Persija vs persib, salah satu pertandingan yang dapat dikatakan paling ditunggu-tunggu oleh banyak pihak, bahkan masyarakat awam sekalipun. Setelah bertemu dan berbagi poin di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada putaran pertama Torabika Soccer Championship 2016, Persija bergantian menjamu persib di Stadion Gelora Manahan Solo 5 November 2016 lalu dan kembali harus puas dengan hasil akhir pertandingan yang sama-sama tidak mampu meraih poin sempurna.
Gue menuju Solo bersama dengan rombongan dari Korwil Jatinegara Kaum. Walaupun gue bukan anggota dari sana, tapi gue bersyukur karena cukup banyak orang yang gue kenal. Ya mau berasal dari korwil atau komunitas apapun, selama masih sama-sama Persija yang menjadi tim kebanggaan, mereka semua adalah kerabat bagi gue. Sekitar pukul 21:00 WIB rombongan kami berangkat menuju titik kumpul bertemu dengan rombongan lain di rest area tol KM 57. Dan kurang lebih sekitar pukul 00:30, iring-iringan bis yang membawa rombongan The Jakmania bersama-sama menuju Solo malam itu.
Belum lama meninggalkan rest area, gangguan yang memang sudah gue duga akhirnya datang juga. "Mereka" menyambut kedatangan kami dengan nyala kembang api dan juga lemparan batu. Bis rombongan Jatinegara Kaum pun ga luput dari sambutan "kasih sayang" "mereka" saat itu. Tapi beruntung, bebatuan yang mereka lemparkan dari atas jembatan penyebrangan atau jalan layang di atas tol tidak mengenai kaca bis dan hanya berjatuhan di atap bis dengan bunyi yang cukup keras.
Karena disambut dengan sedemikian rupa, kami sebagai tamu yang baik pun turun dari bis dengan niatan mengucapkan "terima kasih" kepada "mereka" yang sudah berbaik hati membeli kembang api dan mengumpulkan bebatuan hanya untuk memberikan ucapan selamat datang bagi kami. Kembang api dibalas dengan kembang api, tapi niat kami tidak diterima dengan baik. "Mereka" justru bersembunyi di balik kegelapan malam, semak belukar, rawa-rawa, dan persawahan. Seperti anak kecil yang berusaha mencuri mangga dari pohon tetangga, melemparinya dengan batu namun saat ketauan mereka berlari terbirit-birit dan mencari tempat persembunyian yang aman.
Setelah beberapa kali mendapat sambutan dari beberapa titik, siang harinya kami semua sampai juga di Kota Solo dengan selamat. Dan kick off pertandingan antara Persija melawan persib akhirnya ditiup oleh wasit. Selama pertandingan, jujur gue ga bisa fokus sama jalannya pertandingan. Mata gue justru ga bisa lepas dari tribun utara dan selatan Manahan Solo, ketika rekan-rekan Jakmania lainnya bertemu dengan "mereka" yang sudah tidak diperbolehkan datang namun tetap nekat datang untuk mengorbankan mukanya sedikit lebih berwarna-warni karena bogem mentah yang "mereka" terima.
Selesai pertandingan, kami langsung diarahkan untuk segera meninggalkan stadion dan kembali ke Jakarta malam itu juga. Bis yang membawa rombongan gue bahkan berjalan tepat di belakang mobil patroli yang bertugas membuka jalan. Bukan kawalan, karena bahkan kami tidak meminta. Mungkin hal itu dilakukan agar tidak terjadi kemacetan yang ditimbulkan oleh rombongan bis yang memang cukup banyak saat itu. Rombongan Jatinegara Kaum meninggalkan jauh bis yang lainnya di belakang, karena kami harus cepat menemukan rest area terdekat untuk mengganti ban yang bermasalah.
Sekitar pukul 05:00 pagi dan selesai mengganti ban yang cukup lama memakan waktu, akhirnya rombongan kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Saat sudah memasuki kawasan Tol Cipali, rombongan kami bertemu dengan beberapa rombongan lainnya, seperti Curva Sud Persija, dan juga rombongan Jakmania Depok. Bersyukur kami tidak mengalami gangguan apapun selama perjalanan pulang menuju ibu kota. Walau pun gue sendiri yang duduk di bangku paling depan sudah siap untuk hal terburuk sekalipun.
Tapi sialnya, itu ga berlaku untuk beberapa rombongan bis yang berjalan jauh di belakang kami. Karena rekan-rekan gue harus "berperang" melawan "mereka" yang dibantu oleh "warga" dan bahkan "aparat" sekitar. Kembali satu nyawa harus menjadi tumbal karena peristiwa di Palimanan sore itu, hati gue pun lagi-lagi harus merasakan sakit yang begitu luar biasa hebatnya. Mungkin ini ga akan pernah selesai, bahkan sekalipun ketika gue harus bereinkarnasi, permusuhan ini akan tetap abadi dan mengakar kuat selamanya.
Gue bukan orang yang membenarkan adanya kekerasan dalam sepak bola, gue juga manusia biasa yang memiliki hati nurani dan masih berfungsi dengan baik untuk merasakan kepedihan dan kehilangan. Jika hanya karena cinta yang begitu besar terhadap sepak bola harus menjadikan nyawa kami sebagai taruhannya, semoga Tuhan memberikan kami semua keikhlasan yang selapang-lapangnya.
#JakmaniaBerduka
#06112016
PERSIJA SELAMANYA!
No comments:
Post a Comment