Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya mendapatkan cacian dan makian dari orang-orang di sekelilingku, tidak hanya sekali dua kali, aku bahkan tak sanggup menghitungnya dengan jari-jariku ini. Saat itu aku merasakan sakit hati yang luar biasa, ingin rasanya aku berlari, berlari tanpa harus mencari ujung untuk berhenti. Kadang aku merasa lelah, bahkan muak hidup dalam dunia yang bagiku penuh akan kemunafikan. Namun aku tak ingin kalah dan mati begitu saja dengan gelar pecundang. Aku ingin membuktikan kepada siapa saja, kepada dunia yang seakan menganggap aku sampah, membuktikan jika aku bisa bahkan lebih dari apa yang mereka bayangkan.
Terkadang kita harus jatuh terlebih dahulu jika ingin lancar mengayuh sepeda. Sama halnya dengan hidup, terkadang tuhan ingin kita menangis sebelum kita merasakan nikmatnya tersenyum. Cacian dan makian itu sebaiknya kita jadikan motivasi untuk melakukan yang terbaik, bukannya kita jadikan sebagai batu sandungan dan selanjutnya membuat kita benar-benar terlihat payah di mata mereka. Aku dan kalian terlahir untuk menjadi seorang pemenang bukan?
Setiap orang pasti pernah merasakan jenuh menjalani peran demi peran yang harus dilakoninya dalam panggung hidupnya, sama halnya denganku. Keinginan untuk menyerah pun tak jarang datang menghampiri. Ingin rasanya berhenti dan membiarkan dunia mentertawakan aku sepuasnya. Namun aku sadar, menyerah dengan keadaan bukanlah pilihan yang baik. Menurutku hidup adalah tentang mereka yang berjuang untuk meraih cita dan cintanya, tentang mereka yang tak mengenal lelah untuk menggapai impian dan harapan yang telah mereka gantung tinggi. Pertentangan, penolakan, hinaan, itu semua hanyalah segelintir proses untuk mendewasakan diri, seberapa siapkah kita mampu melalui skenario demi skenario yang sudah tersusun dan akhirnya akan kita jalani, detik demi detik.
Tuhan menciptakan badai tanpa lupa menghadirkan pelangi setelahnya. Tuhan menciptakan tangis dan kemudian menghadirkan senyum yang membahagiakan.
Tuhan menciptakan otak dan hati, agar kita mampu menyeimbangkan antara perasaan dan logika.
Tuhan memberikan kita tantangan, bukan cobaan, karna Tuhan tak ingin kita menjalani hidup tanpa akhir yang sia-sia, tanpa arti sedikit pun.
Tuhan tak pernah mengeluh saat kita bercerita banyak hal denganNya. Tuhan selalu tersenyum bahkan saat kita sering melupakan keberadaanNya.
Entahlah... Aku tak mampu menyebutkan satu demi satu kebaikan yang Tuhan miliki. Setiap hela nafas yang aku hembuskan ini, adalah bukti nyata jika Tuhan mencintai aku.
Tuhan sangat baik, terlalu baik untuk kita lupakan. Aku yakin, sebesar apapun masalah yang datang menghampiri, Tuhan tak pernah sedikitpun menjauh. Sudah berapa banyak kita meminta terhadapNya? Apakah sebanyak kita memuja dan menyembahNya? Suatu saat jika aku bertemu Tuhan, aku akan mengucapkan banyak terima kasih atas cintaNya yang begitu besar terhadapku dan hidupku.
Tuhan... Engkau baik, bahkan sangat baik. Terima kasih.
No comments:
Post a Comment