Kemarin,
setelah beberapa kali absen dalam laga kandang Persija, akhirnya gue kembali
lagi ke bangku tribun untuk mendukung secara langsung tim kebanggaan banyak
orang, Persija Jakarta. Gue datang dengan sejuta harapan, sejuta doa, dan
sejuta kerinduan. Harapan untuk sebuah kemenangan, doa untuk hasil terbaik, dan
kerinduan akan semangat mereka di lapangan hijau serta semangat dari pemain ke
12 yang selalu setia memenuhi setiap sudut stadion. “Semoga hari ini
benar-benar menjadi #PersijaDay yaa Tuhan”, begitu doa gue sambil melangkah
mantap masuk ke dalam stadion.
Pertandingan
kemarin benar-benar laga penuh emosi bagi gue dan bagi mereka semua yang datang
langsung ke stadion. Kami, jakmania, yang sudah lama merindukan kemenangan,
merindukan permainan cantik para punggawa macan kemayoran yang saat ini semua
itu menghilang entah kemana. Mungkin Persija lelah, mungkin Persija sedang lupa
bagaimana caranya menang. Namun satu hal yang akan tetap sama, rasa cinta yang
begitu besar kepada Persija tak akan pernah berkurang sedikit pun.
Seperti
biasa Persija selalu berhasil mencetak gol lebih awal, namun seperti biasa
pula, gol awal itu selalu saja menjadi tidak berarti. Karna kemarin macan
diterkam singa di kandangnya sendiri, karna kemarin Persija harus menelan
kekalahan (lagi), karna kemarin kami semua harus kembali merasakan kekecewaan.
Pahit. Dari sektor 11, gue bisa melihat secara jelas bagaimana perjuangan 11
macan yang terus berusaha membuat kami bangga. Berlari membawa dan merebut bola
tanpa lelah, jatuh bangun menghadapi serangan lawan. Yaa .. Persija selalu
berusaha membuat kami bangga, gue tau itu ! Tapi mungkin, tidak untuk saat ini,
dan semoga hanya untuk saat ini saja.
Menjelang
akhir pertandingan, suasana stadion mulai panas. Amarah, kekecewaan, rasa haus
akan kemenangan bercampur menjadi satu. Dua menit menjelang pertandingan
berakhir, gue pribadi cuma bisa duduk dan enggan menyaksikan pertandingan
disisa waktu yang ada. Berusaha menyadari apa yang sedang terjadi di depan
mata, berusaha menyadari kenyataan pilu yang sedang bergejolak hebat di dalam
hati. Menunduk, menutup muka, dan menangis. Entah air mata ini jatuh untuk
siapa dan karna apa. Gue kecewa, dan harus dengan siapa gue minta pertanggung
jawaban atas kekecewaan yang gue rasain ?
Laga
penuh emosi… Benar-benar menguras emosi gue yang cuma bisa tertunduk dari
bangku tribun. Melihat secara langsung kekalahan Persija, melihat secara
langsung teman-teman melakukan pelemparan botol dari pinggir lapangan, melihat
secara langsung perlakuan oknum polisi yang mengawal pertandingan, mendengar
secara langsung sorakan lantang dari seisi stadion yang meneriakan coach untuk
out, dan mendengar secara langsung teriakan caci maki rekan-rekan jakmania yang
ditujukan kepada oknum polisi. Tau apa yang gue rasain ? Paham apa yang terjadi
dalam hati gue ? Ah… Andai saja kalian hidup dari hasil jerih payah seorang
polisi !
Kecewa
dengan kondisi Persija saat ini, kecewa dengan mereka yang melempar caci maki
kepada manajemen tanpa ikut menyertakan solusi di balik kritikan, kecewa dengan
mereka yang belum bisa bersikap dewasa saat Persija mengalami kekalahan. Saat
siap membawa embel-embel
supporter dalam kehidupan kita, bukankah sudah sepantasnya kita siap
menerima keadaan tim saat menang dan saat kalah ? Persija… Dilihat dari segala
sisi, sekarang kamu tampak menyedihkan.
Degradasi… Ga pernah membayangkan sebelumnya jika tim Persija akan mengalami hal yang
demikian buruk, atau bahkan bagi setiap orang ini memalukan ? Tapi perjalanan
masih panjang kawan. Persija mungkin masih butuh waktu untuk membenahi diri.
Dan Persija pun akan selalu membutuhkan dukungan kita. Optimis, bahwa macan
kemayoran pasti akan kembali. Saat ini mungkin kalian berteriak dan bertanya,
sampai kapan Persija seperti ini ? Sampai kapan Persija menjadi tim papan bawah
? Kita ga akan pernah tau jawabannya, sama seperti jika kalian dilemparkan
pertanyaan, sampai kapan kalian akan memberikan dukungan ? Sampai kapan kalian
akan berada di pinggir lapangan untuk Persija ? Siap tidak siap, terima atau
tidak, seperti inilah kondisi Persija saat ini. Bersikap dewasa, memberikan
kritik disertai dengan solusi, dan tanpa kenal lelah meneriakkan semangat dari
pinggir lapangan, perlahan Persija kita pasti kembali, perlahan, karna semua
butuh proses. Bukankah bola itu bundar ? Dan semakin besar sebuah tim, maka
semakin besar pula masalah yang dialaminya. Bukankah Persija tim besar ? Jika
kita tidak siap menerima mereka dalam keadaan seperti ini, jangan pernah merasa
bangga jika suatu saat nanti mereka ada di tahta tertinggi kompetisi sepak bola
Indonesia. Jangan pernah.
No comments:
Post a Comment