Namanya juga hidup, tidak akan seru tanpa adanya pro kontra terhadap satu hal yang menarik perhatian banyak orang. Saling beradu argumen dan merasa bahwa pendapatnya adalah yang paling benar dan pastinya yang terbaik. Dua pemikiran yang berbeda, antara yang pro dan yang kontra, antara yang menerima dan menolak. Ah, bukankah masalah perbedaan di negara ini memang selalu runyam ?
Berbeda pendapat bukanlah sebuah kesalahan atau bahkan kejahatan. Yang salah adalah apabila terlalu memaksakan kehendak tanpa mau menerima alasan pemikiran dari pihak yang berbeda lalu akhirnya melibatkan emosi di dalamnya. Hmm, sangat disayangkan jika hal ini justru menjadi faktor pemecah belah sebuah keluarga besar yang sejatinya berada dalam naungan yang sama, dalam tujuan yang sama, dan tentu saja dalam cinta yang sama, Persija Jakarta.
Apa sih faktor utama sebenarnya dari perdebatan yang sedang ramai sejak kemarin sore ? Harga tiket yang melambung tinggi padahal cuma laga ujicoba ? Atau rasa rindu terhadap suasana stadion yang diakibatkan mundurnya jadwal kompetisi namun terhalang masalah dana ? Ada yang berteriak lantang harga tiket terlalu menyusahkan kaum supporter yang masih duduk dibangku sekolah. Disisi lainnya ada yang berteriak "katanya demi persija apapun ku lakukan". Lalu, bagaimana seharusnya, agar pro kontra masalah tiket yang sebenarnya bukan sekali dua kali terjadi ini tidak terus berulang ?
Hidup itu seperti mata uang logam. Terlihat satu, namun sesungguhnya memiliki dua sisi. Maka saat ada masalah dalam kehidupan, janganlah hanya memnadang dari satu sisi saja, namun juga dari sisi yang lainnya atau sisi yang berlawanan. Gue berusaha menjabarkan pemikiran dari mereka yang pro dan dari mereka yang kontra soal masalah ini satu demi satu. Ilmu sok tau aja sih, namanya juga negara demokrasi, bebas berpendapat, iya kan ?
Pertama dari mereka yang kontra. Tiket seharga empat puluh lima ribu rupiah untuk laga ujicoba terbilang mahal ? Bagaimana dengan para outsider ? Bagaimana dengan para kaum pelajar atau bahkan golongan yang belum bekerja ? Mereka juga para pecinta sepak bola, mereka juga rindu tribun, mereka juga ingin mendukung tim kesayangannya secara langsung di stadion. Namun dengan nominal yang demikian, tentu sangat memberatkan. Untuk laga ujicoba saja mahal, bagaimana nanti saat kompetisi mulai ? Bukan tidak mungkin jika harga tiket nantinya akan lebih mahal dari harga untuk ujicoba tersebut. Bagimana satu stadion bisa terisi penuh jika harga tiket melambung tinggi ? Bagiamana jumlah rojali tidak semakin berjibun sementara harga tiket selalu membuat leher tercekik ? Mungkin disini sepertinya manajemen tidak pernah berpikir ke arah "tiket murah stadion ramai". Supporter bukan kostumer dalam hal ini memang benar. Karena sejatinya, pemilik tim yang sesungguhnya adalah para supporternya, adalah para pecintanya.
Lalu bagaimana dengan mereka yang pro ? Tiket empat pulih lima ribu rupiah bagi kelompok ini terbilang wajar. Mengingat biaya sewa stadion yang tidak murah, dan laga ini pun tidak disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi nasional atau swasta. Jadi, masalah finansial hanya tertutup dari tiket yang nantinya terjual. Bagi pihak yang pro, saat mendukung sepak bola sudah seharusnya kita mempersiapkan segala hal kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Karena itulah gunanya supporter, mendampingi timnya saat suka atau bahkan duka tak peduli banyak hal yang harus dikorbankan. Tapi sebaiknya, selain pro, kita juga harus selalu kritis terhadap setiap keputusan manajemen. Jika terlihat ada kejanggalan, harus siap bertindak untuk melawan hal yang kelak akan merugikan tim atau bahkan supporter. Dari supporter, oleh supporter, untuk supporter demi kejayaan tim kebanggaan pastinya.
Pro kontra wajar tapi jangan sampai memicu keretakkan dalam tubuh supporter itu sendiri. Dewasa, cerdas, dan kritis. Tetap saling merangkul dan mengawasi kinerja manjemen demi Persija yang jauh lebih baik meskipun dalam pola pikir yang berbeda-beda. Jangan lupakan bhinneka tunggal ika, kawan. Lalu, sebenarnya gue berada dalam pihak yang mana ? Pro atau kontra ?
Bagi gue, berapapun harga tiketnya akan selalu terasa mahal. Mahal ? Ya, sepak bola itu mahal. Karna segala bahagia yang didapat dari sepak bola itu tak terhingga harganya. Karna setiap persahabatan yang terjalin akibat sepak bola itu tak bisa dinilai dengan nominal-nominal rupiah. Dan bahkan, cinta yang terwujud karna sepak bola pun tidak akan pernah bisa dibayar dengan apapun.
Gue PERSIJA. Lo PERSIJA. Kita JAKMANIA.