Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung? Kenapa? Karena kami disini tidak seberuntung kalian. Kami dan kalian, sama-sama sekelompok suporter yang mencintai klub sepak bola masing-masing di daerahnya. Entah mencintai karena bersifat kedaerahan, atau apapun itu alasannya. Sepak bola bagi kita adalah salah satu sumber kesenangan dalam hidup. Bahkan tanpa sepak bola, sepertinya kita tidak lagi merasakan apa itu hidup yang sesungguhnya.
Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung? Apa sebenarnya yang saya maksud dengan "beruntung" pada judul artikel saya kali ini? Saya akan menuliskannya satu demi satu, bagiamana kalian merasakan keberuntungan itu, dan tidak dengan kami disini.
Sepak bola bukan hanya suatu olah raga permainan yang membutuhkan skill dan taktik. Ada banyak faktor yang mendukung kesuksesan sebuah tim sepak bola. Baik itu dari pemain, pelatih, manajemen, suporter, stadion, dan berbagai institusi pemerintahan dari daerahnya.
Saya tidak akan berbicara banyak tentang pemain, pelatih, manajemen atau bahkan dari pihak suporter. Kali ini saya coba menjabarkan bagaimana pentingnya dukungan dari beberapa institusi pemerintah daerah bagi kemajuan sebuah klub sepak bola.
Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung, bagi kalian yang memiliki pemerintah daerah yang sangat peduli terhadap klub sepak bola disana, bagi kalian yang tidak tinggal di kota heterogen seperti Jakarta. Beruntung? Kenapa demikian?
Persija dan Jakarta, keduanya sama-sama memiliki nama besar. Persija yang merupakan salah satu klub sepak bola dengan jumlah suporter terbesar, dan Jakarta yang merupakan ibu kota dari negara Indonesia. Namun miris, karena saya merasa bahwa Persija tidaklah benar-benar Jakarta.
Saya sangat iri dengan klub-klub sepak bola di luar Jakarta, bagaimana sifat kedaerahan disana yang cukup besar dan menganggap bahwa menjadi pendukung klub sepak bola di daerah mereka adalah sebuah pengabdian terhadap tanah kelahiran. Dan bagi saya pemerintah daerahnya sangatlah peduli terhadap kemajuan klub sepak bola. Tak hanya itu, bahkan pihak keamanannya, dalam hal ini pihak tni polri, selalu bekerja secara profesional. Pengalaman ini saya rasakan beberapa kali saat mendukung Persija dalam laga kandangnya di luar kota.
Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung. Bagi yang sudah memiliki stadion untuk bertanding tanpa harus takut suatu saat akan digunakan untuk acara musik atau politik. Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung. Bagi yang sudah memiliki tempat untuk latihan tanpa harus berpindah-pindah tempat dengan membayar beberapa lembar uang sewa. Bersyukurlah bagi kalian yang beruntung. Bagi kalian yang tak pernah memakan janji-janji calon pemimpin daerah dengan mengatas namakan sepak bola.
Persija dan kami tidak seberuntung kalian. Persija berdiri di sebuah kota heterogen, tak semuanya mencintai Persija dengan sungguh bahkan pemerintah daerahnya sendiri. Persija yang seperti "kaum migran" di rumahnya sendiri. Bahkan Persija tak memiliki rumah di atas tanahnya sendiri. Kalian pasti tak pernah merasakan bagaimana menjadi musafir seperti kami yang sering terusir sana-sini. Persija memang tim besar, namun nasibnya seperti anak tiri.
Memang kami selalu ada bersama Persija di pinggir lapangan, tak peduli harus mengudara atau menyebrangi lautan, dukungan untuk Persija tak akan pernah putus. Tapi kami selalu berharap, jika Jakarta itu sendiri lebih bisa untuk memperhatikan kesejahteraan Persija saat ini dan untuk ke depannya kelak. Persija itu lahir untuk melawan para penindas di masa lampau. Lalu pantaskah, jika saat ini dia ditindas dan diabaikan di kota tempat dia tinggal?
Persija Selamanya!
No comments:
Post a Comment