October 17, 2013

#CERPEN5

Waktu terus melaju, tidak ada satupun anak manusia yang memiliki kuasa untuk menghentikannya walau hanya sedetik. Ini adalah tahun ke empat dimana aku menunggu kedatanganmu kembali dari negeri antah berantah. Sudah empat tahun, dan aku masih berada di tempat terakhir kali mataku masih dapat menangkap sosokmu sebelum benar-benar menjauh dan akhirnya menghilang. Empat tahun, bukan waktu yang sebentar untuk menunggumu. Bukan waktu yang singkat untuk segera menagih janji-janjimu sebelum pergi. Aku masih setia menunggumu, walau tanpa kabar, walau tanpa kepastian kapan kamu akan kembali. Hanya satu kalimat yang masih menjadi peganganku saat ini. Satu kalimat yang ku anggap sebagai janji yang memang kelak akan kamu tepati. 

“Dari mana saja kau ? Pernikahanmu sudah di depan mata, jangan kau buang waktumu dengan percuma hanya untuk melakukan sesuatu yang tidak penting.” “Bu, aku bosan mendengar kata-kata itu dari mulut ibu. Aku bosan berdebat dengan ibu. Aku lelah, tolong jangan tambah lagi bebanku bu. Aku paham tentang pernikahanku.” Setelah berkata demikian, aku tutup pintu kamarku sebelum ibu berbicara lebih banyak lagi. Sebentar lagi aku akan menikah, sebentar lagi aku akan menjadi pasangan hidup dari seseorang, dan itu bukan kamu. Kapan kamu kembali ? Kapan kamu hadir lagi dalam kehidupanku yang nyata ? Kapan kamu mengakhiri penantian yang tidak kunjung selesai ini ? Pulanglah Bima ! Ku mohon, dan hentikan tangisanku saat ini juga. 

“Bima, mana yang lebih kamu suka, saat hujan atau saat cerah ?” “Kenapa pertanyaanmu sangat aneh Bil ? Aku suka keduanya, keduanya memiliki keindahannya masing-masing menurutku.” “Bim ! Kamu menyebalkan sekali ! Aku mau kamu memilih salah satu dari itu, jadi hujan atau cerah ?” “Nabila sayang, seperti yang aku katakan tadi, aku suka keduanya. Ya, asal keduanya tidak berlebihan. Hujan yang berlebihan akan mendatangkan air bah, sedangkan  terik matahari yang berlebihan pun dapat menyebabkan kemarau berkepanjangan. Aku tidak mau memilih, aku tidak mau mengatakan tidak menyukai salah satunya. Itu tandanya aku sombong, menganggap remeh apa yang sudah diciptakan oleh yang maha segalanya.” “Hmm… Ternyata kamu masih Bimaku. Bimanya Nabila yang selalu memiliki jawaban yang tidak bisa aku tebak. Aku sayang kamu Bim.” “Aku lebih menyayangimu Nabila.” 

Bima… Tiba-tiba saja aku sangat membenci hujan. Biasanya ada kamu di sini, namun sekarang ? Aku seperti akan mati membeku karna hujan yang turun dengan derasnya sore ini. “Nabila ! Maaf membuatmu menunggu lama sayang, Ibu Kota saat hujan justru semakin padat lebih dari biasanya. Kita pulang sekarang ya, tapi sebelumnya kita mampir dulu untuk mengisi perut, aku tidak mau kamu sakit.” Suara itu, suara pria yang dalam waktu dekat akan menjadi suamiku membuyarkan lamunanku sore ini. Lamunanku tentang kamu Bim, tentang kita, kita yang dulu. “ Terserah kamu saja, aku ikuti kemauanmu. Tapi setelah makan malam kita langsung pulang ya, aku lelah.” Jawabku seadanya pada Bagas sambil sedikit memberikan senyumku, senyuman pahit. “Nabila, aku sayang kamu. Jika ada kata-kata yang artinya lebih dari pada sayang, aku akan mengucapkan itu hanya untuk kamu Bil.” Aku kembali tersenyum. Aku tau Bagas memang tulus mencintai aku, Bagas memang pria yang pantas untuk dijadikan pasangan hidup. Namun, aku masih belum bisa mengusir Bima dari hidupku. Apa aku terlalu naif, masih menunggu Bima yang bahkan tidak pernah punya waktu untuk mengabari aku ? Yang bahkan tidak tau apa dia masih hidup atau sudah mati ? Atau justru, sudah ada perempuan lain dalam hidupnya dan tidak ada Nabila lagi ? Ya Tuhan. 

Biasanya aku selalu menikmati senja bersama Bima. Bima yang tidak pernah sedetik pun melepas tanganku dari genggamannya. Bima yang tidak pernah sedetik pun menjauhkan dirinya dari sisiku. Sambil sesekali melempar senyum, sambil sesekali mengecup keningku dengan lembut. Dengan penuh kasih sayang. Tapi tidak untuk senja kali ini. Selama tiga tahun bersama Bima, baru kali ini aku membenci senja. Senja yang mungkin saja menjadi senja terakhirku dengan Bima, senja yang akan segera membawa Bima pergi dari hadapanku. Senja yang akan memaksa Bima melepaskan genggamannya dari sela-sela jemariku. Senja yang akan memaksa aku merelakan Bima melepaskan aku dari peluknya. Sejak dua minggu yang lalu Bima memberikan kabar itu, aku tidak tau harus bagaimana. Bahagia atau justru sedih. Aku bahagia karna Bima bisa meraih impiannya untuk melanjutkan S2 di Berlin. Namun, aku belum siap untuk jauh dari Bima. Dan mungkin, tidak akan pernah siap. 

Aku keluar kamar dengan malas. Rasanya seharian ini aku hanya ingin menghabiskan waktu di kamarku. Tapi hari ini aku sudah ada janji dengan Bagas untuk mengambil baju yang akan kami kenakan di pernikahan nanti. Semua urusan yang berhubungan dengan pernikahan ini kuserahkan sepenuhnya pada Bagas dan ibuku.  Bukan aku benar-benar acuh dan lantas tidak peduli, pekerjaan di kantor saja sudah membuatku mual hanya dengan memikirkannya. “Maaf Gas menunggu lama, yuk kita berangkat sekarang”. Dan tidak lama kemudian, sampailah kami ke tempat tujuan. Gaunku sangat cantik. Teramat cantik. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya akan mengenakan gaun secantik ini pada hari besarku nanti. Hmm… Dan aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, jika ternyata bukan Bima, yang akan mengucapkan janji suci itu di sampingku. 

“Nabila, aku pergi hanya untuk sementara waktu. Semuanya demi masa depanku, masa depan kita nanti. Aku akan kembali lagi ke sini, ke tempat ini. Dan saat aku kembali, aku akan langsung melamarmu. Aku akan menikahimu Bil, aku janji. Kamu akan sabar menungguku kan ? Iya kan Nabila ?” Aku hanya tersenyum saat mengingat kata-kata itu. Bim, ini sudah tahun ke empat ? Kapan kamu pulang ? Pulanglah Bim. Aku sudah terlalu lelah untuk merindukanmu. Aku sudah terlalu lemah untuk tetap berdiri di tempat ini dan menunggumu kembali. Kamu dimana Bima ? Tidakkah hatimu merasakan bahwa aku sangat rindu ? Aku rindu Bim. Tidak tau ini senja ke berapa yang aku lalui tanpa kamu, tapi aku masih di sini. Aku masih percaya kamu akan kembali, aku percaya itu. 

Jakarta, Desember 2010
Dalam hitungan jam, aku akan resmi menjadi istri dari Bagas Pramudita. Bukan istri dari Abdi Bimantara. Aku berjanji akan berusaha mencintai Bagas, bahkan aku harus bisa mencintai Bagas melebihi bagaimana aku menncintai Bima. Tiga tahun aku menjalin hubungan dengan Bima. Empat tahun aku menunggu kepulangan Bima. Empat tahun aku menanti kabar dari Bima yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Hari ini, akan aku akhiri semuanya. Bima hanyalah masa lalu. Dan Bagas, adalah masa depanku. Tidak ada lagi Bima dalam hidupku. Tidak ada lagi Nabila untuk Bima. Yang ada sekarang hanyalah Bagas dan Nabila. Iya, hanya itu. 

Bima…
Nabila, apa kabarmu saat ini sayang ? Masih adakah aku di hatimu ? Masihkah kamu menunggu aku di tempat biasa ? Lima tahun sudah terlewati begitu saja, tanpa adanya kamu di sisiku. Bukan mauku untuk melanggar semua janji-janjiku dulu padamu Bil. Hanya saja, takdir begitu tega memaksa aku untuk tidak menepati itu semua. Takdir terlalu jahat untuk aku Bil, untuk kita. Sejak pertama kali sampai di Kota Berlin, orang pertama yang ingin aku hubungi itu kamu Bil, cuma kamu yang aku pikirkan, bukan orang lain, bahkan tidak diriku sendiri. Tapi… Seperti ku katakan sebelumnya, takdir sudah dengan kejamnya mempermainkan kita. Hari itu, hari yang sudah merusak segala rencanaku Bil. 

Seandainya aku tidak ceroboh hari itu, seandainya aku memperhatikan keadaan sekitar saat itu, mungkin saat ini aku lah yang sedang ada di sisimu untuk mengucapkan janji sehidup semati denganmu, bukan dengan Bagas. Tapi kenyataannya ? Aku tidak memiliki keberanian untuk bertemu lagi denganmu Bil, dan aku rasa untuk selamanya. Kecelakaan itu yang sudah merubah segalanya. Tidak lagi menjadikanku sebagai takdirmu, begitu pula sebaliknya. Bagaimana aku bisa membahagiakanmu, sementara untuk berjalan saja aku tidak bisa ? Bagaimana aku bisa menjagamu, sementara untuk melihat saja aku tak mampu. Aku tidak akan membiarkan Nabila yang aku sayangi harus hidup dengan orang lumpuh dan buta seperti aku, tidak akan.

Berlin, 2006 
“Bima, apa kau gila ? Apa kau tidak mencintai Nabila ? Apa kau tidak merindukan Nabila ?” “Aku lakukan ini semua justru karena rasa sayangku yang begitu besar pada Nabila. Kamu orang yang tepat untuk mendampingi Nabila. Kamu sahabat terbaikku. Sekali ini saja dalam hidupku aku mohon padamu, pergilah ke Indonesia, temui Nabila dan buat dia bahagia. Bagas, aku mohon.” “Tapi Bim… Aku dan Nabila tidak saling mengenal, bagaimana mungkin ?” “Aku yakin kamu bisa, tolong aku Gas, tolong buat Nabila tersenyum dan perlahan melupakan aku. Aku memohon dengan sangat.” 

Berlin, Desember 2010
“Bim, ternyata kamu tidak banyak berubah. Sekali pun sudah empat tahun kita tidak bertemu, kamu masih tetap sama seperti pertama kali aku mengenalmu. Hanya saja Bima yang sekarang, terlalu pengecut. Sangat pengecut. Yang aku tau, Bima adalah pria yang bertanggung jawab. Bima orang yang sangat menyayangi aku dan selalu bisa mengubah tangisku menjadi sebuah senyuman. Bima yang pernah berjanji akan selalu bersamaku dalam suka atau pun duka, Bima yang pernah berjanji akan selalu mencintaiku seperti apapun keadaannya nanti. Masih ingatkah jika kamu pernah mengucapkan itu semua padaku Bim ? Kamu jahat Bim ! Pikiranmu terhadapku terlalu picik ! Apa aku sejahat itu menurutmu ? Apa aku akan meninggalkanmu walau sekarang kau lumpuh ? Buta ? Demi Tuhan Bima, seperti apa pun keadaanmu hatiku tetap mencintai kamu. Cuma kamu Bim ! Bagas sudah cerita semuanya padaku. Dia membatalkan pernikahannya denganku, Bagas tau cintaku hanya untuk kamu dan aku tidak akan pernah bisa mencintai Bagas. Bim, jawab aku, masihkah kamu mencintaiku ? Masihkah ada keinginan darimu untuk menikahiku Bim ? Jawab Bim ? Jangan menangis !” 

“Kau masih saja cerewet, apa kau sadar dari tadi kau terlalu banyak bicara ? Nabila, aku tidak tau bagaimana kau bisa menemuiku di sini. Saat ini sedang senja bukan ? Pasti sangat indah, begitu pula dengan kamu, pasti kamu sangat cantik atau bahkan semakin cantik. Empat tahun, dan aku masih menyayangimu sama seperti dulu. Rasa itu tidak pernah berubah, apa lagi berkurang. Tidak sama sekali Bil. Kau benar aku terlalu pengecut, apa yang kau harapkan dari aku ? Pria pengecut, pria yang melanggar janjinya sendiri, pria yang bahkan memberikanmu pada orang lain, pria yang lumpuh ? Apa lagi yang kamu harapkan Bil ? Jika kamu tanyakan apa aku masih mencintaimu ? Jawabannya, iya. Dan jika kamu bertanya apa aku akan tetap menikahimu ? Jawabannya pun masih iya. Pertanyaanku saat ini adalah, bersediakah kamu menghabiskan seluruh hidupmu untuk merawat suamimu yang bahkan untuk menjaga dirinya saja tidak bisa ? Bersediakah kamu ?”

“AKU MENCINTAIMU BIMA !” 

Berlin, Desember 2012
Tuhan memang maha segalanya. Dua tahun setelah pernikahanku dengan Bima, perlahan Bima bisa berjalan kembali. Sedikit demi sedikit, namun aku yakin Bima akan benar-benar pulih. Bagaimana dengan Bagas ? Aku tidak pernah membayangkan jika akan seperti ini akhirnya. Bagas meninggal setelah menghadiri pesta pernikahanku dengan Bima. Dan yang lebih membuatku sangat sedih adalah, karna Bagas bersedia mendonorkan matanya untuk Bima. Bagas tidak pernah benar-benar pergi dari kehidupanku dan Bima. Dia tetap bersama kami. Aku tau Bagas memang orang yang sangat baik, aku pun yakin Tuhan akan memberikan dia tempat yang baik pula. Bagas, terima kasih untuk semuanya. Untuk keikhlasanmu mencintaiku, untuk kebesaran hatimu mengembalikan aku pada Bima. Kamu tau Gas, kelak, calon bayi yang saat ini masih ada di rahimku akan ku beri nama yang sama sepertimu, Bagas Pramudita. 

Senja kali ini benar-benar lebih indah dari biasanya. Ada Bima yang menggenggam erat tanganku, ada Bima yang selalu melemparkan senyumnya untukku. Kalian masih mengganggap jika menunggu seseorang yang menghilang tanpa kabar itu adalah sebuah kebodohan ? Kalian masih mengira bahwa takdir seringkali mempermainkan perasaan kita ? Aku tidak. Saat aku yakin jika orang itu adalah jodohku, saat aku yakin jika orang itu adalah orang yang diciptakan Tuhan untuk aku, maka aku bersedia menunggunya, maka aku akan selalu memperjuangkannya. Tak peduli berapa banyak senja aku lewati sendirian, tak peduli berapa banyak waktu yang aku habiskan untuk menunggunya. Aku akan tetap berdiri di tempat yang sama, di tempat yang banyak orang menyebutnya dengan, takdir. - Nyonya Abdi Bimantara -

No comments:

Post a Comment