July 15, 2013

Karena Cinta Itu Adalah Sepak Bola, dan Sepak Bola Itu Adalah Cinta


Entah kapan pastinya saya lupa, seingat saya waktu itu diakun twitter pribadi saya, saya pernah memposting kalimat seperti ini : “Cuek aja dibilang fans layar kaca klub luar negri, kalo selalu hadir di stadion untuk mendukung klub lokal baik kandang atau pun tandang.” Dan hasil retweet-an dari para followers saya pun lumayan. Setiap ada klub luar negri yang berkunjung ke Indonesia, pasti dan memang selalu ada komentar dari following saya di twitter tentang “fans layar kaca”. Dan kebanyakan memang komentar yang kurang mengenakan. Saya pribadi pun memiliki klub luar yang saya dukung walau memang hanya dalam layar kaca. Apa itu salah ? Bukankah masing-masing memiliki kebebasan untuk menunjukkan rasa cintanya terhadap sepak bola, baik luar atau pun dalam negri ?

Nasionalisme dan Fanatisme. Naif rasanya jika selalu memperdebatkan kedua rasa tersebut yang dimiliki oleh orang lain. Pertandingan sepakbola seharusnya menjadi salah satu alat “pemersatu” walaupun memiliki “perbedaan”. Suporter dan fans, tentu memiliki arti yang berbeda. Tapi kedua hal tersebut memiliki tujuan yang sama, “mendukung dan menikmati sepakbola” dengan caranya sendiri. Saya suporter Persija dan juga fans dari Chelsea FC yang kebetulan akan berkunjung dan melawan BNI Indonesia All Stars pada 25 Juli mendatang. Jika ada yang bertanya, jersey apa yang akan saya kenakan apa bila hadir pada pertandingan tanggal 25 nanti ? Atau, tim mana yang akan saya dukung, Chelsea FC atau Indonesia ? Mungkin saya hanya bisa menjawab “Nanti saya akan memakai jersey Chelsea FC yang dipadukan dengan jaket yang memiliki lambang garuda di dada sebelah kiri. Soal tim mana yang saya dukung ? Intinya, saya akan tetap mengumandangkan lagu Indonesia Raya sebelum kick off, setelah itu biarkan saya menikmati jalannya pertandingan selama dua kali empat puluh lima menit.

Gue ga ngurusin tim luar, gue sih dukung tim lokal aja. Dasar suporter layar kaca ga nasionalis. #SupportYourLocalFootballTeam” Terkadang saya ingin tertawa sekencang-kencangnya. Jika saya yang menulis status demikian disosial media, mungkin hastag yang akan saya gunakan adalah #DukungTimSepakbolaLokal, jika kalian mengerti maksud saya sih hehe. Sekali lagi, ini masalah prinsip. Selama kalian tidak mengeluarkan biaya untuk mereka yang melakukan nonton bareng di kafe, kenapa harus sibuk berkomentar ? Tapi ya itu tadi, seperti yang saya tuliskan di awal, secinta apapun kita terhadap tim luar, tetap harus mengingat dimana tempat kita berpijak, Indonesia. Tidak ada salahnya kita memiliki rasa fanatik terhadap klub yang berasal dari luar, asal tidak melupakan keberadaan garuda yang kita miliki.

Well, football for unity right ? Jangan jadikan perbedaan prinsip yang ada justru merusak nilai dari menonton dan menikmati sepak bola itu sendiri. Jatuh cinta itu indah, jatuh cinta terhadap sepak bola itu menyenangkan. Biarkan mereka menunjukkan cintanya dengan caranya sendiri. Biarkan mereka mendukung timnya sesuka hati asal tidak mengganggu kita yang berbeda tim. Bukankah menyedihkan jika sepak bola justru dijadikan ajang untuk saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya ? Mungkin saja kita berbeda prinsip, mungkin saja kita berbeda tim, dan mungkin saja kita berbeda tribun. Namun, bukankah kita semua mencintai hal yang sama ? Sepak bola ?

No comments:

Post a Comment