April 16, 2015

Sepak Bola yang Tidak Lagi Sederhana

Aku teringat bagaimana indahnya masa kecilku beberapa tahun silam. Saat setiap kali menanti senja datang, aku selalu ikut bermain sepak bola dengan mereka yang usianya beberapa tahun di atasku. Sudah jelas aku menjadi perempuan satu-satunya kala itu, dan aku selalu diposisikan menjadi seorang penjaga gawang. Katanya, agar mengurangi resiko cidera terhadapku. Padahal faktanya hidungku pernah hampir patah saat salah satu dari pihak lawan menendang bola dengan penuh nafsu untuk meraih kemenangan. Diposisi manapun, seorang pemain sepak bola tak akan bisa jauh dari resiko cidera ku rasa. Ah, saat-saat yang menyenangkan. Saat aku mengenal sepak bola sebagai hal yang membuat soreku selalu penuh arti. Saat sepak bola saat itu mengajarkan aku tentang kebersamaan, tentang kebahagiaan yang bahkan tak bisa dinilai dengan deretan angka. Bahkan saat kini aku beranjak menua, sepak bola masih menjadi guru terbaikku.

Faktanya tidak semua pihak bisa menjabarkan sepak bola dengan sederhana tapi memiliki makna yang istimewa. Ya, tidak semua. Saat aku kecil, mungkin aku bisa dengan lugunya menikmati permainan sepak bola yang aku mainkan bersama teman-teman satu kampung dengan penuh keriangan tanpa ada beban sama sekali. Tapi dewasa ini, aku seolah kehilangan makna sederhana dari sepak bola itu sendiri. Kebersamaan, kesenangan, persaudaraan dan bahkan cinta. Saat ini aku hanya melihat sepak bola yang penuh dengan ambisi, yang arogan, yang penuh dengan hawa nafsu untuk saling menjatuhkan dan berebut agar menjadi yang paling hebat. Ah, bukan sepak bolanya yang arogan. Tapi mereka. Ya mereka, yang menjadikan sepak bola menjadi sesuatu yang tidak lagi indah.

Kenapa sepak bola bisa menjadi sedemikian rumit di negri ini, Tuhan? Aku lelah bermimpi, sangat lelah. Ingin rasanya aku terbangun lalu melihat sepak bola di negri ini baik-baik saja. Baik-baik saja, cukup. Jika menjadi yang terbaik di dunia adalah perkara sulit, setidaknya sepak bola negri ini baik-baik saja, tanpa cacat yang tidak perlu dari pihak-pihak yang seharusnya bersama-sama bertanggung jawab untuk memajukan sepak bola negri ini.

Ah, aku rindu saat hanya menikmati sepak bola di tanah becek lalu ibuku mengomel karna anak perempuannya pulang dengan pakaian penuh lumpur. Aku rindu saat hanya menikmati sepak bola pada layar kaca lalu ayahku bergumam jika otak anak perempuannya sudah tertukar dengan otak anak laki-lakinya yang justru tidak menyukai sepak bola. Bukan seperti sekarang ini, saat aku bahkan sudah tak mampu lagi mengerti sebenarnya mau dibawa kemana sepak bola negri ini kelak. Atau, bagaimana nanti aku bercerita pada anak cucuku tentang gambaran sepak bola negri ini pada zamanku, aku bahkan bingung membayangkan jika saat itu datang. Rumit, atau justru aku yang membuatnya rumit?

Tidak. Bukan rumit. Mungkin, aku hanya rindu akan kehadiran sepak bola negri ini. Ya, aku terlalu rindu. Semoga sepak bola negri ini lekas sembuh dari sakit yang sangat kompleks. Semoga sepak bola negri ini lekas terbangun dari mati surinya yang mengerikan. Dan semoga sepak bola negri ini kelak akan selalu dalam keadaan baik.

Baik-baik saja.
Cukup.

No comments:

Post a Comment