Dalam
hidup, yang namanya persaingan itu pasti ada. Ada kawan dan ada lawan, ada yang
sejalan dan ada yang bertolak belakang, ada yang menang dan yang kalah. Dan
memang begitulah sejatinya, ada dua hal yang saling bertentangan, agar kita
mengerti apa itu yang dimaksud dengan perbedaan pendapat. Ini adalah tulisan ke
empat saya yang membahas PERSIJA di bulan Januari 2012. Mengingat tanggal 29
Januari 2012 esok partai yang sudah dan selalu kami nantikan akan bertanding
pada hari yang dimaksud, membuat saya tertarik untuk menulis beberapa paragraf
dan mengulas partai tersebut.
PERSIJA
JAKARTA vs PERSIB BANDUNG... Mungkin adalah pertandingan yang paling panas
dalam sejarah liga Indonesia. Setiap partai ini berlangsung bahkan beberapa
hari sebelum pertandingan, euforia yang terjadi sangat luar biasa. Entah itu
dari masyarakat, media massa, official, para pemain, dan tentunya dari
masing-masing supporternya yang memang sudah terkenal lama menjadi rival dalam
sepakbola Indonesia, THE JAKMANIA untuk PERSIJA dan VIKING untuk PERSIB. Saling
membalas caci dan maki antara satu dengan yang lainnya adalah hal yang biasa,
bahkan darah dan nyawa pun terkadang harus menjadi korban demi menjaga harga
diri dan nama baik tim yang dibelanya. PERSIJA SAMPAI MATI ! PERSIB NU AING ! Dan slogan-slogan tersebut memang sepertinya sudah mendarah daging di
setiap masing-masing kubu suporter tersebut. Over fanatic kah ? Entahlah, bagi
kami membela harga diri tim kami merupakan harga mati dalam hidup kami sebagai
supporter.
Namun
saya pribadi sangat menyesalkan jika pertikaian itu harus terus mengorbankan
nyawa demi nyawa. Mungkin karena saya perempuan, saya sangat menentang terjadinya
kekerasan, apapun alasannya. Saya sudah tidak mampu lagi untuk
membayangkan dan menghitung dengan jari jemari saya tentang banyaknya korban
yang berjatuhan akibat kuatnya dan kerasnya rivalitas yang terjadi antara kedua
belah pihak supporter ini. Jujur saya sangat prihatin akan keadaan yang
demikian. Mengapa cinta yang begitu besar terhadap sepakbola harus mengorbankan
nyawa yang tidak bisa tergantikan lagi jika telah menghilang ? Mengapa
loyalitas yang begitu besar terhadap sepakbola seakan membuat kita lupa bahwa
sejatinya kita ini adalah satu Indonesia ? Dan tidak bisa dipungkiri, jika
sekali lagi, gengsi dan harga diri sebuah nama baik adalah harga mati bagi
mereka, bagi saya. Tak peduli jika nyawa yang harus menjadi taruhannya, asal
tim kebanggaan tetap terjaga nama baiknya.
Jika
saya boleh berpendapat, bukankah sebaiknya rivalitas yang terjadi itu hanya
berada di lapangan hijau ? Bukankah sebaiknya pertikaian itu hanya terjadi saat
2 X 45 menit saat pertandingan sedang berlangsung ? Bukankah sebaiknya saling
lempar kata demi kata itu cukup terjadi saat para 11 punggawa masing-masing
berjuang demi sebuah nama ? Tapi rasanya tidak mungkin, karena pertikaian itu
sudah terlanjur melekat kuat dalam hati masing-masing kubu suporter. Sejatinya
tugas supoorter itu hanyalah memberikan semangat bagi para pemain dan menjaga
nama baik tim dengan tidak bertindak anarkis. Jangan sampai apa yang kita
lakukan di luar lapangan berdampak buruk bagi tim yang kita bela. Sebenarnya
saling caci dan maki atau pun saling bunuh antar satu dengan yang lainnya tidak
harus selalu menjadi tradisi. Karena si kulit bundar itu telah berbicara,
karena si lapangan hijau telah menjadi saksi, dan karena fakta sejarah itu
telah membuat semuanya tahu, sebenarnya siapa yang selama ini menjadi yang
terbaik.