February 13, 2015

Sebuah Pengakuan

Aku pernah mengagumimu dengan sangat. Segala baik dan burukmu. Segala diam dan tingkahmu. Segala peduli dan candamu. Aku pernah menyayangimu tanpa harap. Pada setiap kali kita berbicara banyak hal. Pada setiap kali kita tertawa dengan lepas. Pada setiap kali aku melihatmu di deretan bangku sebelah. Aku pernah merindukanmu dalam doa. Ketika matahari menyapa di ufuk timur. Ketika terik siang begitu menguras tenaga. Ketika senja yang seringkali ikhlas tertutup mendung.

Aku pernah memenjarakan diriku sendiri dalam cinta diam-diam ini selama bertahun-tahun. Menikmati segala hal yang terjadi karna mencintaimu seorang diri. Terkadang cemas jika saja kelak kamu mengetahui rahasia terbesar ini. Tak sanggup membayangkan akan adanya jarak yang membentang saat semuanya terbongkar. Namun kali ini, aku patut memuji diriku sendiri karna telah mampu menyimpan rahasia ini tanpa cacat.

Kamu adalah cinta pertama sepanjang masa. Yang terindah dan tak terungkap. Kamu pernah menjadi yang pertama walau bahkan saat itu sudah ada perempuan utama yang kamu cinta. Tidak mengapa, karna bahkan bahagiamu pun merupakan sejuk dalam terikku. Mungkin aku memang tidak benar-benar memilikimu seutuhnya. Tapi aku bahagia dan bersyukur karna tidak pernah kehilangan senyum yang selalu melekat diwajah manismu itu.

Sembilan tahun sudah berlalu, kamu tetaplah cinta pertamaku yang menyenangkan. Walau hanya berakhir sebagai teman pada masa putih abu-abu, atau bahkan sebagai teman saat menonton pertandingan sepakbola di tempat yang kita selalu sebut rumah. Sembilan tahun aku rahasiakan semuanya, padamu, bahkan pada semesta di sekitarku. Bolehkah jika sekarang rahasia itu aku bebaskan dari persembunyiannya ? Aku ingin kamu tau, bahwa aku adalah perempuan yang selama masa sekolah rela keluar lebih cepat dari ruang ujian hanya untuk memberikanmu beberapa contekan. Aku ingin kamu tau, bahwa aku adalah perempuan yang mencuri selembar fotomu di ruang guru untuk menjadikannya obat rindu setiap malam. Dan bahkan aku ingin kamu tau, bahwa aku adalah perempuan pertama yang datang ke kediamanmu saat bahkan jenazahmu masih berada dalam perjalanan.

Mungkin sudah sangat terlambat, bahkan cenderung percuma. Namun aku ingin kamu tau rahasia ini, hari ini, tepat setahun setelah kepergianmu. 14 Februari ? Saat mungkin mereka di luaran sana merayakan hari kasih sayang bersama pasangan. Aku justru dipaksa mengingat, saat aku bahkan tak menangisi kepergianmu di makammu yang masih berupa tanah basah. Hei, bagimana kabarmu disana ? Semoga Tuhan selalu memberikan tempat terbaiknya untukmu, sahabat kesayangan.

Aku. Rindu.

2 comments: