April 22, 2013

#CERPEN1



Februari 2013…
Sore ini, hujan kembali membasahi bumi dengan cukup deras. Membuat perasaan yang sulit dijelaskan ini semakin menggebu-gebu. Perasaan yang terkadang kosong. Dingin. Rindu. Sepi. Pilu. Sendirian. Hujan selalu berhasil membawa aku seperti berada dalam mesin waktu. Memaksaku kembali mengingat dan memutar semua cerita tentang kita. Iya, kita. Ada aku dan kamu di sana . Namun itu sudah menjadi masa lalu. Kita hanya ada di masa lalu. Yang tersisa di masa sekarang hanyalah kenangan. Hanya kenangan. Di sini, di tempat yang sama, dulu kita pernah menghabiskan waktu berdua. Maksudku berempat dengan hujan dan juga senja. Berbagi peluk, berbagi canda dan tawa. Berbagi kebahagiaan. Senyummu pada saat itu menjadi sumber kehangatan tersendiri buatku. Senyum yang berhasil mengalahkan dinginnya hujan di luar sana. Oh Tuhan, apa yang lebih bahagia dari ini? Berdua bersama dia yang ku cintai, di antara hujan yang romantis dan langit senja yang berwarna pekat namun menenangkan?

Hujan turun semakin deras. Dan air yang berasal dari sudut mataku pun perlahan ikut terjatuh. Seharusnya hari ini kamu masih bersamaku. Dan masih melanjutkan cerita tentang kita. Masih berbagi kebahagiaan dan berjanji tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Ah, tapi kamu berbohong. Kamu lantas pergi, meninggalkan segala harapan yang pernah kamu janjikan padaku. Meninggalkan duka dan perih yang bahkan sampai sepuluh tahun belum berhasil aku taklukan. Kenapa? Kenapa kamu selalu bercerita bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama jika pada akhirnya kamu tidak bersamaku saat ini? Kenapa kamu selalu meyakinkan aku tentang kekuatan cinta sedangkan kamu membiarkan aku mengubur semua perasaan cinta ini sendirian? Dan kenapa kamu membiarkan aku terus bertanya tanpa meninggalkan jawaban yang bisa aku pahami? Kenapa?

Sepuluh tahun yang lalu, kamu pernah berjanji akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak. Kamu pernah berjanji akan berbagi sandaran saat aku merasa lelah. Kamu pernah berjanji akan menjadi orang pertama dan terakhir yang aku lihat di setiap harinya. Janji yang ternyata tidak pernah kamu tepati. Janji yang hanya membuat sesak. Janji yang berakhir tanpa ada penjelasan apa pun. Janji yang ditinggal tuannya. Setega itukah kamu membuat harapanku yang begitu besar terhadapmu menguap begitu saja? Setega itukah kamu membuat hati orang yang kamu cintai rusak dan hampir mati? Setega itukah kamu membuat orang yang kamu sayangi terus menangis? Setega itukah? Dan kembali, aku hanya bisa terus bertanya tanpa pernah mendapatkan jawabannya.

Februari 2003…
Malam ini, mungkin adalah malam yang paling penting dalam perjalanan hidupku. Setelah melewati hari-hari bersama kamu selama lima tahun lamanya, malam ini kamu memintaku untuk menjadi satu-satunya perempuan yang akan menemani suka duka dalam hidupmu. Taburan bintang di langit dan desir ombak, menjadi saksi bisu dari hari bahagiaku bersamamu. Liontin yang sederhana namun terlihat elegan, menjadi simbol bahwa dalam waktu dekat kita akan segera menjadi teman berbagi cerita hidup di bawah restu Tuhan.

Kamu bukan Hawa dan aku bukan Adam. Kamu bukanlah tulang rusukku untuk melengkapi adanya aku di sini. Kamu bukan Juliet dan aku bukan Romeo. Kita tidak perlu mati konyol hanya untuk membuktikan besarnya cinta yang dirasakan. Kamu bukan putri dan aku bukan pangeran dari segala cerita dongeng yang pernah ada. Kamu adalah aku dan aku adalah kamu. Dan kita akan menuliskan sejarah cinta kita sendiri, membuat cerita hidup kita sendiri, melebihi semua kisah yang pernah ada di dunia ini sayang. Aku ingin kamu menjadi bidadariku. Bidadari di dunia ini dan di surga kelak. Aku bukan seseorang yang pandai merangkai kata demi kata hanya untuk merebut hatimu, dan kamu tahu itu. Jadi, sayang, bersediakah kamu untuk menuliskan namaku dalam cerita hidupmu. Hanya namaku, namamu dan peri-peri kecil kita kelak. Bolehkah sayang?

Tuhan, aku tidak pernah membayangkan bahwa dalam hidupku kelak akan mendengar kalimat yang sedemikian indahnya. Dari pria sederhana yang mencintaiku dengan luar biasa. Dari sosok yang berhasil menjadi pasangan, ayah, kakak, dan sahabat untukku selama ini. Aku tidak menjawab pertanyaanmu dengan kalimat. Lewat mataku yang berkaca-kaca, senyuman tipis dan sedikit anggukan, aku tahu jika kamu pasti sudah paham apa maksudku. Liontin yang memiliki bandul berbentuk bintang itu pun kau pasangkan di leherku. Kemudian kita saling berpelukan, saling mengecup satu sama lain. Meluapkan segala kebahagiaan yang dirasakan. Oh Tuhan, terima kasih untuk malam ini.

Dan tibalah hari yang sudah kita nantikan. Hari dimana kita berdua saling mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan bahwa kita bersedia menjalani kehidupan dalam keadaan apa pun. Bersedia berbagi cerita saat suka dan duka. Bersedia saling menguatkan saat salah satu di antara kita merasa lemah. Hidup mengatas namakan cinta, yang tulus dan suci tentunya. Aku melihat pantulan bayanganku di cermin. Inilah aku yang sudah kubayangkan sejak lama jika suatu saat nanti datang hari bahagiaku bersama orang yang aku sayangi. Gaun putih yang simple dengan riasan wajah yang sederhana namun tetap anggun. Aku pun tersenyum, “Ya Tuhan, terima kasih untuk cinta yang Kau berikan dalam hidupku ini.” Aku berusaha mengatur detak jantungku agar normal seperti biasa. Namun, rasa bahagia ini mampu membuatnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan sangat cepat. Dan aku sedikit gemetar menanti kehadiranmu beserta keluarga besarmu ke kediamanku.

Cemas mulai menghampiri saat setelah lewat dua jam dari jadwal acara nan sakral ini, kamu belum juga datang. “Kamu dimana?” tanyaku khawatir. Aku terus menunggu. Menunggu kamu yang akan datang dengan membawa sejuta mimpi yang akan kita ubah menjadi sebuah kenyataan. Namun kamu tidak pernah datang. Tidak untuk hari itu, keesokan harinya, lusa, bulan depan, tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya. Malam itu, menjadi malam terakhir aku melihatmu. Iya. Yang terakhir.

Februari 2013…
Tangisku semakin pecah. Namun tetap hening, tanpa suara, hanya terisak namun menyakitkan. Aku selalu tak kuasa menolak jika semuanya kembali tersirat dalam benakku. Seakan semuanya kembali nyata, persis seperti apa yang terjadi sepuluh tahun silam. Merasakan cinta yang sangat hebat namun harus kehilangan begitu saja dengan cara yang masih belum dapat aku terima. Meninggalkan sejuta tanya tanpa pernah menemukan jawabannya. Lalu, kenapa saat itu Tuhan membiarkan aku terlalu menikmati indahnya cinta bersama kamu? Kalau memang sejak awal Tuhan tidak pernah menuliskan nama kita berdua dalam buku takdirnya, kenapa aku harus kehilangan kamu dan cintamu dengan cara yang sangat menyedihkan ? Kenapa pada akhirnya aku menuliskan cerita hidupku sendirian? Kenapa tidak pernah ada yang menjawab semua pertanyaanku tentang ini semua? Kenap?

Dan hingga saat ini, dengan susah payah aku melangkah berusaha menjauh dari bayangan masa lalu yang entah kenapa selalu mengikuti kemana pun aku pergi. Bayang senyummu yang justru kini terasa menyakitkan. Kamu tidak pernah mengajarkan aku sebelumnya, bagaimana melanjutkan hidup tanpa adanya kamu. Kamu tidak pernah mengajarkan aku sebelumnya,  bagaimana caranya berjalan menemukan titik terang saat aku berada dalam gelap. Kamu tidak pernah mengajarkan aku sebelumnya, bagaimana melawan kerasnya kehidupan yang selalu berusaha memaksa aku untuk benar-benar menyerah. Lalu, pada siapa saat ini aku bercerita? Tuhan diam. Kamu diam. Dan aku tetap menangis.

 “Untuk kamu, yang selalu bersedia memberikan sela-sela jarimu untuk ku genggam. Yang selalu bersedia memasang daun telingamu untuk mendengar segala keluh kesahku. Yang selalu berhasil merubah tangisku menjadi sebuah senyuman. Yang telah memberi tahu aku tentang arti cinta yang sesungguhnya. Saat kamu membaca ini, mungkin aku sudah lebih dahulu pergi untuk membangun cerita kita di dunia yang sesungguhnya, dunia yang abadi. Maaf jika aku pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu. Aku benci perpisahan, aku benci melihat bulir air matamu yang terjatuh karna aku. Sejak pertama bertemu kamu, aku seperti memiliki nyawa kehidupan yang lainnya. Dan dengan mencintai kamu, itulah caraku mensyukuri karunia Tuhan yang sangat luar biasa bagiku. Kamu pasti mengerti, bahwa tidak semuanya dapat kita ceritakan pada orang lain. Tentu saja kamu bukan orang lain. Hanya saja, aku tidak ingin menghilangkan raut wajahmu yang selalu ceria saat aku menceritakan apa yang seharusnya tidak perlu kamu dengar. Kelak, saat kita bertemu kembali, aku berjanji akan menebus akan satu kebohongan yang sudah ku lakukan terhadapmu sayang. Berjanjilah untuk tetap menuliskan cerita hidupmu dengan kisah yang bahagia. Berjanjilah untuk tetap melukis bintangmu sendiri bila langit malam terlihat lebih gelap dari biasanya. Berjanjilah untuk tidak menangis karna aku. Acungkan kelingkingmu, dan katakanlah jika kau akan berjanji sayang, ku mohon. Aku beruntung selama hidupku hanya mencintai satu perempuan dan itu kamu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan aku akan menunggu kamu kembali hadir di sampingku. Di rumah Tuhan, rumah kita. Dari sini aku selalu memperhatikanmu, menjaga kamu, selalu, selamanya. Teruntuk kamu, bidadari surgaku, terima kasih telah menunjukkan padaku bahwa cinta yang abadi itu memang benar adanya. Terima kasih.

Dan sejak hari itu, hari dimana ragamu kembali menyatu dengan lapisan bumi. Aku sudah lupa bagaimana caranya bahagia, aku lupa rasanya mencintai atau dicintai. Aku lupa bagaimana caranya untuk tersenyum, dan untuk apa aku tetap berada di sini. Kamu yang mengajarkan aku untuk tetap berjuang hidup, justru mati. Kamu yang mengajarkan aku untuk bertahan, justru pergi. Kamu justru yang menyerah dan tertunduk kalah pada takdir. Jika aku obat dari sakitmu, kenapa itu tetap saja membunuhmu? Dan sekali lagi, hanya menghasilkan pertanyaan tanpa pernah ada jawabannya. Kamu memintaku untuk berjanji, tapi kamu melanggar janjimu sendiri. Dan biarkanlah aku untuk tetap menangis saat hujan, tetap sendu saat senja datang. Biarkanlah semua tentang kita tetap menyayat hati, sampai aku benar-benar kembali bertemu denganmu. Entah sampai kapan. Mungkin sampai hujan benar-benar tidak kembali dari langit, dan senja benar-benar tak lagi jingga. Selama itu pula, aku akan tetap berdiri dengan segala pertanyaan dan luka yang teramat perih. Terlalu perih untuk aku simpan sendiri. Sendirian.

2 comments: