February 29, 2016

Thankyou, Feb!

Dear, Februari.

Aku butuh waktu sangat lama sepertinya, hingga pada akhirnya memutuskan untuk berdamai denganmu. Sudah bertahun-tahun aku membencimu dengan sangat, walaupun aku tahu jika kau tak pernah benar-benar salah selama ini. Tapi aku bisa apa? Selain marah besar setelah orang-orang yang aku sayangi, kau bawa pergi begitu saja tanpa permisi.

Awal kebencianku padamu adalah pada 2010 lalu, saat kau membawanya pergi untuk selamanya saat bahkan ia telah berjanji akan kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik. Dan 2014, saat bahkan lukaku belum sembuh, kau kembali membawa pergi jauh salah satu sahabat terbaikku tanpa merasa bersalah sekalipun. Jadi, kau sudah tahu kan mengapa dulu aku sangat membencimu dan berharap kau cepat berlalu?

Karna setiap kali aku bertemu denganmu, aku selalu dipaksa mengingat hal-hal yang menyakitkan, aku selalu dipaksa mengenang orang-orang yang sudah mati dan tak akan lagi bisa hidup, aku selalu dipaksa mengulang kembali tangisan-tangisanku yang menyesakkan dada. Dan itu menyedihkan. Kehilangan berkali-kali sungguh membuat aku merasa jatuh.

Sekarang, pada Februari tahun keenam aku hidup tanpa Adit, dan pada Februari tahun kedua aku bernafas tanpa Fikri, aku tak lagi menangis meskipun aku tahu  bahwa aku masih sangat merasa kehilangan. Tapi sepertinya aku sudah mampu untuk benar-benar merelakan kepergian mereka, dan sudah benar-benar bisa untuk berdamai denganmu, Februari.

Dear, Februari. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih karna selama beberapa tahun ini kau menyadarkan aku bahwa aku tak pernah benar-benar mati rasa, sebab kau selalu membuat aku menangis setiap tahunnya. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih, karna selama beberapa tahun ini kau menyadarkan aku bahwa aku masih memiliki cinta yang begitu besar meski raga dengan mereka yang ku kasihi tak lagi bisa saling memeluk. Dan yang paling penting, aku ingin mengucapkan banyak sekali terima kasih, karnamu aku menyadari, bahwa hati yang aku miliki masih peka akan rasa. Terima kasih banyak, Feb!

With Love,
Shintia.

No comments:

Post a Comment