Masa
lalu memang tidak perlu dibenci atau bahkan dipaksa dilupakan. Tapi, seharusnya,
masa lalu tidak perlu dibawa-bawa saat kamu sedang berada bersama seseorang
pada masa sekarang. Seseorang yang sedang memperjuangkan kebahagiaanmu, begitu
pula sebaliknya. Ada seseorang yang harus kamu jaga perasaannya, saat
seringkali tanpa tersadar kamu dengan seksama menjabarkan bagaimana masa
lalumu. Bagaimana matamu menerawang jauh saat bibirmu tanpa henti menceritakan
apa yang terjadi dahulu. Kamu mungkin tidak sadar, tapi seseorang pada masa
sekarang yang sedang mendengarkan ceritamu, dia bisa melihat matamu, matamu
yang seolah berbicara “aku dulu pernah sangat
berbahagia dengan dirinya” dan itu sangat memuakkan !
Cemburu
? Jelas ! Oh hei, tidak cukupkah saat ini hanya ada kita ? Bisakah dia tidak
lagi mengambil peran dalam ceritamu yang baru bersamaku saat ini ? Belum
cukupkah waktu kalian bersama pada masa lampau ? Jika belum, lanjutkan atau
selesaikanlah tanpa aku. Karna aku tidak cukup baik untuk dapat menerima masa
lalumu. Karna aku tidak cukup kuat untuk mendengarkan kamu kembali terhanyut larut
dengan seseorang yang lebih dahulu hadir dalam kehidupanmu dibandingkan dengan
aku. Aku pencemburu. Tapi aku bukan sosok yang pintar untuk menunjukkan bahwa
aku sedang cemburu, kecuali dengan diam, diam, dan memang hanya diam.
Keberatankah
jika aku memintamu untuk menyembunyikan masa lalumu dari aku, dari kita ? Seandainya
pun kamu belum benar-benar melupakan masa lalumu, setidaknya pandai-pandailah
berakting di depanku seolah-olah kamu sudah tidak lagi memikirkan masa lalumu,
dengan siapa pun dia. Beraktinglah terus sampai pada akhirnya kamu benar-benar
lupa, sampai pada akhirnya benar-benar hanya ada aku yang menjadi alasanmu
untuk mengingat sesuatu yang menyenangkan. Bisakah ? Karna aku terlalu takut
dikalahkan saat ingatanmu tentang masa lalu sedang menari-nari dalam otakmu.
Aku takut, sungguh. Cukup sudah aku merasakan sakit karna kehilangan, jangan
lagi kamu. Aku sayang kamu. Bisakah hanya ada aku sekarang, sayang ?
Tulisan ini bukan tentang saya, namun bercerita tentang
perasaan seorang teman. Ah tentu saja bukan tentang saya, karna bagaimana
mungkin saya cemburu jika saat ini hati saya pun masih berada dalam ruang
hampanya sendirian ?
No comments:
Post a Comment