Dara…
Sudah
hampir enam bulan sejak peristiwa itu. Peristiwa yang sangat tidak mengenakan
terjadi dalam hidupku, saat harus berselisih paham dengan salah satu sahabat
terbaikku hanya karna masalah yang bisa dikatakan cukup sepele. Selama itu pula
tidak ada lagi komunikasi antara kami, seakan tidak pernah saling mengenal
sebelumnya, seakan tidak pernah mengukir cerita kehidupan bersama. Aku
merindukannya, aku merindukan saat berbagi suka dan duka dengannya. Merindukan
melihat raut mukanya yang cukup aneh saat menunjukkan bahwa dia tidak mengerti
apa yang sedang dibicarakan saat kami sedang berkumpul. Semuanya, semua tentang
dia sangat aku rindukan saat ini.
Della…
Della…
Aku
lelah berada di dalam situasi seperti ini. Aku bingung harus melakukan apa lagi
untuk memperbaiki segalanya, menjadikan hubungan dengan sahabatku menjadi
seperti semula. Saat kami semua masih baik-baik saja. Mungkin salahku saat itu
yang terlalu mudah mengikuti amarahku, yang terlalu gampang ditaklukan oleh
emosiku. Tapi apa aku tidak berhak marah ? Apa aku tidak berhak mengungkapkan
apa yang aku rasakan ? Ya, aku salah. Harusnya aku tahu, bahwa emosi tidak
pernah bisa menyelesaikan masalah apa pun. Tapi dia pun harusnya menyadari,
bahwa aku juga punya perasaan yang harus dijaga dan dihargai.
Dara…
Dara…
Ini
adalah bungkus rokok yang ke tiga dan botol beer
yang ke empat. Kebiasaan buruk yang memang sangat sulit untuk aku hentikan
jika aku merasa sedang berada di titik terendah dalam hidupku. Aku paham jika
ini sangat berbahaya bagi kesehatanku sendiri, saat fungsi hati sudah
benar-benar tidak bisa bekerja dengan baik, aku justru meracuni dengan
kebiasaan buruk ini. Ah sial ! Kenapa Tuhan meletakkan sakit pada hatiku ?
Kenapa tidak pada bagian organ tubuh yang lain saja ? Hati, yang biasanya
disebut sebagai tempat untuk menyimpan perasaan. Apa karna ini aku menjadi
seseorang yang benar-benar egois Tuhan ? Menjadi seseorang yang tidak pernah
bisa memikirkan perasaan orang lain ? Sebegitu burukkah efeknya ?
Della…
Della…
Sudah
hampir jam empat sore, aku pun bersiap untuk meninggalkan ruang kerjaku. Hari
ini aku sudah berjanji dengan teman-temanku untuk menonton pertandingan sepak
bola. Ya, kami memang sekumpulan perempuan yang cukup menggilai sepak bola. Tadinya
aku ingin menolak, aku ingin menghindari Dara. Tapi, aku ingin berusaha membuat
semuanya kembali membaik. Bukankah tribun selalu menjadi salah satu tempat
terbaik berkumpul dengan mereka ? Maka aku pun memutuskan untuk bertemu mereka
dan menyelesaikan pertengkaranku dengan Dara. Aku rindu mereka, sangat rindu.
Dan mungkin aku terlalu bersemangat sehingga aku tidak memperhatikan sekitarku.
Sampai aku mendengar suara hentaman yang cukup keras dan dalam sekejap menghempaskan
tubuhku cukup jauh. Aku dapat merasakan cairan yang mengalir deras dari
keningku, entah apa cairan itu. Sesaat aku melihat sosok Dara tersenyum padaku,
sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi benar-benar gelap.
Dara…
Dara…
Hari
ini seharusnya aku menemui mereka di stadion, itu janjiku. Namun hingga
menjelang malam aku masih belum beranjak dari kamarku. Ponselku sengaja aku
matikan, aku tidak ingin mereka menghubungi aku, entah kenapa aku hanya ingin
menghabiskan waktuku di sepanjang malam ini dengan tetap berada di kamarku. Dengan
beberapa bungkus rokok serta beberapa botol beer
pastinya. Selamat bersenang-senang
kalian, aku tahu kalian akan tetap bisa menikmati pertandingan seperti biasanya
walau harus tanpa aku, aku yakin itu, sangat yakin. Aku menghisap kandungan
nikotin dari rokok yang sedang ku genggam, terpenjam menghembuskan asapnya
sambil membayangkan raut wajah mereka satu demi satu. Perlahan air mataku mulai
terjatuh dari asalnya. Betapa beruntungnya aku memiliki mereka, sangat
beruntung. Hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa tidak seharusnya aku berada
di tempat ini. Aku pun meutuskan untuk menyusul mereka dan akan meminta maaf
pada Della. Ku aktifkan kembali telepon genggamku. Sesaat setelah ponselku
kembali menyala, satu persatu pesan singkat dari temanku masuk bergantian.
Pesan singkat yang memiliki isi serupa. Dara,
lo dimana ? Kenapa susah banget dihubungin ! Della kecelakaan, kita tunggu lo
di rumah sakit !
Della…
Della…
Entah
sudah berapa lama aku tertidur. Entah sudah berapa lama aku berada di tempat
ini, di tempat yang sama sekali tidak bisa aku lihat. Gelap. Tidak ada
sedikitpun cahaya yang tertangkap oleh pandanganku. Namun aku bisa merasakan
kehadiran mereka, mendengar suara mereka yang cukup panik menanyakan keadaanku.
Tapi dimana mereka ? Dimana teman-temanku ? Kenapa hanya suara mereka yang
terdengar, kenapa aku tidak bisa melihat wajah mereka ? Seketika aku merasakan
pusing yang sangat luar biasa. Teman-teman,
dimana sebenarnya kalian ? Aku hanya bisa mendengar suara kalian, tolong jangan
buat aku takut dan segera nyalakan lampunya ! Namun semuanya tetap gelap,
sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa mataku tidak berfungsi lagi. Ya, aku buta.
Dara…
Dara…
Apa
yang harus aku lakukan sekarang Tuhan ? Pikiranku benar-benar buntu hanya untuk
bisa memahami apa yang sedang terjadi saat ini. Satu jam yang lalu aku mendapat
kabar bahwa Della kecelakaan, dan baru lima menit yang lalu aku mendengar kabar
bahwa Della buta akibat kecelakaan itu. Aku tidak sanggup bertemu mereka dalam
keadaan seperti ini. Aku belum siap dan tidak akan pernah siap menghadapi ini
semua Tuhan. Aku merasakan lemas di sekujur tubuhku dan tiba-tiba saja batuk
yang sangat menyesakkan menyerangku. Dadaku terasa sangat sesak. Entah mengapa
saat ini semuanya seakan membuat aku sulit untuk bernapas. Sampai aku melihat
bercak darah di tanganku saat berusaha menutupi batuk yang tak kunjung hilang.
Apa lagi ini ? Cobaan apa lagi yang akan membuat aku benar-benar menyerah Tuhan
? Dan dalam sinar putih yang cukup menyilaukan mata itu, Della terlihat tertawa
lepas. Della, kau kah itu ? Maafkan aku
Del. Semua pun berubah menjadi gelap.
Dua bulan kemudian…
Della…
Dua bulan kemudian…
Della…
Bahkan
hingga dua bulan Dara tidak pernah menjengukku di rumah sakit. Menitipkan salam
lewat teman yang lain pun tidak. Sudah benar-benar tidak adakah seorang Della
dalam hidup Dara ? Dara, aku merindukanmu.
Hari ini aku akan menjalani operasi pada mataku. Akhirnya aku mendaptkan donor
kornea mata yang cocok denganku. Aku berharap setelah ini aku mampu melihat
lagi, melihat semua orang di sekelilingku, melihat para sahabatku dan juga
bertemu kembali dengan Dara. Beruntungnya aku karna memiliki sahabat yang
selalu memberikan aku dukungan sehingga aku tidak pernah merasa sendirian
menjalani saat-saat sulit dalam hidupku. Tuhan,
tolong berikan aku kesempatan sekali lagi untuk melihat semua ciptaanMu. Aku
mohon…
Sebulan kemudian…
Della…
Sebulan kemudian…
Della…
Operasiku
berhasil, aku bisa melihat kembali. Dan saat ini, aku bersama para sahabat
baikku pergi mengunjungi rumah Dara, sahabat terbaik kami. Dengan beberapa
tangkai bunga mawar putih kami saling melepas rindu dengan Dara, dengan batu
nisan yang bertuliskan nama Dara di sana. Aku pun membawa secarik kertas yang
berisi pesan Dara untukku. Hanya pesan singkat yang sanggup membuat duniaku
seperti berhenti berputar ketika aku membacanya sesaat setelah mataku
benar-benar dikatakan pulih. Dara… Andai masih ada kesempatan, andai waktu bisa
aku putar sesuai dengan kehendakku, aku tidak ingin membuang sedetik saja waktu
untuk menghindarimu. Maafkan aku Dara, aku dan kami semua sangat menyayangimu.
Dan yang kami tahu saat ini, tidak akan ada lagi sosok Dara dalam hidup kami.
Selamat jalan Dara, entah apa bangku tribun akan tetap sama tanpa adanya kamu
dalam hidup kami. Entahlah.
Dear Della…
Dear Della…
Gue ga mau lo nangis, gue ga mau lo
cengeng saat baca tulisan ini. Temen gue ga boleh cengeng ! Maafin gue Del buat
semuanya, buat pertengkaran yang ga seharusnya terjadi, karna masing-masing
dari kita sudah cukup dewasa untuk tahu bagaimana seharusnya bersikap. Tapi
bukan penyesalan jika datangnya belakangan kan hehe. Semua terjadi begitu cepat
Del, pertengkaran kita, kecelakaan lo sampai tiba-tiba sakit yang gue derita
semakin parah. Mungkin ini memang jalan yang sudah di tentukan Tuhan buat kita
Del. Gue sama sekali ga punya harapan hidup lagi, dan gue pun memutuskan untuk
menyerah. Salah gue juga sebenernya yang ga pernah bisa sayang sama diri
sendiri sampai pada akhirnya gue yang membunuh diri gue sendiri hehe. Della,
mungkin dengan cara ini gue bisa menebus kesalahan gue ke lo dan juga ke
temen-temen yang lain. Karna memang hanya ini yang bisa gue perbuat mengingat
ga banyak waktu lagi yang gue punya. Saat tahu bahwa kornea mata gue cocok
dengan kornea mata yang lo butuhin, tanpa pikir panjang gue berniat jadi
pendonor mata buat lo ! Dan gue tahu, pasti sekarang lo udah bisa ngeliat lagi
kan hehe. Gue capek Del nulis panjang lebar begini. Hmm intinya sih semoga lo
berkenan melihat dunia lo dengan mata gue, semoga lo berkenan menatap masa
depan lo dengan mata gue yang emang jauh lebih indah dari mata lo itu hehe.
Walau pun udah ga ada gue lagi saat lo melihat sekeliling, lo harus percaya
kalo gue juga lagi melihat apa yang lo lihat, apa pun itu Del. Mata gue jangan
lo pake nangis ya hehe. Gue bukan penulis surat yang handal Del, cuma ini yang
bisa gue sampein buat lo. Sekali lagi maafin gue buat semuanya ya, mungkin
selama hidup gue terlalu sering bikin kesalahan. Salam sayang buat semuanya,
tetep rajin hadir ke stadion ya dan jangan lupa sisain satu tempat buat gue. Salam sayang, Dara :)
No comments:
Post a Comment