April 25, 2015

Kembalikan Dia Secepatnya, Aku Mohon!

Selamat malam, sepak bola Indonesia. Apa kabarmu saat ini? Aku selalu berharap kamu dalam keadaan baik. Ya, baik-baik saja, itu sudah cukup membuatku merasa tenang. Aku? Siapa aku? Baiklah, aku minta maaf karena aku lupa memperkenalkan diriku sebelum aku menyapamu tadi. Aku adalah bagian dari negara ini, dari bangsa yang menurutku sangat luar biasa dan hebat! Aku adalah salah satu dari sekian banyak rakyat di negara ini yang menjadi penggemarmu. Namun bukan sekedar penggemar belaka, aku, dan mungkin juga mereka di luaran sana, merupakan penggemar yang memiliki begitu banyak asa dan juga mimpi untuk melihatmu menjadi yang terbaik. Juara? Tentu saja. Namun harapan yang paling sederhana ialah, melihatmu jauh dari hal-hal memuakkan yang bisa membuatmu mati kapan saja.

Aku mungkin belum banyak mendedikasikan hidupku untukmu. Ya, belum begitu banyak. Sebagai seorang penggemar biasa, aku tak bisa memberikan banyak hal padamu. Selain dukungan serta doa yang tanpa henti aku tujukan terhadapmu. Ingin sekali rasanya aku berbuat banyak hal, bahkan sangat teramat banyak hal untuk membuatmu selalu dalam keadaan baik. Tidak, aku tidak jenuh atas keadaanmu yang semakin kesini justru semakin mengenaskan. Meninggalkanmu? Mana mungkin aku bisa melakukannya, saat bahkan hampir separuh dari kehidupanku berasal darimu. Tenang saja, aku akan selalu bersamamu sampai keadaanmu kelak akan membaik.

Hmm, aku takut jika saja benar-benar harus kehilanganmu. Harus jauh sementara waktu seperti ini pun rasanya aku sudah hampir mati lemas. Tak tau sampai kapan aku dipaksa jauh darimu seperti ini, tak tau sampai kapan aku dipaksa menahan rindu yang setiap detiknya semakin menggebu dan bergejolak dalam dada. Aku sungguh tak tau. Jujur, aku sangat tersiksa dengan keadaan ini, terlalu rumit dan seolah mampu membuat kepala pecah walau hanya untuk berpikir "ada apa sebenarnya?". Semakin aku memikirkan dan berusaha memahami apa yang sedang terjadi, justru semakin membuat nafasku terasa sesak. Menuju mati.

Apalah diriku ini, hanya manusia berotak udang yang tak mengerti banyak hal tentang masalah yang menerpamu. Ingin sekali rasanya sejenak aku menjadi pintar, lalu membantumu menyelesaikan segala perkara yang benar-benar brengsek. Tapi, aku tetaplah seorang manusia berotak dangkal. Yang aku bisa hanya menjadi penggemar setiamu. Yang aku bisa hanya memberikan dukungan sebaik mungkin. Yang aku bisa hanya memanjatkan doa untukmu pada setiap aku berbicara empat mata saja dengan Tuhan. Hanya itu.

Teruntuk sekelompok manusia yang sudah pasti lebih cerdas dariku, aku mohon untuk sesegera mungkin mengembalikan sepak bolaku ke tempat yang seharusnya. Teruntuk sekelompok manusia yang sudah pasti lebih terhormat dariku, aku mohon untuk sesegera mungkin menghidupkan sepak bolaku yang sudah hampir benar-benar mati. Teruntuk sekelompok manusia yang sudah pasti lebih mencintai sepak bola negri ini dibandingkan dengan aku, tolong, kembalikan salah satu sumber kebahagiaanku secepatnya. Bisakah kalian mengabulkannya? Aku mohon, sangat memohon.

2 comments: