The Jaaaaakkk Maniaaaaa!
Tulisan ini saya tulis saat menjelang sore, jadi saya ucapkan selamat sore untuk kalian semua yang sudah bersedia membuang waktunya untuk membaca sebuah artikel yang mungkin bisa dikatakan tidak terlalu penting. Tapi sebagai warga negara yang memiliki hak untuk menyampaikan "uneg-uneg", maka saya rasa saya berhak untuk menuliskan apa-apa saja yang ingin saya sampaikan khususnya kepada pihak-pihak yang nantinya akan saya sebutkan dalam tulisan ini.
Setelah sekian lama merindukan untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola, khususnya Persija di rumahnya sendiri, akhirnya pada 9 April 2016 lalu saya dan rekan-rekan Jakmania lainnya dapat kembali ke Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk mendukung Persija dalam Trofeo Persija yang sebenarnya sudah diundur cukup lama. Antusias dari kami cukup besar. Bahkan sangat besar! Mengingat sudah cukup lama kami tidak merasakan euforia di SUGBK saat pertandingan Persija berlangsung. Dan benar saja, hari itu sekitaran SUGBK sudah seperti lautan manusia. Warna oranye tumpah ruah disana. Tak hanya dari Jakarta saja, para pecinta Persija yang berasal dari luar Jakarta pun ikut serta berbondong-bondong untuk meramaikan Trofeo Persija hari itu.
Jauh-jauh hari sebelum berlangsungnya pertandingan, seperti biasa ada info-info penting yang disampaikan dari pihak panpel melalui sosial media yang ditujukan kepada kami sebagai pihak supporter. Ada beberapa peraturan yang harus kami patuhi agar pertandingan bisa berjalan dengan baik. Membeli tiket, tidak menyalakan benda-benda yang bisa menyebabkan kebakaran, dan masih banyak peraturan-peraturan lainnya yang harus kami ikuti aturan mainnya. Sebagai salah seorang pecinta Persija yang (berusaha untuk) baik, saya selalu mengikuti setiap aturan yang berlaku. Mulai dari membeli tiket di loket resmi atau melalui korwil, sampai bersikap tertib dari awal hingga akhir pertandingan. Karena saya pribadi yakin, jika tidak mungkin ada pihak dari supporter sengaja melakukan hal-hal yang kelak akan merugikan tim kebanggaannya. Jika memang masih ada beberapa yang melanggar peraturan tersebut, silahkan tanyakan sendiri pada diri anda, "Sudah dewasakah saya sebagai seorang supporter? Sudah bisakah saya menjaga nama baik Persija dan juga The Jakmania?"
Dan setelah saya rasa bahwa saya sudah cukup baik dalam mengikuti peraturan-peraturan tersebut, lalu apakah ada timbal balik yang saya dan rekan-rekan Jakmania dapatkan? Apakah ada perlakuan yang baik pula untuk kami setelahnya? Saya rasa belum ada. Atau bahkan tidak ada sama sekali. Pihak panpel atau bahkan kepolisian Jakarta menghimbau kami untuk memperbaiki diri. Lalu, apakah hal yang sama sudah dilakukan oleh mereka? Jakmania adalah salah satu organisasi supporter yang cukup besar di Indonesia, bahkan masyarakat awam pun tau akan hal itu. Sebagai panpel, harusnya mereka sudah paham akan fakta tersebut. Yang pertama ingin saya tanyakan, kenapa sekarang ini untuk masuk stadion saja rasanya sangat dipersulit? Selain pintu yang dibuka untuk masing-masing sektor hanya satu, kinerja panpel baik dari pihak Persija atau pun dari SUGBK itu sendiri sangat tidak memuaskan. Menurut saya pihak panpel sangat acuh terhadap pecinta Persija yang membawa anak kecil saat mengantri untuk masuk, hingga tak jarang sebagian dari mereka menangis karena kepanasan saat harus berdesakan. Bahkan semalam, saat partai kandang pertama Persija dalam Torabika Soccer Championship menjamu Semen Padang, kami semakin diperlakukan seenaknya. Selain dipersulit atau bahkan diperlambatnya kami untuk masuk ke dalam stadion, saya merasakan bahwa The Jakmania selalu diperlakukan seolah-olah bukan manusia oleh mereka. Apa lagi jika pertandingan baru selesai beberapa menit, lampu stadion tiba-tiba saja dipadamkan. Bagaimana jika ada yang terjatuh dan terluka nantinya? Jika memang hati nurani mereka tak bisa bekerja dengan baik, setidaknya masih ada otak untuk berpikir bukan?
Lalu masalah rf, sb, dan petasan yang masih menyala di stadion. Sebenarnya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pihak supporter dalam hal ini. Saya kembalikan ke awal, jika pihak panpel telah bekerja dengan efektif, maka benda-benda tersebut tidak akan lolos dalam pengawasan mereka. Bayangkan saja, jika hanya ada satu pintu yang terbuka untuk masuk begitu banyaknya pihak supporter,bagaimana bisa panpel mengawasi dengan baik? Bahkan masih ada dari mereka yang justru sibuk mengambil tiket tanpa mau menyobeknya dan nantinya saya yakin akan diperjual belikan lagi untuk keuntungan pribadi. Lalu, sebenarnya siapa disini yang lebih merugikan Persija dalam hal materi?
Untuk rekan-rekan Jakmania, saya mohon dengan sangat, bukannya saya merasa sok paling benar menjadi manusia, tapi berhentilah melakukan hal-hal yang bisa merugikan Persija dan juga The Jakmania nantinya. Kita ini supporter sepak bola, pecinta Persija, bukan jagoan yang selalu ingin terlihat hebat, bukan seonggok daging yang tidak dilengkapi dengan otak untuk berpikir, bukan pula makhluk yang tidak memiliki hati nurani untuk membedakan baik dan buruk suatu hal. Seharusnya kita bisa lebih menjaga sikap demi menjaga nama baik Persija dan juga organisasi The Jakmania itu sendiri.
Banyak hal yang harus dirubah jika ingin melihat Persija juara lagi (secepatnya). Mulai dari supporter, tim, manajemen, dan berbagai pihak yang terdapat di dalamnya. Tidak bisa satu aspek saja yang dipaksakan untuk berubah jadi lebih baik, namun semuanya. Karena bola itu bundar, satu kesatuan, tanpa ada sekat pemisah di dalamnya.
Sekian tulisan saya kali ini dalam blog pribadi saya. Jika ada hal yang kurang berkenan atau kesalahan, mohon dimaafkan sebesar-besarnya. PERSIJA SELAMANYA!
No comments:
Post a Comment