February 23, 2015

5 Years Ago With(out) You

Waktu mungkin sudah berjalan begitu jauh meninggalkan segala hal yang terjadi antara aku dan kamu pada masa lampau. Tapi otakku masih mampu mengingat segala hal tentang kita dengan cukup baik. Aku sudah bosan sebenarnya, selama lima tahun terakhir, pada hari ini dan juga bulan ini, selalu menuliskan hal yang sama. Menuliskan hal yang tidak akan pernah aku lupa hingga aku menua nanti. Sudah lima tahun kita tidak berjumpa secara jasmani, tapi aku tidak pernah sekali pun melupakanmu baik dalam pikiran maupun perasaan.

Kamu pasti tau kan betapa aku tidak menyukai bulan Februari sejak lima tahun terakhir ? Ah, iya, aku tau benar jika Februari tidak pernah salah atau bahkan terlibat dalam segala hal yang terjadi antara kita berdua. Tapi setiap kali aku bertemu Februari, Februari selalu dan selalu memaksaku untuk kembali mengingat peristiwa yang benar-benar menguras air mataku pada saat itu.

Tentang dirimu yang terbaring koma dengan banyak sekali alat medis yang menempel di sekujur tubuhmu. Tentang diriku yang hanya bisa menangis melihatmu yang tidak berdaya. Tentang dirimu yang mengerang kesakitan dan tampak tidak memiliki harapan untuk hidup sekali lagi. Tentang diriku yang hanya bisa mengecup lembut keningmu seolah ingin menguatkan. Tentang dirimu yang terbujur kaku saat orang-orang datang ke rumahmu untuk mengirim doa. Tentang diriku yang setia duduk di sampingmu yang sedang tertidur dan tidak akan pernah terbangun. Tentang dirimu yang perlahan hilang ditelan tanah merah. Tentang diriku yang menangis sejadi-jadinya sambil memeluk papan kayu yang bertuliskan namamu disana. Tentang kehilangan. Tentang sesuatu yang tak akan pernah kembali.

Hey, saat menuliskan ini aku sedang berteduh di pinggir jalan karena hujan turun dengan derasnya. Beberapa saat yang lalu, aku baru saja berkunjung ke rumahmu. Tak lupa setangkai mawar putih yang selalu aku bawa untuk menghias rumahmu yang hijau itu. Lima tahun ? Tadi aku bahkan masih menangis sejadi-jadinya di makammu, seperti baru kemarin saja rasanya kamu pergi. Aku tidak cengeng, kamu tidak akan pernah tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang bahkan keinginan terakhirnya tak mampu aku penuhi. Tapi percayalah, aku menyayangimu dengan sungguh, Mas.

No comments:

Post a Comment