Sudah seminggu sejak pertandingan yang selalu dikatakan banyak orang sebagai "big match" di Indonesia berlalu dengan begitu banyak menyisakan pertanyaan dalam benak saya sebagai salah satu penikmat sepak bola negri ini. Kekerasan seolah tak lagi bisa dipisahkan dari dunia supporter sepak bola Indonesia, entah sejak kapan saling melakukan tindak kekerasan dibenarkan atas nama cinta terhadap sebuah klub sepak bola. Saya tidak tau, apa disini hanya saya yang merasakan jika sebenarnya supporter sepak bola Indonesia sudah kehilangan jati dirinya, identitas aslinya, dan bahkan kemana mereka seharusnya berpedoman.
Perlahan namun pasti, ciri khas ke-Indonesia-annya seolah dihilangkan dan cenderung meniru kebiasaan kelompok supporter sepak bola yang berasal dari negara-negara Eropa seperti Inggris dan Italia. Dulu, beberapa kali secara sepintas saya sering membaca komentar yang kira-kira seperti ini bunyinya "Di Inggris, keributan antara supporter itu sudah wajar. Jadi jangan heran atau aneh jika itu terjadi di Indonesia." Apa jika kita menyerap suatu budaya, maka hal-hal negatif yang terdapat dalam budaya tersebut juga harus kita tiru? Saya rasa tidak. Ada hal-hal baik yang dapat kita ikuti, tetapi harus tetap memilih bagian-bagian mana saja yang diabaikan.
Tanpa mengikuti kiblat supporter dari tanah Eropa, saya sangat yakin jika sebenarnya supporter sepak bola Indonesia sudah sangat bisa dikatakan sebagai salah satu supporter yang fanatik di dunia. Kita punya ciri dan cara tersendiri untuk mendukung klub sepak bola kebanggaan yang kita dukung dengan penuh rasa bangga dan juga cinta yang teramat besar. Dari Sabang sampai Merauke, banyak kreatifitas yang dilakukan masing-masing kelompok supporter ketika mereka berada di atas tribun mendukung sebuah klub sepak bola.
Tugas sebagai supporter sepak bola yang baik hanyalah mendukung klub kebanggaan dengan sepenuh hati. Dengan meneriakan chants penyemangat, serta dukungan doa agar klub yang dibelanya bermain dengan baik dan meraih kemenangan. Membela nama baik klub dengan tindakan anarkis yang mengatasnamakan rivalitas ta* seharusnya tidak lagi ada di dunia sepak bola Indonesia. Sepak bola memang terasa hambar jika tidak ada persaingan yang sangat kuat di dalamnya. Tapi bukan berarti segala tindakan kekerasan itu dapat dibenarkan, apa lagi sampai menghilangkan nyawa dengan mudahnya. Jangan lupakan kodrat kita sebagai manusia biasa yang berTuhan, karena jika kita mengaku memiliki Tuhan, maka kita tidak akan pernah bertindak beringas seperti sekolompok binatang buas yang bersiap menerkam mangsanya yang tidak berdaya.
Kita semua hanyalah segelintir manusia yang mencintai sepak bola, bukan sekelompok jagoan yang seolah tak punya rasa takut akan apapun. Kita semua hanyalah segelintir manusia yang rela membela klub sepak bola kebanggaan dengan cara yang rasional dan bukan sekelompok manusia yang berpikir sempit lalu mudah terpancing emosi dan provokasi. Lagu kebangsaan kita masih sama, lambang negara kita masih sama, warna bendera kita pun masih sama, pantaskah sepak bola negri ini terus menerus dinodai oleh sikap saling balas dendam yang tak akan pernah mengenal rasa puas? Cukuplah para petinggi federasi yang tidak memiliki akal sehat dan juga hati nurani. Tapi kita, yang sesungguhnya paling berhak untuk memiliki sepak bola negri ini seutuhnya, sudah sepatutnya memberikan dampak positif bagi sepak bola negri ini.
Jangan lagi nodai sepak bola negri ini dengan darah, apa lagi nyawa. Jika memang benar kita mencintainya, maka jangan lagi sakiti ia dengan kekerasan yang mengatas namakan apapun.
Selesai.
No comments:
Post a Comment