May 2, 2013

#CERPEN3



Hai perkenalkan, namaku Diana. Hanya Diana, tidak ada gelar ataupun nama keluargaku di belakangnya. Aku tinggal bersama ibuku. Tidak ada keluarga lagi selain ibuku yang aku tahu. Ayahku ? Bahkan aku tidak tahu siapa ayahku hingga aku beranjak dewasa. Ibu hanya mengatakan bahwa ayah sudah sejak lama meninggal bahkan sebelum aku lahir, namun anehnya ibu tidak pernah memberi tahu dimana letak makam ayah. Aku tidak mendesak atau pun memaksa ibu untuk memberi tahuku, mungkin ibu memiliki alasan kuat untuk merahasiakannya dariku. Aku memang selalu menuruti kata-kata ibu. Apa pun perintahnya. Hanya ibu yang ku miliki, hanya ibu orang yang aku perjuangkan kebahagiaannya. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menuruti dan menghargai keputusannya.

Aku dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat hebat. Sejak dulu dia selalu mati-matian berjuang dan bekerja keras demi memasukkan aku ke bangku sekolah. Dulu ibu sering meninggalkan aku sendirian. Aku tidak paham betul apa pekerjaannya. Saat aku duduk di sekolah menengah atas, ibu berhenti dari pekerjaannya. Menurut ibu dia lebih baik banyak menghabiskan waktu di rumah bersamaku. Lagi pula simpanan uang dari pekerjaannya dulu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. Berhenti dari pekerjaannya, ibu mulai sering membuat kue-kue kering. Terkadang, aku membawanya untuk aku perjual belikan di sekolah. Kue ibu sangat enak. Ibuku sungguh sempurna, selain cantik dia benar-benar wanita yang mandiri.

Aku dan ibu bukan berasal dari kalangan atas, atau dari kelas bawah. Kami berdua selalu hidup sederhana. Kata ibu, asal setiap harinya masih bisa bertemu dengan sesuap nasi, itu sudah lebih dari cukup. Aku sungguh bangga memiliki ibu. Aku banyak belajar tentang kehidupan dari sosoknya. Setelah aku lulus dari bangku sekolah, aku tidak melanjutkan dunia pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku lebih memilih menekuni hobiku sebagai seorang model. Sejak sekolah dulu aku sudah berkarir sebagai gadis sampul. Gadis sampul penjual kue kering, itu julukanku saat SMA. Sekarang aku tidak lagi menjual kue kering, ibu sudah berhasil membuat toko kuenya sendiri dan memiliki beberapa pegawai. Mungkin dari penjelasanku tadi, kalian sudah bisa membayangkan bagaimana kehidupan yang aku jalani bersama ibuku bukan ? Baiklah, biarkan aku menceritakan kisah hidupku pada kalian dan selamat menikmati setiap peristiwa yang terjadi dalam ceritaku dan ibuku.

Jakarta, 2007…
Saat ini usiaku 25 tahun. Karir modelku dapat dikatakan cukup sukses. Wajahku selalu terpampang di cover beberapa majalah terkenal. Aku senang menjalani dunia modelku. Aku mencintai pekerjaanku karna memang sejak kecil aku sangat berkeinginan keras untuk menjadi seorang model. Dengan hasil kerja kerasku di dunia model, aku sudah mampu menyewa salah satu apartemen di Jakarta, dan kemudian menjadi tempat tinggal bersama ibuku. Apartemen ini hanya kami tempati saat malam hari. Di siang harinya, aku sibuk dengan pekerjaanku dan ibuku sibuk di toko kuenya. Kami memang jarang sekali bertemu, tapi kami selalu berhasil memanfaatkan waktu di setiap malamnya untuk saling bercerita apa saja yang telah kami lewati di setiap harinya.

Suatu hari, aku ditawari untuk mengikuti fashion show salah satu produk parfum terkenal di kota Paris. Iya, Paris ! Kota yang dikenal sebagai kota mode, kota yang sudah menjadi impian banyak model untuk mengadakan fashion show di kota ini. Aku sendiri tidak akan pernah mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Apa lagi ibu tidak keberatan jika untuk sementara aku pergi meninggalkannya demi pekerjaanku. Dan akhirnya aku bersama beberapa model terpilih lainnya, akan bersiap menghadapi dunia model yang sesungguhnya di Paris. Cita-citaku untuk go international sudah ada di depan mata.

Paris, 2008…
Di kota inilah sekarang aku berada. Menjalani karir modelku dengan lebih serius lagi. Aku banyak belajar hal baru dari sini, dan aku sangat berterima kasih kepada Tuhan untuk ini semua. Semakin hari aku semakin berhasil menjadikan diriku sebagai model yang patut diwaspadai keberadaannya oleh model lainnya. Karirku sukses, aku berhasil, terima kasih bu ! Hampir setiap harinya jadwalku selalu penuh dengan kegiatan modeling. Seperti sesi foto, fashion show, menjadi bintang iklan, dan masih banyak lagi. Tapi aku selalu menyempatkan waktu menghubungi ibuku lewat email atau melalui skype. Dengan berkomunikasi dengan ibu, aku mampu melupakan semua rasa lelah yang menghampiriku setelah bekerja seharian. Aku tidak bisa membayangkan jika aku tidak memiliki teman berbagi cerita seperti ibu, mungkin aku sudah mati kelelahan dengan padatnya aktivitasku.

Malam ini setelah melepaskan rinduku dengan ibu lewat skype, aku bersiap untuk melakukan fashion show yang bisa dibilang cukup menegangkan bagiku. Fashion show kali ini akan dihadiri oleh model- model senior, serta perancang busana yang namanya sudah terkenal di seluruh penjuru dunia. Demi Tuhan, aku sangat gugup. Namun kata ibu, aku pasti bisa menaklukan pekerjaanku dengan cukup baik. Ibu benar, malam ini fashion show yang aku lakukan mendapatkan sambutan yang meriah dari semua orang yang hadir. Aku puas dengan hasil dari apa yang sudah aku kerjakan hari ini.

Setelah berganti kostum, aku bergegas untuk segara pulang ke apartemen, aku benar-benar lelah. Namun sebelum aku menuju ke area parkir, ada seorang pria yang menahan langkahku. “Diana bukan ? Perkenalkan, aku Rio. Kita berdua sama-sama orang Indonesia yang sedang merantau jauh di negara ini. Aku kagum dengan penampilanmu tadi, kamu sungguh menawan. Jika boleh, aku ingin bekerja sama denganmu. Ini kartu namaku.” ujarnya ramah. “Oh hai Rio. Terima kasih untuk pujianmu, namun janganlah berlebihan aku takut besar kepala. Terima kasih atas tawaranmu, aku akan menyimpan kartu namamu. Maaf karna aku harus segera pulang, aku benar-benar lelah.” “Oh tentu saja, aku harap kita bisa bertemu lagi untuk mengobrol lebih banyak Diana. Aku tunggu kabarmu, dan akan selalu aku tunggu.” katanya lagi. Tanpa menjawab, aku hanya tersenyum dan berjabat tangan dengannya lalu bergegas pulang dan segera menutup hari ini dengan beristirahat. 

Keesokan harinya…
Pagi ini aku bisa sedikit memanjakan tubuhku, karna kebetulan hari ini tidak ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku melihat kartu nama yang diberikan pria itu semalam. Rio Rangga Dewayana. Fotografer. Ternyata pria itu seorang fotografer, dan sepertinya aku mulai sedikit tertarik. Di kartu nama itu terdapat alamat studio foto dimana dia bekerja, dan aku memutuskan untuk melihat-lihat ke sana dari pada aku berdiam diri di apartemenku.

Di sinilah aku berada sekarang. Di depan studio foto yang memiki nama “DewayanArt” dan tertampang cukup  jelas. Bangunan studio foto yang tidak terlalu besar namun sangat elegan dengan konsep retro yang dipilih. Menarik. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menginjakkan kakiku untuk masuk ke studio foto tersebut. Luar biasa. Hanya itu yang tersirat dalam benakku ketika melihat koleksi foto yang terpajang di studio ini. Rio sangat berbakat, bagiku dia memiliki sisi seni yang sangat hebat. Aku baru melihat hasil karya yang sedemikian indahnya seperti ini. “Diana, oh hai ! Suatu kehormatan bagiku dan studio foto ini mendapatkan tamu seorang model profesional sepertimu. Kenapa tidak mengabariku terlebih dahulu kalau ingin datang hari ini.” ujarnya saat menyadari keberadaanku di antara pengunjung yang lain. “Maaf jika aku tidak mengabari terlebih dahulu. Rio, menurutku semua hasil fotomu ini sangatlah luar biasa. Jiwa seni yang cukup hebat mengalir dalam dirimu. Luar biasa.” “Kali ini kamu yang memujiku terlalu berlebihan Diana. Mari kita mengobrol lebih banyak lagi, di dekat sini ada kedai kopi yang jadi favoritku, kamu mau kan ?”

Setelah memesan kopi favorit masing-masing, kami berdua membicarakan banyak hal. Tentang kecintaanku pada dunia model. Tentang kecintaan Rio terhadap dunia fotografi. Baru hari ini bertemu dan saling bertukar cerita, aku merasa Rio adalah sosok yang menyenangkan. Usianya 27 tahun, terpaut dua tahun dariku. Kami dapat dibilang masih cukup muda, dan kami sama-sama mencintai pekerjaan yang kami tekuni. “Diana, kamu ingat kemarin malam tentang ajakanku untuk mengadakan kerja sama denganmu ? Kalau tidak keberatan aku ingin melibatkanmu dalam ajang pameran fotoku selanjutnya. Bagaimana menurutmu ?” tanya Rio. “Pameran foto ? Dan aku yang menjadi objekmu ? Melihat hasil karyamu di studio tadi sudah cukup membuatku kagum, apa lagi aku dijadikan objek dari lensa kameramu, I’m so glad to hear that Rio !” “Mungkin kita memang baru kenal Diana, bahkan baru semalam. Tapi sudah sejak lama aku memperhatikanmu, memperhatikan setiap pekerjaan yang kamu kerjakan, dan berharap suatu saat nanti diberikan kesempatan untuk bisa bekerja sama denganmu. Dan saat yang aku tunggu pun akhirnya datang juga. Jadi bagaimana, bersediakah kamu menjadi partner dalam pameran fotoku Diana ?” tanya Rio. “Tentu saja, aku tertarik bekerja sama denganmu. Jadi, kapan kita mulai proyek ini Mr. Dewayana ?” “Minggu depan, aku tunggu di kedai kopi ini.”

Malam harinya seperti biasa, aku berkomunikasi dengan ibu melalui YM. Aku menceritakan pertemuanku dan kerja samaku dengan Rio. Aku sungguh tidak sabar untuk minggu depan, saat akan memulai kerja sama ini dengan Rio. Ibu justru menggodaku, ibu menanyakan apakah Rio tampan ? Bagaimana perasaanku terhadap Rio ? Atau apakah Rio sudah memiliki pasangan hidup ? Oh demi Tuhan. Bahkan aku baru sebentar mengenal Rio, bagaimana mungkin aku sudah mengenal Rio sejauh itu. Dan aku berani bertaruh jika ibu sedang tersenyum puas di seberang sana karna sudah berhasil membuatku “menyerah”.

Satu minggu berlalu. Aku kembali bertemu Rio di tempat yang sudah kami janjikan. “Jadi, akan dimulai dari mana kerja sama kita Mr. Dewayana ?” tanyaku pada Rio. “Pertama kita akan mengunjungi butik milik salah satu temanku, di sana kita akan memilih beberapa kostum yang akan kau kenakan dalam pemotretan nantinya Diana. Dan ada satu syarat, kau tidak boleh bertanya apa tema pameran yang sedang aku kerjakan, anggap saja aku sedang berusaha memberikan kejutan padamu. Deal ?” “Baiklah Mr. Dewayana ! Let’s begin !”

Sesampainya di butik yang dimaksud oleh Rio, dia langsung memilih beberapa gaun untukku. Hampir semuanya berwarna gelap, entahlah, aku tidak mengerti apa maksudnya tapi aku hanya menuruti setiap perkataannya, apa saja yang boleh aku lakukan dan apa yang tidak seharusnya aku kerjakan. Sungguh, hanya dengan sekali melihat hasil jepretannya, aku benar-benar merasa bangga saat Rio memintaku terlibat dalam pamerannya. Dia sungguh luar biasa, dan ini bukanlah pujian yang berlebihan menurutku.

Setelah memutuskan gaun apa saja yang akan aku gunakan, Rio kemudian mengajakku ke salah satu teman yang juga biasa bekerja sama dengannya. Seorang make up artist. Dan di tangan temannya aku di rubah menjadi sesuai permintaan Rio. Dua jam setelah aku berhasil dirubah, Rio pun mengajakku ke tempat dimana dia akan mengambil beberapa gambar untuk pamerannya. Perjanjian sejak awal, aku tidak boleh bertanya kemana dia akan membawaku pergi, jadi sepanjang perjalanan aku hanya diam sambil terus memandangi pemandangan saat sore hari di kota ini dari kaca mobil Rio.

Dan akhirnya sampailah kami berdua di tempat tujuan. Dan saat ini kami berdua sedang berdiri di dekat Sungai Seine. Sungai yang cukup bersih dan dilalui beberapa kapal kecil. Bukan sungai ini yang menjadi latar dari pemotretan yang akan kami lakukan. Melainkan bagunan yang terdapat di seberangnya. Notre Dame de Paris. Bangunan yang tidak terlalu besar, tapi sungguh terlihat sangat cantik, view pada malam hari seperti saat ini pun menambah keanggunan tersendiri pada bangunan tersebut. Notre Dame de Paris merupakan gereja katredal yang memiliki konsep gothic dan merupakan salah satu arsitektur gothic yang paling cantik di Paris.

“Aku pikir kau akan membawa aku ke Eiffel, ternyata kamu justru membawaku ke gereja. Dan aku sebenarnya masih penasaran akan tema pameranmu nanti Rio.” ujarku. “Eiffel ? Sudah banyak orang yang melakukan pemotretan di menara itu. Percayalah padaku Diana, hasil fotomu kali ini bahkan akan lebih indah dari pemandangan di Eiffel.” kata Rio sambil tersenyum penuh keyakinan.

Pukul tujuh malam waktu Paris. Kami berdua memulai pekerjaan ini. Rio begitu serius saat mengarahkanku sesuai dengan apa yang dia inginkan. Aku melihat sorot matanya yang tajam, seperti mampu menangkap segala keindahan yang terdapat di depannya dan harus segera dia abadikan dengan kameranya itu. Terkadang, aku justru yang kehilangan konsentrasiku, aku dibuat takjub oleh sorot matanya itu, mata yang penuh dengan keyakinan di setiap tatapan. Luar biasa sekali pria ini, ujarku dalam hati.

Pukul satu dini hari waktu Paris. Akhirnya selesai sudah pemotretan hari ini. Seandainya saja bisa diulang, aku ingin melakukannya sekali lagi. Aku tidak merasakan lelah seperti biasanya. Entahlah, menyenangkan rasanya bekerja sama dengan Rio. Mungkin lain kali, aku harap. Rio mengantarkanku kembali ke apartemen. “Terima kasih untuk hari ini Diana. Aku kagum denganmu. Beri aku waktu dua minggu untuk mempersiapkan semuanya. Mempersiapkan pameranku dan pada akhirnya memperlihatkan pada semua pasang mata di Paris tentang hasil pekerjaan kita berdua, memperlihatkan sisi lain dari kota ini. Sekarang saatnya aku untuk pulang, dua minggu lagi aku akan kembali menjemputmu. Jika kau merindukanku, hubungi saja aku.” tutupnya sambil tertawa kecil.

Dua minggu bagiku waktu yang sangat lama untuk kembali bertemu Rio dan melihat hasil foto-fotonya. Aku sama sekali tidak menghubunginya, aku hanya ingin membiarkan Rio fokus terhadap persiapan pamerannya. Aku tahu ini pasti akan menjadi sesuatu yang luar biasa bagiku. Aku berdoa pada Tuhan, agar memutar waktu lebih cepat jadi aku segera bertemu kembali dengannya. Agar aku kembali melihat sorot matanya yang terus membuatku bertanya, siapa sebenarnya pria hebat ini ? 

Besok, tepat dua minggu dari waktu yang sudah ditentukan oleh Rio. Dan hari ini aku hanya menghabiskan waktu bersama ibu lewat layar laptopku. Aku tidak pernah merahasiakan apa pun dari ibu. Aku menceritakan segalanya. Dan ibu, selalu manjadi pendengar yang baik, tapi tetap saja berusaha menggodaku dengan menanyakan kelanjutan hubunganku dengan Rio. Belum genap sebulan aku mengenalnya, bahkan hanya beberapa kali bertemu, mungkinkah aku mulai memiliki rasa terhadapnya ? Aku tidak tahu, tapi jika boleh jujur, aku jatuh cinta pada sorotan matanya. Hanya matanya ?

Pukul lima sore, sesuai dengan apa yang Rio janjikan, dia kembali datang menjemputku. Aku sungguh antusias untuk hari ini. “Hai Diana, sudah siap untuk mengubah Paris hari ini ? Dan seperti biasa, kau selalu terlihat cantik.” ujarnya. “Sudah selesai memujiku Rio ? Bagaimana kalau kita segera pergi untuk melihat pameranmu ? Aku hampir mati karna menahan sabar selama dua minggu ini.” “Hahaha ternyata kamu ini humoris juga. Bukan pameranku Diana, tapi pameran kita. Baiklah, mari kita berangkat nona manis.”

Pukul tujuh malam, dan akhirnya sampailah kami di tempat tujuan, tempat yang sama dimana dua minggu yang lalu Rio mengambil gambarku. Notre Dame de Paris. Sudah terlihat banyak orang di sana dan tampak beberapa pigura foto yang terpajang dengan sangat rapi. Rio sungguh detail dalam menyelesaikan pekerjaan sehingga semuanya terlihat sempurna. Dan aku sendiri terlihat takjub dengan gambarku yang terpajang di sana. Rio membuatku terlihat anggun di depan bangunan itu, pengaturan cahaya yang mengagumkan, dia tahu sudut mana saja yang mampu menghasilkan foto terbaik. Benar-benar luar biasa, Rio sungguh hebat ! pujiku dalam hati.

“Terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan waktu dan hadir dalam pameranku kali ini. Pameran yang berbeda dari apa yang sudah aku kerjakan sebelumnya. Aku merasakan sesuatu yang bebeda, sesuatu yang seakan mengajakku untuk mencari sesuatu yang baru di kota ini. Aku sangat antusisas saat melakukan pekerjaan ini hingga akhirnya mampu menyelesaikan semuanya sesuai dengan apa yang aku harapkan. Dan untuk malam ini, aku persembahkan pada kalian, belle dans l'obscurité ! Dan tak lupa aku mengucapkan terima kasih pada seseorang yang telah bersedia menjadi objekku kali ini, merci beaucoup, Diana.

Selesai dari pameran itu, aku tidak bisa berhenti memuji Rio saat mengobrol menghabiskan malam panjang di kedai kopi yang kami kunjungi dulu. Malam panjang yang menyenangkan, malam panjang yang sangat indah, sepertinya aku tidak ingin membiarkan waktu berlalu begitu saja. “Diana, terima kasih telah membantuku untuk membuat pameran ini berhasil. Pasti akan berbeda hasilnya jika bukan kamu model dalam fotoku, aku yakin itu. Rasanya sudah cukup aku mengucapkan rasa terima kasih padamu, bolehkah aku mengucapkan rasa yang lainnya kepadamu Diana ? Bolehkah aku mengatakan jika aku mencintaimu Diana ? Bolehkah ?” “Rio, apa kau serius ? Cinta ? Bagaimana mungkin ?” “Aku sendiri tidak tahu Diana, aku tidak tahu alasannya sehingga aku berani menyatakan bahwa perasaan ini adalah cinta. Tapi, aku yakin, aku mencintaimu, vous serez mes copines Diana ?

Dan sejak malam itu, aku menjalani kisah hidupku yang baru bersama Rio, bersama pria yang ku cintai sorot matanya. Aku bahagia, aku benar-benar bahagia memiliki Rio dalam hidupku. Setelah ibu, Rio juga telah menjadi orang yang penting bagiku. Ibuku pun menyetujui hubunganku dengan Rio. Dengan mendengar ceritaku tentang Rio, ibu yakin jika Rio adalah pria yang pantas untukku. Ibu pun berharap kami bisa menikah secepatnya, karna ibu ingin memiliki seorang cucu sesegara mungkin. Aku hanya tersenyum setiap kali ibu bertanya padaku lewat email, kapan kau menikah nak ? 

Paris, 2010…
Sudah dua tahun aku berada di kota ini. Sudah dua tahun aku tidak bertemu dengan ibu. Dan sudah dua tahun pula Rio membuat hari-hariku menjadi lebih berwarna. Selama dua tahun aku selalu mengirimkan foto-fotoku bersama Rio untuk ibu, setidaknya ibu tahu wajah Rio walau hanya melalui foto. Kelanjutan hubunganku dengan Rio ? Kami sudah bertunangan dan akan segera menikah. Dua minggu yang lalu, Rio melamarku, disaksikan oleh gemerlap malam hari di depan menara Eiffel. Dan kami sepakat akan menikah di negara asal kami, di Indonesia.

Seminggu sebelum kepulanganku ke Indonesia, aku mengirimkan email untuk ibu. Mengabarkan bahwa sebentar lagi aku akan pulang dan segera menikah dengan Rio, dan tak lupa aku menyertakan kembali fotoku dengan Rio, kali ini lengkap dengan orang tua Rio yang memang tinggal di Paris. Aku pun menunggu balasan email dari ibu. Namun aneh, kali ini ibu tidak merespon emailku dengan cepat. Apa ibu terlalu sibuk untuk membaca dan membalas email dariku ? Tapi ini benar-benar aneh, biasanyaa sesibuk apa pun ibu, dia pasti akan dengan cepat membalas email dariku. Ada apa denganmu bu ? 

Tiga hari setelahnya, ibu tak juga membalas emailku, aku mulai khawatir. Akhirnya aku coba menghubungi salah satu pegawai di toko kue ibu. Dan sungguh terkejutnya aku saat dia mengatakan padaku bahwa kondisi ibu memburuk. Tiga hari yang lalu tiba-tiba saja ibu jatuh pingsan dan hingga saat ini belum sadarkan diri. Lemas. Aku benar-benar lemas ! Akhirnya aku dan Rio memutuskan pulang ke Indonesia lebih awal dan kedua orang tua Rio akan menyusul. Ibu, tunggu aku, aku akan segera pulang dan semuanya pasti akan baik-baik saja.

Jakarta, 2010…
Setelah mendarat di Jakarta, tanpa pikir panjang, aku dan Rio langsung menuju ke rumah sakit dimana ibuku terbaring tak berdaya. Aku ingin segera bertemu ibu, aku ingin segera memeluk ibu, aku rindu ibuku. Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menemui ibuku di kamarnya. Tangisku seketika pecah saat melihat ibu. Ibu tidak sadarkan diri, ibu tidak tahu jika aku sudah datang, ibu tidak tahu jika aku sudah mencium kening dan tangannya. Kata dokter yang menangani ibu, ibuku terkena serangan jantung dan hal itulah yang menyebabkan ibu harus berada di tempat ini. Tuhan, jika boleh, jika boleh sekali saja, aku ingin melihat senyum di wajah ibuku, sekali saja Tuhan, ku mohon… 

Tapi Tuhan tidak mengabulkan permintaan yang menurutku sangat sederhana itu. Tuhan memanggil ibu untuk pulang bersamaNya. Tuhan yang akan memeluk ibu lebih lama. Tuhan tidak mengizinkan aku untuk kembali bercerita dengan ibu. Dua tahun aku tidak bertemu dengan ibu, dan akhirnya aku tidak akan bertemu dengan ibu selamanya. Selamanya. Siapa yang akan membantuku mengenakan gaun pengantinku nanti ? Siapa yang akan merestui pernikahanku nanti bu ? Siapa bu ? Hanya ibu yang aku punya, dan kini ibu pergi ? 

Sebulan setelah pemakaman ibu, pernikahanku dengan Rio akan tetap dilaksanakan. Ini janjiku pada ibu untuk segera menikah dan mengakhiri kesendirianku bersama orang yang sudah Tuhan hadirkan dalam kehidupanku. Rio berbeda denganku, dia memiliki keluarga yang cukup banyak di kota ini. Tidak seperti aku yang tidak mengetahui siapa saja kolegaku di dunia ini. Beruntunglah aku, karna banyak tangan yang akan membantu kami dalam mempersiapkan pernikahan ini. 

Dua  jam sebelum akad nikah, kamar ibu…
Seandainya ibu ada di sini, dia pasti senang melihatku. Tapi aku yakin, ibu melihatku dari sana, ibu tetap tersenyum dan mendoakanku dari kejauhan. Aku yakin itu. Kemudian aku melihat laptop ibu, aku penasaran, apa malam itu ibu sempat membaca emailku sebelum akhirnya jatuh sakit. Akhirnya aku membuka email ibu hanya untuk memastikan. Dan ternyata ibu membacanya, mungkin ibu tidak sempat membalas karna tiba-tiba jatuh pingsan, pikirku. Tapi di bagian draft, aku melihat satu pesan di sana. Apa mungkin ibu ingin membalas tapi tidak sempat mengirimnya padaku ? Dan untuk menjawab pertanyaanku, aku membuka folder draft pada email ibu.

“Diana putriku yang sangat ibu banggakan. Saat tahu kau akan menikah, ibu baru menyadari bahwa kau sudah beranjak dewasa, Diana putri kecilku yang ibu besarkan sendirian sudah berhasil meraih seluruh mimpinya. Ibu bangga pernah memilikimu dalam hidup ibu nak, sangat bangga. Apa kau tahu nak, ada banyak hal yang terkadang tidak bisa dipahami oleh akal sehat dan hati nurani manusia. Terlalu banyak dan tidak ada yang bisa menjelaskan selain waktu, iya, hanya waktu yang bisa menjawab segala misteri yang terjadi dalam hidup kita nak. Saat kau mengirimkan foto itu, ibu menyadari bahwa segala peristiwa yang terjadi dalam hidup kita pasti memiliki kaitan satu dengan yang lainnya. Rio pria yang sangat baik, ibu yakin itu. Tapi tahukah kau anakku, sebesar apapun kamu mencintainya dan sekuat apapun cintanya padamu, Tuhan tidak pernah sama sekali menuliskan nama kalian dalam buku takdirnya, dan itu tidak akan pernah terjadi anakku. Demi Tuhan Diana, ada banyak pria baik di luar sana, tapi mengapa Dia membiarkan kau jatuh cinta pada Rio ? Tapi kembali lagi seperti apa yang telah ibu katakan sebelumnya, ada banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh manusia. Kau tidak boleh mencintai Rio nak, begitu juga sebaliknya. Tapi berterima kasihlah pada Rio, karna dia lah kau menemukan jawaban dari pertanyaan yang selalu kamu lontarkan pada ibu nak. Pertanyaan yang ibu sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu. Maafkan satu kebohongan yang telah ibu lakukan padamu Diana, maafkan ibu nak. Berusahalah mencintai pria lain Diana. Berusahalah berhenti mencintai Rio, berusahalah nak, untuk berhenti mencintai kakakmu sendiri. Pria tua dalam foto itu, ayah Rio, dia juga ayahmu Diana. Maafkan ibu Diana Dewayana, maafkan ibu.”

No comments:

Post a Comment