February 13, 2017

Surat Menjelang Hari Kasih Sayang (katanya)

Hari ini aku bertemu dengan teman-teman lamaku semasa putih abu-abu dulu. Menyenangkan sekali rasanya saat masing-masing dari kami memiliki waktu luang untuk sekedar duduk bersama dan membuka kembali ingatan-ingatan semasa bersekolah dahulu. Apa lagi, dia duduk di hadapanku. Cinta pertama dalam hidupku. Yang sangat menyenangkan meski aku harus selalu diam-diam saat ingin menatap wajahnya dalam-dalam.

Dia tidak berubah sama sekali. Tetap memiliki postur tubuh yang tinggi kurus. Senyuman manis khasnya pun selalu dia sematkan dibibirnya. Candaannya untuk memecahkan suasana tak pernah luput dia celotehkan setiap detik. Segalanya masih terlihat sama, tidak ada yang berubah sedikit pun. Ah, sepertinya dia sadar aku perhatikan sejak tadi lalu kemudian balas menatapku. Cinta pertama semasa SMA, walau hanya berakhir sebagai sahabat baik, aku sungguh tak pernah menyesal membiarkan hatiku menjatuhkan pilihan padanya.

Dia masih menatapku. Lalu tersenyum dengan sangat manis, menenangkan.

Mimpi.

Semua hanya mimpi.

Pagi ini aku terbangun karena memimpikannya. Mungkin pertanda jika dia juga ingin dikirimi sepucuk surat cinta tanpa amplop. Maka, untuk dialah surat ini ditujukan. Seseorang yang 14 Februari besok tepat tiga tahun pergi meninggalkan aku meski sudah berjanji akan kembali bersama menyaksikan klub sepak bola kesayangan kami di stadion ketika dia sudah keluar dari rumah sakit. Dia memang keluar dari rumah sakit, namun dengan keranda lalu kemudian masuk ke dalam liang lahat.

Dear, Bang Jek...
Sama halnya seperti Mas Adit, kalian berdua adalah sahabat terbaikku semasa sekolah dulu. Dan Februari kali ini pun aku tidak bisa mengunjungi makammu seperti yang biasa aku lakukan sejak tiga tahun terakhir. Semoga doa-doaku cukup mampu untuk membantu walau hanya sekedar menerangkan alam kuburmu. Kau tau tidak, seringkali aku bingung saat Februari datang. Harus kemana dulu aku berziarah? Sementara makammu dan makam Mas Adit hanya dipisahkan oleh sepetak jalan bebatuan. Jika aku ke tempatmu lebih dahulu, aku takut Mas Adit di seberang sana memandang iri, begitu pula sebaliknya jika aku berziarah ke tempat Mas Adit lebih dulu hehe.

Dear Bang Jek...
Maaf-maaf, aku masih saja menyebutkan nama Mas Adit padahal surat ini akan aku tujukan padamu hehe. Tapi percayalah, sayangku untuk kalian sama besarnya. Tidak ada yang lebih banyak, serta tidak ada pula yang lebih sedikit. Ah, tiga tahun berlalu. 14 Februari yang ketiga kalinya tanpa adanya sosokmu, 14 Februari yang ternyata memang benar-benar hari kasih sayang. Buktinya, Tuhan memanggilmu pada 14 Februari tiga tahun lalu. Bukankah itu tandanya Tuhan jauh lebih sayang?

Aku rindu.

Terima kasih sudah hadir lewat mimpiku tadi malam.

Denpasar, 13 Februari 2017.

No comments:

Post a Comment