Jumat,
5 September 2014
Hari
ini, saya kembali mendatangi Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk menyaksikan
pertandingan yang menentukan lolos tidaknya klub kebanggaan saya ke fase
delapan besar. Ramai. Ya, suasana stadion bisa dikatakan cukup ramai. Teriakan semangat
dari para rekan-rekan supporter yang menggema, dan kemenangan karna tiga gol
yang dicetak oleh Persija atas Barito mampu membuat saya tersenyum. Tersenyum dengan
penuh kegetiran. Bahkan hampir hambar. Karna sebelum pertandingan dimulai pun,
kita semua sudah tau bagaimana akhir dari semua ini.
Tidak
ada selebrasi untuk tiga gol Persija. Tidak ada kebahagiaan untuk kemenangan
Persija. Pada saat mereka semua seharusnya berjuang leibih keras, namun
kemenangan itu justru membuat mereka harus berhenti dengan sangat memilukan. Saya
sempat berpikir, apakah Persija yang begitu kami ( the jakmania ) banggakan
bersungguh-sungguh dalam setiap pertandingannya demi merebut sebuah gelar juara
? Apakah Persija yang begitu kami banggakan mampu melihat besarnya pengorbanan
yang kami berikan pada setiap kali datang ke stadion untuk bersama mereka
melalui semangat serta doa ?
Emosi
akibat kekecewaan yang begitu mendalam bisa terlihat dengan jelas dari tiap-tiap
bangku tribun. Kekecewaan yang bahkan saya sendiri bingung untuk
mengutarakannya lewat kata demi kata...
Malam itu, untuk pertama kalinya
saya merasakan tribun bukanlah lagi sebagai rumah yang memberikan kenyamanan
untuk saya. Sesak. Teramat sesak. Entah apa yang membuat saya sulit bernafas
dan meneteskan air mata. Apakah tembakan gas air mata yang membabi buta ?
Ataukah karna menyadari jika akan butuh waktu yang cukup lama untuk kembali ke
tempat ini ? Saya tidak pernah takut untuk berada dalam situasi kacau saat
mendukungmu. Saya tidak pernah meminta ganti rugi untuk lembar demi lembar
rupiah yang keluar untuk membili tiket. Tapi untuk kali ini, boleh kah saya menjadi
pemujamu yang egois ? Saat bahkan nyawa yang harus dikorbankan untukmu, masih
enggankah kamu membalas segala hal yang telah diberikan dengan sebuah gelar
juara ? Bukan malah memberikan kemenangan terlambat, yang justru menyakitkan. Sangat
teramat sakit.
Tapi jangan pernah khawatir, karna cinta
ini tidak akan pernah mati, selama saya masih diberikan nikmat hidup oleh Tuhan.
No comments:
Post a Comment