February 17, 2013

Air Mata Untukmu, Persija!



Kemarin, setelah beberapa kali absen dalam laga kandang Persija, akhirnya gue kembali lagi ke bangku tribun untuk mendukung secara langsung tim kebanggaan banyak orang, Persija Jakarta. Gue datang dengan sejuta harapan, sejuta doa, dan sejuta kerinduan. Harapan untuk sebuah kemenangan, doa untuk hasil terbaik, dan kerinduan akan semangat mereka di lapangan hijau serta semangat dari pemain ke 12 yang selalu setia memenuhi setiap sudut stadion. “Semoga hari ini benar-benar menjadi #PersijaDay yaa Tuhan”, begitu doa gue sambil melangkah mantap masuk ke dalam stadion.

Pertandingan kemarin benar-benar laga penuh emosi bagi gue dan bagi mereka semua yang datang langsung ke stadion. Kami, jakmania, yang sudah lama merindukan kemenangan, merindukan permainan cantik para punggawa macan kemayoran yang saat ini semua itu menghilang entah kemana. Mungkin Persija lelah, mungkin Persija sedang lupa bagaimana caranya menang. Namun satu hal yang akan tetap sama, rasa cinta yang begitu besar kepada Persija tak akan pernah berkurang sedikit pun.

Seperti biasa Persija selalu berhasil mencetak gol lebih awal, namun seperti biasa pula, gol awal itu selalu saja menjadi tidak berarti. Karna kemarin macan diterkam singa di kandangnya sendiri, karna kemarin Persija harus menelan kekalahan (lagi), karna kemarin kami semua harus kembali merasakan kekecewaan. Pahit. Dari sektor 11, gue bisa melihat secara jelas bagaimana perjuangan 11 macan yang terus berusaha membuat kami bangga. Berlari membawa dan merebut bola tanpa lelah, jatuh bangun menghadapi serangan lawan. Yaa .. Persija selalu berusaha membuat kami bangga, gue tau itu ! Tapi mungkin, tidak untuk saat ini, dan semoga hanya untuk saat ini saja.

Menjelang akhir pertandingan, suasana stadion mulai panas. Amarah, kekecewaan, rasa haus akan kemenangan bercampur menjadi satu. Dua menit menjelang pertandingan berakhir, gue pribadi cuma bisa duduk dan enggan menyaksikan pertandingan disisa waktu yang ada. Berusaha menyadari apa yang sedang terjadi di depan mata, berusaha menyadari kenyataan pilu yang sedang bergejolak hebat di dalam hati. Menunduk, menutup muka, dan menangis. Entah air mata ini jatuh untuk siapa dan karna apa. Gue kecewa, dan harus dengan siapa gue minta pertanggung jawaban atas kekecewaan yang gue rasain ?

Laga penuh emosi… Benar-benar menguras emosi gue yang cuma bisa tertunduk dari bangku tribun. Melihat secara langsung kekalahan Persija, melihat secara langsung teman-teman melakukan pelemparan botol dari pinggir lapangan, melihat secara langsung perlakuan oknum polisi yang mengawal pertandingan, mendengar secara langsung sorakan lantang dari seisi stadion yang meneriakan coach untuk out, dan mendengar secara langsung teriakan caci maki rekan-rekan jakmania yang ditujukan kepada oknum polisi. Tau apa yang gue rasain ? Paham apa yang terjadi dalam hati gue ? Ah… Andai saja kalian hidup dari hasil jerih payah seorang polisi !

Kecewa dengan kondisi Persija saat ini, kecewa dengan mereka yang melempar caci maki kepada manajemen tanpa ikut menyertakan solusi di balik kritikan, kecewa dengan mereka yang belum bisa bersikap dewasa saat Persija mengalami kekalahan. Saat siap membawa embel-embel supporter dalam kehidupan kita, bukankah sudah sepantasnya kita siap menerima keadaan tim saat menang dan saat kalah ? Persija… Dilihat dari segala sisi, sekarang kamu tampak menyedihkan.

Degradasi… Ga pernah membayangkan sebelumnya jika tim Persija akan mengalami hal yang demikian buruk, atau bahkan bagi setiap orang ini memalukan ? Tapi perjalanan masih panjang kawan. Persija mungkin masih butuh waktu untuk membenahi diri. Dan Persija pun akan selalu membutuhkan dukungan kita. Optimis, bahwa macan kemayoran pasti akan kembali. Saat ini mungkin kalian berteriak dan bertanya, sampai kapan Persija seperti ini ? Sampai kapan Persija menjadi tim papan bawah ? Kita ga akan pernah tau jawabannya, sama seperti jika kalian dilemparkan pertanyaan, sampai kapan kalian akan memberikan dukungan ? Sampai kapan kalian akan berada di pinggir lapangan untuk Persija ? Siap tidak siap, terima atau tidak, seperti inilah kondisi Persija saat ini. Bersikap dewasa, memberikan kritik disertai dengan solusi, dan tanpa kenal lelah meneriakkan semangat dari pinggir lapangan, perlahan Persija kita pasti kembali, perlahan, karna semua butuh proses. Bukankah bola itu bundar ? Dan semakin besar sebuah tim, maka semakin besar pula masalah yang dialaminya. Bukankah Persija tim besar ? Jika kita tidak siap menerima mereka dalam keadaan seperti ini, jangan pernah merasa bangga jika suatu saat nanti mereka ada di tahta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia. Jangan pernah.

No comments:

Post a Comment