“Kamu udah move on belum ?” Berbicara
masalah move on mungkin agak sedikit rumit. Kita ga pernah tau, apa seseorang
sudah move on atau belum dari sesuatu yang biasa disebut masa lalu, kenangan. Bahkan
seringkali, orang tersebut juga tidak tau apakah sebenarnya dia sudah berhasil
untuk benar-benar melupakan yang pernah terjadi dalam hidupnya dulu, atau
justru sebenarnya sama sekali tidak ingin membiarkan masa lalunya itu menguap
dan menghilang dari hidupnya. Ya, hanya dia yang tau. Move on bukanlah sesuatu hal
yang bisa dibilang susah, tapi juga tidak mudah untuk dilakukan. Mungkin saja lidah
bisa berkata dengan mudah, “Aku sudah
move on !” tapi apa yang dikatakan oleh hati, siapa yang biasa menebaknya ?
Menurut
gue move on itu bisa dilihat dari berbagai sudut pandang sih. Kalo gue pribadi
menganggap move on itu sebagai suatu proses untuk menemukan kebahagiaan yang
baru buat kehidupan di masa sekarang dan tentunya di masa yang akan datang. Dulu
kita pernah bahagia, namun mungkin berujung kecewa sehingga memaksa kita untuk
menemukan kebahagiaan yang lain, bersama orang-orang baru, bersama mereka yang
mungkin dianggap bisa memberikan apa yang kita cari. Kebahagiaan.
Ada
hal yang menjadikan proses move on itu menjadi sedikit sulit. Kenangannya. Terkadang
memang bukan orangnya yang menjadi “penghambat” kita untuk bisa move on. Tapi semua
hal yang pernah dilakukan saat bersama dulu, bisa dengan sukses merubah mood
seketika saat semuanya begitu saja tergambar dengan jelas dalam ingatan. Seringkali
tersenyum, atau bahkan tertunduk lesu saat tiba-tiba saja (secara tidak sengaja)
mengingat semuanya. Menurut gue, kita juga ga bisa sesumbar bilang kalo hati
kita udah move on dari masa lalu, enggak bisa ! Bukannya ga bisa sih, tapi ga
boleh. Kita ga pernah tau kan apa yang akan terjadi esok hari ? Karna hidup itu
emang penuh dengan misteri, bahkan isi hati sendiri seringkali tidak bisa
dimengerti maunya apa dan bagaimana.
Bukan
masalah sudah atau belum move on, tapi bagaimana kita menghargai pasangan yang
sekarang ada bersama kita itu sepertinya jauh lebih penting. Kita ga bisa
sepenuhnya melupakan masa lalu, ga akan pernah bisa, gue yakin itu. Sesakit-sakitnya
yang masa lalu pernah kasih dalam hidup kita, pasti ada kalanya dia memberikan
kita satu hal manis yang memang ga bisa dengan mudah terlupakan. Kita juga ga
boleh “mencoba” membuka hati untuk yang baru, bahasa kasarnya sih “pelarian”. Sembuhin
dulu hatinya, kurangin dulu kadar cintanya sama orang yang terdahulu, dan harus
ikhlas bahwa memang semuanya sudah berakhir, baru deh kita mulai lagi membangun
cerita dengan orang baru, dengan kisah yang baru, di lembaran-lembaran
kehidupan yang baru. Kalau belum “ikhlas”, jangan coba-coba menerima seseorang
dalam hidup kita deh, itu namanya jahat.
Ya
intinya, kesimpulannya, dan titik tengahnya dari tulisan kali ini adalah… Perkara sudah atau belum move on-nya kita atau pasangan kita sekarang,
sebenarnya bukan masalah kita sih. Semua orang punya dan pasti memiliki masa
lalu. Cemburu terhadap masa lalu pasangan ? Buang-buang waktu dan cuma bikin
penyakit hati buat diri sendiri sih menurut gue. Yang harus dilakukan adalah… “percaya”,
IYA CUMA ITU, CUMA PERCAYA ! Kalau sudah siap memulai hubungan yang baru dengan
orang yang baru pula, sudah semestinya ga lagi bawa embel-embel masa lalu hehe. Kita pernah hidup di masa lalu, dan mungkin
gagal. Saat mencoba dengan seseorang yang baru di masa sekarang, kita butuh
masa lalu untuk bisa berhasil mencapai masa depan. Butuh pelajaran dari setiap
kejadian di masa lalu tentu saja. Ga selamanya masa lalu itu harus dilupakan, karna
tanpa masa lalu, masa depan itu ga akan pernah tercipta.





