July 13, 2013

Kota Malang yang Malang

Tulisan yang mungkin sangat terlambat untuk dibuat, atau diceritakan kembali. Tapi tidak ada salahnya kan, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali ? Hehe. 

Pagi itu, saya terbangun lebih awal, padahal malam sebelumnya saya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Yap… Mengingat pada saat itu saya akan melakukan tour tandang untuk mendukung Persija di Malang. Saya ingat betul kondisi saya saat itu. Merasakan sakit di sekujur tubuh, mulai dari sakit kepala, flu, bahkan sampai batuk yang mengeluarkan cairan merah berbau amis. Tapi bukan saya namanya jika tidak “nekad”, dengan uang yang tidak terlalu banyak dan mempersiapkan apa saja yang seharusnya saya bawa, saya pun siap untuk pergi ke kota orang.

Jumat, 28 Juni 2013. Pukul 10 malam, bahkan hampir mendekati setengah sebelas malam, lima bis rombongan dari sekretariat jakmania di Lebak Bulus baru meninggalkan tempat dan melakukan perjalanan tour tandang. Kantuk pun menyerang, padahal saya sama sekali belum meminum obat sebelum berangkat. Mungkin karna faktor kelelahan dan kurang enaknya kondisi badan pada saat itu, membuat rasa kantuk lebih cepat menyerang dari biasanya. 

Bukan tour tandang namanya, jika selama perjalanan tidak mengalami masalah demi masalah. Mulai dari mengalami pecah ban, jalanan macet, bahkan sampai salah jalan. Perjalanan dari Jakarta menuju Kota Malang tidak pernah selama ini yang menghabiskan waktu hingga dua malam. Semakin lelah saja rasanya, jika harus tidur dalam posisi duduk dalam kurun waktu selama itu.

Malam kedua dibis, rombongan kami baru saja sampai di Semarang. Jenuh, lelah, semua perasaan menjadi satu tak karuan. Termasuk rasa kangen akan sosoknya. Malam itu, saat semua penghuni bis terlelap, saya pun memutuskan untuk menghubungi orang itu melalui telpon. Dan yap… Seperti biasa pembicaraan kami berdua melalui telepon tidak pernah menyenangkan. Selalu saja dia berhasil membuat emosi saya meluap. Bukannya menghibur justru semakin membuat saya merasa sangat lelah. Tapi setidaknya, mendengar suaranya bisa sedikit menghilangkan rasa kantuk malam itu. Menyebalkan tapi selalu membuat kangen, itu kamu ! “Hati-hati di perjalanan. Ga duduk sama cowok kan ? Semoga semua selamat, semoga Persija menang.” 

Hari ketiga, tepat dimana malam harinya Persija akan bertanding melawan Arema, rombongan kami baru tiba di Stadion Kanjuruhan. Saya sempatkan diri untuk mandi, berganti pakaian, mengisi perut dan beristirahat sejenak untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaga yang ada. Cuaca saat itu cukup terik, namun sempat turun gerimis yang menimbulkan bau tanah yang basah, khas saat hujan.

Sekitar pukul empat sore, saya sudah masuk ke dalam Stadion Kanjuruhan, padahal waktu kick off masih sekitar tiga jam lagi. Tapi, keadaan di dalam stadion sudah cukup ramai, baik oleh Aremania atau pun dari teman-teman Jakmania yang sudah tidak sabar untuk pertandingan hari itu. Saat itu saya hanya berdua dengan teman saya, dan saya ingat sore itu dia berkata “Sepi ya kali ini tour cuma berdua, yang lain ga ikut.” Dan saya hanya tersenyum mendengarnya. “Tuhan, sertakanlah restuMu pada kaki-kaki macan yang akan bertanding nanti malam.” Doa saya dalam hati, pada saat itu. 

Pertandingan pun dimulai. Dan untuk pertama kalinya saya bermain senar di stadion haha, mungkin saya hanya tidak ingin menghilangkan sosoknya dalam stadion saat bermain bass drum. Jadi maaf, posisi kamu sempat saya gantikan malam itu, walau permainan kamu jelas lebih bagus dari saya hehe. “Cara gue mendukung Persija ? Ya dengan terus semangat mukul bass drum, berharap semangat gue nyampe ke semua pemain Persija.” Malam itu saya akhirnya mengerti maksud omongan kamu dimana pertama kali kita mengobrol. Saya juga merasakan sakitnya tangan yang terluka pada saat salah memukul, bukannya senar justru besi penyangga yang terpukul oleh jari. Hasilnya memar dan memang sakit. Sticknya pun sempat saya patahkan hehe.

Dan Persija sudah kebobolan diawal pertandingan. Dua gol dari Arema, sedikit membungkam teman-teman Jakmania yang hadir di Kanjuruhan. Tapi itu tidak bertahan lama, kami tetap berteriak, memberikan semangat dan dukungan terbaik bagi macan kemayoran. Berharap mereka akan tetap bermain dengan semangat, pantang menyerah hingga pluit panjang dibunyikan. “Bangkit Persija. Something wrong with you, ini bukan permainan  Persija yang saya kenal. 

Babak kedua posisi Persija masih tertinggal, bahkan Arema berhasil menambah gol dan mempersulit Persija untuk merubah keadaan. Sampai pada akhirnya, ada whatsapp yang masuk ke handphone saya dari salah satu teman. “Kak, kata akun itu skor akhir pertandingan hari ini 3-1 untuk Arema !” Damn it !!! Saat sedang berusaha tetap menyemangati Persija dari pinggir lapangan, saya harus kembali menerima kenyataan adanya “mafia” pada pertandingan malam itu. Tapi kenapa ? Dan harus sampai kapan seperti ini ? Kami datang jauh-jauh, bahkan harus mempertaruhkan nyawa, tapi hanya untuk menonton suatu pertandingan yang sudah diatur ? Tidakah mereka tau arti kemenangan tim bagi kami ? Oh Indonesia !

Dan benar saja, pertandingan malam itu berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan tuan rumah, Arema. Seketika saya ingat pada pertandingan Persija melawan Arema diputaran pertama. Pertandingan yang sukses meledakkan emosi saya, menumpahkan air mata kekecewaan. Kalah, kerusuhan, dan pada akhirnya menyebabkan Persija kembali terusir. Malam itu di Kanjuruhan, sebenarnya saya ingin sekali kembali menangis. Kecewa. Tapi bisa apa saya, selain pasrah dan mengusap dada menghadapi kenyataan yang ada. 

Malam harinya sekitar jam sebelas, rombongan kami bersiap meninggalkan Kota Malang dan bersiap kembali menuju Ibu Kota, Jakarta. Selamat tinggal “malang”, semoga jika saya kembali lagi Persija berhasil mengalahkan Arema di rumahnya, tunggu saja. Dan kami pun pergi dari kota apel itu. Ternyata nasib ”malang” belum juga pergi dari saya, dan teman-teman saya. Keesokan paginya, bahkan belum tepat pukul 6 pagi, di Kota Ponorogo, bis A yang saya tumpangi tergelincir dan hampir masuk jurang. Mata saya yang tadinya sangat sulit untuk terbuka, mendadak segar saat melihat dan menyadari posisi saya yang berhadapan langsung dengan jurang. Ya Tuhan ! Tapi syukurlah, penumpang dan bis dapat dieavakuasi dan kami semua kembali ke rumah dengan selamat. Terima kasih Tuhan.

Hmm… Tour tandang memang tidak pernah menjadi biasa saja. Ada saja peristiwa-peristiwa yang melibatkan seluruh jenis emosi yang ada. Demi Persija, itu bukanlah suatu hal yang berlebihan. Walau pun pulang dari Malang dengan tangan hampa, dan justru membuat kondisi badan semakin menurun, terbayar sudah dengan mendapatkan teman-teman baru selama tour. Sampai ketemu di tour selanjutnya Persija. I Love You.

( Sampai juga di Kanjuruhan setelah 36 jam perjalanan )


( Bareng Orin dan Kak Erna, 3 jam sebelum kick off )


( Ketemu temen SD di Kanjuruhan, yang juga ngenalin gue sama Persija )


( Tiket pertandingan Persija melawan Arema, 30 Juni 2013)


 ( Bis yang malang huft ! )

No comments:

Post a Comment