January 15, 2012

Orang Tua - Persija - Jakmania


"Ayoo dek besok berangkat, PERSIJA lawan PERSEBAYA loh di GBK !! Masa kamu cuma nonton di layar kaca aja sih, payah !" goda abang angkatku sore itu. Yaa besok memang tim kesayanganku bertanding melawan salah satu tim dari timur Pulau Jawa yang kebetulan supporternya adalah juga sebagai rival abadi dari kami para jakmania, PERSEBAYA. Dahulu aku tak begitu sulit untuk mendapatkan izin jika ingin menyaksikan pertandingan PERSIJA ke stadion, ibu dan ayahku selalu memberikan aku izin. Tapi melihat pemberitaan akhir-akhir ini dimedia tentang keributan sesama oren, aku sangat sulit untuk mendapatkan izin. Bahkan ayahku melarang keras aku untuk kembali mendukung PERSIJA secara langsung di stadion. Jujur aku sangat ingin menyaksikan pertandingan itu, ingin sekali ! Namun aku bingung harus menggunakan alasan apa nantinya. Hari dimana pertandingan krusial itu, aku memutuskan untuk berangkat dengan modal nekat. Aku bisa merasakan degup jantungku yang tak beraturan, ayah, ibu, maafkan aku yang harus berbohong demi PERSIJA. Dengan kaos PERSIJA serta menggunakan jaket PERSIJA aku meminta izin pada ayah jika aku ingin pergi bermain ke kota tua, hebatnya dengan kostum seperti itu beliau sama sekali tidak menaruh curiga kepadaku. Baiklah PERSIJA, aku datang. Dan PERSIJA pun mampu menaklukan PERSEBAYA di depan ribuan JAKMANIA yang datang menyaksikan pertandingan tersebut. Tiba-tiba saja telepon genggamku bergetar, sms masuk dari ayah rupanya. "Kak, masih di stadion ? Langsung pulang yaa, PERSIJA kan udah menang tuh." begitu isi smsnya. Entahlah, aku tak enak hati membaca sms itu, dan ku putuskan untuk segera pulang. Anehnya sesampainya aku di rumah ayah dan ibu tidak memarahi aku. Ayah justru menanyakan bagaimana tadi suasana di stadion. Yaa Tuhan... terima kasih untuk hari ini.

"Kak besok kamu ga usah nonton yaa, kan lawannya PERSIB nanti pasti deh rusuh. Kamu nonton di rumah aja yaa." ujar ayah padaku malam itu. Siaaal !! Beliau tau saja jika besok aku sudah memiliki rencana untuk datang ke stadion menyaksikan partai yang sudah pasti dinantikan semua JAKMANIA, PERSIJA melawan PERSIB ! Aku terdiam, namun berusaha mengiyakan omongan ayahku itu. Keesokan harinya, seperti biasanya aku berangkat ke kampusku. Sepanjang perjalanan aku merasakan gelisah yang luar biasa. Yaa Tuhan... Aku sayang orang tuaku, namun aku pun sangat mencintai sepakbola, mencintai PERSIJA yang sudah menjadi bagian dalam hidupku. Dan akhirnya lagi-lagi aku harus berbohong kepada orang tuaku demi menonton tim kesayanganku itu bertanding. Dengan alasan ingin mengerjakan tugas kuliah, aku izin kepada orang tuaku jika akan pulang malam hari ini. Siangnya pun aku menuju SUGBK dari kampusku dengan menggunakan sepeda motor. Aku masih saja belum sanggup menghilangkan perasaan gelisah itu. Sampai akhirnya aku mengalami kecelakaan di daerah pancoran, beruntung mobil di belakangku melaju dalam kecepatan yang lamban, jika tidak .. Aku mungkin sudah berada di neraka saat ini. Dengan keadaan yang masih kaget dan tanganku yang sakit karna terkilir, aku melanjutkan perjalananku ke stadion. Sesampainya di stadion, ku ganti pakaianku dengan atribut PERSIJA. Ku perhatikan tanganku akibat kecelakaan tadi, yaa Tuhan... Tanganku bergeser dan tidak bisa dikembalikan seperti semula. Mungkin ini teguran karna aku sudah berbohong kepada orang tuaku. Hasil pertandingan kali ini pun imbang, ini bukan hariku sepertinya.

"JAKARTA JAKARTA THE JAK YANG PUNYA BUKAN POLISI..." Gue shintia, gue suka sepak bola sejak duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. PERSIJA... Ga ada alasan tertentu bagi gue untuk mencintai PERSIJA, gue hanya ingin berusaha memberikan dukungan yang terbaik bagi PERSIJA. Gue anggota JAKMANIA biasa. Niat gue selama ini cuma dua, mendukung PERSIJA dan memperbanyak temen-temen JAKMANIA gue, udah itu aja. Terus apa hubungannya sama POLISI ? Ayah gue seorang polisi, polisi yang katanya jadi salah satu musuh besar JAKMANIA. Karena dulunya, kepolisian daerah Jakarta sulit sekali untuk memberikan izin bermain PERSIJA di JAKARTA. Sekalinya mendapatkan izin, terkadang harus dijalani tanpa penonton. Saat nyanyian rasis tentang sosok polisi itu keluar, gue ga pernah ikut bernyanyi, dari seorang polisi lah gue bisa makan, dan karna seorang polisilah gue jadi gue yang sekarang. Ayah gue itu sekarang memang udah ga ngizinin gue buat nonton PERSIJA, dan maaf, kebiasaan berbohong demi PERSIJA pun selalu ada setiap PERSIJA akan bertanding di kandangnya. Anehnya setiap TIMNAS INDONESIA yang bermain ayah gue pasti selalu memberikan gue izin, katanya kalo udah jadi satu warna sangat kecil peluangnya untuk terjadi kerusuhan. Dan apakah salah jika ayah gue yang kebetulan seorang polisi berpikir demikian ? Menurut gue setiap individu di muka bumi ini bebas memiliki pendapatnya masing-masing. Gue mencintai PERSIJA tapi gue sangat menghormati kedua orang tua gue, kedua orang yang paling depan melarang gue buat mendukung PERSIJA secara langsung ke stadion. Mungkin gue emang masih berbohong jika ingin menyaksikan PERSIJA secara langsung di stadion, karena mereka bilang DEMI PERSIJA APAPUN KU LAKUKAN ! Gue tahu gue salah, terbukti disalah satu cerita tadi gue mengalami musibah saat ingin menyaksikan pertandingan PERSIJA di stadion, tapi gue ga punya pilihan lain. Orang tua gue, PERSIJA, dan rekan-rekan JAKMANIA adalah segalanya buat gue. Dengan menjadi supporter yang baik dan tidak anarkis, gue rasa itulah cara gue menunjukkan tanggung jawab gue ke orang tua dan juga PERSIJA.

No comments:

Post a Comment