January 27, 2012

Dan Biarkan Itu Hanya Terjadi di Lapangan Hijau


Dalam hidup, yang namanya persaingan itu pasti ada. Ada kawan dan ada lawan, ada yang sejalan dan ada yang bertolak belakang, ada yang menang dan yang kalah. Dan memang begitulah sejatinya, ada dua hal yang saling bertentangan, agar kita mengerti apa itu yang dimaksud dengan perbedaan pendapat. Ini adalah tulisan ke empat saya yang membahas PERSIJA di bulan Januari 2012. Mengingat tanggal 29 Januari 2012 esok partai yang sudah dan selalu kami nantikan akan bertanding pada hari yang dimaksud, membuat saya tertarik untuk menulis beberapa paragraf dan mengulas partai tersebut.

PERSIJA JAKARTA vs PERSIB BANDUNG... Mungkin adalah pertandingan yang paling panas dalam sejarah liga Indonesia. Setiap partai ini berlangsung bahkan beberapa hari sebelum pertandingan, euforia yang terjadi sangat luar biasa. Entah itu dari masyarakat, media massa, official, para pemain, dan tentunya dari masing-masing supporternya yang memang sudah terkenal lama menjadi rival dalam sepakbola Indonesia, THE JAKMANIA untuk PERSIJA dan VIKING untuk PERSIB. Saling membalas caci dan maki antara satu dengan yang lainnya adalah hal yang biasa, bahkan darah dan nyawa pun terkadang harus menjadi korban demi menjaga harga diri dan nama baik tim yang dibelanya. PERSIJA SAMPAI MATI ! PERSIB NU AING ! Dan slogan-slogan tersebut memang sepertinya sudah mendarah daging di setiap masing-masing kubu suporter tersebut. Over fanatic kah ? Entahlah, bagi kami membela harga diri tim kami merupakan harga mati dalam hidup kami sebagai supporter.

Namun saya pribadi sangat menyesalkan jika pertikaian itu harus terus mengorbankan nyawa demi nyawa. Mungkin karena saya perempuan, saya sangat menentang terjadinya kekerasan, apapun alasannya. Saya sudah tidak mampu lagi untuk  membayangkan dan menghitung dengan jari jemari saya tentang banyaknya korban yang berjatuhan akibat kuatnya dan kerasnya rivalitas yang terjadi antara kedua belah pihak supporter ini. Jujur saya sangat prihatin akan keadaan yang demikian. Mengapa cinta yang begitu besar terhadap sepakbola harus mengorbankan nyawa yang tidak bisa tergantikan lagi jika telah menghilang ? Mengapa loyalitas yang begitu besar terhadap sepakbola seakan membuat kita lupa bahwa sejatinya kita ini adalah satu Indonesia ? Dan tidak bisa dipungkiri, jika sekali lagi, gengsi dan harga diri sebuah nama baik adalah harga mati bagi mereka, bagi saya. Tak peduli jika nyawa yang harus menjadi taruhannya, asal tim kebanggaan tetap terjaga nama baiknya.

Jika saya boleh berpendapat, bukankah sebaiknya rivalitas yang terjadi itu hanya berada di lapangan hijau ? Bukankah sebaiknya pertikaian itu hanya terjadi saat 2 X 45 menit saat pertandingan sedang berlangsung ? Bukankah sebaiknya saling lempar kata demi kata itu cukup terjadi saat para 11 punggawa masing-masing berjuang demi sebuah nama ? Tapi rasanya tidak mungkin, karena pertikaian itu sudah terlanjur melekat kuat dalam hati masing-masing kubu suporter. Sejatinya tugas supoorter itu hanyalah memberikan semangat bagi para pemain dan menjaga nama baik tim dengan tidak bertindak anarkis. Jangan sampai apa yang kita lakukan di luar lapangan berdampak buruk bagi tim yang kita bela. Sebenarnya saling caci dan maki atau pun saling bunuh antar satu dengan yang lainnya tidak harus selalu menjadi tradisi. Karena si kulit bundar itu telah berbicara, karena si lapangan hijau telah menjadi saksi, dan karena fakta sejarah itu telah membuat semuanya tahu, sebenarnya siapa yang selama ini menjadi yang terbaik.

January 23, 2012

Belum Pantas Bicara Loyalitas, Maaf, Persija


Dalam mencintai sesuatu hal, ketulusan dan pengorbanan itu merupakan harga mati. Yaa... Namanya saja cinta, jika kita tidak benar-benar memiliki kesungguhan untuk terus mempertahankannya, mungkin kita belum masuk ke tingkat yang disebut dengan cinta, mungkin hanya sekedar mengagumi. PERSIJA... Lagi-lagi saya menulis tentang PERSIJA di blog ini. Yaa karena PERSIJA sudah menjadi salah satu bagian penting dalam hidup saya. Katanya PERSIJA SAMPAI MATI, katanya DEMI PERSIJA APAPUN KU LAKUKAN, tapi saya sadar jika belum banyak hal yang saya lakukan untuk PERSIJA. Saya akui jika diri saya masih jauh dari kata pantas untuk disebut sebagai salah satu supporter PERSIJA yang fanatik. Saya masih jarang hadir di stadion, terutama jika saat PERSIJA bermain di hari libur. Sekali lagi itu karna faktor izin dan adanya larangan keras dari kedua orang tua saya. Tapi saya selalu berusaha hadir meski harus meninggalkan jam kuliah dan harus berbohong kepada orang tua, entah sampai kapan. Bagaimana dengan loyalitas ? Kebanyakan dari rekan-rekan jakmania berpendapat, "lo belum loyal kalo belum pernah ikut PERSIJA main tandang !" Dan apakah ukuran sebuah loyalitas hanya dari situ saja ? Hmm... Kalau memang demikian, maafkan saya PERSIJA, saya belum memiliki loyalitas terhadapmu.

Saya pribadi memiliki pendapat lain sebenarnya jika membicarakan loyalitas terhadap PERSIJA. Jika ada yang menjelekkan PERSIJA pasti akan saya bela mati-matian harga diri PERSIJA, walau sebagian berpendapat jika saya berlebihan, akan tetapi saya tidak peduli. Apakah itu termasuk hitungan loyalitas ? Saya selalu mendukung PERSIJA dalam keadaan apapun, saat mereka berada di atas atau bahkan saat terpuruk sekalipun, saya tidak pernah meninggalkan PERSIJA sedetikpun. Apakah itu juga pantas disebut dengan loyalitas ? Saya selalu berusaha bersikap baik dalam mendukung PERSIJA. Tidak melakukan kerusuhan, membeli tiket saat pertandingan, bersikap sebagaimana seharusnya supporter perempuan, demi menjaga citra dan nama baik PERSIJA di mata masyarakat. Loyalitaskah itu ? Hmm... Saya yakin kalian semua memiliki pendapat masing-masing tentang arti dari sebuah kata loyalitas.

Menjaga nama baik tim adalah kewajiban bagi seorang supporter. Karena suatu tim sepakbola dan supporter itu memiliki hubungan timbal balik. Tak akan ada kejayaan yang diraih suatu tim tanpa adanya supporter, dan tak akan pernah adanya supporter tanpa adanya sebuah tim sepakbola. PERSIJA dan JAKMANIA... Merupakan satu kesatuan yang tak akan pernah terpisahkan. Keduanya sama-sama memiliki nama besar di dunia persepakbolaan Indonesia.

JAKMANIA bagi saya merupakan satu-satunya keluarga supporter yang mengirimkan banyak pasukannya saat PERSIJA bermain di tempat orang, sangat berbeda dengan supporter dari tim lain. Dan saya rasa PERSIJA pasti bangga memiliki JAKMANIA yang selalu tak kenal lelah dalam mendukung mereka saat berjuang di lapangan hijau. Dan kepada rekan-rekan JAKMANIA saya dimanapun kalian berada, jagalah loyalitas kalian untuk terus mendukung PERSIJA. Jangan pernah lupa, jika nama baik PERSIJA ada di tangan kalian. Bersikap baik lah, dan buktikan kepada masyarakat luas jika supporter tidak selamanya harus membawa kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat. Jaga warna oren itu yang sudah terlanjur melekat dalam hati, darah, dan hidup kalian. Jangan tanya apa yang sudah PERSIJA berikan pada kita, akan tetapi tanyakan pada hati kalian masing-masing, sejauh mana kalian memberikan dukungan dan semangat bagi PERSIJA, mungkin itu yang dinamakan dengan loyalitas.

January 19, 2012

PERSIJA SELAMANYA HANYA ADA SATU!


"Kak tadi PERSIJA main tuh kak, ko tumben sih lo ga nonton ?" ujar adik bungsuku. "Mereka bukan PERSIJA, mereka palsu, mereka sampah Jakarta !" emosiku meluap. "Ko lo batu deh kak, orang itu tadi tulisannya PERSIJA ko di tv." adiku yang nomor dua ikut bicara. "MEREKA JAKARTA FC, PERSIJA GADUNGAN, PALSU !" kali ini aku meledak dan kedua adikku terdiam. Tentu saja adik-adikku yang masih duduk di bangku sekolah dasar belum mengerti masalah "perampokan persija", mereka masih begitu polos untuk mengerti seberapa tolonya para petinggi PSSI itu. Itu baru adik-adikku, masih banyak orang di luar sana yang masih awam tentang masalah dualisme tersebut. "PERSIJA yang mana ?" Begitu banyak pertanyaan seperti itu, namun tetap satu jawabannya. PERSIJA hanya satu, tidak ada yang asli, tidak ada palsu. PERSIJA yang memiliki satu bintang di dadanya, yang memiliki jersey berwarna oren dan memiliki supporter yang sudah dikenal banyak orang, JAKMANIA. Jadi jika ada tim lain mengatasnamakan dirinya sebagai PERSIJA namun saat bermain tidak ada JAKMANIA, berarti dia bukan PERSIJA ! Karena semua orang tahu, PERSIJA dan JAKMANIA tidak terpisahkan.

Begitu banyak yang mencintai PERSIJA, tak jarang juga banyak yang membencinya. Entah karena memang iri, atau ada alasan tersendiri. Siapa yang tidak mengenal nama besar PERSIJA dan JAKMANIA ? Saya yakin, mereka yang tak mengerti akan sepak bola pun tahu, siapa PERSIJA dan siapa JAKMANIA. Tim ibukota beserta supporternya ini selalu saja berhasil menjadi pusat pemberitaan dalam dunia sepak bola Indonesia. Menyenangkan sekali menjadi bagian dari PERSIJA dan keluarga besar JAKMANIA. Banyak hal yang bisa saya dapatkan dari sini. Dan sampai pada akhirnya, ada pihak-pihak yang ingin mengakui satu bintang milik kami, milik PERSIJA. Saya ingin tertawa, lebih tepatnya mentertawakan kebodohan dan kekonyolan pihak-pihak tersebut. Hebat ! Luar biasa hebat ! Tim yang baru saja dilahirkan tiba-tiba saja bisa memiliki bintang dan gelar tanpa adanya prestasi sedikitpun. Indonesia ini benar-benar negara yang luar biasa. Apa pun bisa terjadi di negara ini. Saya salut akan perampok-perampok berdasi itu, berpendidikan tinggi namun berakhlak cetek.

Yaa... Saya yakin, tim besar seperti PERSIJA pasti akan banyak mengalami tantangan demi tantangan di setiap perjalanannya. Dan saya yakin jika PERSIJA akan selalu berdiri kuat, sebesar apapun angin yang coba menjatuhkannya. PERSIJA kami bukanlah tim anak bawang. PERSIJA kami bukanlah tim kemarin sore. Dan untuk satu bintang itu, PERSIJA kami meraihnya dengan usaha dan kerja keras, bukan merampasnya dari orang lain. Dan saya yakin PERSIJA bangga, memiliki JAKMANIA yang selalu siap maju paling depan saat ada pihak-pihak yang ingin menjatuhkan nama baik PERSIJA. Selamanya hanya ada akan satu PERSIJA, tak ada asli ataupun palsu. Saya yakin mereka cerdas, jika PERSIJA itu milik JAKMANIA bukannya METRO TIGER. LOYALITAS TANPA BATAS, PERSIJA SAMPAI MATI.

January 15, 2012

Orang Tua - Persija - Jakmania


"Ayoo dek besok berangkat, PERSIJA lawan PERSEBAYA loh di GBK !! Masa kamu cuma nonton di layar kaca aja sih, payah !" goda abang angkatku sore itu. Yaa besok memang tim kesayanganku bertanding melawan salah satu tim dari timur Pulau Jawa yang kebetulan supporternya adalah juga sebagai rival abadi dari kami para jakmania, PERSEBAYA. Dahulu aku tak begitu sulit untuk mendapatkan izin jika ingin menyaksikan pertandingan PERSIJA ke stadion, ibu dan ayahku selalu memberikan aku izin. Tapi melihat pemberitaan akhir-akhir ini dimedia tentang keributan sesama oren, aku sangat sulit untuk mendapatkan izin. Bahkan ayahku melarang keras aku untuk kembali mendukung PERSIJA secara langsung di stadion. Jujur aku sangat ingin menyaksikan pertandingan itu, ingin sekali ! Namun aku bingung harus menggunakan alasan apa nantinya. Hari dimana pertandingan krusial itu, aku memutuskan untuk berangkat dengan modal nekat. Aku bisa merasakan degup jantungku yang tak beraturan, ayah, ibu, maafkan aku yang harus berbohong demi PERSIJA. Dengan kaos PERSIJA serta menggunakan jaket PERSIJA aku meminta izin pada ayah jika aku ingin pergi bermain ke kota tua, hebatnya dengan kostum seperti itu beliau sama sekali tidak menaruh curiga kepadaku. Baiklah PERSIJA, aku datang. Dan PERSIJA pun mampu menaklukan PERSEBAYA di depan ribuan JAKMANIA yang datang menyaksikan pertandingan tersebut. Tiba-tiba saja telepon genggamku bergetar, sms masuk dari ayah rupanya. "Kak, masih di stadion ? Langsung pulang yaa, PERSIJA kan udah menang tuh." begitu isi smsnya. Entahlah, aku tak enak hati membaca sms itu, dan ku putuskan untuk segera pulang. Anehnya sesampainya aku di rumah ayah dan ibu tidak memarahi aku. Ayah justru menanyakan bagaimana tadi suasana di stadion. Yaa Tuhan... terima kasih untuk hari ini.

"Kak besok kamu ga usah nonton yaa, kan lawannya PERSIB nanti pasti deh rusuh. Kamu nonton di rumah aja yaa." ujar ayah padaku malam itu. Siaaal !! Beliau tau saja jika besok aku sudah memiliki rencana untuk datang ke stadion menyaksikan partai yang sudah pasti dinantikan semua JAKMANIA, PERSIJA melawan PERSIB ! Aku terdiam, namun berusaha mengiyakan omongan ayahku itu. Keesokan harinya, seperti biasanya aku berangkat ke kampusku. Sepanjang perjalanan aku merasakan gelisah yang luar biasa. Yaa Tuhan... Aku sayang orang tuaku, namun aku pun sangat mencintai sepakbola, mencintai PERSIJA yang sudah menjadi bagian dalam hidupku. Dan akhirnya lagi-lagi aku harus berbohong kepada orang tuaku demi menonton tim kesayanganku itu bertanding. Dengan alasan ingin mengerjakan tugas kuliah, aku izin kepada orang tuaku jika akan pulang malam hari ini. Siangnya pun aku menuju SUGBK dari kampusku dengan menggunakan sepeda motor. Aku masih saja belum sanggup menghilangkan perasaan gelisah itu. Sampai akhirnya aku mengalami kecelakaan di daerah pancoran, beruntung mobil di belakangku melaju dalam kecepatan yang lamban, jika tidak .. Aku mungkin sudah berada di neraka saat ini. Dengan keadaan yang masih kaget dan tanganku yang sakit karna terkilir, aku melanjutkan perjalananku ke stadion. Sesampainya di stadion, ku ganti pakaianku dengan atribut PERSIJA. Ku perhatikan tanganku akibat kecelakaan tadi, yaa Tuhan... Tanganku bergeser dan tidak bisa dikembalikan seperti semula. Mungkin ini teguran karna aku sudah berbohong kepada orang tuaku. Hasil pertandingan kali ini pun imbang, ini bukan hariku sepertinya.

"JAKARTA JAKARTA THE JAK YANG PUNYA BUKAN POLISI..." Gue shintia, gue suka sepak bola sejak duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. PERSIJA... Ga ada alasan tertentu bagi gue untuk mencintai PERSIJA, gue hanya ingin berusaha memberikan dukungan yang terbaik bagi PERSIJA. Gue anggota JAKMANIA biasa. Niat gue selama ini cuma dua, mendukung PERSIJA dan memperbanyak temen-temen JAKMANIA gue, udah itu aja. Terus apa hubungannya sama POLISI ? Ayah gue seorang polisi, polisi yang katanya jadi salah satu musuh besar JAKMANIA. Karena dulunya, kepolisian daerah Jakarta sulit sekali untuk memberikan izin bermain PERSIJA di JAKARTA. Sekalinya mendapatkan izin, terkadang harus dijalani tanpa penonton. Saat nyanyian rasis tentang sosok polisi itu keluar, gue ga pernah ikut bernyanyi, dari seorang polisi lah gue bisa makan, dan karna seorang polisilah gue jadi gue yang sekarang. Ayah gue itu sekarang memang udah ga ngizinin gue buat nonton PERSIJA, dan maaf, kebiasaan berbohong demi PERSIJA pun selalu ada setiap PERSIJA akan bertanding di kandangnya. Anehnya setiap TIMNAS INDONESIA yang bermain ayah gue pasti selalu memberikan gue izin, katanya kalo udah jadi satu warna sangat kecil peluangnya untuk terjadi kerusuhan. Dan apakah salah jika ayah gue yang kebetulan seorang polisi berpikir demikian ? Menurut gue setiap individu di muka bumi ini bebas memiliki pendapatnya masing-masing. Gue mencintai PERSIJA tapi gue sangat menghormati kedua orang tua gue, kedua orang yang paling depan melarang gue buat mendukung PERSIJA secara langsung ke stadion. Mungkin gue emang masih berbohong jika ingin menyaksikan PERSIJA secara langsung di stadion, karena mereka bilang DEMI PERSIJA APAPUN KU LAKUKAN ! Gue tahu gue salah, terbukti disalah satu cerita tadi gue mengalami musibah saat ingin menyaksikan pertandingan PERSIJA di stadion, tapi gue ga punya pilihan lain. Orang tua gue, PERSIJA, dan rekan-rekan JAKMANIA adalah segalanya buat gue. Dengan menjadi supporter yang baik dan tidak anarkis, gue rasa itulah cara gue menunjukkan tanggung jawab gue ke orang tua dan juga PERSIJA.