May 29, 2013

#CERPEN4



Dara…
Sudah hampir enam bulan sejak peristiwa itu. Peristiwa yang sangat tidak mengenakan terjadi dalam hidupku, saat harus berselisih paham dengan salah satu sahabat terbaikku hanya karna masalah yang bisa dikatakan cukup sepele. Selama itu pula tidak ada lagi komunikasi antara kami, seakan tidak pernah saling mengenal sebelumnya, seakan tidak pernah mengukir cerita kehidupan bersama. Aku merindukannya, aku merindukan saat berbagi suka dan duka dengannya. Merindukan melihat raut mukanya yang cukup aneh saat menunjukkan bahwa dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan saat kami sedang berkumpul. Semuanya, semua tentang dia sangat aku rindukan saat ini.

Della…
Aku lelah berada di dalam situasi seperti ini. Aku bingung harus melakukan apa lagi untuk memperbaiki segalanya, menjadikan hubungan dengan sahabatku menjadi seperti semula. Saat kami semua masih baik-baik saja. Mungkin salahku saat itu yang terlalu mudah mengikuti amarahku, yang terlalu gampang ditaklukan oleh emosiku. Tapi apa aku tidak berhak marah ? Apa aku tidak berhak mengungkapkan apa yang aku rasakan ? Ya, aku salah. Harusnya aku tahu, bahwa emosi tidak pernah bisa menyelesaikan masalah apa pun. Tapi dia pun harusnya menyadari, bahwa aku juga punya perasaan yang harus dijaga dan dihargai.

Dara…
Ini adalah bungkus rokok yang ke tiga dan botol beer yang ke empat. Kebiasaan buruk yang memang sangat sulit untuk aku hentikan jika aku merasa sedang berada di titik terendah dalam hidupku. Aku paham jika ini sangat berbahaya bagi kesehatanku sendiri, saat fungsi hati sudah benar-benar tidak bisa bekerja dengan baik, aku justru meracuni dengan kebiasaan buruk ini. Ah sial ! Kenapa Tuhan meletakkan sakit pada hatiku ? Kenapa tidak pada bagian organ tubuh yang lain saja ? Hati, yang biasanya disebut sebagai tempat untuk menyimpan perasaan. Apa karna ini aku menjadi seseorang yang benar-benar egois Tuhan ? Menjadi seseorang yang tidak pernah bisa memikirkan perasaan orang lain ? Sebegitu burukkah efeknya ?

Della…
Sudah hampir jam empat sore, aku pun bersiap untuk meninggalkan ruang kerjaku. Hari ini aku sudah berjanji dengan teman-temanku untuk menonton pertandingan sepak bola. Ya, kami memang sekumpulan perempuan yang cukup menggilai sepak bola. Tadinya aku ingin menolak, aku ingin menghindari Dara. Tapi, aku ingin berusaha membuat semuanya kembali membaik. Bukankah tribun selalu menjadi salah satu tempat terbaik berkumpul dengan mereka ? Maka aku pun memutuskan untuk bertemu mereka dan menyelesaikan pertengkaranku dengan Dara. Aku rindu mereka, sangat rindu. Dan mungkin aku terlalu bersemangat sehingga aku tidak memperhatikan sekitarku. Sampai aku mendengar suara hentaman yang cukup keras dan dalam sekejap menghempaskan tubuhku cukup jauh. Aku dapat merasakan cairan yang mengalir deras dari keningku, entah apa cairan itu. Sesaat aku melihat sosok Dara tersenyum padaku, sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi benar-benar gelap.

Dara…
Hari ini seharusnya aku menemui mereka di stadion, itu janjiku. Namun hingga menjelang malam aku masih belum beranjak dari kamarku. Ponselku sengaja aku matikan, aku tidak ingin mereka menghubungi aku, entah kenapa aku hanya ingin menghabiskan waktuku di sepanjang malam ini dengan tetap berada di kamarku. Dengan beberapa bungkus rokok serta beberapa botol beer pastinya. Selamat bersenang-senang kalian, aku tahu kalian akan tetap bisa menikmati pertandingan seperti biasanya walau harus tanpa aku, aku yakin itu, sangat yakin. Aku menghisap kandungan nikotin dari rokok yang sedang ku genggam, terpenjam menghembuskan asapnya sambil membayangkan raut wajah mereka satu demi satu. Perlahan air mataku mulai terjatuh dari asalnya. Betapa beruntungnya aku memiliki mereka, sangat beruntung. Hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa tidak seharusnya aku berada di tempat ini. Aku pun meutuskan untuk menyusul mereka dan akan meminta maaf pada Della. Ku aktifkan kembali telepon genggamku. Sesaat setelah ponselku kembali menyala, satu persatu pesan singkat dari temanku masuk bergantian. Pesan singkat yang memiliki isi serupa. Dara, lo dimana ? Kenapa susah banget dihubungin ! Della kecelakaan, kita tunggu lo di rumah sakit ! 

Della…
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Entah sudah berapa lama aku berada di tempat ini, di tempat yang sama sekali tidak bisa aku lihat. Gelap. Tidak ada sedikitpun cahaya yang tertangkap oleh pandanganku. Namun aku bisa merasakan kehadiran mereka, mendengar suara mereka yang cukup panik menanyakan keadaanku. Tapi dimana mereka ? Dimana teman-temanku ? Kenapa hanya suara mereka yang terdengar, kenapa aku tidak bisa melihat wajah mereka ? Seketika aku merasakan pusing yang sangat luar biasa. Teman-teman, dimana sebenarnya kalian ? Aku hanya bisa mendengar suara kalian, tolong jangan buat aku takut dan segera nyalakan lampunya ! Namun semuanya tetap gelap, sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa mataku tidak berfungsi lagi. Ya, aku buta.

Dara…
Apa yang harus aku lakukan sekarang Tuhan ? Pikiranku benar-benar buntu hanya untuk bisa memahami apa yang sedang terjadi saat ini. Satu jam yang lalu aku mendapat kabar bahwa Della kecelakaan, dan baru lima menit yang lalu aku mendengar kabar bahwa Della buta akibat kecelakaan itu. Aku tidak sanggup bertemu mereka dalam keadaan seperti ini. Aku belum siap dan tidak akan pernah siap menghadapi ini semua Tuhan. Aku merasakan lemas di sekujur tubuhku dan tiba-tiba saja batuk yang sangat menyesakkan menyerangku. Dadaku terasa sangat sesak. Entah mengapa saat ini semuanya seakan membuat aku sulit untuk bernapas. Sampai aku melihat bercak darah di tanganku saat berusaha menutupi batuk yang tak kunjung hilang. Apa lagi ini ? Cobaan apa lagi yang akan membuat aku benar-benar menyerah Tuhan ? Dan dalam sinar putih yang cukup menyilaukan mata itu, Della terlihat tertawa lepas. Della, kau kah itu ? Maafkan aku Del. Semua pun berubah menjadi gelap. 

Dua bulan kemudian… 

Della…
Bahkan hingga dua bulan Dara tidak pernah menjengukku di rumah sakit. Menitipkan salam lewat teman yang lain pun tidak. Sudah benar-benar tidak adakah seorang Della dalam hidup Dara ? Dara, aku merindukanmu. Hari ini aku akan menjalani operasi pada mataku. Akhirnya aku mendaptkan donor kornea mata yang cocok denganku. Aku berharap setelah ini aku mampu melihat lagi, melihat semua orang di sekelilingku, melihat para sahabatku dan juga bertemu kembali dengan Dara. Beruntungnya aku karna memiliki sahabat yang selalu memberikan aku dukungan sehingga aku tidak pernah merasa sendirian menjalani saat-saat sulit dalam hidupku. Tuhan, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi untuk melihat semua ciptaanMu. Aku mohon… 

Sebulan kemudian… 

Della…
Operasiku berhasil, aku bisa melihat kembali. Dan saat ini, aku bersama para sahabat baikku pergi mengunjungi rumah Dara, sahabat terbaik kami. Dengan beberapa tangkai bunga mawar putih kami saling melepas rindu dengan Dara, dengan batu nisan yang bertuliskan nama Dara di sana. Aku pun membawa secarik kertas yang berisi pesan Dara untukku. Hanya pesan singkat yang sanggup membuat duniaku seperti berhenti berputar ketika aku membacanya sesaat setelah mataku benar-benar dikatakan pulih. Dara… Andai masih ada kesempatan, andai waktu bisa aku putar sesuai dengan kehendakku, aku tidak ingin membuang sedetik saja waktu untuk menghindarimu. Maafkan aku Dara, aku dan kami semua sangat menyayangimu. Dan yang kami tahu saat ini, tidak akan ada lagi sosok Dara dalam hidup kami. Selamat jalan Dara, entah apa bangku tribun akan tetap sama tanpa adanya kamu dalam hidup kami. Entahlah. 

Dear Della…
Gue ga mau lo nangis, gue ga mau lo cengeng saat baca tulisan ini. Temen gue ga boleh cengeng ! Maafin gue Del buat semuanya, buat pertengkaran yang ga seharusnya terjadi, karna masing-masing dari kita sudah cukup dewasa untuk tahu bagaimana seharusnya bersikap. Tapi bukan penyesalan jika datangnya belakangan kan hehe. Semua terjadi begitu cepat Del, pertengkaran kita, kecelakaan lo sampai tiba-tiba sakit yang gue derita semakin parah. Mungkin ini memang jalan yang sudah di tentukan Tuhan buat kita Del. Gue sama sekali ga punya harapan hidup lagi, dan gue pun memutuskan untuk menyerah. Salah gue juga sebenernya yang ga pernah bisa sayang sama diri sendiri sampai pada akhirnya gue yang membunuh diri gue sendiri hehe. Della, mungkin dengan cara ini gue bisa menebus kesalahan gue ke lo dan juga ke temen-temen yang lain. Karna memang hanya ini yang bisa gue perbuat mengingat ga banyak waktu lagi yang gue punya. Saat tahu bahwa kornea mata gue cocok dengan kornea mata yang lo butuhin, tanpa pikir panjang gue berniat jadi pendonor mata buat lo ! Dan gue tahu, pasti sekarang lo udah bisa ngeliat lagi kan hehe. Gue capek Del nulis panjang lebar begini. Hmm intinya sih semoga lo berkenan melihat dunia lo dengan mata gue, semoga lo berkenan menatap masa depan lo dengan mata gue yang emang jauh lebih indah dari mata lo itu hehe. Walau pun udah ga ada gue lagi saat lo melihat sekeliling, lo harus percaya kalo gue juga lagi melihat apa yang lo lihat, apa pun itu Del. Mata gue jangan lo pake nangis ya hehe. Gue bukan penulis surat yang handal Del, cuma ini yang bisa gue sampein buat lo. Sekali lagi maafin gue buat semuanya ya, mungkin selama hidup gue terlalu sering bikin kesalahan. Salam sayang buat semuanya, tetep rajin hadir ke stadion ya dan jangan lupa sisain satu tempat buat gue. Salam sayang, Dara :)

No comments:

Post a Comment