“Cinta itu tidak harus memiliki? Munafik!
Aku mencintaimu dan aku ingin memilikimu! Tapi saat aku menyadari bahwa bukan
akulah sebab dari bahagiamu, aku memilih pergi. Bukan karna aku munafik. Aku
hanya tak ingin memperjuangkan senyumku, namun ternyata menyebabkan air mata bagimu. Hanya itu.”
Aku…
Jakarta,
2011
Kita
pernah saling merindukan, sebelum akhirnya saling melupakan. Kita pernah saling
mencintai, namun kemudian berusaha saling membenci. Tunggu dulu, bahkan aku
tidak benar-benar tahu apakah selama ini kamu juga merindukanku? Mencintaiku?
Aku tidak benar-benar tahu bagaimana isi hatimu terhadapku. Tidak benar-benar
tahu. Entah terlalu bodoh, atau justru terlalu arogan untuk memaksamu memiliki
perasaan yang sama denganku.
Kita…
Aku
dan kamu selalu meluangkan waktu bersama untuk melakukan segala hal yang kita
anggap menyenangkan. Sudah banyak hal, sejak kita masih berusia kanak-kanak
hingga menikmati fase remaja dan dewasa sekarang ini. Aku yang selalu berkelahi
dengan anak-anak yang membuat kamu menangis. Dan kamu yang selalu bersembunyi
di balik punggungku jika ibumu menasehatimu yang terlalu banyak menghabiskan es
krim vanila. Aku yang selalu meledekmu dengan kata gendut padahal tubuhmu
sangat mungil, dan kamu yang selalu melipat bibirmu saat itu. Aku yang selalu
setia menunggumu di depan gerbang untuk menjemputmu dari sekolah. Dan kamu yang
selalu bersabar menjadi guru privatku untuk membantu aku menghadapi ujian. Aku
dengan gelar sarjana kedokteranku. Dan kamu dengan gelar sarjana ilmu komunikasimu.
Aku yang menyukai kopi hitam pekat. Dan kamu yang menyukai aroma dari manisnya
kopi vanilla favoritmu. Kita yang terlalu banyak memiliki perbedaan. Bahkan
sangat banyak. Namun kita saling melengkapi. Seperti warna yang ada pada
pelangi. Berbeda, namun menjadi kesatuan yang sangat indah.
Aku…
Jakarta,
2011
Entah
sejak kapan perasaanku terhadapmu mulai ada dan tumbuh subur. Entah sejak kapan
aku mulai mengartikan perasaan ini sebagai rasa cinta. Entahlah. Mungkin benar
kata orang banyak, cinta tumbuh karna biasa. Seumur hidupku, hanya dua wanita
yang selalu menjadi semangatku dalam menjalani pagi hingga malamku, Hanya dua
wanita yang selalu menjadi obat dari sakitku. Hanya dua wanita yang selalu
memiliki banyak cara untuk membuatku tersenyum. Ibuku dan kamu. Rasa nyaman
saat bersama kamu, mungkin salah satu sebab perasaan ini ada. Aku selalu ingin
menjadi orang pertama yang mengetahui kabarmu di setiap harinya. Ingin selalu
menjadi yang pertama memberi bantuan saat kamu mengalami kesulitan. Dan sedikit
berharap, kamu merasakan apa yang memang sudah ku berikan untukmu. Sedikit
berharap, tidak salah bukan?
Kita…
Heidelberg,
2008
Di
kota yang katanya merupakan tempat paling romantis di negara Jerman ini lah,
kita berdua merayakan kelulusan dari bangku perkuliahan dan meraih gelar yang
memang sejak saat lama sudah kita impikan. Di depan Istana Heidelberg ini pun
kita mulai saling memimpikan dan menata kehidupan setelahnya. “Kamu masih
ingat, apa saja yang pernah kita ucapkan saat kelulusan SMA dulu Natalie?”,
tanyaku. “Tentu saja aku ingat. Bahkan semuanya aku masih ingat. Saat itu kita
pernah berjanji untuk menaklukan kerasnya dunia bersama. Membayangkan wajah
masing-masing saat tua nanti. Dan tidak akan pernah menyerah sesulit apa pun nantinya
hal yang berusaha mematikan langkah kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Tapi yang paling aku ingat, kamu akan mentraktir aku kopi vanilla sepuasnya
jika nanti aku berhasil menyelesaikan bangku pendidikanku dengan baik. Dan terima
kasih telah menepati janjimu itu, Adam.” ujar Natalie sambil tersenyum.
“Ternyata ingatanmu masih cukup bagus ya, lalu bagaimana kamu akan melanjutkan
kehidupanmu selanjutnya Natalie? Apa kamu masih akan tetap menjadikan aku
sahabat terbaikmu? Satu-satunya sahabat terbaikmu?” tanyaku kemudian. “Kamu
tahu, aku sangat bersyukur memiliki seorang Adam dalam hidupku. Adam yang
selalu melindungi aku dari orang-orang yang berniat jahat. Kamu seperti
malaikat penjagaku yang memang sengaja Tuhan kirimkan untukku Dam. Jadi, mana
mungkin aku melupakan kamu setelah segala hal yang telah kamu berikan untukku?
Adam, aku sungguh berterima kasih untuk segalanya.” jawabmu panjang. “Sekarang
kita berdua sudah memiliki pekerjaan masing-masing. Aku telah berhasil menjadi
reporter, dan kamu Dam, kamu berhasil menjadi dokter yang sangat hebat. Kamu
tahu tidak, aku takut jatuh cinta saat kamu sedang memakai baju dokter yang
serba putih itu. Kamu terlihat sedikit lebih tampan, sedikit saja loh ya hehe.”
katamu lagi sambil tertawa kecil. “Nat, aku juga selalu takut jatuh cinta jika
kamu selalu tertawa seperti itu.” Hening.
“Dam,
pendamping seperti apa yang kamu inginkan untuk menemani hari-harimu nanti?
Apakah kamu akan menikahi seorang perawat yang cantik dan berpakaian ketat?”
ledeknya. “Tentu saja tidak Nat, aku takut kehilangan konsentrasiku saat
bekerja jika aku menikahi wanita seperti itu. Aku takut dia disuntik laki-laki
lain haha. Aku ingin wanita yang sederhana. Sederhana dalam segala hal.
Sederhana dari dalam atau pun dari luar. Karna menurutku, kesederhanaan justru
membuat kita tampak wah di mata orang lain Nat. Kamu bagaimana?” “Aku? Aku
tidak terlalu meminta banyak pada Tuhan untuk jodohku nanti. Aku selalu yakin,
apa yang Tuhan berikan dalam hidupku adalah yang terbaik, ya kamulah contohnya
Dam. Aku hanya membayangkan akan menikah dengan sakral di gereja, di kota ini.
Kota yang kecil namun memiliki banyak tempat yang sangat indah untuk di
datangi. Aku sering membayangkan bagaimana aku saat berada di pelataran altar
nanti Dam. Menjadi putri di dunianya sendiri, dan pada akhirnya menemukan
seseorang yang bersedia melengkapi hari-hariku. Dam, jika kita sudah menikah
dengan pasangan kita masing-masing, tetap menjadi seorang Adam untukku ya?
Kamu mau kan?” “Nat, tanpa kamu pinta pun aku akan selalu ada buat kamu. Kapan
pun Nat, kapan pun kamu membutuhkan aku, aku pasti akan membantu semampuku. Kau
tahu itu kan Nat, sejak dulu aku selalu berusaha menjadi sahabat terbaik
untukmu. Selamanya Nat, kamu tenang saja.” ucapku, sedikit perih. “Terima kasih
Dam. Aku pun berjanji akan membantu saat kamu akan mengadakan pesta
pernikahanmu kelak. Dan aku pasti lebih cemas dibanding mempelai wanitanya saat
kamu mengucapkan ijab kabul nanti haha. Beruntung sekali Dam, wanita yang berhasil
memenangkan hatimu. Kamu benar-benar baik.” “Begitu pula dengan pendampingmu
nanti Nat, pasti aku merasa cemburu karna ada laki-laki lain dalam hidup
seorang Natalie.”
Aku...
Jakarta,
2011
Tiga
tahun, sejak kita membicarakan masa depan di Heidelberg, akhirnya kamu
menemukan pendampingmu, dan itu bukan aku. Sebulan yang lalu, bahkan kamu
datang langsung ke apartemenku untuk mengantarkan undangan pernikahanmu dengan
laki-laki pilihanmu. Dan kamu memintaku menjadi pendampingmu menuju altar nanti.
Untuk seorang Natalie, orang yang paling aku perjuangkan kebahagiannya, mana
mungkin aku menolak permohonan itu. Permohonan untuk menjadi pendampingmu saat
menuju altar, dan bukan menjadi pendamping pengantin wanita. Dan apakah aku
harus tetap memendam perasaan ini tanpa harus memberi tahu padamu Natalie?
Apakah selamanya kamu akan menganggap seorang Adam hanyalah sebagai sahabat
baikmu dan tidak memiliki perasaan lebih? Kamu akan menikah Nat, menikah. Melanjutkan
fase hidupmu yang sebenarnya dengan seseorang yang telah kau pilih. Kenapa
bukan aku Nat? Bukankah kamu bilang, jika aku adalah orang baik? Kenapa?
Kita?
Heidelberg,
2011 malam sebelum pernikahan Natalie
“Dam,
tiga tahun sejak saat itu. Di sini di tempat yang sama, aku pernah bermimpi
akan menjadi seorang putri. Dan akhirnya besok, semua khayalku akan menjadi
kenyataan Dam. Setelah Tuhan memberikan seorang Adam dalam hidupku, Tuhan
mempertemukanku dengannya, dengan seorang Andrew yang sama baiknya denganmu.
Tuhan sangat baik padaku Dam, terlalu baik.” ujar Natalie. “Karna kamu pun
orang yang sangat baik Nat, sudah sepantasnya kamu mendapatkan ini semua. Dan
sekarang aku harus rela berbagi Natalie dengan Andrew hehe. Terima kasih karna
malam ini kamu masih mau bercerita denganku. Terima kasih untuk melibatkan aku
dalam pernikahanmu besok Nat.” “Dam, kapan kamu menikah? Belum adakah wanita
yang berhasil merebut hatimu?” tanya Natalie. “Sudah Nat, hanya saja aku belum
berani untuk memperkenalkannya padamu. Dia seperti kriteriaku tentunya, seorang
wanita yang sederhana, namun berhasil membuat aku jatuh cinta, bahkan cinta
yang sangat dalam.” “Aku iri dengan wanita itu Dam. Dia beruntung sekali
berhasil memenangkan hatimu. Aku doakan semoga kamu bisa hidup bahagia bersamanya
Dam, jangan lupa perkenalkan aku dengannya. “Tentu saja Nat. Kamu adalah orang
pertama yang aku kenalkan dengannya. Sekarang istirahatlah, kamu tentu tidak
mau kan memiliki kantong mata yang tebal di hari pernikahanmu esok?” ucapku
menutup percakapan malam itu.
Aku…
Natalie
sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Senyumnya sangat lepas, seperti
menggambarkan apa yang sedang dirasakan oleh hatinya. Dan aku, berusaha memakai
topeng terbaik yang aku miliki. Topeng terbaik untuk menyerahkan Natalie pada
orang lain di altar nanti. Topeng terbaik untuk menunjukkan pada Natalie bahwa
aku benar-benar bahagia atas pernikahannya dengan orang lain. Dan akhirnya,
Natalie kecilku yang sangat menyukai aroma vanilla itu telah menjadi milik
orang lain. Seorang Adam bukanlah lagi malaikat penjaganya. Seorang Adam tidak
boleh lagi berada di antara Natalie dan Andrew dengan terus menerus memiliki
perasaan cinta pada Natalie. Tidak boleh.
Natalie...
Sejak
Adam menjadi pendampingku di Altar, aku tidak pernah lagi melihatnya. Adam
menghilang tanpa jejak. Hanya sepucuk surat yang menjadi salam perpisahannya.
Adam pergi dalam kehidupanku. Benar-benar pergi. Tapi, bukankah Adam sudah
berjanji untuk selalu bersamaku? Kenapa Adam berbohong? Bahkan dia membohongi
perasaannya sendiri? Ternyata Adam bodoh, benar-benar bodoh.
“Natalie Angelica Clara… Kamu cantik sekali
dengan gaun pengantinmu tadi. Kamu berhasil menjadi seorang putri Nat. Putri
tercantik dari semua putri yang pernah aku lihat sebelumnya. Beruntungnya dia
yang telah menjadi pengantin laki-laki untukmu Nat. Sedangkan aku, hanya
mendampingimu dari pintu gereja sampai altar hehe. Segala impianmu telah
terwujud Nat. Kamu pun telah menikah di kota yang memang telah lama kamu
impikan. Dan setelah aku mengantarkanmu pada dia yang sudah menunggumu di
altar, sejak saat itulah tugasku selesai. Tugas untuk menjaga Natalie. Tugas
untuk menemani Natalie menghabiskan kopi vanillanya. Tugas untuk melindungi
Natalie dari orang-orang jahat. Tugas untuk menemani Natalie menghayalkan
seperti apa masa depannya. Karna
sekarang, seorang Natalie telah berada di masa depannya yang dia rangkai
sendiri. Nat, tidak akan pernah ada lagi seorang Adam dalam hidupmu. Dia pasti
akan menjagamu lebih baik dari aku. Bahkan sangat baik. Terima kasih Nat, untuk
segala hal yang pernah kamu berikan dalam hidupku. Terima kasih telah
mengizinkan aku menjagamu, dan membiarkan aku menikmati indahnya mencintaimu
walau diam-diam. Berbahagialah dengannya, dan menciptakan natalie-natalie kecil
yang sama seperti kamu. Jika dia tidak bisa membuatmu bahagia, aku akan dengan
senang hati merebutmu kembali hehe. Di kota tempatku tinggal nanti. Aku akan
berusaha menemukan Natalie yang lainnya. Aku tidak akan pernah melupakan atau
bahkan berhenti mencintaimu. Mungkin karna aku tidak tahu bagaimana caranya
berhenti mencintai kamu. Selamat menempuh hidup baru Natalie. Bersama malaikat
penjagamu yang baru. Bersama orang yang kamu cintai dan mencintaimu. Kamu tahu
Nat, aku selalu berhasil mengobati sakit yang diderita oleh pasien-pasienku.
Tapi aku tidak pernah bisa mengobati luka hatiku sendiri. Ternyata aku memang
benar-benar payah. Jika nanti kita bertemu di kehidupan yang lain, aku berjanji
tidak akan menjadi seorang pengecut lagi Nat. Aku berjanji akan menjaga kamu,
dan tidak akan pernah membiarkanmu jatuh cinta pada orang lain, pada siapa pun.
Aku mencintaimu Nat. Terlalu sakit jika aku tetap tinggal. Jangan pernah
melupakan aku, si dokter tampan ini Natalie hehe. Aku akan merindukan aroma
kopi vanillamu, dan semua tentang kamu Nat. Dan satu hal lagi kalau aku boleh
jujur, kamu sedikit gendut dengan gaun pengantinmu itu. Peluk cium dari
dokter tampan, Adam…”
No comments:
Post a Comment