Aku
bukan orang yang sok nasionalis, bukan juga orang yang serba tahu tentang sepak
bola Indonesia, aku pun bukan orang yang selalu ada dimana pun saat Timnas
Indonesia bertanding. Aku hanya sebagian kecil dari jutaan rakyat Indonesia,
yang mencintai Timnas Indonesia, yang menginginkan Timnas Indonesia berjaya
kembali dengan para punggawa terbaiknya, dengan mereka yang berjuang dengan
mengenakan lambang negaraku di dadanya. Hanya itu, apa aku salah ?
Saat
PSSI merubah Timnas Indonesia menjadi sosok yang asing bagi sebagian besar
kalangan. Saat Timnas Indonesia tidak lagi menjadi alat pemersatu bangsa di era
PSSI yang sekarang. Saat mereka saling menghujat, merasa paling benar sebagai
seorang supporter, merasa paling tahu tentang perjalanan sepak bola Indonesia,
merasa paling dan paling dalam segalanya, segalanya yang berhubungan dengan
Timnas Indonesia. Sementara aku di sini masih terus menyanyikan lagu Indonesia
Raya itu, sementara aku di sini masih menghargai lambang negaraku yang ada
disudut kiri dada mereka, sementara aku di sini masih yakin jika Indonesia
tetaplah merah putih, darahku, tulangku, dan akan selamanya seperti itu
sampai aku mati.
Apalah
artinya ocehan rakyat kecil seperti aku ? Hilang terbawa angin, entah terbawa
kemana, mungkin tempat sampah ! Bagiku, semua orang justru terlihat bodoh saat
mereka menyombongkan dirinya, Bagiku, semua orang justru terlihat tolol saat
menjelekkan orang lain. Cuiiihhh... Ingin rasanya aku marah ! Tapi kembali lagi
aku mengingat posisiku yang hanya berperan sebagai figuran, aktris sampah yang
tidak pernah berguna. Tak bisakah mereka berhenti saling menjatuhkan satu sama
lain ? Tak bisakah mereka berhenti saling menyombongkan dirinya sebagai seorang
supporter sepak bola, pendukung Timnas Indonesia ? Entahlah... Aku terlanjur
menilai, jika sepak bola itu adalah salah satu sarana yang tepat, sebagai alat
pemersatu bangsa di tengah kerunyaman yang terjadi saat ini.
Indonesia... Aku mencintai kamu. Karna kamu bangsaku, karna kamu negriku, jiwa ragaku dan
tempat aku terlahir lalu kembali mati. Terus lah berjuang, terbang tinggi, tak
peduli apa pun yang berusaha mematahkan sayapmu. Aku mungkin bukan
siapa-siapa, tapi aku mencintai kamu dengan caraku sendiri. Ini adalah tahun ke
tiga aku mendukung kamu dalam ajang AFF, dan ini saatnya kamu membawa piala itu
pulang, membawa kemenangan bagi kami rakyat Indonesia. Demi lambang negara yang
kamu pakai saat berjuang. Demi ibu pertiwi. Demi Indonesia. Berjuanglah
Indonesia, sampai titik darah penghabisan.
( foto bersama Alm. Tito di sektor 11 SUGBK AFF Cup 2008 )

No comments:
Post a Comment