Sepak
bola... adalah nafas bagi para pemujanya. Adalah kehidupan bagi para
penikmatnya. Dan adalah rumah bagi segala anak manusia yang mencintainya.
Tunggu ? Rumah ? Bahkan, sepak bola di ibu kota negara ini saja pun tidak
memiliki rumah, di kota kelahirannya sendiri dia bagai musafir. Lalu, bagaimana
kami bisa dengan tega menyebut mereka sebagai rumah kami ? Sementara mereka
masih hidup di antara debu-debu jalanan. Di antara kerasnya ibu kota yang
sebagian besar kaum urbannya bahkan untuk menoleh pun enggan.
Persatuan
Sepak Bola Indonesia Jakarta. Tak cukup banyak sejarah yang saya ketahui
tentang tim ibu kota ini. Hanya sekedar tahu, setidaknya, saya tidak terlihat
dungu apabila secara tiba-tiba ada pihak yang melontarkan pernyataan pada saya
“Mencintai itu dimulai dari mengenal,
memahami sejarahnya, lalu kemudian bisa dibilang benar-benar cinta.” Tapi
tetap saja pada kenyataannya saya tidak mengetahui banyak tentang tim sepak
bola ini. Ya, tidak banyak. Kecuali, nasibnya yang menjadi “gelandangan” di tanah kelahirannya
sendiri.
Saat
berbagai tim sepak bola di kota-kota lain sudah memiliki rumahnya sendiri,
Persija Jakarta justru berulang kali dipaksa untuk menjadi tuna wisma di
kotanya. Dulu mereka punya rumah, namun saat ini, sesuatu yang dahulu disebut
rumah, sekarang hanyalah berbentuk sebuah kenangan. Menurut apa yang saya
ketahui, sepak bola Jakarta sudah mulai lahir sejak para kompeni Belanda
mendiami tanah ibu kota. Kala itu, mungkin salah satu perkumpulan sepak bola
yang tersohor adalah VIOS (Voetbalbond Indische Omstreken Sport). Dan pada masa
itu VIOS sudah memiliki lapangan untuk mereka melakukan latihan bernama
Viosveld yang terletak di sekitaran jalan HOS Cokroaminoto 87. Namun sejak
tahun 1921, Viosveld mulai dikenal oleh kebanyakan orang sebagai Stadion
Menteng.
Lalu
Persija Jakarta sendiri yang pada awalnya bernama Voetbalbond Indonesisch
Jacatra atau VIJ juga mulai berlatih di Stadion Menteng pada tahun 1928,
setelah sebelumnya tim sepak bola ini terlebih dahulu berlatih di VIJ Petojo.
Dan Stadion Menteng pada akhirnya dikenal sebagai Stadion Menteng Persija tahun
1960. Pada tahun 1975, gubernur Jakarta yang menjabat saat itu bahkan
mengeluarkan surat keputusan yang pada intinya menjabarkan bahwa Stadion
Menteng merupakan salah satu kawasan yang harus dilindungi karena kawasan
tersebut merupakan salah satu cagar budaya yang dimiliki oleh Jakarta.
“Bencana” mulai muncul saat tahun 2004
Gubernur Sutiyoso merencanakan untuk melakukan perubahan Stadion Menteng
menjadi sebuah taman. Bahkan pemerintah provinsi telah mengaktakan tanah
Stadion Menteng ke Badan Pertahanan Nasional tanpa sepengetahuan pihak Persija.
Persija tidak tinggal diam, mereka bergerak, mereka menggugat, namun sia-sia. Tepatnya
pada tanggal 26 Juni 2006, saya bahkan lupa apa yang sedang saya lakukan saat
itu, mungkin, sedang sibuk menjadi siswi baru dari seragam putih abu-abu, Stadion
Menteng dipaksa untuk rata dengan tanah. Seperti yang sudah saya utarakan sejak
awal, bahwa tidak banyak hal yang saya ketahui tentang Persija Jakarta. Akan
tetapi, setelah membaca dan mendengar informasi dari berbagai sumber yang ada,
apakah saya salah jika menarik kesimpulan dari peristiwa penggusuran Stadion
Menteng, adalah peristiwa hina karna telah secara sengaja menghilangkan simbol
sejarah yang seharusnya tetap ada dan tak akan rapuh dimakan usia.
Lalu
kemudian, Stadion Lebak Bulus. Stadion yang juga “pernah” menjadi rumah bagi Persija Jakarta. Kenapa saya menuliskan
kata “pernah” ? Karna nasibnya pun
akan berakhir sama dengan stadion yang terdahulu. Rata dengan tanah. Stadion
Lebak Bulus sendiri pun memiliki sejarah tersendiri bagi Persija Jakarta,
sebagaimana seperti yang dimiliki oleh Stadion Menteng. Stadion Lebak Bulus
terkenal “angker” bagi para siapa pun
tim lawan yang dijamu oleh Persija Jakarta di stadion yang terletak di kawasan
Jakarta Selatan ini. Bahkan tidak sedikit tim yang dipaksa walk out saat Persija Jakarta melaksanakan laga kandangnya di
Stadion Lebak Bulus. Contohnya, Persib Bandung. Saya sendiri beruntung karna
pernah beberapa kali mendukung Persija Jakarta dari bangku tribun Stadion Lebak
Bulus. Sebelum akhirnya, stadion ini sudah jarang digunakan dengan alasan
minimnya kapasitas stadion untuk menampung banyaknya The Jakmania yang hadir
setiap kali Persija Jakarta bertanding. Sampai detik ini, kawasan Stadion Lebak
Bulus hanya digunakan sebagai tempat dari sekretariat Jakmania. Sebelum pada
akhirnya, lagi-lagi “rumah”, “peninggalan sejarah”, dan “saksi bisu” dari banyak kemenangan
Persija Jakarta, akan kembali dihilangkan. Rumah dan sejarah yang harus rata
dengan tanah, demi kehidupan sebuah kota yang harus mengikuti arus perubahan
zaman.
Satu
lagi stadion yang sudah terlanjur dikenal sebagai rumah bagi Persija Jakarta. Stadion
Utama Gelora Bung Karno. Stadion yang selama ini menjadi “rumah singgah” saat Persija Jakarta melakoni laga kandang. Tunggu
dulu, laga kandang ? Bagaimana bisa disebut laga kandang saat untuk bermain di
stadion tersebut saja harus mengeluarkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit
? Bagaimana bisa disebut tempat tinggal bahkan untuk menjalani kehidupan di
sana masih sering menunggak uang sewa ? Dan saya pun sadar, Stadion Utama
Gelora Bung Karno, tidak pernah benar-benar menjadi rumah bagi Persija Jakarta,
hanya sebagai tempat singgah sementara.
Entah
sudah beberapa kali Jakarta berganti pemimpin, sudah berapa kali Persija
kenyang memakan janji-janji kampanye untuk memberikan sebuah rumah bagi mereka,
bagi Persija Jakarta. Nyatanya, sampai detik ini Persija Jakarta masih menjadi
musafir di tanah kelahirannya sendiri. Bukan perkara mudah memang menjadi
sebuah tim sepak bola pada sebuah kota besar. Jangankan stadion, bahkan seringkali
izin pertandingan saja harus mati-matian diperjuangkan. Saya pikir, ini adalah
pekerjaan rumah besar bagi seluruh masyarakat Jakarta. Mulai dari pemimpin
sampai ke kelompok-kelompok yang terdapat dalam masyarakat Jakarta. Bagaimana
kita menjaga salah satu cagar budaya Jakarta
agar tetap menjadi tuan di rumahnya sendiri, bagaimana kita menjaga salah satu
kebanggaan Jakarta agar tidak menjadi gembel di rumahnya sendiri.
PERSIJA
BUKAN HANYA MILIK SEKELOMPOK ORANG YANG MENYEBUT DIRI MEREKA SEBAGAI THE
JAKMANIA. PERSIJA ITU JAKARTA. JAKARTA ITU HETEROGEN. PERSIJA ADALAH MILIK
MEREKA SEMUA YANG TINGGAL DI JAKARTA TANPA TERKECUALI. PRIBUMI ATAU KAUM URBAN
? MEREKA SEMUA WAJIB MENJAGA APA YANG SEHARUSNYA SELALU MENJADI KEBANGGAAN KOTA
JAKARTA. JAKARTA HARUS PEDULI PERSIJA !
No comments:
Post a Comment