, silahkan tanyakan sendiri pada diri anda, "Sudah dewasakah saya sebagai seorang supporter? Sudah bisakah saya menjaga nama baik Persija dan juga The Jakmania?"

Dan setelah saya rasa bahwa saya sudah cukup baik dalam mengikuti peraturan-peraturan tersebut, lalu apakah ada timbal balik yang saya dan rekan-rekan Jakmania dapatkan? Apakah ada perlakuan yang baik pula untuk kami setelahnya? Saya rasa belum ada. Atau bahkan tidak ada sama sekali. Pihak panpel atau bahkan kepolisian Jakarta menghimbau kami untuk memperbaiki diri. Lalu, apakah hal yang sama sudah dilakukan oleh mereka? Jakmania adalah salah satu organisasi supporter yang cukup besar di Indonesia, bahkan masyarakat awam pun tau akan hal itu. Sebagai panpel, harusnya mereka sudah paham akan fakta tersebut. Yang pertama ingin saya tanyakan, kenapa sekarang ini untuk masuk stadion saja rasanya sangat dipersulit? Selain pintu yang dibuka untuk masing-masing sektor hanya satu, kinerja panpel baik dari pihak Persija atau pun dari SUGBK itu sendiri sangat tidak memuaskan. Menurut saya pihak panpel sangat acuh terhadap pecinta Persija yang membawa anak kecil saat mengantri untuk masuk, hingga tak jarang sebagian dari mereka menangis karena kepanasan saat harus berdesakan. Bahkan semalam, saat partai kandang pertama Persija dalam Torabika Soccer Championship menjamu Semen Padang, kami semakin diperlakukan seenaknya. Selain dipersulit atau bahkan diperlambatnya kami untuk masuk ke dalam stadion, saya merasakan bahwa The Jakmania selalu diperlakukan seolah-olah bukan manusia oleh mereka. Apa lagi jika pertandingan baru selesai beberapa menit, lampu stadion tiba-tiba saja dipadamkan. Bagaimana jika ada yang terjatuh dan terluka nantinya? Jika memang hati nurani mereka tak bisa bekerja dengan baik, setidaknya masih ada otak untuk berpikir bukan?

Lalu masalah rf, sb, dan petasan yang masih menyala di stadion. Sebenarnya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pihak supporter dalam hal ini. Saya kembalikan ke awal, jika pihak panpel telah bekerja dengan efektif, maka benda-benda tersebut tidak akan lolos dalam pengawasan mereka. Bayangkan saja, jika hanya ada satu pintu yang terbuka untuk masuk begitu banyaknya pihak supporter,bagaimana bisa panpel mengawasi dengan baik? Bahkan masih ada dari mereka yang justru sibuk mengambil tiket tanpa mau menyobeknya dan nantinya saya yakin akan diperjual belikan lagi untuk keuntungan pribadi. Lalu, sebenarnya siapa disini yang lebih merugikan Persija dalam hal materi?

Untuk rekan-rekan Jakmania, saya mohon dengan sangat, bukannya saya merasa sok paling benar menjadi manusia, tapi berhentilah melakukan hal-hal yang bisa merugikan Persija dan juga The Jakmania nantinya. Kita ini supporter sepak bola, pecinta Persija, bukan jagoan yang selalu ingin terlihat hebat, bukan seonggok daging yang tidak dilengkapi dengan otak untuk berpikir, bukan pula makhluk yang tidak memiliki hati nurani untuk membedakan baik dan buruk suatu hal. Seharusnya kita bisa lebih menjaga sikap demi menjaga nama baik Persija dan juga organisasi The Jakmania itu sendiri.

Banyak hal yang harus dirubah jika ingin melihat Persija juara lagi (secepatnya). Mulai dari supporter, tim, manajemen, dan berbagai pihak yang terdapat di dalamnya. Tidak bisa satu aspek saja yang dipaksakan untuk berubah jadi lebih baik, namun semuanya. Karena bola itu bundar, satu kesatuan, tanpa ada sekat pemisah di dalamnya.

Sekian tulisan saya kali ini dalam blog pribadi saya. Jika ada hal yang kurang berkenan atau kesalahan, mohon dimaafkan sebesar-besarnya. PERSIJA SELAMANYA!


March 15, 2016

NOTE TO SELF!

SATU-SATUNYA HAL YANG MEMBUATMU MERASAKAN PATAH HATI ADALAH: MENGHARAPKAN DENGAN SANGAT JIKA DIA AKAN MENJADI MILIKMU SATU-SATUNYA SELAMANYA! KARNA JIKA CINTA, MAKA IKHLASLAH! KARNA JIKA CINTA, MAKA PASRAHKANLAH! JANGAN MENGHARAP APAPUN, KARENA SEBAIK-BAIKNYA MENARUH HARAP HANYALAH KEPADA PEMILIK SEMESTA. CINTA BUKAN HANYA PERKARA KEPEMILIKAN, MELAINKAN JUGA TENTANG KEBESARAN HATI UNTUK MENERIMA. CINTA TIDAK MEMAKSAKAN, KARNA CINTA ADALAH TENTANG RASA DAN BUKANLAH EGO. MENCINTAILAH TANPA PAMRIH, KARNA CINTA YANG TULUS, ADALAH SEBIJAK-BIJAKNYA HATIMU BEKERJA.

March 10, 2016

Love is...

Aku tidak bisa memprediksi, kapan akan menjatuhkan hati pada seseorang. Aku juga tidak bisa memutuskan, kapan akan berhenti mencintai seseorang. Seringkali hati bekerja dengan misterius, pun halnya dengan cara kerja semesta yang selalu menyimpan misteri dan memiliki banyak kejutan.

Saat senyuman itu menjadi hiasan pada wajahnya, saat sorot mata itu menatapku dalam-dalam, aku merasa waktu masih seolah berhenti sejenak. Membiarkan aku menikmati keduanya dengan tenang. Hangat. Dadaku masih sangat terasa hangat saat senyuman dan sorot mata itu seolah memojokan aku di sudut ruang hatiku sendiri.

Aku selalu meminta pada Tuhan agar menjaganya baik-baik, agar Tuhan tak pernah meninggalkan setiap langkah yang ia jejaki . Aku tak pernah meminta pada Tuhan agar Dia menjadikannya milikku seorang. Aku hanya tak ingin doaku atau bahkan perasaanku menjadi pamrih, dan tak lagi tulus.

Karna jika aku masih ada dalam ingatannya, itu sudah lebih dari cukup.

February 29, 2016

Thankyou, Feb!

Dear, Februari.

Aku butuh waktu sangat lama sepertinya, hingga pada akhirnya memutuskan untuk berdamai denganmu. Sudah bertahun-tahun aku membencimu dengan sangat, walaupun aku tahu jika kau tak pernah benar-benar salah selama ini. Tapi aku bisa apa? Selain marah besar setelah orang-orang yang aku sayangi, kau bawa pergi begitu saja tanpa permisi.

Awal kebencianku padamu adalah pada 2010 lalu, saat kau membawanya pergi untuk selamanya saat bahkan ia telah berjanji akan kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik. Dan 2014, saat bahkan lukaku belum sembuh, kau kembali membawa pergi jauh salah satu sahabat terbaikku tanpa merasa bersalah sekalipun. Jadi, kau sudah tahu kan mengapa dulu aku sangat membencimu dan berharap kau cepat berlalu?

Karna setiap kali aku bertemu denganmu, aku selalu dipaksa mengingat hal-hal yang menyakitkan, aku selalu dipaksa mengenang orang-orang yang sudah mati dan tak akan lagi bisa hidup, aku selalu dipaksa mengulang kembali tangisan-tangisanku yang menyesakkan dada. Dan itu menyedihkan. Kehilangan berkali-kali sungguh membuat aku merasa jatuh.

Sekarang, pada Februari tahun keenam aku hidup tanpa Adit, dan pada Februari tahun kedua aku bernafas tanpa Fikri, aku tak lagi menangis meskipun aku tahu  bahwa aku masih sangat merasa kehilangan. Tapi sepertinya aku sudah mampu untuk benar-benar merelakan kepergian mereka, dan sudah benar-benar bisa untuk berdamai denganmu, Februari.

Dear, Februari. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih karna selama beberapa tahun ini kau menyadarkan aku bahwa aku tak pernah benar-benar mati rasa, sebab kau selalu membuat aku menangis setiap tahunnya. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih, karna selama beberapa tahun ini kau menyadarkan aku bahwa aku masih memiliki cinta yang begitu besar meski raga dengan mereka yang ku kasihi tak lagi bisa saling memeluk. Dan yang paling penting, aku ingin mengucapkan banyak sekali terima kasih, karnamu aku menyadari, bahwa hati yang aku miliki masih peka akan rasa. Terima kasih banyak, Feb!

With Love,
Shintia.

February 24, 2016

Rindu Dua Kali Empat Puluh Lima Menit

Setiap kali membuka lemari pakaian yang berada di sudut kamar, aku selalu memperhatikan beberapa jersey tim sepak bola lokal kesayanganku yang menggantung dengan rapi. Lama sekali rasanya, sejak sepak bola dipaksa tidur panjang hampir setahun belakangan. Tak ada pertandingan resmi, kecuali liga-liga antar kampung yang namanya disamarkan menjadi turnamen hanya agar terlihat lebih komersial menurutku.

Sepak bola tak hanya sekedar sebuah olah raga permainan yang dimiliki oleh sebelas orang pemainnya saja. Tapi juga milik hampir seluruh masyarakat luas terutama yang sangat menyukai, menikmati atau bahkan mencintai sepak bola. Aku selalu mengatakan, bahwa sepak bola menjadi nafas serta nyawa bagi beberapa orang, dan aku pun termasuk di dalamnya. Saat tak ada kompetisi sepak bola bergulir di negri ini, bisa dibayangkan bagaimana hidup para pecinta sepak bola Indonesia pada khususnya. Rasanya, hampir mati.

Aku ingat saat bagaimana awal-awal sepak bola dipaksa tidur berkepanjangan, saat bapak negara ini berujar yang kurang lebih seperti ini, "Untuk apa ada kompetisi tapi tidak pernah memiliki prestasi." Bagiku prestasi hanyalah sebuah bonus pada akhir perjalanan. Karna sepak bola bukan hanya sekedar bagaimana caranya memiliki sebuah prestasi membanggakan, melainkan juga soal kepuasan hati setiap kali melihat sebuah pertandingan sepak bola yang sedang berlangsung dari pinggir lapangan.

Ah, aku lebih suka jersey-jersey ini bau keringat saat aku memakainya di stadion dari pada hanya tercium bau lemari yang menempel disana. Aku rindu masa-masa dua kali empat puluh lima menit yang dulu biasa aku lewati dengan berbagai jenis luapan emosi. Dengan rasa cemas, dengan kesenangan, dengan air mata, dengan kekecewaan, dan apapun yang terjadi itu alasannya hanya karna satu hal, yakni, cinta. Semoga sepak bola negri ini benar-benar lekas kembali ke tempat yang seharusnya. Dan semoga mereka yang dahulu membuatnya tertidur pulas bisa benar-benar jatuh cinta dengan sepak bola dengan hati, dan bukan karna uang.

Jatuh cintalah dengan sepak bola, maka, kau pun akan memahami arti dari pengorbanan cinta yang sesungguhnya.

February 22, 2016

Surat Berima pada Malam Purnama

Kepada kau, tuan yang ku kagumi sejak lama.
Malam ini aku akan duduk bersimpuh di bawah sinar purnama.
Berharap semesta mau menghilangkan segala cemas.
Berharap waktu mempertemukan kita dengan lekas.

Kepada kau, tuan yang ku cintai sejak lama.
Malam ini aku akan duduk bersimpuh di bawah sinar purnama.
Memohon pada pemilik segalanya agar menjagamu setiap waktu.
Memohon pada pemilik alam agar menghangatkan hatimu yang masih membatu.

Kepada kau, tuan yang ku sayangi sejak lama.
Malam ini aku akan duduk bersimpuh di bawah sinar purnama.
Berbicara pada Tuhan tentang rahasia yang selama ini ku pendam sendirian.
Berbicara pada Tuhan tentang rasa yang selama ini ku simpan dalam angan.

Bulan purnama yang cantik, bulan purnama yang membulat sempurna.
Jangan jauhkan kami walau hanya sedetik, jangan pisahkan kami lalu membuat segalanya sirna.

Kepadamu bulan purnama, tolong berikan selalu sinarmu untuknya, selamanya. Jangan biarkan ia redup, karna jika hal itu terjadi aku tak akan lagi hidup.

Kepadamu bulan purnama, aku bisikan pada semesta, jika aku, sangatlah mencintainya.

Ini untukmu, tuan yang ku perjuangkan bahagianya sejak lama.

February 21, 2016

Surat Cinta untuk Pemilik Semesta

Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya mendapatkan cacian dan makian dari orang-orang di sekelilingku, tidak hanya sekali dua kali, aku bahkan tak sanggup menghitungnya dengan jari-jariku ini. Saat itu aku merasakan sakit hati yang luar biasa, ingin rasanya aku berlari, berlari tanpa harus mencari ujung untuk berhenti. Kadang aku merasa lelah, bahkan muak hidup dalam dunia yang bagiku penuh akan kemunafikan. Namun aku tak ingin kalah dan mati begitu saja dengan gelar pecundang. Aku ingin membuktikan kepada siapa saja, kepada dunia yang seakan menganggap aku sampah, membuktikan jika aku bisa bahkan lebih dari apa yang mereka bayangkan.

Terkadang kita harus jatuh terlebih dahulu jika ingin lancar mengayuh sepeda. Sama halnya dengan hidup, terkadang tuhan ingin kita menangis sebelum kita merasakan nikmatnya tersenyum. Cacian dan makian itu sebaiknya kita jadikan motivasi untuk melakukan yang terbaik, bukannya kita jadikan sebagai batu sandungan dan selanjutnya membuat kita benar-benar terlihat payah di mata mereka. Aku dan kalian terlahir untuk menjadi seorang pemenang bukan?

Setiap orang pasti pernah merasakan jenuh menjalani peran demi peran yang harus dilakoninya dalam panggung hidupnya, sama halnya denganku. Keinginan untuk menyerah pun tak jarang datang menghampiri. Ingin rasanya berhenti dan membiarkan dunia mentertawakan aku sepuasnya. Namun aku sadar, menyerah dengan keadaan bukanlah pilihan yang baik. Menurutku hidup adalah tentang mereka yang berjuang untuk meraih cita dan cintanya, tentang mereka yang tak mengenal lelah untuk menggapai impian dan harapan yang telah mereka gantung tinggi. Pertentangan, penolakan, hinaan, itu semua hanyalah segelintir proses untuk mendewasakan diri, seberapa siapkah kita mampu melalui skenario demi skenario yang sudah tersusun dan akhirnya akan kita jalani, detik demi detik.

Tuhan menciptakan badai tanpa lupa menghadirkan pelangi setelahnya. Tuhan menciptakan tangis dan kemudian menghadirkan senyum yang membahagiakan.

Tuhan menciptakan otak dan hati, agar kita mampu menyeimbangkan antara perasaan dan logika.

Tuhan memberikan kita tantangan, bukan cobaan, karna Tuhan tak ingin kita menjalani hidup tanpa akhir yang sia-sia, tanpa arti sedikit pun.

Tuhan tak pernah mengeluh saat kita bercerita banyak hal denganNya. Tuhan selalu tersenyum bahkan saat kita sering melupakan keberadaanNya.

Entahlah... Aku tak mampu menyebutkan satu demi satu kebaikan yang Tuhan miliki. Setiap hela nafas yang aku hembuskan ini, adalah bukti nyata jika Tuhan mencintai aku.

Tuhan sangat baik, terlalu baik untuk kita lupakan. Aku yakin, sebesar apapun masalah yang datang menghampiri, Tuhan tak pernah sedikitpun menjauh. Sudah berapa banyak kita meminta terhadapNya? Apakah sebanyak kita memuja dan menyembahNya? Suatu saat jika aku bertemu Tuhan, aku akan mengucapkan banyak terima kasih atas cintaNya yang begitu besar terhadapku dan hidupku.

Tuhan... Engkau baik, bahkan sangat baik. Terima kasih.

February 19, 2016

Letter, Lesson, and Love

Hidup itu bagaikan sebuah film yang disutradarai oleh Tuhan. Yakini saja bahwa memang skenario-skenario yang ditulis olehNya adalah yang terbaik. Hari ini mungkin saja tentang episode patah hati, tapi Tuhan pun pasti akan memberikan episode-episode yang membahagiakan pada hari berikutnya. Bagaimanapun akhir ceritanya nanti, menyenangkan atau justru membuat sesak, manusia sebagai wayangnya hanya bisa berusaha dan bersyukur atas apa-apa saja peran yang harus mereka mainkan dalam hidup.

Ini surat untuk perempuan-perempuan yang sedang jatuh cinta di luaran sana. Surat yang semoga saja kelak akan menjadikan mereka pribadi yang jauh lebih bersabar dan juga ikhlas dalam menjalani hidup atau bahkan kisah percintaannya. Tentang bagaimana sebaik-baiknya jatuh cinta, dan juga tentang bagaimana sebaik-baiknya mengharap.

Aku tahu, seberapa besarnya rasa sayang kalian pada pria yang sedang menguasai hati dan pikiran. Seberapa beratnya menahan rindu jika pria yang kalian sayangi sedang berada jauh dari pelukan. Seberapa hebatnya rasa cemburu yang membuat sesak saat mungkin kisah masa lalu mulai mengusik perlahan. Itu semua terjadi hanya karena satu alasan, yakni, cinta. Tapi bukan cinta namanya jika semua yang kalian rasakan itu berlebihan. Melainkan ambisi untuk memiliki seorang diri, atau bahkan kekhawatiran berlebihan akan rasa takut kehilangan.

Hey, bukankah cinta itu membebaskan? Bukannya mengekang diri sendiri dengan sesuatu yang berlebihan lalu pada akhirnya justru membebani.

Pesanku untuk mereka adalah, sayangilah dirimu sendiri sebaik mungkin karena tak akan ada yang mampu melakukannya sebaik diri kita sendiri. Janganlah memberikan hati serta perasaanmu utuh-utuh, karena terluka saat mencintai dan dicintai itu adalah pasti. Dan, cintailah pasanganmu sewajarnya karena hanya pada Tuhanlah sebaik-baiknya kita menjatuhkan hati.

Surat ini untuk kalian yang sedang memperjuangkan akhir yang membahagiakan, dari aku, seseorang yang sedang berusaha berdamai dengan hati.

February 16, 2016

Tentang Aku yang (masih) Menunggu

Teruntuk kamu, yang masih enggan beranjak dari ingatan.

Jika sekali lagi kita bertemu, mungkin tak akan ku sia-siakan kesempatan terakhir itu untuk memeluknya lebih erat dari sebelumnya. Jika sekali lagi kita bertemu, mungkin tak akan ku sia-siakan kesempatan terakhir itu untuk mengucapkan kata sayang lebih banyak dari sebelumnya. Jika sekali lagi kita bertemu, mungkin tak akan ku sia-siakan kesempatan terakhir itu untuk memperjuangkannya lebih keras dari sebelumnya.

Jika sekali lagi kita bertemu. Seandainya saja, sekali lagi yang aku pinta. Tidak banyak. Sialnya, aku harus menyadari jika semua yang aku inginkan memang hanya akan menjadi sebuah “jika”. Berandai-andai dalam semua seandainya yang aku impikan, dan mengimpikan semuanya yang tidak akan berubah menjadi sebuah kenyataan.

Lalu, aku harus bagaimana? Tetap berjalan sambil terus berusaha melupakan? Tetap tinggal sambil menahan tangis melihatnya menjauh? Tetap bertahan sambil terus berharap bahwa dia akan kembali berlari ke arahku?

Pilihan pertama terlalu sulit, karna aku pun masih sangat mencintainya. Pilihan ke dua tidak kalah sulitnya, karna aku pun masih selalu merindunya. Pilihan ke tiga? Aku bodoh apabila memilih pilihan yang terakhir, karna bahkan dia sudah enggan untuk menoleh lagi ke arahku, lalu untuk apa aku mengharapkan dia yang enggan kembali?

Sialnya, aku suka menjadi manusia yang bodoh. Jadi, aku akan tetap berdiri di tempat yang sama untuk menunggunya kembali. Walaupun aku tahu, jika dia tidak akan pernah kembali. Tidak akan.

Dari aku, yang masih menunggu entah sampai kapan.