Februari
2013…
Sore
ini, hujan kembali membasahi bumi dengan cukup deras. Membuat perasaan yang
sulit dijelaskan ini semakin menggebu-gebu. Perasaan yang terkadang kosong.
Dingin. Rindu. Sepi. Pilu. Sendirian. Hujan selalu berhasil membawa aku seperti
berada dalam mesin waktu. Memaksaku kembali mengingat dan memutar semua cerita
tentang kita. Iya, kita. Ada aku dan kamu di sana . Namun itu sudah menjadi
masa lalu. Kita hanya ada di masa lalu. Yang tersisa di masa sekarang hanyalah
kenangan. Hanya kenangan. Di sini, di tempat yang sama, dulu kita pernah
menghabiskan waktu berdua. Maksudku berempat dengan hujan dan juga senja.
Berbagi peluk, berbagi canda dan tawa. Berbagi kebahagiaan. Senyummu pada saat
itu menjadi sumber kehangatan tersendiri buatku. Senyum yang berhasil
mengalahkan dinginnya hujan di luar sana. Oh Tuhan, apa yang lebih bahagia dari
ini? Berdua bersama dia yang ku cintai, di antara hujan yang romantis dan
langit senja yang berwarna pekat namun menenangkan?
Hujan
turun semakin deras. Dan air yang berasal dari sudut mataku pun perlahan ikut
terjatuh. Seharusnya hari ini kamu masih bersamaku. Dan masih melanjutkan
cerita tentang kita. Masih berbagi kebahagiaan dan berjanji tidak akan pernah
meninggalkan satu sama lain. Ah, tapi kamu berbohong. Kamu lantas pergi,
meninggalkan segala harapan yang pernah kamu janjikan padaku. Meninggalkan duka
dan perih yang bahkan sampai sepuluh tahun belum berhasil aku taklukan. Kenapa? Kenapa kamu selalu bercerita bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama jika
pada akhirnya kamu tidak bersamaku saat ini? Kenapa kamu selalu meyakinkan aku
tentang kekuatan cinta sedangkan kamu membiarkan aku mengubur semua perasaan
cinta ini sendirian? Dan kenapa kamu membiarkan aku terus bertanya tanpa
meninggalkan jawaban yang bisa aku pahami? Kenapa?
Sepuluh
tahun yang lalu, kamu pernah berjanji akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak.
Kamu pernah berjanji akan berbagi sandaran saat aku merasa lelah. Kamu pernah
berjanji akan menjadi orang pertama dan terakhir yang aku lihat di setiap
harinya. Janji yang ternyata tidak pernah kamu tepati. Janji yang hanya membuat
sesak. Janji yang berakhir tanpa ada penjelasan apa pun. Janji yang ditinggal
tuannya. Setega itukah kamu membuat harapanku yang begitu besar terhadapmu
menguap begitu saja? Setega itukah kamu membuat hati orang yang kamu cintai
rusak dan hampir mati? Setega itukah kamu membuat orang yang kamu sayangi
terus menangis? Setega itukah? Dan kembali, aku hanya bisa terus bertanya
tanpa pernah mendapatkan jawabannya.
Februari
2003…
Malam
ini, mungkin adalah malam yang paling penting dalam perjalanan hidupku. Setelah
melewati hari-hari bersama kamu selama lima tahun lamanya, malam ini kamu
memintaku untuk menjadi satu-satunya perempuan yang akan menemani suka duka dalam
hidupmu. Taburan bintang di langit dan desir ombak, menjadi saksi bisu dari
hari bahagiaku bersamamu. Liontin yang sederhana namun terlihat elegan, menjadi
simbol bahwa dalam waktu dekat kita akan segera menjadi teman berbagi cerita
hidup di bawah restu Tuhan.
“Kamu bukan Hawa dan aku bukan Adam. Kamu
bukanlah tulang rusukku untuk melengkapi adanya aku di sini. Kamu bukan Juliet
dan aku bukan Romeo. Kita tidak perlu mati konyol hanya untuk membuktikan
besarnya cinta yang dirasakan. Kamu bukan putri dan aku bukan pangeran dari
segala cerita dongeng yang pernah ada. Kamu adalah aku dan aku adalah kamu. Dan
kita akan menuliskan sejarah cinta kita sendiri, membuat cerita hidup kita
sendiri, melebihi semua kisah yang pernah ada di dunia ini sayang. Aku ingin
kamu menjadi bidadariku. Bidadari di dunia ini dan di surga kelak. Aku bukan
seseorang yang pandai merangkai kata demi kata hanya untuk merebut hatimu, dan
kamu tahu itu. Jadi, sayang, bersediakah kamu untuk menuliskan namaku dalam
cerita hidupmu. Hanya namaku, namamu dan peri-peri kecil kita kelak. Bolehkah
sayang?”
Tuhan, aku tidak pernah membayangkan bahwa dalam hidupku kelak akan mendengar kalimat
yang sedemikian indahnya. Dari pria sederhana yang mencintaiku dengan luar
biasa. Dari sosok yang berhasil menjadi pasangan, ayah, kakak, dan sahabat
untukku selama ini. Aku tidak menjawab pertanyaanmu dengan kalimat. Lewat
mataku yang berkaca-kaca, senyuman tipis dan sedikit anggukan, aku tahu jika
kamu pasti sudah paham apa maksudku. Liontin yang memiliki bandul berbentuk
bintang itu pun kau pasangkan di leherku. Kemudian kita saling berpelukan,
saling mengecup satu sama lain. Meluapkan segala kebahagiaan yang dirasakan. Oh
Tuhan, terima kasih untuk malam ini.
Dan
tibalah hari yang sudah kita nantikan. Hari dimana kita berdua saling
mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan bahwa kita bersedia menjalani kehidupan
dalam keadaan apa pun. Bersedia berbagi cerita saat suka dan duka. Bersedia saling
menguatkan saat salah satu di antara kita merasa lemah. Hidup mengatas namakan
cinta, yang tulus dan suci tentunya. Aku melihat pantulan bayanganku di cermin.
Inilah aku yang sudah kubayangkan sejak lama jika suatu saat nanti datang hari
bahagiaku bersama orang yang aku sayangi. Gaun putih yang simple dengan riasan
wajah yang sederhana namun tetap anggun. Aku pun tersenyum, “Ya Tuhan, terima
kasih untuk cinta yang Kau berikan dalam hidupku ini.” Aku berusaha mengatur
detak jantungku agar normal seperti biasa. Namun, rasa bahagia ini mampu
membuatnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan sangat cepat. Dan aku
sedikit gemetar menanti kehadiranmu beserta keluarga besarmu ke kediamanku.
Cemas
mulai menghampiri saat setelah lewat dua jam dari jadwal acara nan sakral ini,
kamu belum juga datang. “Kamu dimana?”
tanyaku khawatir. Aku terus menunggu. Menunggu kamu yang akan datang dengan
membawa sejuta mimpi yang akan kita ubah menjadi sebuah kenyataan. Namun kamu
tidak pernah datang. Tidak untuk hari itu, keesokan harinya, lusa, bulan depan,
tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya. Malam itu, menjadi malam terakhir aku
melihatmu. Iya. Yang terakhir.
Februari
2013…
Tangisku
semakin pecah. Namun tetap hening, tanpa suara, hanya terisak namun
menyakitkan. Aku selalu tak kuasa menolak jika semuanya kembali tersirat dalam
benakku. Seakan semuanya kembali nyata, persis seperti apa yang terjadi sepuluh
tahun silam. Merasakan cinta yang sangat hebat namun harus kehilangan begitu
saja dengan cara yang masih belum dapat aku terima. Meninggalkan sejuta tanya
tanpa pernah menemukan jawabannya. Lalu, kenapa saat itu Tuhan membiarkan aku
terlalu menikmati indahnya cinta bersama kamu? Kalau memang sejak awal Tuhan
tidak pernah menuliskan nama kita berdua dalam buku takdirnya, kenapa aku harus
kehilangan kamu dan cintamu dengan cara yang sangat menyedihkan ? Kenapa pada
akhirnya aku menuliskan cerita hidupku sendirian? Kenapa tidak pernah ada yang
menjawab semua pertanyaanku tentang ini semua? Kenap?
Dan
hingga saat ini, dengan susah payah aku melangkah berusaha menjauh dari bayangan
masa lalu yang entah kenapa selalu mengikuti kemana pun aku pergi. Bayang
senyummu yang justru kini terasa menyakitkan. Kamu tidak pernah mengajarkan aku
sebelumnya, bagaimana melanjutkan hidup tanpa adanya kamu. Kamu tidak pernah
mengajarkan aku sebelumnya, bagaimana
caranya berjalan menemukan titik terang saat aku berada dalam gelap. Kamu tidak
pernah mengajarkan aku sebelumnya, bagaimana melawan kerasnya kehidupan yang
selalu berusaha memaksa aku untuk benar-benar menyerah. Lalu, pada siapa saat ini
aku bercerita? Tuhan diam. Kamu diam. Dan aku tetap menangis.
“Untuk
kamu, yang selalu bersedia memberikan sela-sela jarimu untuk ku genggam. Yang
selalu bersedia memasang daun telingamu untuk mendengar segala keluh kesahku.
Yang selalu berhasil merubah tangisku menjadi sebuah senyuman. Yang telah
memberi tahu aku tentang arti cinta yang sesungguhnya. Saat kamu membaca ini,
mungkin aku sudah lebih dahulu pergi untuk membangun cerita kita di dunia yang
sesungguhnya, dunia yang abadi. Maaf jika aku pergi tanpa meminta izin terlebih
dahulu. Aku benci perpisahan, aku benci melihat bulir air matamu yang terjatuh
karna aku. Sejak pertama bertemu kamu, aku seperti memiliki nyawa kehidupan
yang lainnya. Dan dengan mencintai kamu, itulah caraku mensyukuri karunia Tuhan
yang sangat luar biasa bagiku. Kamu pasti mengerti, bahwa tidak semuanya dapat
kita ceritakan pada orang lain. Tentu saja kamu bukan orang lain. Hanya saja,
aku tidak ingin menghilangkan raut wajahmu yang selalu ceria saat aku
menceritakan apa yang seharusnya tidak perlu kamu dengar. Kelak, saat kita
bertemu kembali, aku berjanji akan menebus akan satu kebohongan yang sudah ku
lakukan terhadapmu sayang. Berjanjilah untuk tetap menuliskan cerita hidupmu
dengan kisah yang bahagia. Berjanjilah untuk tetap melukis bintangmu sendiri
bila langit malam terlihat lebih gelap dari biasanya. Berjanjilah untuk tidak
menangis karna aku. Acungkan kelingkingmu, dan katakanlah jika kau akan
berjanji sayang, ku mohon. Aku beruntung selama hidupku hanya mencintai satu
perempuan dan itu kamu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan aku akan
menunggu kamu kembali hadir di sampingku. Di rumah Tuhan, rumah kita. Dari sini
aku selalu memperhatikanmu, menjaga kamu, selalu, selamanya. Teruntuk kamu,
bidadari surgaku, terima kasih telah menunjukkan padaku bahwa cinta yang abadi
itu memang benar adanya. Terima kasih.”
Dan
sejak hari itu, hari dimana ragamu kembali menyatu dengan lapisan bumi. Aku sudah
lupa bagaimana caranya bahagia, aku lupa rasanya mencintai atau dicintai. Aku
lupa bagaimana caranya untuk tersenyum, dan untuk apa aku tetap berada di sini.
Kamu yang mengajarkan aku untuk tetap berjuang hidup, justru mati. Kamu yang
mengajarkan aku untuk bertahan, justru pergi. Kamu justru yang menyerah dan
tertunduk kalah pada takdir. Jika aku obat dari sakitmu, kenapa itu tetap saja
membunuhmu? Dan sekali lagi, hanya menghasilkan pertanyaan tanpa pernah ada
jawabannya. Kamu memintaku untuk berjanji, tapi kamu melanggar janjimu sendiri.
Dan biarkanlah aku untuk tetap menangis saat hujan, tetap sendu saat senja
datang. Biarkanlah semua tentang kita tetap menyayat hati, sampai aku
benar-benar kembali bertemu denganmu. Entah sampai kapan. Mungkin sampai hujan
benar-benar tidak kembali dari langit, dan senja benar-benar tak lagi jingga.
Selama itu pula, aku akan tetap berdiri dengan segala pertanyaan dan luka yang
teramat perih. Terlalu perih untuk aku simpan sendiri. Sendirian.
terharu ane bacanye :D
ReplyDeleteterima kasih :)
Delete