July 26, 2016

Per Si Ja Se La Ma Nya

Namanya Persija, memiliki julukan Macan Kemayoran. Dia berwarna merah membara, dan seharusnya mampu membuat ciut nyali semua yang melihatnya. Namun itu tidak pernah terjadi, setidaknya untuk beberapa musim terakhir ini. Persija merupakan tim besar. Besar nama, supporternya, apalagi sejarahnya. Tapi tidak untuk prestasinya saat ini. Persija seolah tak lagi bangga berjuang dengan lambang monas yang berdiri kokoh di sudut kanan seragamnya, di dekat jantungnya. Entah apa yang membuatnya begitu terpuruk, tapi Macan Kemayoran sepertinya sedang lelah untuk mengaum dengan keras.

Sejak pertandingan melawan PS TNI di SUGBK, saya hampir lupa kapan Persija meraih kemenangannya musim ini, bahkan saya pun hampir lupa bagaimana rasanya meluapkan emosi kegembiraan saat satu demi satu goal kemenangan dilesatkan ke gawang lawan. Saya lebih sering tertunduk lemas dan malas melihat hasil seri serta kekalahan yang belum juga bosan Persija raih. Ya, saya malas sekali melihat Persija bertanding akhir-akhir ini. Seperti tidak memiliki semangat setidaknya untuk menghibur dengan permainan yang bagus dan menarik. Terakhir, saya melihat mereka berjuang mati-matian saat melawan Persib Bandung, yang kata kebanyakan orang menjadi rival bagi Persija. Setelah pertandingan itu, Persija disambut dengan sangat luar biasa saat kembali pulang ke ibu kota. Ini baru hasil imbang melawan rival, bagaimana jika Persija benar-benar menjadi juara? Saya sempat merinding saat membayangkan hal itu.

Dan hal itu membuat saya berpikir, apa kecintaan para supporter yang begitu luar biasa untuk Persija lantas membuatnya terbuai dan seolah bersikap manja? Lalu seakan tak terima jika kritikan demi kritikan dilontarkan padanya saat kami merasa kecewa dengan hasil yang diraihnya. Katanya, jangan bersorak jika Persija menang saat tidak bisa menerima bila Persija kalah. Tidak bisa menerima? Mungkin sudah sejak lama saya berhenti dan meninggalkan Persija jika saya tidak benar-benar BISA MENERIMA KETERPURUKAN PERSIJA. Tapi saya tidak pernah beranjak pergi, bahkan berniat pun tidak. Hanya saja, apa sebuah kesalahan jika kami menuntut Persija untuk setidaknya bermain dengan bagus terlebih dahulu, lalu meraih kemenangan sebagai bonusnya? Beratkah? Untuk mengabulkan keinginan sederhana kami melihat Persija berjuang dengan baik dan memang layak mendapatkan julukan macan kemayoran?

Darah, keringat, waktu, jarak, uang, bahkan tak jarang nyawa menjadi hal yang harus kami bayarkan demi mendukung Persija bertanding. Loyalitas seperti apalagi yang Persija inginkan, hey?! Berbenahlah. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Tidak pernah ada kata berakhir untuk berjuang lebih keras lagi. Seperti halnya, tidak ada kata selamat tinggal untuk tetap berdiri disini memberikan dukungan terbaik untuk kamu, Persija.

Kritikan itu tanda bahwa kami benar-benar cinta, karna cinta tak melulu perkara sanjungan yang justru bisa menjatuhkan.

PERSIJA SELAMANYA!
MANAJEMEN BOBROK!

No comments:

Post a Comment