Aku hampir melupa, bagaimana rasanya menghitung waktu untuk segera kembali kesana dan mendapatkan hal yang paling menyenangkan selama hidupku.
Aku hampir melupa, bagaimana rasanya berada diantara kerumunan manusia untuk berebut dan bergegas masuk ke tempat yang sudah kami anggap sebagai rumah kedua.
Aku hampir melupa, bagaimana rasanya menghapus peluh yang membasahi tubuh akibat terlalu bersemangat dan bergejolaknya jiwa raga ini dalam memberikan support untuk kaki-kaki yang sedang berjuang keras demi sebuah hasil yang membahagiakan.
Aku hampir melupa. Hampir saja. Seandainya cinta yang ku miliki bersifat sementara, aku mungkin sudah benar-benar melupa saat ini. Seandainya cinta yang ku miliki itu hanya sebuah kepalsuan, aku mungkin sudah benar-benar menghapus segala hal yang berhubungan dengannya dalam memoriku.
Mungkin aku tidak melupa. Aku hanya dungu dan bahkan seperti orang yang hanya memiliki separuh nyawa saja untuk melanjutkan hidupnya. Mendekati mati.
Aku ingin hidup lagi.
Aku ingin dia kembali lagi.
Sepakbola, serta segala hal yang berkaitan dengannya. Separuh nyawaku, ada disana.
No comments:
Post a Comment