Entah
kapan pastinya saya lupa, seingat saya waktu itu diakun twitter pribadi saya,
saya pernah memposting kalimat seperti ini : “Cuek aja dibilang fans layar kaca klub luar negri, kalo selalu hadir di
stadion untuk mendukung klub lokal baik kandang atau pun tandang.” Dan
hasil retweet-an dari para followers saya pun lumayan. Setiap ada klub luar
negri yang berkunjung ke Indonesia, pasti dan memang selalu ada komentar dari
following saya di twitter tentang “fans layar kaca”. Dan kebanyakan memang
komentar yang kurang mengenakan. Saya pribadi pun memiliki klub luar yang saya
dukung walau memang hanya dalam layar kaca. Apa itu salah ? Bukankah
masing-masing memiliki kebebasan untuk menunjukkan rasa cintanya terhadap sepak
bola, baik luar atau pun dalam negri ?
Nasionalisme
dan Fanatisme. Naif rasanya jika selalu memperdebatkan kedua rasa tersebut yang
dimiliki oleh orang lain. Pertandingan sepakbola seharusnya menjadi salah satu
alat “pemersatu” walaupun memiliki “perbedaan”. Suporter dan fans, tentu
memiliki arti yang berbeda. Tapi kedua hal tersebut memiliki tujuan yang sama,
“mendukung dan menikmati sepakbola” dengan caranya sendiri. Saya suporter
Persija dan juga fans dari Chelsea FC yang kebetulan akan berkunjung dan
melawan BNI Indonesia All Stars pada 25 Juli mendatang. Jika ada yang bertanya,
jersey apa yang akan saya kenakan apa bila hadir pada pertandingan tanggal 25 nanti
? Atau, tim mana yang akan saya dukung, Chelsea FC atau Indonesia ? Mungkin
saya hanya bisa menjawab “Nanti saya
akan memakai jersey Chelsea FC yang dipadukan dengan jaket yang memiliki
lambang garuda di dada sebelah kiri. Soal tim mana yang saya dukung ? Intinya,
saya akan tetap mengumandangkan lagu Indonesia Raya sebelum kick off, setelah
itu biarkan saya menikmati jalannya pertandingan selama dua kali empat puluh
lima menit.”
“Gue ga ngurusin tim luar, gue sih dukung tim
lokal aja. Dasar suporter layar kaca ga nasionalis.
#SupportYourLocalFootballTeam” Terkadang saya ingin tertawa
sekencang-kencangnya. Jika saya yang menulis status demikian disosial media,
mungkin hastag yang akan saya gunakan adalah #DukungTimSepakbolaLokal, jika
kalian mengerti maksud saya sih hehe. Sekali lagi, ini masalah prinsip. Selama
kalian tidak mengeluarkan biaya untuk mereka yang melakukan nonton bareng di
kafe, kenapa harus sibuk berkomentar ? Tapi ya itu tadi, seperti yang saya
tuliskan di awal, secinta apapun kita terhadap tim luar, tetap harus mengingat
dimana tempat kita berpijak, Indonesia. Tidak ada salahnya kita memiliki rasa
fanatik terhadap klub yang berasal dari luar, asal tidak melupakan keberadaan
garuda yang kita miliki.
Well,
football for unity right ? Jangan jadikan perbedaan prinsip yang ada justru
merusak nilai dari menonton dan menikmati sepak bola itu sendiri. Jatuh cinta
itu indah, jatuh cinta terhadap sepak bola itu menyenangkan. Biarkan mereka
menunjukkan cintanya dengan caranya sendiri. Biarkan mereka mendukung timnya
sesuka hati asal tidak mengganggu kita yang berbeda tim. Bukankah menyedihkan
jika sepak bola justru dijadikan ajang untuk saling menjatuhkan satu dengan
yang lainnya ? Mungkin saja kita berbeda prinsip, mungkin saja kita berbeda tim,
dan mungkin saja kita berbeda tribun. Namun, bukankah kita semua mencintai hal
yang sama ? Sepak bola ?
No comments:
Post a Comment