April 10, 2014

Rahasia yang Tak Lagi Menjadi Rahasia


Aku telah membuat janji pada diriku sendiri untuk merahasiakan hal ini sampai kapan pun juga darinya. Aku takut kehilangannya sebagai sahabat baikku. Tidak, aku bahkan tidak sanggup membayangkan jika itu semua terjadi. Ya, selamanya akan ku simpan dalam-dalam perasaan yang sempat aku punya untuknya semasa sekolah dulu.

Dan kini, waktu terus bergulir dan rahasia itu tetap tersimpan rapi. Walau aku tidak lagi menggilainya seperti dulu, aku tetap tidak ingin dia mengetahuinya. Lagi pula, dia sudah bahagia dengan seorang wanita yang dicintainya dan mencintainya. Aku hanya temannya, dia hanya temanku selamanya tetap begitu. Selamanya...

Hingga akhirnya dia pergi sangat jauh, aku tetap memilih diam dan sama sekali tak berniat membahas bagaimana dulu aku sangat mengaguminya. Saat melihatnya pergi, sesekali aku terisak, namun tidak terlihat merana. Bisa dikatakan biasa saja. Atau justru aku masih menganggap kepergiannya hanyalah sebuah lelucon yang tidak lucu.

Beberapa bulan setelah kepergiannya, aku masih merasa dia ada dan beranggapan jika jiwanya masih bersatu dengan raganya. Bukannya aku tidak ikhlas, bahkan aku sendiri tidak mengerti, kenapa logika terus menerus membuat aku mengira dia masih hidup. Dan aku masih bisa bertemu dengannya nanti saat acara reunian kecil-kecilan diadakan.

Lalu suatu malam dia hadir dalam mimpiku. Dia tersenyum, mengajak aku berfoto unuk mengabadikan pertemuan itu. Dan saat foto itu aku lihat, hanya aku yang ada di sana, tidak ada rekam gambar dirinya pada foto itu. Aku terbangun dari mimpi yang aneh itu. Lalu tanpa sadar bergumam, apa ini cara lo ngebuat diri gue sadar kalau lo udah ga ada ? 

Mimpi itu tetap tidak mengubah apa-apa. Aku masih percaya jika dia masih hidup. Sampai akhirnya, semalam dia hadir lagi dalam mimpiku. Wajahnya pucat, namun senyumannya yang khas seolah sedikit memberikan kesan bahwa dia baik-baik saja. Kami bertatapan mata, dalam mimpi aku seperti mengatakan sesuatu yang tak ku ingat. Namun dia tak menjawab, hanya terus tersenyum sambil berlari menjauh. Lalu aku terbangun.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Sore tadi, di bawah langit yang cukup cerah aku berbincang dengannya. 

Gue ga tau kenapa kemarin-kemarin gue masih menganggap lo masih hidup. Gue juga ga tau apa yang gue lakuin itu salah atau benar. Bahkan gue juga ga ngerti sebenernya udah ikhlas atau belum ngerelain lo pergi. Gue beneran ga tau. Sampai akhirnya hari ini gue tersadar, bahwa selama ini gue cukup takut untuk menerima kenyataan kalo sesungguhnya emang lo udah pergi. Ini udah yang ke tiga kalinya gue dateng ke sini. Yang pertama saat pemakaman lo, yang ke dua saat dua minggu lo pergi, dan sekarang saat lo dateng lagi ke mimpi gue. Tapi baru sekarang gue bisa nangis sejadi-jadinya di depan nisan lo. Baru hari ini ! Gue tau apa yang akan gue omongin sekarang itu ga ada artinya lagi. Tapi gue mau jujur sama lo, mau buat pengakuan sama lo yang sebenernya gue sendiri ga akan pernah kasih tau lo tentang ini. Hei, maafin gue karna selama tiga tahun di sekolah dulu udah sempet sayang sama lo. Gue harusnya sadar diri, dan ga sepatutnya punya perasaan sama lo. Maafin gue ya. Dan hari ini, dengan setangkai mawar putih di depan nisan berukiran nama Ahmad Fikri Al-Baana, gue udah bongkar rahasia ini sama lo, dan di hadapan nisan ini juga, mulai sekarang gue udah ngerelain lo pergi. Gue kangen sama lo. Sial, lo itu emang Persija Sampe Mati hehe. Sampai ketemu lagi. Gue pamit... 

Dan kemudian aku pulang dengan perasaan lega, walau sempat berlinang air mata di depan makamnya yang hanya membisu, tapi aku senang karna tidak ada lagi rahasia yang aku pendam darinya...

:)



No comments:

Post a Comment