Di
tengah malam yang sunyi, sosokmu semakin jelas terlihat dalam khayalku. Memperlihatkan
senyuman di wajahmu, melengkung bagai bulan sabit di langit-langit. Di
tengah malam yang senyap, bayangmu semakin jelas terlihat dalam lamunanku. Menebarkan
semerbak wangi aroma tubuhmu, memabukan seperti arak dalam sloki. Di
tengah malam yang sepi, rindumu semakin jelas tersirat dalam pejaman mataku. Menyayat
secara perlahan, meninggalkan jejak yang tak bertuan kecuali sepi.
Lalu hujan pun turun. Meningalkan embun pada kaca di balik tirai jendela kamar. Dengan jari telunjukku, ku tuliskan kata “kita” pada embun-embun menyejukkan itu. Seandainya saja semudah itu menciptakan kita. Tapi, aku pun tak ingin menjadikan kamu hanya sekedar “seandainya”.
Dan aku pun selalu semangat menunggu pagi, dan sesegera mungkin melawan waktu untuk menjadikan “kita” lebih dari “seandainya”. Kita yang nyata.
Lalu hujan pun turun. Meningalkan embun pada kaca di balik tirai jendela kamar. Dengan jari telunjukku, ku tuliskan kata “kita” pada embun-embun menyejukkan itu. Seandainya saja semudah itu menciptakan kita. Tapi, aku pun tak ingin menjadikan kamu hanya sekedar “seandainya”.
Dan aku pun selalu semangat menunggu pagi, dan sesegera mungkin melawan waktu untuk menjadikan “kita” lebih dari “seandainya”. Kita yang nyata.
No comments:
Post a Comment