Saya
lupa kapan terakhir kali menulis tentang sepak bola di blog ini. Biasanya,
sepak bola selalu menjadi inspirasi saya dalam menulis. Menyenangkan sekali
rasanya saat saya bebas bercerita akan kecintaan saya terhadap sepak bola,
terhadap pentingnya sepak bola yang sudah terlanjur menjadi bagian dalam hidup
saya. Bahagia itu sederhana, saat mendukung tim lokal dari bangku tribun, atau
sekedar berteriak di layar kaca karna menyaksikan tim luar yang bertanding.
Sepak bola... Entahlah, dia berhasil membuat saya jatuh cinta terlalu jauh. Dan
hari ini saya ingin mencoba bercerita kembali tentang dia (sepak bola).
Biasanya saya menulis dan bercerita dengan bahagia, namun entah kenapa kali ini
saya menulis dengan perasaan duka, perasaan kehilangan.
Persija
Jakarta... Oke, saya tahu jika saya selalu bercerita tentang Persija, karna
saya memang mencintai Persija dengan segala kekurangan dan kelebihan yang
dimiliki oleh tim ibu kota ini. Dan awal musim kali ini, menurut saya adalah
awal yang berat bagi Persija, bagi saya, dan bagi rekan-rekan jakmania di luar
sana. Krisis finansial yang melanda tim ibu kota sekelas Persija, lambatnya
pergerakan manajemen mendapatkan sponsor untuk membantu masalah yang ada di
Persija, hingga perekrutan tim inti yang bisa dibilang tidak masuk diakal. Saya
pribadi bingung, kenapa bisa ? Benarkah manajemen mencintai Persija seperti
para Jakmania ? Benarkah manajemen berharap Persija juara seperti apa yang
sudah dinantikan para Jakmania ? Yang membuat saya lebih bingung lagi, lawan
terbesar Persija dan Jakmania justru ada di dalam tubuh Persija itu sendiri.
Konyol.
Dan
menyedihkan adalah, saat saya dan rekan-rekan harus mengucapkan salam
perpisahan yang sebenarnya menurut saya salah sasaran. Hasim Kipuw, Ramdhani
Lestaluhu dan Andritany. Pemain muda bersinar yang akan menjadi masa depan
Persija kelak. Bambang Pamungkas dan Leo Saputra ? Pemain senior yang menjadi
legenda dan panutan, bahkan Bambang Pamungkas satu-satunya pemain Persija yang
membawa Persija menjadi juara liga pada tahun 2001. Saya bingung, harus
bagaimana saya menyikapi ini semua ? Calon bintang dan bintang yang dimiliki
Persija, bisa sampai tidak memiliki tempat di rumahnya sendiri.
Persija
riwayatmu kini. Dimatikan oleh “dirinya” sendiri, dibuang dari “rumahnya”
sendiri. Entah kapan lelucon ini berakhir, saya hanya ingin kembali mendukung
kamu seperti biasa, dengan sepenuh hati, seperti sebelum semua permasalahan ini
datang tanpa ampun. Siapa pun pemainnya, Persija tetap Persija. Tapi kami tahu
bagaimana caranya menghargai siapa pun yang membela Persija, terlebih dengan
dia yang membawa satu bintang itu untuk Persija. Jika kita tidak bisa mendukung
Persija saat terpuruk, jangan pernah ikut bahagia dan ikut merayakan kemenangan
mereka. Jika kalian tidak mampu lagi mengayomi Persija, lebih baik pergi karna
Persija bukan tim kemarin sore. Jika kalian tidak mampu membawa Persija menjadi
juara lagi, lebih baik pergi dari pada tetap diam dan perlahan mendorong Persija
ke jurang degradasi. Persija sejatinya milik kami, Jakmania. Dan kalian,
manajemen, kami sudah percayakan menitipkan apa yang kami cintai pada kalian.
Untuk dipoles menjadi lebih cantik, bukannya malah menghancurkan dan
membunuhnya secara perlahan.
BANGKIT
PERSIJA ! Semoga permasalahan yang datang silih berganti tidak akan membuatmu
terpuruk, melainkan menjadikan motivasi untuk kembali menjadi juara dan membuat
kami, Jakmania, bangga karna memiliki kamu. Persija Sampai Mati !
No comments:
Post a Comment