February 27, 2015

Sepak Bola Itu Mahal

Namanya juga hidup, tidak akan seru tanpa adanya pro kontra terhadap satu hal yang menarik perhatian banyak orang. Saling beradu argumen dan merasa bahwa pendapatnya adalah yang paling benar dan pastinya yang terbaik. Dua pemikiran yang berbeda, antara yang pro dan yang kontra, antara yang menerima dan menolak. Ah, bukankah masalah perbedaan di negara ini memang selalu runyam ?

Berbeda pendapat bukanlah sebuah kesalahan atau bahkan kejahatan. Yang salah adalah apabila terlalu memaksakan kehendak tanpa mau menerima alasan pemikiran dari pihak yang berbeda lalu akhirnya melibatkan emosi di dalamnya. Hmm, sangat disayangkan jika hal ini justru menjadi faktor pemecah belah sebuah keluarga besar yang sejatinya berada dalam naungan yang sama, dalam tujuan yang sama, dan tentu saja dalam cinta yang sama, Persija Jakarta.

Apa sih faktor utama sebenarnya dari perdebatan yang sedang ramai sejak kemarin sore ? Harga tiket yang melambung tinggi padahal cuma laga ujicoba ? Atau rasa rindu terhadap suasana stadion yang diakibatkan mundurnya jadwal kompetisi namun terhalang masalah dana ? Ada yang berteriak lantang harga tiket terlalu menyusahkan kaum supporter yang masih duduk dibangku sekolah. Disisi lainnya ada yang berteriak "katanya demi persija apapun ku lakukan". Lalu, bagaimana seharusnya, agar pro kontra masalah tiket yang sebenarnya bukan sekali dua kali terjadi ini tidak terus berulang ?

Hidup itu seperti mata uang logam. Terlihat satu, namun sesungguhnya memiliki dua sisi. Maka saat ada masalah dalam kehidupan, janganlah hanya memnadang dari satu sisi saja, namun juga dari sisi yang lainnya atau sisi yang berlawanan. Gue berusaha menjabarkan pemikiran dari mereka yang pro dan dari mereka yang kontra soal masalah ini satu demi satu. Ilmu sok tau aja sih, namanya juga negara demokrasi, bebas berpendapat, iya kan ?

Pertama dari mereka yang kontra. Tiket seharga empat puluh lima ribu rupiah untuk laga ujicoba terbilang mahal ? Bagaimana dengan para outsider ? Bagaimana dengan para kaum pelajar atau bahkan golongan yang belum bekerja ? Mereka juga para pecinta sepak bola, mereka juga rindu tribun, mereka juga ingin mendukung tim kesayangannya secara langsung di stadion. Namun dengan nominal yang demikian, tentu sangat memberatkan. Untuk laga ujicoba saja mahal, bagaimana nanti saat kompetisi mulai ? Bukan tidak mungkin jika harga tiket nantinya akan lebih mahal dari harga untuk ujicoba tersebut. Bagimana satu stadion bisa terisi penuh jika harga tiket melambung tinggi ? Bagiamana jumlah rojali tidak semakin berjibun sementara harga tiket selalu membuat leher tercekik ? Mungkin disini sepertinya manajemen tidak pernah berpikir ke arah "tiket murah stadion ramai". Supporter bukan kostumer dalam hal ini memang benar. Karena sejatinya, pemilik tim yang sesungguhnya adalah para supporternya, adalah para pecintanya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang pro ? Tiket empat pulih lima ribu rupiah bagi kelompok ini terbilang wajar. Mengingat biaya sewa stadion yang tidak murah, dan laga ini pun tidak disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi nasional atau swasta. Jadi, masalah finansial hanya tertutup dari tiket yang nantinya terjual. Bagi pihak yang pro, saat mendukung sepak bola sudah seharusnya kita mempersiapkan segala hal kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Karena itulah gunanya supporter, mendampingi timnya saat suka atau bahkan duka tak peduli banyak hal yang harus dikorbankan. Tapi sebaiknya, selain pro, kita juga harus selalu kritis terhadap setiap keputusan manajemen. Jika terlihat ada kejanggalan, harus siap bertindak untuk melawan hal yang kelak akan merugikan tim atau bahkan supporter. Dari supporter, oleh supporter, untuk supporter demi kejayaan tim kebanggaan pastinya.

Pro kontra wajar tapi jangan sampai memicu keretakkan dalam tubuh supporter itu sendiri. Dewasa, cerdas, dan kritis. Tetap saling merangkul dan mengawasi kinerja manjemen demi Persija yang jauh lebih baik meskipun dalam pola pikir yang berbeda-beda. Jangan lupakan bhinneka tunggal ika, kawan. Lalu, sebenarnya gue berada dalam pihak yang mana ? Pro atau kontra ?

Bagi gue, berapapun harga tiketnya akan selalu terasa mahal. Mahal ? Ya, sepak bola itu mahal. Karna segala bahagia yang didapat dari sepak bola itu tak terhingga harganya. Karna setiap persahabatan yang terjalin akibat sepak bola itu tak bisa dinilai dengan nominal-nominal rupiah. Dan bahkan, cinta yang terwujud karna sepak bola pun tidak akan pernah bisa dibayar dengan apapun.

Gue PERSIJA. Lo PERSIJA. Kita JAKMANIA.



February 23, 2015

5 Years Ago With(out) You

Waktu mungkin sudah berjalan begitu jauh meninggalkan segala hal yang terjadi antara aku dan kamu pada masa lampau. Tapi otakku masih mampu mengingat segala hal tentang kita dengan cukup baik. Aku sudah bosan sebenarnya, selama lima tahun terakhir, pada hari ini dan juga bulan ini, selalu menuliskan hal yang sama. Menuliskan hal yang tidak akan pernah aku lupa hingga aku menua nanti. Sudah lima tahun kita tidak berjumpa secara jasmani, tapi aku tidak pernah sekali pun melupakanmu baik dalam pikiran maupun perasaan.

Kamu pasti tau kan betapa aku tidak menyukai bulan Februari sejak lima tahun terakhir ? Ah, iya, aku tau benar jika Februari tidak pernah salah atau bahkan terlibat dalam segala hal yang terjadi antara kita berdua. Tapi setiap kali aku bertemu Februari, Februari selalu dan selalu memaksaku untuk kembali mengingat peristiwa yang benar-benar menguras air mataku pada saat itu.

Tentang dirimu yang terbaring koma dengan banyak sekali alat medis yang menempel di sekujur tubuhmu. Tentang diriku yang hanya bisa menangis melihatmu yang tidak berdaya. Tentang dirimu yang mengerang kesakitan dan tampak tidak memiliki harapan untuk hidup sekali lagi. Tentang diriku yang hanya bisa mengecup lembut keningmu seolah ingin menguatkan. Tentang dirimu yang terbujur kaku saat orang-orang datang ke rumahmu untuk mengirim doa. Tentang diriku yang setia duduk di sampingmu yang sedang tertidur dan tidak akan pernah terbangun. Tentang dirimu yang perlahan hilang ditelan tanah merah. Tentang diriku yang menangis sejadi-jadinya sambil memeluk papan kayu yang bertuliskan namamu disana. Tentang kehilangan. Tentang sesuatu yang tak akan pernah kembali.

Hey, saat menuliskan ini aku sedang berteduh di pinggir jalan karena hujan turun dengan derasnya. Beberapa saat yang lalu, aku baru saja berkunjung ke rumahmu. Tak lupa setangkai mawar putih yang selalu aku bawa untuk menghias rumahmu yang hijau itu. Lima tahun ? Tadi aku bahkan masih menangis sejadi-jadinya di makammu, seperti baru kemarin saja rasanya kamu pergi. Aku tidak cengeng, kamu tidak akan pernah tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang bahkan keinginan terakhirnya tak mampu aku penuhi. Tapi percayalah, aku menyayangimu dengan sungguh, Mas.

February 20, 2015

Indonesia Super LOL!


Mungkin keputusan gue untuk bertandang ke Semarang nonton pertandingan ujicoba Persija vs PSIS beberapa waktu lalu bisa dikatakan tepat. Kenapa tepat ? Karena sepertinya gue bakalan dipaksa lebih lama lagi untuk nahan kangen sama atmosfir di stadion, di tribun. Seharusnya gue udah terbiasa dengan kondisi sepak bola Indonesia yang kebanyakan drama. Seharusnya gue udah terbiasa dengan kondisi sepak bola Indonesia yang semerawut. Tapi gue ga bisa dipaksa terbiasa terus menerus dalam keadaan yang begini, lama-lama muak juga.

Jadwal ISL diundur lagi tanpa pikir panjang sih gue rasa. Cuma karena masalah beberapa tim yang belum lengkap masalah tetek bengek yang gue juga ga mau tau itu apaan, penundaan kick off ISL alhasil merembet kebanyak hal. Persiapan masing-masing tim, persiapan supporter, bahkan pasti merembet kepersiapan timnas U23 nanti diajang sea games. Tapi yang paling ngerasain sakit pasti dari pihak supporter macem gue ini men. Susah banget buat menikmati sepak bola di negara tercinta ini. Yang bahkan gue sendiri ga tau apa negara ini sebenarnya cinta sama sepak bolanya ?

Orang-orang yang berdasi itu, dari era si A sampai sekarang era si B, ga pernah bisa sepertinya ngebawa sepak bola keperubahan yang jauh lebih  baik lagi. Kenapa ? Ya karena mereka belum jatuh cinta sama dunia sepak bola. Sepak bola mungkin butuh kemampuan. Sepak bola mungkin butuh teknis. Sepak bola mungkin butuh uang. Sepak bola mungkin butuh badan oraganisasi yang baik. Tapi sepak bola jauh lebih butuh hati, yang cuma bisa diperoleh dari pendukungnya. Gue yakin, jika orang-orang yang katanya “pintar” itu mau mengurusi dan membenahi sepak bola Indonesia dengan hati, ga akan lagi nih ada kesemerawutan seperti ini. Impossible is nothing, right ?

Apapun yang terjadi kami tetap janji mendukung bola negeri ini. 

Jatuh cintalah pada sepak bola, maka kau pun akan memahami arti pengorbanan yang sesungguhnya. - @shintiaaadewi

February 13, 2015

Sebuah Pengakuan

Aku pernah mengagumimu dengan sangat. Segala baik dan burukmu. Segala diam dan tingkahmu. Segala peduli dan candamu. Aku pernah menyayangimu tanpa harap. Pada setiap kali kita berbicara banyak hal. Pada setiap kali kita tertawa dengan lepas. Pada setiap kali aku melihatmu di deretan bangku sebelah. Aku pernah merindukanmu dalam doa. Ketika matahari menyapa di ufuk timur. Ketika terik siang begitu menguras tenaga. Ketika senja yang seringkali ikhlas tertutup mendung.

Aku pernah memenjarakan diriku sendiri dalam cinta diam-diam ini selama bertahun-tahun. Menikmati segala hal yang terjadi karna mencintaimu seorang diri. Terkadang cemas jika saja kelak kamu mengetahui rahasia terbesar ini. Tak sanggup membayangkan akan adanya jarak yang membentang saat semuanya terbongkar. Namun kali ini, aku patut memuji diriku sendiri karna telah mampu menyimpan rahasia ini tanpa cacat.

Kamu adalah cinta pertama sepanjang masa. Yang terindah dan tak terungkap. Kamu pernah menjadi yang pertama walau bahkan saat itu sudah ada perempuan utama yang kamu cinta. Tidak mengapa, karna bahkan bahagiamu pun merupakan sejuk dalam terikku. Mungkin aku memang tidak benar-benar memilikimu seutuhnya. Tapi aku bahagia dan bersyukur karna tidak pernah kehilangan senyum yang selalu melekat diwajah manismu itu.

Sembilan tahun sudah berlalu, kamu tetaplah cinta pertamaku yang menyenangkan. Walau hanya berakhir sebagai teman pada masa putih abu-abu, atau bahkan sebagai teman saat menonton pertandingan sepakbola di tempat yang kita selalu sebut rumah. Sembilan tahun aku rahasiakan semuanya, padamu, bahkan pada semesta di sekitarku. Bolehkah jika sekarang rahasia itu aku bebaskan dari persembunyiannya ? Aku ingin kamu tau, bahwa aku adalah perempuan yang selama masa sekolah rela keluar lebih cepat dari ruang ujian hanya untuk memberikanmu beberapa contekan. Aku ingin kamu tau, bahwa aku adalah perempuan yang mencuri selembar fotomu di ruang guru untuk menjadikannya obat rindu setiap malam. Dan bahkan aku ingin kamu tau, bahwa aku adalah perempuan pertama yang datang ke kediamanmu saat bahkan jenazahmu masih berada dalam perjalanan.

Mungkin sudah sangat terlambat, bahkan cenderung percuma. Namun aku ingin kamu tau rahasia ini, hari ini, tepat setahun setelah kepergianmu. 14 Februari ? Saat mungkin mereka di luaran sana merayakan hari kasih sayang bersama pasangan. Aku justru dipaksa mengingat, saat aku bahkan tak menangisi kepergianmu di makammu yang masih berupa tanah basah. Hei, bagimana kabarmu disana ? Semoga Tuhan selalu memberikan tempat terbaiknya untukmu, sahabat kesayangan.

Aku. Rindu.

February 7, 2015

Selamat Ulang Tahun, Bu!

Ibu... Selama sembilan bulan dia rela membagi ruang di rahimnya untukku, dia rela membiarkan perutnya membesar demi aku. Ibu... Selama dua tahun dia ikhlas memberikan air susu dan darahnya untukku, dia ikhlas terbangun dari tidur malamnya untuk membersihkan popokku dari kotoran.

Ibu... Selalu bersemangat mengajari aku membaca dan menulis, selalu bersemangat membuatkan segelas susu hangat untukku, selalu bersemangat mengawasi aku dari jendela kelas dimana aku baru menjadi seorang murid yang lugu. Ibu... Selalu mengingatkan aku untuk belajar, selalu mengingatkan aku untuk tidak pulang larut malam, selalu mengingatkan aku untuk selalu menjaga diri.

Ibu... Dia khawatir melihatku beranjak dewasa, dia cemas menyadari jika aku sudah mengenal cinta, dia takut aku salah mengambil keputusan dalam masalah hati. Ibu... Diam-diam mendoakanku dalam hatinya, diam-diam menyebut namaku dalam bait doanya, diam-diam memohon pada Tuhan untuk terus menjagaku.

Ibu... Tak ada yang mampu membalas semua yang telah kau lakukan untuk anakmu. Seumur hidupmu kau pertaruhkan untuk anakmu. Darah dan nyawamu adalah sebab mengapa anakmu terlahir ke dunia dan akhirnya menjadi dewasa.

Ibu... Apa itu keriput di wajahmu ? Mengapa tongkat itu selalu kau bawa saat berjalan ? Apa kau sudah lelah ? Mengapa kau menghabiskan waktu seharian di kursi goyang ? Apa yang kau ucapkan bu, aku tidak dengar ? Ibu aku lapar, masih mampukah kau membuatkan ayam goreng untukku ? Ibu mengapa kau diam ? Ibu aku masih dan akan selalu membutuhkanmu.

Ibu... Maaf untuk segala ucapanku yang pernah membuat hatimu terluka. Maaf untuk segala perbuatanku yang sering membuatmu kecewa. Terima kasih telah menjadikanku dewasa, menjadikanku kuat dengan darah dan keringatmu.

Semoga Tuhan selalu menjagamu.
Semoga Tuhan selalu menaikkan derajatmu.
Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik saat kau pulang bu.

Aku mungkin lupa kapan terakhir ibu memelukku. Kapan terakhir ibu bangga dengan nilai raporku. Kapan terakhir ibu memberiku nasehat. Dari kecil ibu mendidikku dengan keras, dengan hukuman fisik jika aku nakal, dengan ucapan kasar jika aku membangkang. Aku masih ingat dengan jelas semuanya bu. Mungkin karna itu kini aku menjadi anak yang keras. Bukan bu, bukan salahmu sehingga aku menjadi pribadi yang keras kepala. Mungkin aku yang memang tidak mengerti caramu mendidikku.

Ibu... Terima kasih untuk semuanya. Maaf sudah membuatmu kesal dan kecewa karna perbuatanku. Ibu... Aku mencintaimu, walau aku tak pernah mengucapkan dan menunjukkannya, namun di doaku ada namamu di dalamnya.

Selamat memasuki usia 46 tahun, untuk wanita hebat yang diciptakan untukku.

February 1, 2015

Mencoba Berdamai dengan Februari

Halo, selamat pagi, Februari. Tunggu dulu, pagi? Bahkan jarum jam sudah melewati angka 12, itu berarti pagi pun telah berlalu. Hari pertama bulan Februari, aku rasa matahari sepakat denganku, sama-sama enggan memperlihatkan dirinya di hadapan Februari. Hari pertama bulan Februari, aku rasa awan sependapat denganku, sama-sama mendung dan ingin menangis tanpa jeda.

Februari? Awalnya aku tidak memiliki masalah apapun dengan Februari. Sampai pada akhirnya peristiwa lima tahun yang lampau, dan satu lagi peristiwa setahun yang lalu terjadi, aku tidak lagi merasa baik-baik saja dengan Februari. Kata kebanyakan orang, Februari adalah bulan yang penuh dengan cinta dibanding deretan bulan-bulan lainnya pada kalender. Buatku? Februari hanyalah bulan yang penuh dengan kesedihan, kehilangan, dan bahkan kematian.

Aku selalu berharap Februari lekas berlalu. Paginya, siangnya, senjanya, dan malamnya, sama sekali tak aku nikmati beberapa tahun terakhir ini. Februari memaksa aku kembali merasakan kesedihan yang seharusnya sudah lama berlalu. Februari memaksa aku kembali mengingat bagaimana sakitnya kehilangan yang seharusnya sudah menjadi cerita basi. Dan Februari pun memaksa aku seolah kembali tak berdaya karena otakku dengan leluasa kembali memainkan film dimana aku sedang menangisi mereka yang pergi karena kematian.

Mungkin, bukan salah Februari, tapi salahku yang belum sepenuhnya ikhlas merelakan orang-orang yang aku sayangi pergi tepat pada bulan Februari. Hmm, mungkin orang-orang di luar sana memang benar, bahwa Februari adalah bulan yang penuh dengan cinta. Buktinya, setiap Februari datang aku selalu mengunjungi mereka berdua di rumahnya. Sahabat-sahabat terbaikku semasa putih abu-abu dahulu. Dengan beberapa tangkai mawar putih yang tak pernah lupa aku bawa, kami melepaskan rindu sambil menanti senja. Aku selalu bercerita dengan sumringah, dengan bersemangat kembali melagukan apa-apa saja yang dulu pernah kami lalui semasa sekolah. Selalu begitu, sampai aku tersadar, hanya ada aku yang larut hanyut dalam kenangan, dan tidak lagi bersama mereka. Ya, hanya ada aku sendirian. Sementara dua batu nisan bertuliskan nama mereka berdua, seolah menatapku nanar dan tetap bisu.