Ibu... Selama sembilan bulan dia rela membagi ruang di rahimnya untukku, dia rela membiarkan perutnya membesar demi aku. Ibu... Selama dua tahun dia ikhlas memberikan air susu dan darahnya untukku, dia ikhlas terbangun dari tidur malamnya untuk membersihkan popokku dari kotoran.
Ibu... Selalu bersemangat mengajari aku membaca dan menulis, selalu bersemangat membuatkan segelas susu hangat untukku, selalu bersemangat mengawasi aku dari jendela kelas dimana aku baru menjadi seorang murid yang lugu. Ibu... Selalu mengingatkan aku untuk belajar, selalu mengingatkan aku untuk tidak pulang larut malam, selalu mengingatkan aku untuk selalu menjaga diri.
Ibu... Dia khawatir melihatku beranjak dewasa, dia cemas menyadari jika aku sudah mengenal cinta, dia takut aku salah mengambil keputusan dalam masalah hati. Ibu... Diam-diam mendoakanku dalam hatinya, diam-diam menyebut namaku dalam bait doanya, diam-diam memohon pada Tuhan untuk terus menjagaku.
Ibu... Tak ada yang mampu membalas semua yang telah kau lakukan untuk anakmu. Seumur hidupmu kau pertaruhkan untuk anakmu. Darah dan nyawamu adalah sebab mengapa anakmu terlahir ke dunia dan akhirnya menjadi dewasa.
Ibu... Apa itu keriput di wajahmu ? Mengapa tongkat itu selalu kau bawa saat berjalan ? Apa kau sudah lelah ? Mengapa kau menghabiskan waktu seharian di kursi goyang ? Apa yang kau ucapkan bu, aku tidak dengar ? Ibu aku lapar, masih mampukah kau membuatkan ayam goreng untukku ? Ibu mengapa kau diam ? Ibu aku masih dan akan selalu membutuhkanmu.
Ibu... Maaf untuk segala ucapanku yang pernah membuat hatimu terluka. Maaf untuk segala perbuatanku yang sering membuatmu kecewa. Terima kasih telah menjadikanku dewasa, menjadikanku kuat dengan darah dan keringatmu.
Semoga Tuhan selalu menjagamu.
Semoga Tuhan selalu menaikkan derajatmu.
Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik saat kau pulang bu.
Semoga Tuhan selalu menaikkan derajatmu.
Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik saat kau pulang bu.
Aku mungkin lupa kapan terakhir ibu memelukku. Kapan terakhir ibu bangga dengan nilai raporku. Kapan terakhir ibu memberiku nasehat. Dari kecil ibu mendidikku dengan keras, dengan hukuman fisik jika aku nakal, dengan ucapan kasar jika aku membangkang. Aku masih ingat dengan jelas semuanya bu. Mungkin karna itu kini aku menjadi anak yang keras. Bukan bu, bukan salahmu sehingga aku menjadi pribadi yang keras kepala. Mungkin aku yang memang tidak mengerti caramu mendidikku.
Ibu... Terima kasih untuk semuanya. Maaf sudah membuatmu kesal dan kecewa karna perbuatanku. Ibu... Aku mencintaimu, walau aku tak pernah mengucapkan dan menunjukkannya, namun di doaku ada namamu di dalamnya.
Selamat memasuki usia 46 tahun, untuk wanita hebat yang diciptakan untukku.
Kembali membaca surat yang membuatku takjub :)
ReplyDeleteterima kasih :)
ReplyDeletePermainan Togel Online Paling Aman dan Terpercaya..
ReplyDeleteDapatkan Angka Jitu Dengan Bermain Bersama Kami..Diskon Hingga 65% Bos!!
Info prediksi togel SGP juga ada...
dari mbah yang berpengalaman
Hubungi Segera:
WA: 087785425244
Cs 24 Jam Online