Tulisan
yang mungkin sangat terlambat untuk dibuat, atau diceritakan kembali. Tapi tidak
ada salahnya kan, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali ?
Hehe.
Pagi
itu, saya terbangun lebih awal, padahal malam sebelumnya saya tidak bisa tidur
dengan nyenyak. Yap… Mengingat pada saat itu saya akan melakukan tour tandang
untuk mendukung Persija di Malang. Saya ingat betul kondisi saya saat itu.
Merasakan sakit di sekujur tubuh, mulai dari sakit kepala, flu, bahkan sampai
batuk yang mengeluarkan cairan merah berbau amis. Tapi bukan saya namanya jika
tidak “nekad”, dengan uang yang tidak terlalu banyak dan mempersiapkan apa saja
yang seharusnya saya bawa, saya pun siap untuk pergi ke kota orang.
Jumat,
28 Juni 2013. Pukul 10 malam, bahkan hampir mendekati setengah sebelas malam,
lima bis rombongan dari sekretariat jakmania di Lebak Bulus baru meninggalkan
tempat dan melakukan perjalanan tour tandang. Kantuk pun menyerang, padahal
saya sama sekali belum meminum obat sebelum berangkat. Mungkin karna faktor
kelelahan dan kurang enaknya kondisi badan pada saat itu, membuat rasa kantuk
lebih cepat menyerang dari biasanya.
Bukan
tour tandang namanya, jika selama perjalanan tidak mengalami masalah demi
masalah. Mulai dari mengalami pecah ban, jalanan macet, bahkan sampai salah
jalan. Perjalanan dari Jakarta menuju Kota Malang tidak pernah selama ini yang
menghabiskan waktu hingga dua malam. Semakin lelah saja rasanya, jika harus
tidur dalam posisi duduk dalam kurun waktu selama itu.
Malam
kedua dibis, rombongan kami baru saja sampai di Semarang. Jenuh, lelah, semua
perasaan menjadi satu tak karuan. Termasuk rasa kangen akan sosoknya. Malam itu,
saat semua penghuni bis terlelap, saya pun memutuskan untuk menghubungi orang
itu melalui telpon. Dan yap… Seperti biasa pembicaraan kami berdua melalui
telepon tidak pernah menyenangkan. Selalu saja dia berhasil membuat emosi saya
meluap. Bukannya menghibur justru semakin membuat saya merasa sangat lelah.
Tapi setidaknya, mendengar suaranya bisa sedikit menghilangkan rasa kantuk
malam itu. Menyebalkan tapi selalu membuat kangen, itu kamu ! “Hati-hati di perjalanan. Ga duduk sama cowok
kan ? Semoga semua selamat, semoga Persija menang.”
Hari
ketiga, tepat dimana malam harinya Persija akan bertanding melawan Arema,
rombongan kami baru tiba di Stadion Kanjuruhan. Saya sempatkan diri untuk
mandi, berganti pakaian, mengisi perut dan beristirahat sejenak untuk
mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaga yang ada. Cuaca saat itu cukup terik,
namun sempat turun gerimis yang menimbulkan bau tanah yang basah, khas saat hujan.
Sekitar
pukul empat sore, saya sudah masuk ke dalam Stadion Kanjuruhan, padahal waktu
kick off masih sekitar tiga jam lagi. Tapi, keadaan di dalam stadion sudah
cukup ramai, baik oleh Aremania atau pun dari teman-teman Jakmania yang sudah
tidak sabar untuk pertandingan hari itu. Saat itu saya hanya berdua dengan
teman saya, dan saya ingat sore itu dia berkata “Sepi ya kali ini tour cuma berdua, yang lain ga ikut.” Dan saya
hanya tersenyum mendengarnya. “Tuhan,
sertakanlah restuMu pada kaki-kaki macan yang akan bertanding nanti malam.”
Doa saya dalam hati, pada saat itu.
Pertandingan
pun dimulai. Dan untuk pertama kalinya saya bermain senar di stadion haha,
mungkin saya hanya tidak ingin menghilangkan sosoknya dalam stadion saat
bermain bass drum. Jadi maaf, posisi kamu sempat saya gantikan malam itu, walau
permainan kamu jelas lebih bagus dari saya hehe. “Cara gue mendukung Persija ? Ya dengan terus semangat mukul bass drum,
berharap semangat gue nyampe ke semua pemain Persija.” Malam itu saya akhirnya
mengerti maksud omongan kamu dimana pertama kali kita mengobrol. Saya juga
merasakan sakitnya tangan yang terluka pada saat salah memukul, bukannya senar
justru besi penyangga yang terpukul oleh jari. Hasilnya memar dan memang sakit.
Sticknya pun sempat saya patahkan hehe.
Dan
Persija sudah kebobolan diawal pertandingan. Dua gol dari Arema, sedikit
membungkam teman-teman Jakmania yang hadir di Kanjuruhan. Tapi itu tidak bertahan
lama, kami tetap berteriak, memberikan semangat dan dukungan terbaik bagi macan
kemayoran. Berharap mereka akan tetap bermain dengan semangat, pantang menyerah
hingga pluit panjang dibunyikan. “Bangkit
Persija. Something wrong with you, ini bukan permainan Persija yang saya kenal.”
Babak
kedua posisi Persija masih tertinggal, bahkan Arema berhasil menambah gol dan
mempersulit Persija untuk merubah keadaan. Sampai pada akhirnya, ada whatsapp
yang masuk ke handphone saya dari salah satu teman. “Kak, kata akun itu skor akhir pertandingan hari ini 3-1 untuk Arema !”
Damn it !!! Saat sedang berusaha tetap menyemangati Persija dari pinggir
lapangan, saya harus kembali menerima kenyataan adanya “mafia” pada
pertandingan malam itu. Tapi kenapa ? Dan harus sampai kapan seperti ini ? Kami
datang jauh-jauh, bahkan harus mempertaruhkan nyawa, tapi hanya untuk menonton
suatu pertandingan yang sudah diatur ? Tidakah mereka tau arti kemenangan tim
bagi kami ? Oh Indonesia !
Dan
benar saja, pertandingan malam itu berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan
tuan rumah, Arema. Seketika saya ingat pada pertandingan Persija melawan Arema
diputaran pertama. Pertandingan yang sukses meledakkan emosi saya, menumpahkan
air mata kekecewaan. Kalah, kerusuhan, dan pada akhirnya menyebabkan Persija
kembali terusir. Malam itu di Kanjuruhan, sebenarnya saya ingin sekali kembali
menangis. Kecewa. Tapi bisa apa saya, selain pasrah dan mengusap dada
menghadapi kenyataan yang ada.
Malam
harinya sekitar jam sebelas, rombongan kami bersiap meninggalkan Kota Malang
dan bersiap kembali menuju Ibu Kota, Jakarta. Selamat tinggal “malang”, semoga
jika saya kembali lagi Persija berhasil mengalahkan Arema di rumahnya, tunggu
saja. Dan kami pun pergi dari kota apel itu. Ternyata nasib ”malang” belum juga
pergi dari saya, dan teman-teman saya. Keesokan paginya, bahkan belum tepat
pukul 6 pagi, di Kota Ponorogo, bis A yang saya tumpangi tergelincir dan hampir
masuk jurang. Mata saya yang tadinya sangat sulit untuk terbuka, mendadak segar
saat melihat dan menyadari posisi saya yang berhadapan langsung dengan jurang.
Ya Tuhan ! Tapi syukurlah, penumpang dan bis dapat dieavakuasi dan kami semua
kembali ke rumah dengan selamat. Terima kasih Tuhan.
Hmm…
Tour tandang memang tidak pernah menjadi biasa saja. Ada saja
peristiwa-peristiwa yang melibatkan seluruh jenis emosi yang ada. Demi Persija,
itu bukanlah suatu hal yang berlebihan. Walau pun pulang dari Malang dengan
tangan hampa, dan justru membuat kondisi badan semakin menurun, terbayar sudah dengan
mendapatkan teman-teman baru selama tour. Sampai ketemu di tour selanjutnya
Persija. I Love You.


No comments:
Post a Comment