Apa aku harus jadi "sama" dulu agar ada "kita" seperti yang selama ini aku minta sama semesta?
Ah, tidak. Aku tidak lagi berkeinginan untuk memiliki dirimu, biarlah hanya Tuhan yang menjadi satu-satunya pemilik kuasa atas dirimu. Aku tidak ingin memiliki, karna tak ingin pula aku merasa kehilangan. Biarlah aku menikmati indahmu dari kejauhan. Biarlah aku mengagumimu dalam senyap. Biarlah aku mencintaimu lewat doa tengah malam.
Apa lagi yang bisa aku harapkan dalam mencintaimu? Memiliki hati serta raga kasarmu? Aku takut tak bisa menjaganya sebaik Tuhan melakukan itu padamu. Cinta dan kepemilikan? Itu hanya ego ku rasa. Tak akan tenang hidupku jika bersikeras menginginkan kamu seutuhnya. Mencintaimu bukan berarti aku harus membui perasaanku sendiri pada harap yang terlalu tidak tau diri. Tidak demikian.
Klise atau bahkan aku munafik? Tapi memang beginilah adanya diriku. Mengharapmu jadi milikku itu bukan cinta. Melainkan ambisi besar untuk membahagiakan diriku sendiri, dan itu menjijikkan. Ini cintaku untukmu. Ini diriku untukmu. Bibirmu akan menjadi yang terakhir ku kecup. Walau bibirmu pasti akan berulang kali mengecup bibir perempuan yang mungkin tak akan bisa benar-benar kau lupakan. Tak apa, tak apa jika aku hanya bersifat sementara dalam hidupmu. Karna memang tak ada yang bersifat selamanya di dunia ini, benar kan?
Berbahagialah. Karna disini ada aku, ada aku yang menikmati bahagiamu walau tak terlibat di dalamnya. Berbahagialah, maka hidupku sudah sangat berkecukupan. Dan ingatlah, kapanpun kau membutuhkan tempat untuk melepas segala tangismu karna muak akan kerasnya dunia, pelukku akan tetap hangat untuk menjadi tempatmu melepas penat walau hanya sementara.
Aku mencintaimu. Tanpa harap.
Selalu.
No comments:
Post a Comment