February 12, 2017

Surat (yang kesekian) untuk Mas Adit

Belum tepat pukul 07:00 WITA aku sudah mulai meraih ponselku dan membuka aplikasi blogger yang terdapat pada layar menu ponselku. Sejak semalaman tidurku tidak cukup nyenyak, selalu saja terbangun beberapa jam sekali. Entah terbangun karena dua anjing peliharaan yang keukeuh ingin ikut berbaring di tempat aku tidur, atau karena dua kucing peliharaan yang ribut mengeong untuk meminta makan. Atau mungkin saja alam bawah sadarku sesungguhnya masih merindukan orang itu sementara mulutku bersikukuh bahwa tidak lagi akan memikirkannya walau hanya sedetik?

Ah bukan. Bukan itu yang membuat tidurku tak cukup nyenyak semalam tadi. Melainkan kegelisahan karena sadar tidak bisa berkunjung ke rumah sahabat terbaikku di Februari tahun ini. Tujuh tahun berlalu, biasanya tak pernah aku lewatkan satu Februari pun tanpa mengunjunginya disana. Namun kali ini, rentang jarak terpaksa aku jadikan alasan untuk absen melihat bagaimana keadaannya saat ini. Mas Adit pasti baik-baik saja disana, pasti! Aku berharap dia tidak kecewa, karena Februari kali ini adik-bukan kandung-nya tidak datang dan membawa setangkai mawar putih seperti biasanya.

Dear Mas Adit...
Setiap datang jadwalnya mengirim surat cinta di bulan Februari, selama bertahun-tahun pula tak pernah berhenti aku titipkan surat untukmu melalui kantor pos cinta. Agar Mas selalu tau jika meskipun ratusan bahkan ribuan hari berlalu sejak tubuh Mas perlahan menghilang di gundukan tanah merah, aku tidak pernah melupa sedikit pun tentang Mas Adit. Februari kali ini mungkin aku tidak akan menebarkan bunga pacar di atas pusara Mas Adit, tidak pula menyiramkan air mawar pada nisanmu, apa lagi memberikan sekuntum mawar putih untuk menjadi penghias rumahmu. Tapi bukankah kekuatan doa tidak pernah mengenal jarak dan ruang waktu? Maka hanya itulah yang bisa aku persembahkan saat ini, dan tentu saja untuk seterusnya hingga tiba giliranku yang bertemu dengan penciptaku.

Dear Mas Adit...
Aku akan terus memelukmu lewat doa. Dan ku harap, Mas pun akan tetap memelukku meski hanya lewat mimpi-mimpi pada setiap kali aku terlelap.

Tertanda,
Aku, yang tujuh tahun lalu tergulai lemas saat menyadari jika kamu memang sudah pergi sangat jauh.

Denpasar, 12 Februari 2017.

No comments:

Post a Comment