January 19, 2013

#SavePersija



Saya lupa kapan terakhir kali menulis tentang sepak bola di blog ini. Biasanya, sepak bola selalu menjadi inspirasi saya dalam menulis. Menyenangkan sekali rasanya saat saya bebas bercerita akan kecintaan saya terhadap sepak bola, terhadap pentingnya sepak bola yang sudah terlanjur menjadi bagian dalam hidup saya. Bahagia itu sederhana, saat mendukung tim lokal dari bangku tribun, atau sekedar berteriak di layar kaca karna menyaksikan tim luar yang bertanding. Sepak bola... Entahlah, dia berhasil membuat saya jatuh cinta terlalu jauh. Dan hari ini saya ingin mencoba bercerita kembali tentang dia (sepak bola). Biasanya saya menulis dan bercerita dengan bahagia, namun entah kenapa kali ini saya menulis dengan perasaan duka, perasaan kehilangan.

Persija Jakarta... Oke, saya tahu jika saya selalu bercerita tentang Persija, karna saya memang mencintai Persija dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh tim ibu kota ini. Dan awal musim kali ini, menurut saya adalah awal yang berat bagi Persija, bagi saya, dan bagi rekan-rekan jakmania di luar sana. Krisis finansial yang melanda tim ibu kota sekelas Persija, lambatnya pergerakan manajemen mendapatkan sponsor untuk membantu masalah yang ada di Persija, hingga perekrutan tim inti yang bisa dibilang tidak masuk diakal. Saya pribadi bingung, kenapa bisa ? Benarkah manajemen mencintai Persija seperti para Jakmania ? Benarkah manajemen berharap Persija juara seperti apa yang sudah dinantikan para Jakmania ? Yang membuat saya lebih bingung lagi, lawan terbesar Persija dan Jakmania justru ada di dalam tubuh Persija itu sendiri. Konyol.

Dan menyedihkan adalah, saat saya dan rekan-rekan harus mengucapkan salam perpisahan yang sebenarnya menurut saya salah sasaran. Hasim Kipuw, Ramdhani Lestaluhu dan Andritany. Pemain muda bersinar yang akan menjadi masa depan Persija kelak. Bambang Pamungkas dan Leo Saputra ? Pemain senior yang menjadi legenda dan panutan, bahkan Bambang Pamungkas satu-satunya pemain Persija yang membawa Persija menjadi juara liga pada tahun 2001. Saya bingung, harus bagaimana saya menyikapi ini semua ? Calon bintang dan bintang yang dimiliki Persija, bisa sampai tidak memiliki tempat di rumahnya sendiri.

Persija riwayatmu kini. Dimatikan oleh “dirinya” sendiri, dibuang dari “rumahnya” sendiri. Entah kapan lelucon ini berakhir, saya hanya ingin kembali mendukung kamu seperti biasa, dengan sepenuh hati, seperti sebelum semua permasalahan ini datang tanpa ampun. Siapa pun pemainnya, Persija tetap Persija. Tapi kami tahu bagaimana caranya menghargai siapa pun yang membela Persija, terlebih dengan dia yang membawa satu bintang itu untuk Persija. Jika kita tidak bisa mendukung Persija saat terpuruk, jangan pernah ikut bahagia dan ikut merayakan kemenangan mereka. Jika kalian tidak mampu lagi mengayomi Persija, lebih baik pergi karna Persija bukan tim kemarin sore. Jika kalian tidak mampu membawa Persija menjadi juara lagi, lebih baik pergi dari pada tetap diam dan perlahan mendorong Persija ke jurang degradasi. Persija sejatinya milik kami, Jakmania. Dan kalian, manajemen, kami sudah percayakan menitipkan apa yang kami cintai pada kalian. Untuk dipoles menjadi lebih cantik, bukannya malah menghancurkan dan membunuhnya secara perlahan.

BANGKIT PERSIJA ! Semoga permasalahan yang datang silih berganti tidak akan membuatmu terpuruk, melainkan menjadikan motivasi untuk kembali menjadi juara dan membuat kami, Jakmania, bangga karna memiliki kamu. Persija Sampai Mati !

No comments:

Post a Comment