Mungkin
keputusan gue untuk bertandang ke Semarang nonton pertandingan ujicoba Persija
vs PSIS beberapa waktu lalu bisa dikatakan tepat. Kenapa tepat ? Karena
sepertinya gue bakalan dipaksa lebih lama lagi untuk nahan kangen sama atmosfir
di stadion, di tribun. Seharusnya gue udah terbiasa dengan kondisi sepak bola
Indonesia yang kebanyakan drama. Seharusnya gue udah terbiasa dengan kondisi sepak
bola Indonesia yang semerawut. Tapi gue ga bisa dipaksa terbiasa terus menerus
dalam keadaan yang begini, lama-lama muak juga.
Jadwal
ISL diundur lagi tanpa pikir panjang sih gue rasa. Cuma karena masalah beberapa tim yang
belum lengkap masalah tetek bengek yang gue juga ga mau tau itu apaan,
penundaan kick off ISL alhasil merembet kebanyak hal. Persiapan masing-masing tim,
persiapan supporter, bahkan pasti merembet kepersiapan timnas U23 nanti diajang
sea games. Tapi yang paling ngerasain sakit pasti dari pihak supporter macem
gue ini men. Susah banget buat menikmati sepak bola di negara tercinta ini. Yang
bahkan gue sendiri ga tau apa negara ini sebenarnya cinta sama sepak bolanya ?
Orang-orang
yang berdasi itu, dari era si A sampai sekarang era si B, ga pernah bisa
sepertinya ngebawa sepak bola keperubahan yang jauh lebih baik lagi. Kenapa ? Ya karena mereka belum
jatuh cinta sama dunia sepak bola. Sepak bola mungkin butuh kemampuan. Sepak bola
mungkin butuh teknis. Sepak bola mungkin butuh uang. Sepak bola mungkin butuh
badan oraganisasi yang baik. Tapi sepak bola jauh lebih butuh hati, yang cuma
bisa diperoleh dari pendukungnya. Gue yakin, jika orang-orang yang katanya “pintar”
itu mau mengurusi dan membenahi sepak bola Indonesia dengan hati, ga akan lagi
nih ada kesemerawutan seperti ini. Impossible is nothing, right ?
Apapun
yang terjadi kami tetap janji mendukung bola negeri ini.
Jatuh
cintalah pada sepak bola, maka kau pun akan memahami arti pengorbanan yang
sesungguhnya. - @shintiaaadewi
No comments:
Post a Comment