Aku
telah membuat janji pada diriku sendiri untuk merahasiakan hal ini sampai kapan
pun juga darinya. Aku takut kehilangannya sebagai sahabat baikku. Tidak, aku
bahkan tidak sanggup membayangkan jika itu semua terjadi. Ya, selamanya akan ku
simpan dalam-dalam perasaan yang sempat aku punya untuknya semasa sekolah dulu.
Dan
kini, waktu terus bergulir dan rahasia itu tetap tersimpan rapi. Walau aku
tidak lagi menggilainya seperti dulu, aku tetap tidak ingin dia mengetahuinya. Lagi
pula, dia sudah bahagia dengan seorang wanita yang dicintainya dan
mencintainya. Aku hanya temannya, dia hanya temanku selamanya tetap begitu. Selamanya...
Hingga
akhirnya dia pergi sangat jauh, aku tetap memilih diam dan sama sekali tak
berniat membahas bagaimana dulu aku sangat mengaguminya. Saat melihatnya pergi,
sesekali aku terisak, namun tidak terlihat merana. Bisa dikatakan biasa saja. Atau
justru aku masih menganggap kepergiannya hanyalah sebuah lelucon yang tidak
lucu.
Beberapa
bulan setelah kepergiannya, aku masih merasa dia ada dan beranggapan jika
jiwanya masih bersatu dengan raganya. Bukannya aku tidak ikhlas, bahkan aku
sendiri tidak mengerti, kenapa logika terus menerus membuat aku mengira dia
masih hidup. Dan aku masih bisa bertemu dengannya nanti saat acara reunian
kecil-kecilan diadakan.
Lalu
suatu malam dia hadir dalam mimpiku. Dia tersenyum, mengajak aku berfoto unuk
mengabadikan pertemuan itu. Dan saat foto itu aku lihat, hanya aku yang ada di
sana, tidak ada rekam gambar dirinya pada foto itu. Aku terbangun dari mimpi
yang aneh itu. Lalu tanpa sadar bergumam, apa
ini cara lo ngebuat diri gue sadar kalau lo udah ga ada ?
Mimpi
itu tetap tidak mengubah apa-apa. Aku masih percaya jika dia masih hidup. Sampai
akhirnya, semalam dia hadir lagi dalam mimpiku. Wajahnya pucat, namun
senyumannya yang khas seolah sedikit memberikan kesan bahwa dia baik-baik saja.
Kami bertatapan mata, dalam mimpi aku seperti mengatakan sesuatu yang tak ku
ingat. Namun dia tak menjawab, hanya terus tersenyum sambil berlari menjauh. Lalu
aku terbangun.
Akhirnya
aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Sore tadi, di bawah langit yang cukup
cerah aku berbincang dengannya.
Gue ga tau kenapa kemarin-kemarin
gue masih menganggap lo masih hidup. Gue juga ga tau apa yang gue lakuin itu
salah atau benar. Bahkan gue juga ga ngerti sebenernya udah ikhlas atau belum
ngerelain lo pergi. Gue beneran ga tau. Sampai akhirnya hari ini gue tersadar,
bahwa selama ini gue cukup takut untuk menerima kenyataan kalo sesungguhnya
emang lo udah pergi. Ini udah yang ke tiga kalinya gue dateng ke sini. Yang pertama
saat pemakaman lo, yang ke dua saat dua minggu lo pergi, dan sekarang saat lo
dateng lagi ke mimpi gue. Tapi baru sekarang gue bisa nangis sejadi-jadinya di
depan nisan lo. Baru hari ini ! Gue tau apa yang akan gue omongin sekarang itu
ga ada artinya lagi. Tapi gue mau jujur sama lo, mau buat pengakuan sama lo
yang sebenernya gue sendiri ga akan pernah kasih tau lo tentang ini. Hei,
maafin gue karna selama tiga tahun di sekolah dulu udah sempet sayang sama lo. Gue
harusnya sadar diri, dan ga sepatutnya punya perasaan sama lo. Maafin gue ya. Dan
hari ini, dengan setangkai mawar putih di depan nisan berukiran nama Ahmad
Fikri Al-Baana, gue udah bongkar rahasia ini sama lo, dan di hadapan nisan ini
juga, mulai sekarang gue udah ngerelain lo pergi. Gue kangen sama lo. Sial, lo
itu emang Persija Sampe Mati hehe. Sampai ketemu lagi. Gue pamit...
Dan
kemudian aku pulang dengan perasaan lega, walau sempat berlinang air mata di
depan makamnya yang hanya membisu, tapi aku senang karna tidak ada lagi rahasia
yang aku pendam darinya...
:)

No comments:
Post a Comment