"Ayoo
dek besok berangkat, PERSIJA lawan PERSEBAYA loh di GBK !! Masa kamu cuma
nonton di layar kaca aja sih, payah !" goda abang angkatku sore itu.
Yaa besok memang tim kesayanganku bertanding melawan salah satu tim dari timur
Pulau Jawa yang kebetulan supporternya adalah juga sebagai rival abadi dari
kami para jakmania, PERSEBAYA. Dahulu aku tak begitu sulit untuk mendapatkan
izin jika ingin menyaksikan pertandingan PERSIJA ke stadion, ibu dan ayahku
selalu memberikan aku izin. Tapi melihat pemberitaan akhir-akhir ini dimedia
tentang keributan sesama oren, aku sangat sulit untuk mendapatkan izin. Bahkan
ayahku melarang keras aku untuk kembali mendukung PERSIJA secara langsung di
stadion. Jujur aku sangat ingin menyaksikan pertandingan itu, ingin sekali !
Namun aku bingung harus menggunakan alasan apa nantinya. Hari dimana
pertandingan krusial itu, aku memutuskan untuk berangkat dengan modal nekat.
Aku bisa merasakan degup jantungku yang tak beraturan, ayah, ibu, maafkan aku
yang harus berbohong demi PERSIJA. Dengan kaos PERSIJA serta menggunakan jaket
PERSIJA aku meminta izin pada ayah jika aku ingin pergi bermain ke kota tua,
hebatnya dengan kostum seperti itu beliau sama sekali tidak menaruh curiga
kepadaku. Baiklah PERSIJA, aku datang. Dan PERSIJA pun mampu menaklukan
PERSEBAYA di depan ribuan JAKMANIA yang datang menyaksikan pertandingan
tersebut. Tiba-tiba saja telepon genggamku bergetar, sms masuk dari ayah
rupanya. "Kak, masih di stadion ? Langsung pulang yaa, PERSIJA kan udah
menang tuh." begitu isi smsnya. Entahlah, aku tak enak hati membaca
sms itu, dan ku putuskan untuk segera pulang. Anehnya sesampainya aku di rumah
ayah dan ibu tidak memarahi aku. Ayah justru menanyakan bagaimana tadi suasana
di stadion. Yaa Tuhan... terima kasih untuk hari ini.
"Kak
besok kamu ga usah nonton yaa, kan lawannya PERSIB nanti pasti deh rusuh. Kamu
nonton di rumah aja yaa." ujar ayah padaku malam itu. Siaaal !! Beliau
tau saja jika besok aku sudah memiliki rencana untuk datang ke stadion
menyaksikan partai yang sudah pasti dinantikan semua JAKMANIA, PERSIJA melawan
PERSIB ! Aku terdiam, namun berusaha mengiyakan omongan ayahku itu. Keesokan
harinya, seperti biasanya aku berangkat ke kampusku. Sepanjang perjalanan aku
merasakan gelisah yang luar biasa. Yaa Tuhan... Aku sayang orang tuaku, namun
aku pun sangat mencintai sepakbola, mencintai PERSIJA yang sudah menjadi bagian
dalam hidupku. Dan akhirnya lagi-lagi aku harus berbohong kepada orang tuaku
demi menonton tim kesayanganku itu bertanding. Dengan alasan ingin mengerjakan
tugas kuliah, aku izin kepada orang tuaku jika akan pulang malam hari ini.
Siangnya pun aku menuju SUGBK dari kampusku dengan menggunakan sepeda motor.
Aku masih saja belum sanggup menghilangkan perasaan gelisah itu. Sampai
akhirnya aku mengalami kecelakaan di daerah pancoran, beruntung mobil di
belakangku melaju dalam kecepatan yang lamban, jika tidak .. Aku mungkin sudah
berada di neraka saat ini. Dengan keadaan yang masih kaget dan tanganku yang
sakit karna terkilir, aku melanjutkan perjalananku ke stadion. Sesampainya di
stadion, ku ganti pakaianku dengan atribut PERSIJA. Ku perhatikan tanganku
akibat kecelakaan tadi, yaa Tuhan... Tanganku bergeser dan tidak bisa
dikembalikan seperti semula. Mungkin ini teguran karna aku sudah berbohong
kepada orang tuaku. Hasil pertandingan kali ini pun imbang, ini bukan hariku
sepertinya.
"JAKARTA
JAKARTA THE JAK YANG PUNYA BUKAN POLISI..." Gue shintia, gue suka
sepak bola sejak duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. PERSIJA... Ga ada
alasan tertentu bagi gue untuk mencintai PERSIJA, gue hanya ingin berusaha
memberikan dukungan yang terbaik bagi PERSIJA. Gue anggota JAKMANIA biasa. Niat
gue selama ini cuma dua, mendukung PERSIJA dan memperbanyak temen-temen
JAKMANIA gue, udah itu aja. Terus apa hubungannya sama POLISI ? Ayah gue
seorang polisi, polisi yang katanya jadi salah satu musuh besar JAKMANIA.
Karena dulunya, kepolisian daerah Jakarta sulit sekali untuk memberikan izin
bermain PERSIJA di JAKARTA. Sekalinya mendapatkan izin, terkadang harus
dijalani tanpa penonton. Saat nyanyian rasis tentang sosok polisi itu keluar,
gue ga pernah ikut bernyanyi, dari seorang polisi lah gue bisa makan, dan karna
seorang polisilah gue jadi gue yang sekarang. Ayah gue itu sekarang memang udah
ga ngizinin gue buat nonton PERSIJA, dan maaf, kebiasaan berbohong demi PERSIJA
pun selalu ada setiap PERSIJA akan bertanding di kandangnya. Anehnya setiap
TIMNAS INDONESIA yang bermain ayah gue pasti selalu memberikan gue izin,
katanya kalo udah jadi satu warna sangat kecil peluangnya untuk terjadi
kerusuhan. Dan apakah salah jika ayah gue yang kebetulan seorang polisi
berpikir demikian ? Menurut gue setiap individu di muka bumi ini bebas memiliki
pendapatnya masing-masing. Gue mencintai PERSIJA tapi gue sangat menghormati
kedua orang tua gue, kedua orang yang paling depan melarang gue buat mendukung
PERSIJA secara langsung ke stadion. Mungkin gue emang masih berbohong jika
ingin menyaksikan PERSIJA secara langsung di stadion, karena mereka bilang DEMI
PERSIJA APAPUN KU LAKUKAN ! Gue tahu gue salah, terbukti disalah satu cerita
tadi gue mengalami musibah saat ingin menyaksikan pertandingan PERSIJA di
stadion, tapi gue ga punya pilihan lain. Orang tua gue, PERSIJA, dan
rekan-rekan JAKMANIA adalah segalanya buat gue. Dengan menjadi supporter yang
baik dan tidak anarkis, gue rasa itulah cara gue menunjukkan tanggung jawab gue
ke orang tua dan juga PERSIJA.
No comments:
Post a Comment