Halo, selamat pagi, Februari. Tunggu dulu, pagi? Bahkan jarum jam sudah melewati angka 12, itu berarti pagi pun telah berlalu. Hari pertama bulan Februari, aku rasa matahari sepakat denganku, sama-sama enggan memperlihatkan dirinya di hadapan Februari. Hari pertama bulan Februari, aku rasa awan sependapat denganku, sama-sama mendung dan ingin menangis tanpa jeda.
Februari? Awalnya aku tidak memiliki masalah apapun dengan Februari. Sampai pada akhirnya peristiwa lima tahun yang lampau, dan satu lagi peristiwa setahun yang lalu terjadi, aku tidak lagi merasa baik-baik saja dengan Februari. Kata kebanyakan orang, Februari adalah bulan yang penuh dengan cinta dibanding deretan bulan-bulan lainnya pada kalender. Buatku? Februari hanyalah bulan yang penuh dengan kesedihan, kehilangan, dan bahkan kematian.
Aku selalu berharap Februari lekas berlalu. Paginya, siangnya, senjanya, dan malamnya, sama sekali tak aku nikmati beberapa tahun terakhir ini. Februari memaksa aku kembali merasakan kesedihan yang seharusnya sudah lama berlalu. Februari memaksa aku kembali mengingat bagaimana sakitnya kehilangan yang seharusnya sudah menjadi cerita basi. Dan Februari pun memaksa aku seolah kembali tak berdaya karena otakku dengan leluasa kembali memainkan film dimana aku sedang menangisi mereka yang pergi karena kematian.
Mungkin, bukan salah Februari, tapi salahku yang belum sepenuhnya ikhlas merelakan orang-orang yang aku sayangi pergi tepat pada bulan Februari. Hmm, mungkin orang-orang di luar sana memang benar, bahwa Februari adalah bulan yang penuh dengan cinta. Buktinya, setiap Februari datang aku selalu mengunjungi mereka berdua di rumahnya. Sahabat-sahabat terbaikku semasa putih abu-abu dahulu. Dengan beberapa tangkai mawar putih yang tak pernah lupa aku bawa, kami melepaskan rindu sambil menanti senja. Aku selalu bercerita dengan sumringah, dengan bersemangat kembali melagukan apa-apa saja yang dulu pernah kami lalui semasa sekolah. Selalu begitu, sampai aku tersadar, hanya ada aku yang larut hanyut dalam kenangan, dan tidak lagi bersama mereka. Ya, hanya ada aku sendirian. Sementara dua batu nisan bertuliskan nama mereka berdua, seolah menatapku nanar dan tetap bisu.
Terima kasih banyaaaakkk ! :)
ReplyDelete